Revengeful Billionaire

Revengeful Billionaire
Bab 58 | Pengantin Baru


__ADS_3

LIKE LIKE LIKE! Komen juga atuh jangan dilike doang *ngelunjak hahaha


Anyway makasih banyak udah mau baca dan dukung cerita ini dengan like vote gift 5stars dll-nya ya! It means so much for me as a writer. Kalian bacanya gratis so please hargai usaha nulis kami dengan kasih dukungan. Gratis juga kok guys pencet like dsb-nya ♡


Happy reading and enjoy my 2nd update today!


Luvluv,


Alana


***


Alessandro dan Carlotta kembali dari Yunani disambut dengan pesta kecil-kecilan yang diadakan oleh Lombardi. Seluruh anggota keluarga berkumpul. Ada kakek dan nenek Alessandro, kedua adik perempuan Carlotta, serta kakak laki-laki Carlotta. Beberapa pelayan berpangkat tinggi, termasuk Lombardi dan timnya, juga berada di sana. Begitu pula dengan Marco Bruni.


Jet pribadi Alessandro mendarat di hanggar pribadinya di bandara Leonardo da Vinci selepas makan siang. Lombardi menjemput dengan sebuah limo hitam. Tuan dan nyonyanya yang baru tampak luar biasa segar setelah liburan sebulan penuh mereka. Keduanya tampak tak ingin berada di sini, terlihat jelas masih ingin berlibur berdua. Tetapi, Lombardi lega sekali karena mereka akhirnya mau pulang. Kepala Lombardi rasanya seperti akan pecah karena beban pekerjaan yang begitu tinggi bulan ini.


Ketika mendengar pasangan suami istri baru ini bersedia kembali ke Roma, Lombardi langsung menggelar pesta privat untuk mereka. Rumah dihias meriah. Balon berwarna putih dan emas dipasang di jalan masuk. Bunga-bunga segar dirangkai dengan apik di seluruh penjuru rumah.


"Kau sudah bekerja keras, Lombardi." Alessandro tersenyum lebar menanggapi pesta yang diadakan asistennya. Lombardi mengangguk dan mengucapkan terima kasih cepat.


Carlotta menyapa kakek dan nenek Alessandro, kemudian langsung menghampiri adik-adik dan kakaknya, serta Marco Bruni.


"Lama tidak berjumpa, semuanya!" Sapa Carlotta. Ciara dan Carina langsung menghampiri Carlotta dan memeluk kakak mereka erat-erat.


"Kami merindukanmu!" Seru Ciara dan Carina kompak.


Carlotta tertawa. "Aku tidak merindukan kalian, tuh."


Ciara mencubit pipi kakaknya. "Kau pasti bersenang-senang selama di Santorini."


Marco ikut bergabung. "Kau tampak bersinar, Carlotta."


Alessandro memegang bahu Carlotta dari belakang. "Tentu saja. Dia mengandung anak laki-laki. Anak laki-laki memberikan kecantikan pada ibunya, sementara anak perempuan mengambilnya."


Carlotta mencubit hidung Alessandro. "Jangan mengada-ada!"


Alessandro tertawa. "Itu yang dibilang ibuku dulu."


Giacomo maju dan memeluk Carlotta. "Ya Tuhan, perutmu sudah lebih besar lagi. Aku tidak tahu kau bisa berkembang sebesar apa."


Carlotta memukul lengan kakaknya. "Kau ingin bilang aku gendut, ya?"


Giacomo tertawa. "Tidak, tentu saja tidak. Hanya besar."


Carlotta mengeluh pelan. "Karena sudah sebesar ini, ada beberapa hal yang tidak bisa kulakukan. Salah satunya adalah melihat kakiku sendiri."

__ADS_1


Alessandro memeluk Carlotta dari belakang. "Aku bisa melihatkan kakimu untukmu."


Carlotta langsung bersandar pada tubuh kuat suaminya, senang karena memiliki tumpuan. "Apa kau ingin menyentuhnya? Dia selalu aktif saat kau memelukku, seolah bisa merasakan kehadiran ayahnya."


Tubuh Alessandro mendadak kaku. Hatinya masih belum sepenuhnya siap untuk disamakan dengan bayi orang lain. Namun, semakin hari Carlotta semakin sering melakukannya.


Menyadari ada yang salah, Carlotta menoleh ke belakang. "Kenapa?"


Alessandro buru-buru menggeleng. "Kita baru sampai. Lombardi sudah menyiapkan pesta kecil dan banyak sekali makanan ini. Apa kau merasa lapar?"


Carlotta tertawa pelan. "Aku tidak, tapi putramu memang lapar. Dia suka sekali makan, persis seperti dirimu."


Alessandro berusaha agar tidak sampai berjengit mendengarnya.


***


Selama Carlotta pergi berbulan madu, rupanya Marco, Ciara, Carina, dan Giacomo merencanakan sebuah Baby Shower untuk perempuan itu. Karena tanggal kepulangan Carlotta yang terus mundur, begitu juga dengan rencana pesta itu. Namun, kini Carlotta sudah pulang. Ciara langsung mengutarakan keinginannya untuk mengadakan pesta penyambutan calon keponakannya.


"Bagaimana menurutmu?" Ciara bertanya pada Carlotta.


Carlotta mengangkat bahu pasrah. "Sebuah Baby Shower terdengar menyenangkan, meski aku tidak tahu apa yang harus kulakukan di acara itu."


Carina mengangguk setuju. "Sama. Aku juga selalu bingung apa yang harus kulakukan di pesta-pesta semacam itu."


Ciara mencubit pipi Carina. "Kalian tinggal duduk saja dan makan. Kemudian, berbincang-bincang dengan tamu undangan."


Marco langsung maju sambil menggeleng tidak setuju. "Baby Shower dari Keluarga Ferrara tidak mungkin diadakan kecil-kecilan, Sayang. Sebaliknya, ini harus menjadi acara Baby Shower terbesar di Italia."


Carlotta memutar bola mata. "Ya Tuhan, beri aku kekuatan."


Alessandro menginstruksikan Lombardi agar mendekat. "Tolong bantu mereka merencanakan pestanya. Berikan berapa pun yang mereka butuhkan untuk mengadakan pesta ini."


Lombardi mengangguk. Pria itu merasa bersyukur karena perintah tuannya kali ini masuk dalam kategori wajar. "Baik, Signor. Ada lagi?"


Alessandro mengangkat bahu. "Sejauh ini tidak."


Carlotta, yang saat ini duduk di samping Alessandro di sebuah sofa kulit ruang tamu utama, langsung bersandar di lengan suaminya begitu mendengar percakapan tadi. "Sebenarnya kau tidak perlu repot-repot, Alessandro."


Alessandro menggeleng dan tersenyum. "Aku senang melakukannya untukmu."


Carlotta tersenyum, kemudian mencium pipi Alessandro. "Terima kasih."


"Tidak perlu berterima kasih, Sayang." Alessandro tertawa pelan. "Nah, karena sekarang kau sudah aman bersama keluargamu, kurasa aku harus mulai pergi ke ruang kerja."


Carlotta seketika cemberut. "Tidak bisakah kau bekerja mulai besok saja? Ini sudah malam."

__ADS_1


Alessandro terkekeh. Jarinya menunjuk Lombardi. "Bisakah kau melihat ekspresinya? Dia sudah melalui banyak kesulitan karena aku absen selama sebulan."


Carlotta melirik Lombardi. Lombardi mengeluarkan tatapan paling memelas yang ia bisa.


Pada akhirnya, Carlotta mendesah pasrah dan mengijinkan suaminya pergi.


***


Begitu sampai kembali di Roma, Alessandro sudah menginstruksikan pada Lombardi untuk menjadwalkan kedatangan dokter kandungan. Carlotta harus diperiksa secepat mungkin. Selama berada di Yunani, perempuan itu tidak pernah diam. Ia selalu minta berkeliling pulau, berwisata kuliner, naik kapal, bahkan berenang di lautan. Saat menjelang kepulangan mereka, Alessandro melihat Carlotta sudah mulai kelelahan. Kehamilan perempuan itu telah memasuki trimester akhir. Hari persalinan sudah semakin dekat. Alessandro tidak ingin sampai ada hal buruk terjadi pada Carlotta dan bayi dalam kandungan perempuan itu.


Pada pagi hari berikutnya, dokter kandungan pribadi yang ditunjuk Lombardi datang ke rumah Ferrara. Carlotta yang baru saja bangun tidur dikejutkan dengan tim dokter yang sudah berjajar rapi di sisi ranjangnya.


"Alessandro? Ada apa ini?" Carlotta bertanya dengan panik.


Alessandro malah terkekeh pelan. "Hanya pemeriksaan rutin. Tidakkah kau ingin melihat bayimu?"


'Bayimu', pikir Carlotta masam. "Tentu saja aku ingin melihat bayiku."


Seorang dokter beserta beberapa perawat mulai mendekati Carlotta. Peralatan USG telah dipasang di nakas. Sang dokter membuka piyama Carlotta, mengoleskan cairan yang dingin di atas perut perempuan itu, kemudian menggerakkan alatnya di sana.


"Itu dia bayinya, Nyonya." Sang dokter menunjuk layar. USG tersebut adalah tipe 4 dimensi, sehingga wajah bayi Carlotta dapat tampak sepenuhnya.


Terkejut karena melihat muka putranya untuk pertama kalinya, Carlotta mulai menangis. "Oh, Tuhan, dia tampan sekali. Apakah seluruh anggota tubuhnya lengkap, Dok?"


Sang dokter mengangguk dan tersenyum. "Tapi, karena dia terlalu aktif, sebaiknya Anda tidak beraktifitas terlalu berat, Nyonya. Juga, tetap hindari stres. Kehamilan Anda telah memasuki usia dua puluh delapan minggu. Usahakan agar bayi Anda tidak lahir sebelum waktunya."


Carlotta mengangguk cepat. "Aku akan berhati-hati dalam aktifitas. Juga, sepertinya tidak ada yang bisa membuatku stres. Menikah dengannya membuatku sangat bahagia."


Alessandro langsung menggenggam tangan Carlotta dan mencium buku-buku jari perempuan itu. "Tidak, Sayang. Kau yang membuatku bahagia."


Carlotta menghentikan tangisan harunya. "Kalau begitu, kita membuat satu sama lain bahagia?"


Alessandro mengiyakan dengan cepat.


Ketika tim dokter sudah selesai melakukan pemeriksaan dan hendak beranjak keluar, Alessandro mengikuti mereka. "Tunggu di sini saja, Sayang. Aku akan mengantar mereka keluar." Ujarnya pada Carlotta.


Namun, Carlotta terlalu penasaran untuk tetap diam di kamar. Setelah Alessandro pergi, diam-diam perempuan itu mengikutinya. Benar saja, Alessandro meminta sang dokter behenti sebentar dan mulai mengajukan beberapa pertanyaan.


"Dok, bisakah kita mengira-ngira bayi ini terjadi akibat berhubungan pada tanggal tertentu, jika ditinjau dari usianya?"


Dokter kandungan Carlotta agak terkejut mendengar pertanyaan ini, tetapi beliau menjawabnya dengan tenang. "Usia kehamilan biasanya dihitung dari hari pertama menstruasi terakhir istri Anda, Signor. Sementara usia janin diperkirakan dari ukuran, perkembangan organ, dan juga perubahan fisik ibunya. Jadi, tidak. Kami tidak bisa memastikan itu."


Alessandro terdiam. Kemudian, seolah membaca pemikiran pria itu, sang dokter melanjutkan. "Namun, jika Anda ingin lebih memastikan apakah ini bayi Anda atau bukan, Anda bisa melakukan tes DNA."


Alessandro masih termenung. Pada akhirnya, pria itu berkata, "Ya, aku sudah merencakan itu. Kukira aku bisa mengetahuinya lebih cepat. Ternyata, memang harus menunggu dia lahir terlebih dulu."

__ADS_1


Carlotta hampir pingsan di tempat ia berdiri.


***


__ADS_2