Revengeful Billionaire

Revengeful Billionaire
Bab 92 | Kembali ke Tanah Air


__ADS_3

H-3 TAMAT nih guys, makasih banyak yaa buat dukungan kalian semua selama ini. Semoga aku bisa kasih ending yang manis buat kalian. Makasih banget selama ini udah nemenin perjalanan cerita ini. Please banget didukung jangan sampe diplagiat ya shay. Buat yang baru nemuin cerita ini, selamat membaca! Enak loh kalian bisa langsung maraton baca dari awal sampe akhir ga perlu nungguin aku update yg kadang cepet lebih sering lama hahaha.


Sampai ketemu di karya-karya aku selanjutnya ya guys. Jangan lupa cari instagram aku @alananourah di bio IG udah aku sertakan link semua novel yang aku bikin dan tulis di aplikasi mana pun semuanya komplit. You can dm me anytime tentang novel-novel aku juga.


Sehat-sehat terus kalian yaa. Jangan sedih karena bakal pisah sama karya ini. Bakal ada karya-karya baru dari aku yang nggak kalah gemeccc. Stay tuned and don't forget to follow me ♡


Luvluv,


Alana Nourah


***


Marco Bruni, serta Signor dan Signora Benito, terkejut bukan main melihat kedatangan Carlotta bersama dengan Alessandro. Mereka bertiga berdiri di depan griya tawang dengan mulut menganga saat membukakan pintu keesokan harinya.


"Surprise!" Carlotta berseru riang sambil tersenyum lebar kepada mereka semua. Tangannya masih bergandengan erat dengan tangan Alessandro.


Marco Bruni hampir saja menjatuhkan Maurizio ke lantai jika saja ia tidak mengingat bahwa yang sedang digendongnya adalah seorang anak, bukan barang. "Ya Tuhan, Carlotta! Ke mana saja, kau? Kami hampir melaporkanmu ke polisi dengan laporan orang hilang! Dan di mana kau bertemu dengan Alessandro? Bagaimana bisa kalian kemari bersama?"


Nyonya Benito juga maju ke depan. "Apa semuanya baik-baik saja? Alessandro, apa yang sudah dilakukan Rocco padamu?"


Sebelum Alessandro sempat membuka mulut untuk menjawab, Signor Benito membukakan pintu lebar-lebar untuk mereka berdua. "Masuklah dulu. Kita bicara di dalam."


"Ah, benar. Masuk dulu. Mari silakan." Nyonya Benito menyingkir sedikit agar keduanya dapat masuk.


Alessandro dan Carlotta masuk bersama-sama. Keduanya masih enggan untuk melepaskan tangan satu sama lain. Ketika Maurizio mulai merengek dan meminta untuk digendong ibunya, baru mereka berhenti bergandengan.


"Maurizio Sayang." Carlotta mengangkat putranya sambil tertawa. "Coba lihat siapa yang datang." Carlotta menunjuk Alessandro. "Itu Papa."

__ADS_1


Alessandro merentangkan tangan pada Maurizio. "Ini Papa, Sayang. Kau belum melupakan Papa, kan?"


Maurizio melengos dan kembali merengek. Bayi itu mulai menyurukkan kepala ke ceruk leher ibunya. Carlotta tertawa lagi.


Alessandro menekuk muka masam. "Carlotta, kudengar bayi cepat melupakan orang yang jarang dilihatnya. Sepertinya dia sudah lupa aku adalah ayahnya."


Carlotta menggeleng gemas. "Tidak, bukan begitu. Kau hanya mengganggu jam makannya. Dia pasti sekarang sedang lapar. Aku akan menyusuinya dulu. Kalian mengobrol saja sebentar tanpa aku."


Begitu Carlotta dan Maurizio menghilang ke kamar, Alessandro mulai menerima berbagai pertanyaan beruntun seperti sedang dalam mode interogasi. Pria itu menarik napas dalam-dalam, kemudian mulai menceritakan semuanya dari awal.


***


"Kau yakin kita akan melakukan ini?" Carlotta sendiri terdengar tidak yakin dengan rencana Alessandro.


Tetapi, lelaki itu meyakinkannya. Mereka semua, Carlotta, Alessandro, Maurizio, Marco Bruni, serta Signor dan Signora Benito sudah berada di hanggar jet pribadi milik Ferrara di bandara JFK. Alessandro membujuk mereka semua untuk kembali ke Roma bersama-sama.


Carlotta mengerutkan dahinya. "Ini juga pertama kalinya kau jadi ayah. Tapi kau tidak bertingkah laku seperti Papa." Lalu, Carlotta terkesiap keras. "Ini benar-benar pertama kalinya kau jadi seorang ayah, kan?"


Alessandro tertawa terbahak-bahak. "Ya. Sepertinya begitu."


"Kau bahkan tidak terdengar yakin." Carlotta mengerucutkan bibir.


"Jangan marah, Sayang. Aku akan benar-benar menuntut pabrik pembuat k*ndom sialan itu jika sampai ada anak dari wanita lain." Alessandro memeluk lengan Carlotta dan berkata dengan berapi-api.


Carlotta memukul perut Alessandro dengan tas tangan beratnya sampai pria itu mengaduh kesakitan. "Bukan salah pengamannya! Jika itu sampai terjadi, maka itu semua salah kelakuanmu!"


"Ampun! Ampun! Aduh, tolong berhentilah, Carlotta! Tidak. Aku tidak pernah melakukannya lagi setelah denganmu. Aku bersumpah!" Alessandro mulai lari menjauh dan menghindar dari serangan tas kulit buaya sintetik milik Carlotta.

__ADS_1


Bayi Maurizio tertawa-tawa senang dalam gendongan neneknya saat melihat ayahnya dipukuli oleh ibunya. Marco, Caterina, dan Signor Benito mulai naik ke tangga jet pribadi milik Ferrara sambil geleng-geleng kepala dan tertawa. Mereka tidak mau repot-repot menunggu Carlotta dan Alessandro yang masih berlari-larian keliling hanggar dalam cuaca bersalju sedingin ini.


***


Alessandro menggenggam erat tangan Carlotta saat mereka mendarat di Fiumicino. Berkali-kali lelaki itu bergumam pelan, menggumamkan kata cinta untuk menenangkan istrinya. "Jangan panik dan jangan takut. Kita semua di sini bersamamu. Kita bisa menghadapi ayahmu bersama-sama. Aku berjanji tidak akan pernah meninggalkan sisimu lagi."


Carlotta balas meremas tangan suaminya. "Bahkan jika ada perjalanan bisnis, apapun dan di mana pun itu, aku akan ikut denganmu. Berjanjilah padaku."


Alessandro tersenyum dan mengecup punggung tangan Carlotta. "Aku berjanji."


Carlotta sedikit bernapas lega. "Kalau begitu, ayo kita menemui Papa."


Sebuah limo sudah siap menunggu kedatangan mereka. Lombardi berdiri di samping limo itu dengan muka datarnya yang teramat khas, menyambut kedatangan tuannya. "Selamat datang kembali, Signor." Lombardi mengangguk pada Alessandro, kemudian menyapa Carlotta, Marco, Caterina, dan Benito dengan sopan. "Saya senang kalian semua tiba dengan selamat."


"Grazie, Lombardi. Kau selalu dapat diandalkan." Carlotta mengangguk balik pada Lombardi.


Lombardi tersenyum. "Bukan apa-apa, Nyonya."


Alessandro tersenyum lebar. "Semuanya kembali normal. Aku suka sekali keadaan ini." Pria itu juga mengangguk pada Lombardi. "Terima kasih atas kerja kerasmu, Lombardi. Aku sangat menghargai itu."


Lombardi mengangguk sopan. "Sudah kewajiban saya, Signor."


"Kau sudah menyiapkan tim terbaikmu?" Alessandro bertanya, lalu berbisik pelan. "Dan tim yang mendapat pelatihan dari Giacomo juga?"


Lombardi mengangguk. "Tim saya, beserta Signor Giacomo dan anggota gengnya akan ikut dengan Anda."


Alessandro mengangguk puas. "Kalau begitu tunggu apa lagi? Kita berangkat sekarang menemui Rocco Marinelli di penjara."

__ADS_1


***


__ADS_2