Revengeful Billionaire

Revengeful Billionaire
Bab 62 | Baby Shower


__ADS_3

Keep clicking the like button pleaseeee ♡


Jangan lupa difav, kasih 5 stars, gimme gifts. And enjoy! Happy reading.


Luvluv,


Alana


***


Rupanya, Lombardi benar-benar bekerja keras. Hasil tes DNA yang diminta oleh Alessandro sudah didapatkan sebelum makan siang. Alessandro dan Carlotta masih menunggu di ruang tengah tanpa sepatah kata pun terucap. Keduanya saling berdiam diri, saling memunggungi. Sepasang suami istri itu baru sama-sama memandang pintu ketika Lombardi masuk.


"Tidak ada kecocokan, Signor!" Lombardi melambaikan dokumen-dokumen hasil tes dengan bersemangat.


Alessandro dan Carlotta sama-sama merasa lega. Mereka berdua langsung berdiri dan menunggu Lombardi menyerahkan dokumen itu pada Alessandro.


"Ya Tuhan." Carlotta memejamkan mata penuh rasa syukur. "Aku tidak tahu bagaimana harus menjalani hidup jika anak itu benar-benar anakmu."


Alessandro tertawa. "Aku sudah bilang itu tidak mungkin. Kau tidak mau mendengarkan aku."


Carlotta memeluk Alessandro erat-erat. "Aku tidak mau hal seperti ini terulang lagi."


Alessandro membelai rambut Carlotta sementara perempuan itu bersandar di pelukannya. "Semoga tidak ada lagi."


Carlotta mencubit pinggang suaminya keras-keras. "Sebenarnya berapa banyak wanita yang pernah kau tiduri?"


Alessandro berjengit ketika mendapatkan cubitan maut itu, mengaduh kecil, lalu pura-pura berpikir. "Aku tidak ingat."


Carlotta menggeleng sedih. "Ya Tuhan."


Alessandro tertawa pelan. "Jangan khawatir. Mereka tidak ada artinya apapun bagiku. Hanya kau yang aku cintai. Jangan marah lagi, ya? Kumohon? Itu semua sudah masa lalu." Alessandro kembali membujuk dengan suara rendah.


Carlotta menggeleng. "Nyawaku cuma satu, Alessandro, dan hari ini rasanya seolah aku hampir mati."


"Tidak, Sayang. Jangan berkata begitu." Alessandro tersenyum sembari membelai pipi istrinya. "Kita akan hidup berdua dalam waktu yang lama."


Carlotta mendekap Alessandro lebih erat lagi. Kemudian, perempuan itu meletakkan tangan Alessandro di perutnya. "Bertiga. Kita bertiga."

__ADS_1


Tangan Alessandro terasa kaku. "Carlotta, aku tidak-"


Carlotta memaksa tangan Alessandro untuk tetap memegang perutnya. "Putramu sedang menendang."


Napas Alessandro tercekat di tenggorokan. "Oh. Astaga. Ya Tuhan. Dia benar-benar bisa bergerak?"


Carlotta mengangguk dan tersenyum. "Tentu saja."


Alessandro terdiam. Larut dalam pikirannya sendiri. Ia merasa takjub akan adanya sebuah kehidupan baru di dalam perut istrinya.


"Kenapa kau tidak mau percaya padaku?" Tanya Carlotta. "Kau tahu aku tidak seperti wanita lain yang keluar masuk rumahmu untuk menghiburmu."


Alessandro terdiam.


"Aku menjaga diriku selama dua puluh enam tahun sebelum kau datang malam itu. Dan itu adalah waktu yang sangat lama, percayalah. Semua temanku sudah tidur dengan banyak lelaki, tapi pengalaman seksualku nol besar. Kenapa kau mudah sekali percaya saat aku bilang sudah tidur dengan lelaki lain?" Carlotta bertanya lagi. "Aku sudah mencintaimu selama sepuluh tahun. Apa kau pikir aku akan tetap mempertahankan bayiku jika dia bukan anak kita?"


Alessandro masih membisu. Apa yang dikatakan Carlotta memang benar. Namun, sekali lagi, telah terbukti ada wanita yang ingin berusaha menipunya. Lihat yang dilakukan wanita bernama Alicia tadi. Hebatnya, wanita itu memiliki situasi yang persis sama dengan Carlotta. Dia masih suci ketika pertama kali bersama dengan Alessandro. Nyatanya, anak yang dibawanya tetap bukan darah daging Alessandro. Sekarang, bagaimana Alessandro bisa mempercayai Carlotta? Perempuan itu sangat cantik, dikelilingi oleh laki-laki dari keturunan terbaik. Banyak sekali pria yang menginginkannya. Mana mungkin Carlotta belum tidur dengan lelaki lain?


"Dia putramu, Alessandro. Terserah kau mau percaya atau tidak." Kata Carlotta. Perempuan itu sudah pasrah. Ia menyembunyikan wajahnya di leher Alessandro. Air mata yang setengah kering membasahi kulit suaminya.


***


Carlotta dan Alessandro kembali ke ballroom setelah membetulkan penampilan mereka. Terutama Carlotta. Riasan perempuan itu tidak lagi separipurna sebelumnya akibat menangis. Ketika mereka datang, para tamu di ballroom berdiri dan menyambut dengan tepuk tangan.


Carlotta mendapatkan banyak sekali kado untuk bayinya. Dan ia merasa luar biasa senang. Masalahnya telah selesai dan sekarang ia bisa berpesta dengan riang gembira. Marco Bruni mengundang MC papan atas Italia, James Dimento, untuk mengisi acara. James Dimento jelas lives up to his big name karena acara yang digelar Marco jadi meriah sekali.


Awalnya, James Dimento meminta Carlotta berdansa dengan Alessandro. Keduanya berdansa dengan musik waltz ringan dan tampak sangat bahagia di pelukan satu sama lain. Kemudian, James membuat beberapa permainan yang seru. Di antaranya adalah menebak nama calon bayi. Beberapa tamu memberikan usulan nama yang bagus, sampai Lombardi merasa lelah karena diminta mencatat semua nama-nama itu oleh Alessandro.


Puncaknya adalah acara pemberian dan pembukaan kado. Semua tamu memberikan kado yang spektakuler. Ada yang memberikan box bayi dari kayu premium, stroller bertahtakan berlian, dan segala macam perlengkapan bayi lainnya. Dari banyak tamu perempuan, Carlotta juga mendapatkan banyak barang untuk ibu hamil dan persiapan menyusui. Gretta dan Roberto Mancini memberikan banyak sekali buku. Mulai dari buku parenting, buku panduan melahirkan sehat, hingga buku dongeng anak-anak. Sementara itu, Patrizia de Angelo berbaik hati sekali memberikan seperangkat perhiasan berlian. Meskipun tidak berhubungan dengan bayi, Patrizia berkilah bahwa pemberiannya bisa meningkatkan mood wanita mana pun.


Bukannya kekurangan berlian, tetapi Carlotta agak terkejut mendapatkan hadiah yang begitu berharga dari orang yang selama ini tampak seolah membencinya. Bahkan, hari ini Patrizia bertutur kata lemah lembut kepadanya!


"Carlotta, Sayang, aku ingin mengucapkan selamat secara pribadi kepadamu. Kau adalah seorang wanita yang hebat. Kau dan Alessandro juga merupakan pasangan yang sangat serasi sejak dulu kala." Patrizia tersenyum manis sambil menggenggam tangan Carlotta.


Carlotta jadi merinding. "Kau tidak sedang sakit, kan, Patrizia?"


Patrizia masih tersenyum ramah. "Tidak, tentu saja tidak. Aku baik-baik saja. Terima kasih sudah mengkhawatirkan aku."

__ADS_1


Carlotta tertawa pelan. "Ada apa denganmu? Kau salah makan sesuatu?"


"Tidak, Sayang." Ujar Patrizia lagi. "Aku hanya ingin lebih dekat denganmu."


Carlotta mengernyit. "Maksudmu, kau ingin dekat denganku setelah aku jadi Nyonya Ferrara? Tapi, bukankah saat di pesta pernikahanku-"


"Ssst, Carlotta. Jangan bahas masa lalu lagi. Mari kita buka lembaran baru untuk persahabatan kita." Patrizia memeluk Carlotta erat-erat.


"Tapi, bagaimana dengan Gretta?"


Patrizia memutar bola mata, kemudian berpura-pura terkejut dengan dramatis. "Gretta? Siapa itu Gretta? Aku hanya mengenal Carlotta dan Patrizia. Dua gadis cantik yang bersahabat erat."


Giacomo datang bergabung dengan dua perempuan itu. "Selamat siang ladies."


Carlotta menangkap Gio dan Patrizia diam-diam saling melempar senyum. Pertanda buruk.


"Kak Gio." Carlotta memegang lengan kakaknya sembari tersenyum manis. "Kau sudah bertemu dengan temanku Patrizia di pesta pernikahanku bulan lalu, kurasa."


Giacomo berdehem. "Ya. Kurasa kami sudah pernah bertemu."


Patrizia terkikik pelan. "Itu benar."


Carlotta berpikir bahwa tingkah kedua orang ini semakin mencurigakan. Tiba-tiba, ada bunyi gelas-gelas pecah yang mengagetkan semua orang. Ketika Carlotta menoleh, dilihatnya tangan Ciara dan Gretta Mancini sudah berada di rambut satu sama lain.


"Oh, tidak." Keluh Carlotta.


Patrizia mendesah lelah. "Gretta berulah lagi."


Carlotta mengerling pada Patrizia. "Kau, kan, komplotannya?"


Patrizia pura-pura terkejut. "Mana mungkin? Aku sahabatmu mulai sekarang."


Carlotta memutar bola matanya.


"Aku akan memisahkan mereka." Patrizia mulai berderap menuju tempat kejadian perkara.


***

__ADS_1


__ADS_2