
Malem guys hari ini aku posting 2x buat kalian ♡ jangan lupa LIKE VOTE GIFT COMMENTS-nya yaa ♡
Luvluv,
Alana
***
Carlotta bangun tidur dengan penampilan seacak-acakan hatinya. Matanya sembab, bengkak, dan merah. Hidungnya agak lecet karena terlalu banyak dibersit sehabis menangis. Mukanya ditekuk dan kusut. Rambutnya tak lagi tersentuh serangkaian produk perawatan yang harganya selangit. Perempuan itu mandi dengan cepat dan langsung keluar kamar saat samar-samar mendengar percakapan seru antara Marco dan ibu serta ayah tirinya.
Carlotta tidak bisa mendengar banyak, tapi ia agak terkejut saat mereka bertiga langsung terdiam saat ia membuka pintu kamarnya. "Rahasia apa, Marco?"
Marco menatapnya agak lama. Lalu tersenyum lebar. "Bukan apa-apa. Kau sudah bangun? Bagaimana perasaanmu?"
Carlotta mengedikkan bahu. "Tidak sebaik seharusnya."
Marco langsung berdiri dan bersikap riang gembira. "Kalau begitu, ayo kita jalan-jalan. Central Park ada di depan mata."
"Entahlah, Marco. Putraku masih tidur dan aku--"
Caterina memotong perkataan putrinya cepat. "Biar aku yang menjaga Maurizio. Lagipula aku tidak punya acara apa-apa. Dan aku akan sangat senang jika diberi kesempatan untuk menimang cucuku."
Carlotta memandang Marco, Caterina, dan Signor Benito bergantian. Ketiganya mengangguk bersama-sama.
"Baiklah." Carlotta akhirnya setuju. "Mama, aku titip Maurizio sebentar."
Caterina mengangguk. "Serahkan saja padaku dan suamiku."
"Signor Benito, aku--" Carlotta jadi merasa tidak enak pada ayah tirinya karena terus-terusan merepotkan.
Signor Benito mengangkat tangannya di udara. "Carlotta, sepertinya sekarang sudah saatnya kau memanggilku Benito saja. Kurasa 'Signor Benito' agak berlebihan. Kita bukan orang asing."
Carlotta tak bisa tak membalas senyum hangat Signor Benito. "Tentu saja. Kita bukan asing. Kita keluarga. Tapi memanggilmu hanya dengan nama depan membuatku tidak enak hati."
Caterina berdiri dan tersenyum lebar pada Carlotta dan suaminya. "Kalau begitu, kau bisa memanggil suamiku dengan sebutan 'Papa', Sayang. Dia sekarang juga adalah ayahmu."
__ADS_1
Ekspresi Carlotta berubah muram. Perempuan itu jadi teringat ayahnya sendiri.
Signor Benito ikut berdiri dan merangkul istrinya mesra. "Jangan begitu. Jangan memaksanya melakukan apa yang tidak disukainya. Jika Carlotta belum mau menganggapku ayahnya, itu sama sekali tidak masalah."
Carlotta menggigit bibirnya sendiri. Ia tidak membenci ayah kandungnya. Ayahnya bukan orang yang ramah dan menyenangkan, tapi Carlotta tahu ayahnya menyayanginya. Bukan kasih sayang dengan kata-kata penuh cinta seperti yang diberikan oleh ayah-ayah yang lain. Namun melalui perbuatan. Carlotta tahu ayahnya hanya menginginkan yang terbaik baginya.
Pikiran Carlotta melayang semakin jauh. Carlotta sadar bahwa ayahnya tahu Alessandro pernah melecehkannya. Alessandro juga yang membuat keluarga mereka bangkrut. Ayahnya kehilangan muka di depan seluruh rekan dan kolega bisnisnya. Dan sekarang Carlotta bahkan menikah dengan si pembuat onar. Ayahnya pasti amat sangat membenci Alessandro, dan Carlotta sadar bahwa kebencian ayahnya sebenarnya memiliki penyebab.
Tidak ada ayah yang tidak menyayangi anaknya. Dan jika harus memilih, Carlotta tidak bisa memilih antara ayahnya atau suaminya.
Carlotta menutup muka dengan kedua telapak tangan. Isakan mulai membumbung, mengancam akan lolos dari tenggorokannya.
"Carlotta?" Caterina menghampiri putrinya dan segera mengulurkan tangan untuk memeluk perempuan itu.
Tanpa sadar, Carlotta mundur. Ibunya meninggalkan dia sejak dia masih berumur delapan tahun dan melarikan diri dengan Signor Benito. Carlotta sudah membenci mereka selama bertahun-tahun. Meskipun sekarang ia tahu apa alasannya, Carlotta tetap hanya punya ayah kandungnya selama ini.
Dan meskipun Rocco Marinelli bukan ayah yang sempurna, tapi dia adalah satu-satunya ayah bagi Carlotta.
Carlotta segera menelan kembali kepahitan dalam dirinya, lalu berusaha menjadi tegar. Ia tersenyum pada Signor Benito dan berkata, "Bisakah aku memanggilmu 'Paman'?"
***
Lima hari berlalu dengan sangat cepat ketika Marco menyeret Carlotta kesana kemari. Mulai dari semua Central Park, Fifth Avenue, Patung Liberty, bahkan beberapa resto paling spektakuler di New York. Marco, Caterina, dan Benito berusaha terlalu keras membuat Carlotta bangkit dari keterpurukan dan melupakan perceraiannya.
Namun, semua itu tidak berhasil.
Carlotta sering sekali larut dalam lamunan. Perempuan itu tidak lagi menangis terang-terangan, tapi selalu bangun pagi dengan mats bengkak.
Pada pagi kelima, Signor Benito akhirnya berkata, "Omong-omong, Alessandro punya sebuah apartemen tak jauh dari sini."
Saat itu, mereka semua sedang sarapan bersama. Carlotta yang tadinya hanya mengaduk-aduk makanan langsung mendongak mendengar nama suaminya disebut.
"Alessandro?" Carlotta memastikan, takut telinganya salah dengar karena nama itu terlalu sering ia ucapkan dalam hati.
Signor Benito mengangguk. "Ya. Apartemen penthouse milik Alessandro hanya berjarak empat atau lima blok dari sini. Gedungnya berarsitektur minimalis modern. Pasti akan sangat mudah ditemukan. 432 Park Avenue Penthouse."
__ADS_1
Carlotta meletakkan alat makannya dan meraih segelas air. Alessandro punya apartemen di sini? Tidak heran. Kekuasaan Ferrara memang luar biasa, sedangkan Carlotta yang baru lima bulan menjadi istri Alessandro sama sekali tidak pernah tertarik mengurusi harta benda milik keluarga suaminya. Tapi ... jika mengunjungi apartemen milik Alessandro di sini bisa mengurangi kerinduan dan keputusasaannya, Carlotta memutuskan bahwa hal itu patut dicoba.
"Aku akan berjalan-jalan ke sana." Carlotta berkata.
"Biar kutemani." Marco terdengar khawatir.
Carlotta tersenyum dan menggeleng. "Aku tahu kau lelah, Marco. Pergilah berbelanja di Fifth Avenue. Atau pergi ke salon. Lagipula, nanti aku hanya akan pergi sebentar. Sekedar jalan-jalan santai."
Marco akhirnya mengangguk. Ia berpikir, mungkin Carlotta hanya ingin menghabiskan waktu sendirian untuk mengingat kembali kenangan indah rumah tangganya yang kini berada di ujung tanduk.
Carlotta kembali memakai mantel bulu tebal milik Alessandro dan juga beberapa potong pakaian lainnya di bagian dalam. Musim dingin di New York tidak terlalu bersahabat bagi ia yang tumbuh dengan iklim Mediterania yang hangat. Seolah New York merepresentasikan hati Carlotta yang sekarang amat dingin, hampir membeku tanpa Alessandro di sisinya.
Perempuan itu tiba di apartemen yang dimaksud oleh Signor Benito setelah menaiki sebuah taksi. Dengan bodohnya, ia hanya berdiri mematung di depan bangunan itu selama beberapa saat, sampai pipi dan hidungnya berubah kemerahan akibat cuaca dingin.
Seorang wanita, yang sepertinya adalah resepsionis gedung itu, berjalan menghampirinya.
"Apakah Anda benar Nyonya Carlotta Ferrara?" Wanita itu bertanya.
Carlotta ingin mengangguk, tapi mengingat saat ini mungkin perceraiannya sudah diurus, ia tidak lagi merasa pantas menyandang nama Ferrara. Jadi, ia hanya berkata, "Benar aku Carlotta."
Wanita di hadapannya tersenyum lebar. "Mari, masuk, Nyonya. Suami Anda mengganti seluruh staff di sini dengan orang Italia begitu beliau membeli seluruh gedung ini. Saya Martha, salah satu imigran yang beruntung dan memperoleh pekerjaan karena kecintaan suami Anda pada tanah airnya."
Carlotta menyalami Martha. Sebuah senyuman samar terbit di bibirnya. Rasanya menyenangkan ada seseorang yang mengenal suaminya sebagai orang yang hebat di negeri asing. "Kau berasal dari Italia?"
"Dari Verona, lebih tepatnya, Nyonya." Martha menjawab dengan bangga.
Mata Carlotta mulai berbinar. "Benarkah? Aku juga dari Verona."
Martha tertawa kecil. "Kami semua tahu, Nyonya. Anda dan Signor Alessandro sama-sama berasal dari Verona. Kisah cinta kalian begitu indah, dan Signor Alessandro selalu mengumumkannya ke media agar semua orang tahu bahwa Anda berdua adalah pasangan yang serasi. Bukankah itu sangat romantis?"
Carlotta terdiam. Ia jadi merasa semakin merindukan suaminya.
Sial. Ia tidak ingin bercerai dengan Alessandro. Tidak sekarang dan tidak selamanya.
"Eh, Nyonya?" Martha langsung merasa bersalah melihat perubahan ekspresi Carlotta. "Sebaiknya Anda masuk ke dalam terlebih dulu. Di luar sini dingin."
__ADS_1
***