
Carlotta Marinelli berada di kereta menuju Verona. Dia memang tidak lagi punya rumah di sana, tapi Verona adalah kota kelahirannya. Kampung halamannya. Tidak ada tempat lain yang terasa menyerupai rumah selain Verona.
Dulu, nenek Carlotta mendirikan sebuah panti asuhan. Ibunya sering memberikan donasi sebelum pergi meninggalkan Carlotta. Selanjutnya, kepengurusan panti diserahkan kepada kepala pelayan yang lama, Bibi Valentina. Wanita paruh baya itu memilih untuk pensiun dini dari posisi strategis pengurus utama pelayan di mansion Marinelli dan mengabdi di panti asuhan. Karena tidak bersuami dan tidak memiliki anak, Bibi Valentina selalu menganggap semua anak yang dititipkan di panti sebagai anaknya sendiri.
Dulu, sepulang sekolah, Carlotta selalu menyempatkan diri untuk mampir ke panti. Setelah dia berpacaran dengan Alessandro, dia sering mengajak Alessandro ke sana. Namun, Alessandro tidak suka anak-anak. Carlotta memegangi perutnya sendiri dengan sedih. Alessandro memang tidak pernah menginginkan seorang anak.
Di tengah perjalanan yang terasa lama dan membosankan, Carlotta teringat kembali kejadian semalam.
Johann menemuinya tepat saat ia keluar dari tenda Alessandro.
"Maafkan aku, aku mencarimu karena khawatir akan kondisimu hari ini, lalu aku melihat kau masuk ke sana. Aku mengikutimu karena takut ada hal buruk terjadi padamu. Aku tidak menguntit atau sebagainya." Begitu kata Johann pada Carlotta.
Carlotta segera menghapus sisa-sisa air mata dan tersenyum pada Johann. "Tidak apa-apa. Kebetulan aku juga ingin bicara padamu."
"Kita bicara di tendamu?"
"Boleh."
Carlotta dan Johann pergi ke tenda Carlotta, kemudian menutup tirainya. Johann mengambil inisiatif untuk duduk di sofa. Carlotta mengambil posisi duduk di seberangnya.
"Aku tidak sengaja mendengar percakapan kalian. Kau sungguh-sungguh ingin berhenti dari proyek sebesar film ini hanya karena merasa terganggu oleh Signor Ferrara?" Johann bertanya. Keprihatinan tampak jelas di wajahnya.
Carlotta tersenyum kecil. "Aku minta maaf."
"Kau tidak perlu melakukan itu, Carlotta. Aku akan membantumu. Aku akan bilang pada Signor Benito agar mengambil kembali posisi produser eksekutif. Aku akan mengembalikan uang sponsor yang telah diberikan Ferrara Group. Kau bisa tenang di sini. Aku janji."
Itu adalah sebuah penawaran yang sangat baik hati. Carlotta tahu itu. Namun, gadis itu menggeleng dengan sedih. "Aku hamil." Ujarnya begitu saja.
Johann tampak terperanjat. Carlotta juga tidak bermaksud untuk bicara segamblang itu pada sutradaranya. Tapi tidak ada cara lain lagi.
"Apakah Signor Ferrara yang-"
"Ya." Carlotta menjawab pertanyaan tak terucap Johann dengan cepat. "Namun, kumohon rahasiakan ini, Johann. Hanya kau dan Marco yang tahu. Aku tidak mau menimbulkan kegemparan."
Johann masih shock, tetapi pria itu berusaha mengangguk. "Baiklah. Lalu, apa yang akan kau lakukan?"
Carlotta tersenyum sedih. "Aku akan pergi dari dunia entertainment hingga bayiku lahir. Kuharap di masa depan, masih ada kesempatan untuk kita bekerja sama? Aku sangat senang bisa berpartisipasi di film-mu yang luar biasa ini."
"Carlotta..." Johann menggenggam tangan Carlotta. Pria itu tampak sedih dan kecewa, tetapi berusaha tegar. "Kau adalah seorang aktris yang sangat bagus. Kau punya bakat. Kau sangat cantik. Jangan khawatir. Setahun atau dua tahun pergi tidak akan membuat penggemarmu pergi."
__ADS_1
"Terima kasih, Johann."
Johann tidak mau cepat-cepat melepaskan tangan Carlotta. "Aku janji akan membuatkanmu film-film bagus lainnya di masa depan. Aku tidak pernah salah menilai aktris berbakat sepertimu. Dan penilaianku tentangmu tidak akan pernah berubah."
Carlotta hampir menangis lagi. Kali ini tangis haru. "Terima kasih banyak. Aku tahu kau orang yang sangat baik."
Johann mencium buku-buku jari Carlotta. "Berjanjilah padaku kau akan baik-baik saja. Tolong simpan nomorku dan jangan sungkan menghubungi aku kapan pun jika kau butuh bantuan."
"Kau tidak tahu betapa berartinya kebaikanmu padaku, Johann. Aku tidak bisa mengucapkan cukup banyak terima kasih." Carlotta membiarkan bulir-bulir air mata jatuh menetesi pipinya. "Ini saat yang berat bagiku, tapi pasti akan berat juga bagimu untuk membereskan seluruh kekacauan yang kubuat. Sekali lagi, aku minta maaf. Marco akan mengurus ganti ruginya."
Johann mengangguk. "Jangan terlalu dipikirkan, Carlotta. Mengurus hal lain memang sulit, tapi yang paling sulit bagiku adalah merelakanmu pergi dari film ini. Aku tidak membayangkan peran utama untuk diperankan oleh siapa pun selain kau."
Carlotta tersenyum.
"Jaga dirimu baik-baik. Kita akan bertemu lagi tahun depan, ya?" Johann berdiri dan bersiap pergi.
Carlotta mengangguk. "Ya. Kuharap begitu."
***
Carlotta berjalan sendirian menuju rumahnya yang dulu. Rumah keluarga Marinelli. Sejak rumah itu disita lima tahun lalu, belum permah sekali pun Carlotta mengunjunginya lagi. Ternyata, rasanya sangat menyakitkan melihat tempat ia tumbuh besar kini tak lagi terawat. Rumah besar yang dulunya penuh cahaya itu kini gelap gulita. Pagarnya dipasangi gembok dan rantai besar yang sudah karatan. Sebagian bangunannya telah dihancurkan, dan sebagian yang lain dibiarkan terbengkalai.
Carlotta mengeringkan buket bunga dari Alessandro dan menyimpannya di sebuah kotak khusus. Di saat ia terusir dari rumah ini, Carlotta hampir tidak sempat berpikir membawa barang-barang berharga yang ia butuhkan untuk bertahan hidup ke depannya. Ia hanya memikirkan buket bunga kering sialan itu.
Betapa keadaan telah berubah, pikir Carlotta masam. Satu-satunya yang tidak berubah hanyalah Alessandro yang tidak ditakdirkan untuk bersamanya.
Malam semakin larut. Carlotta mulai melangkah meninggalkan rumah itu, menuju sebuah panti asuhan tak jauh dari sana. Ia tidak boleh begini. Cukup sudah. Carlotta tidak memerlukan perasaan melankolis yang menyedihkan lagi di dalam hidupnya.
"Nona Carlotta! Apakah itu benar-benar Anda?" Nyonya Valentina baru saja mengunci pintu dan hendak pulang ke rumahnya di pinggiran kota Verona ketika melihat Carlotta berjalan ke arah panti.
Carlotta terseyum lemas. Kakinya sakit. Ia lelah. Amat sangat lelah. "Selamat malam, Bibi Valentina. Ini aku."
Nyonya Valentina langsung menghampiri dan memeluk Carlotta erat. "Ya Tuhan, sudah lama sekali sejak terakhir aku melihatmu. Ada apa? Apa yang terjadi padamu? Kenapa kau sendirian? Di mana adik-adikmu? Di mana Alessandro?"
Carlotta menegang saat mendengar nama Alessandro disebut. Dan Nyonya Valentina sepertinya menyadari itu.
"Ayo, masuk dulu, kita bicara di dalam. Kau akan menginap, kan? Aku akan menyiapkan kamar tamu untukmu." Lalu, Nyonya Valentina merogoh kuncinya kembali dan langsung berkutat membuka pintu panti.
Carlotta mengikuti Nyonya Valentina ke dalam. Setelah meminta Carlotta duduk di ruang tamu, wanita paruh baya itu buru-buru menyiapkan kamar. Ketika selesai, ia kembali ke tempat Carlotta berada dengan dua cangkir teh.
__ADS_1
"Minumlah dulu, Sayang. Kau tampak pucat." Nyonya Valentina menyodorkan secangkir teh pada Carlotta.
Carlotta menggumamkan terima kasih kecil, lalu menerima cangkir itu.
"Alessandro sering datang kemari." Nyonya Valentina berkata, membaca dengan tepat pertanyaan tak terucap di mata Carlotta. "Sejak keluargamu bangkrut, Alessandro mendanai panti ini. Dia bilang, dia setidaknya harus bertanggung jawab pada kehidupan anak-anak tak bersalah di sini."
Carlotta senang mendengar Alessandro masih peduli kepada nasib panti asuhan yang didirikan mendiang nenek gadis itu. Namun, di sisi lain, Carlotta sedih karena Alessandro tidak memedulikan nasibnya dan adik-adiknya.
"Kau pasti sudah banyak menderita karena kelakuan anak itu, Sayang. Aku turut prihatin." Nyonya Valentina pasti tahu bahwa Alessandro-lah yang membuat keluarga Carlotta bangkrut dan menyita semua aset yang tersisa.
"Tidak apa-apa, Bibi. Kami baik-baik saja." Carlotta berkata.
"Ah, benar. Alessandro bilang, kau sudah menjadi aktris sekarang. Bulan lalu, dia berkata bahwa dia akan menemuimu. Itu sebabnya kukira kau datang dengan Alessandro, bukan sendirian."
"Bulan lalu?" Carlotta mengernyitkan dahi. Perasaannya berkecamuk. Itu adalah saat di mana Alessandro membelinya. "Apa yang dia katakan saat itu, Bibi?"
Nyonya Valentina terkekeh. "Dia masih sama saja seperti dulu. Seperti remaja yang kasmaran setengah mati denganmu."
Carlotta mencengkeram erat cangkir tehnya. "Maksud Bibi?"
Nyonya Valentina mengendikkan bahu sembari mengerling jahil. "Dia bilang dia gugup karena akan bertemu denganmu. Dia tidak percaya diri, dia berulang kali bertanya padaku apakah wajahnya masih tampan. Tentu saja masih tampan, ya, kan? Justru semakin tampan sekarang. Sepertinya dia takut kau sudah bertemu pria lain yang lebih tampan. Dia takut kau sudah tidak menyukainya lagi."
"Bibi..." Carlotta bicara dengan serius. "Apakah dia bilang padamu kalau yang dia maksud akan bertemu lagi denganku adalah untuk membeli diriku?"
Nyonya Valentina terkesiap. "Ya Tuhan, apa yang terjadi, Nona Carlotta?"
Carlotta tidak bisa menahan air mata yang mulai mengalir. "Aku hamil, Bibi. Aku hamil karena Alessandro melecehkan aku sebulan lalu."
***
Selamat pagi Sayang-sayangnya Alana ♡
Bab ini hampir 1500 kata lohhh, itung-itung bonus yaa. Btw aku bakal ikut lomba baru abis ini. Yuk follow yuk biar ga ketinggalan novel baru aku. Jangan lupa KLIK LIKE semua bab, vote, comment, gift, tips dll yaa.
Oh iya, menurut kalian mending aku kasih cast pemeran tokoh-tokoh aku atau ngga usah? Komen di bawah yaa, thank you ♡
Luvluv,
Alana
__ADS_1