Revengeful Billionaire

Revengeful Billionaire
Bab 55 | Reuni Keluarga


__ADS_3

LIKE LIKE PLEASE JANGAN LUPA VOTE 5STARS JUGA YAA ♡♡♡


Enjoy my 2nd update today ♡


Luvluv,


Alana


***


Carlotta melihat ibunya duduk sendirian di sebuah meja bundar khusus tamu VIP. Ayah tirinya sedang berbincang-bincang dengan seorang aktor ternama. Tanpa Carlotta sadari, kakinya melangkah mendekati Caterina Benito.


"Mama." Carlotta menyapa. Rasanya aneh sekali. Carlotta tidak pernah mengucapkan kata sapaan itu selama delapan belas tahun. Ia bahkan berani bersumpah sudah tidak begitu ingat wajah ibunya. Namun, malam ini, ibunya di sini bersamanya. Ini semua terasa tidak nyata.


"Carlotta..." Caterina langsung berdiri ketika menyadari putrinya mendekat. Ia segera menarikkan sebuah kursi dan membantu Carlotta duduk. "Apa kau butuh sesuatu? Minuman, mungkin?"


Carlotta menggeleng pelan. "Apa kabar, Mama?"


Caterina langsung menangis. "Baik, baik. Mama baik-baik saja. Bagaimana denganmu? Kehamilanmu sehat?"


Carlotta hendak mengangguk, tapi memutuskan untuk menggeleng pada akhirnya. "Banyak yang terjadi padaku. Aku merindukan Mama..."


Caterina memeluk putrinya erat-erat. "Maafkan Mama... Maafkan Mama, Nak... Kau tahu sendiri bagaimana ayahmu. Dia mengancam Mama, jika Mama berani mendekati kalian, dia mengancam akan mencelakakan kalian..." Caterina terisak-isak. "Mama menyesal tidak membawa kabur kalian hari itu. Tapi, Mama takut. Ayah kalian adalah pria yang berkuasa, dulunya. Mama tidak punya apa-apa untuk kalian..."


Carlotta terhenyak di tempat duduknya. Penuturan ibunya menyentak jiwanya. Kemudian ia berpikir, itu semua masuk akal. Dulu, ayahnya juga mengancamnya, jika dia tidak mengusir Alessandro, ayahnya akan membunuh Alessandro. Carlotta tidak pernah mengira ayahnya juga melakukan pengancaman yang sama terhadap ibunya.


"Papa benar-benar keterlaluan..." Ujar Carlotta.


Ibunya mengangguk. "Aku ingin menemui kalian lebih cepat, tapi aku selalu takut. Aku takut kalian celaka."


Carlotta menggenggam tangan ibunya. "Aku pikir Mama sudah melupakan kami."


Caterina terisak semakin keras. "Mana mungkin aku lupa, Carlotta? Kau dan kedua adikmu adalah putri-putri Mama yang berharga. Aku bahkan baru saja melahirkan Carina ketika aku memutuskan untuk melarikan diri."


Carlotta mengeratkan pegangannya pada tangan ibunya. "Kenapa Mama memutuskan untuk pergi?"

__ADS_1


Caterina mengusap air matanya. Kemudian, ia menghela napas. "Kau tahu sendiri ayahmu suka memukul. Kau sering dipukul. Tapi, dia memukulku lebih sering lagi. Aku dipukul sewaktu hamil, Carlotta. Dia hanya menginginkan anak-anak dariku, tapi tidak mencintaiku. Aku tahu jika aku tetap bertahan, maka suatu hari nanti aku akan mati di tangannya."


Carlotta terkesiap. "Oh, Mama..."


Caterina tersenyum pada Carlotta. Matanya masih berkaca-kaca. "Aku tahu aku terlalu pengecut. Aku tidak akan menyalahkan kalian jika kalian membenciku. Tapi, tolong ingat bahwa aku sangat mencintai kalian, Sayang."


Carlotta memandang ibunya lekat-lekat. Air matanya mengalir perlahan. "Kurasa aku bisa mengerti perasaan Mama. Tidak mungkin Mama membenci kami, ya, kan? Sama seperti aku tidak mungkin membenci putraku."


Caterina mengusap air matanya. Kini, matanya berbinar bahagia. "Apakah bayimu laki-laki?"


Carlotta mengangguk. "Alessandro bilang begitu."


Caterina tersenyum lembut. "Kau menikah dengan lelaki yang baik, Carlotta. Kau sungguh beruntung. Dia sangat mencintaimu."


Carlotta tersenyum lemah. 'Tapi dia tidak mau mempercayaiku, Mama...' pikirnya sedih. Namun, ia tidak mengatakannya. Ia tidak ingin ibunya jadi mengkhawatirkannya.


Caterina berkata dengan antusias. "Kau tahu, dia pergi ke New York dan datang kerumah kami. Dia memberikan undangan pernikahan kalian pada kami. Dia meyakinkan kami bahwa ayahmu sudah ditangani dan tidak akan menggangguku. Jadi, aku merasa aman untuk datang. Kalau bukan karena dia, mungkin aku masih terlalu takut untuk menemui kalian, Sayang."


Carlotta membelalakkan mata. "Alessandro melakukan itu?"


Caterina mengernyit. "Kau tidak tahu?"


"Oh, Ya Tuhan. Kenapa kau marah pada pria sebaik dia? Kuharap sekarang kalian sudah baik-baik saja?"


Carlotta tertawa geli. "Mama, sebenarnya anak Mama itu Alessandro atau aku?"


Caterina ikut tertawa. "Kalian berdua anak-anak Mama sekarang."


***


Carlotta membawa adik-adiknya ke meja ibunya. Awalnya, mereka menolak. Mereka tidak mengenali ibunya selama ini. Bagi mereka, ibu mereka adalah Carlotta. Carlotta yang menjaga mereka sejak bayi, melindungi mereka, serta bekerja keras demi mereka. Mereka merasa tidak membutuhkan sosok ibu. Carlotta saja sudah cukup.


Namun, Carlotta meyakinkan keduanya bahwa ibunya punya alasan tersendiri saat memutuskan untuk pergi. Dan Carlotta juga meyakinkan adik-adiknya bahwa ibu mereka menyayangi mereka. Tidak ada ibu yang tidak menyayangi anak mereka.


Ketika Ciara dan Carina akhirnya mau bertemu dengan sang ibu, Carlotta berjalan menghampiri Signor Benito.

__ADS_1


"Carlotta!" Signor Benito segera meninggalkan lawan bicaranya, seorang produser film lain, saat melihat Carlotta datang.


"Signor Benito." Carlotta tersenyum ramah. "Apakah malam Anda menyenangkan?"


Signor Benito mengangguk cepat. "Pestanya meriah sekali. Bagaimana denganmu, Carlotta? Apakah kau bahagia?"


Carlotta mengangguk. "Ya. Aku bahagia kau mau datang dengan ibuku kemari, Signor. Itu hal yang sangat berarti untukku."


Signor Benito melambaikan tangannya di udara. "Ah. Itu bukan apa-apa. Lagipula, kami rindu kampung halaman."


Carlotta tersenyum dan mengangguk. "Jika tidak mengganggu, bolehkah aku mengobrol sebentar denganmu, Signor?"


Signor Benito tersenyum hangat pada Carlotta. Pria itu memang tidak setampan dan segagah ayahnya. Rambutnya botak di bagian belakang kepala. Tubuhnya gempal dengan perut yang agak buncit. Namun, ada kebaikan hati dan ketulusan di mata pria itu. Carlotta pada akhirnya mengerti kenapa ibunya memilih untuk melarikan diri dengan pria ini.


Carlotta mengajak Signor Benito duduk di salah satu meja.


"Aku ingin mengucapkan terima kasih atas semua kesempatan yang kau berikan padaku, Signor. Tanpamu, tidak mungkin aku akan menjadi seorang aktris dan mencapai kesuksesanku sendiri." Kata Carlotta.


Signor Benito mengangguk dan tersenyum. "Tidak perlu berterima kasih, Carlotta. Hanya itu yang bisa kulakukan sebagai penebusan telah membawa ibumu jauh darimu. Dan kurasa, itu saja belum cukup."


Carlotta menggeleng dan tersenyum. "Kau sudah melakukan semua yang kau bisa untuk mendukung aku dan adik-adikku, Signor. Padahal, kau tidak punya tanggung jawab atas kami."


Signor Benito tersenyum hangat. "Kalian adalah putri-putri dari wanita yang aku cintai. Aku sudah menganggap kalian putri-putriku sendiri."


Carlotta menggenggam tangan ayah tirinya. "Terima kasih karena telah mencintai Mama. Terima kasih sudah membuatnya bahagia."


Signor Benito mengangguk. "Tapi, kau harus tau ini. Kebahagiaannya tidak akan lengkap tanpa anak-anaknya. Kau harus hidup dengan bahagia juga untuk membuatnya bahagia."


Mata Carlotta berkaca-kaca. "Tentu saja."


Signor Benito tersenyum. "Aku akan mendoakan kebahagiaan rumah tanggamu, Carlotta. Kau dan Alessandro, juga adik-adikmu, akan selalu diterima di rumah kami. Berkunjunglah ke New York kapan-kapan."


Carlotta mengangguk. "Mama bilang, Alessandro mengunjungi rumah Anda dan memberikan undangan ke pesta ini, ya?"


Signor Benito mengangguk. "Ya. Dia melakukan itu untukmu. Dia tidak ingin hari bahagiamu tidak lengkap tanpa kehadiran ibumu."

__ADS_1


Bulir-bulir air mata haru menetes di pipi Carlotta. Ya Tuhan. Tiba-tiba ia merindukan suaminya. Ternyata, lelaki itu sungguh-sungguh melakukan banyak hal untuknya. Apakah Alessandro tidak berbohong saat bilang bahwa ia mencintai Carlotta?


***


__ADS_2