Revengeful Billionaire

Revengeful Billionaire
Bab 75 | Menteri Bisa Menunggu


__ADS_3

Ada yang kangen aku, nggak? Baru sehari loh nggak updatenya hihihi. Makasih udah selalu setia baca dan nungguin yaa ♡


Masih bab haha-hihi kita. Slow pace dulu sebelum masuk konflik lagi. Jangan khawatir ada pelakor ya Sayang-sayangku. Aku agak anti pelakor sebenernya. Tapi ngga tau juga mungkin one day bakal niat bikin tentang pelakor (di novel lain, bukan ini). Kalo pebinor sih demen ya kan. Cowok emang kadang kudu dikasih saingan cinta biar makin effort ke pasangannya HAHAHA.


Jangan kasih kendor dukungannya ya guys, sama kayak aku nggak kasih kendor nulisnya ♡


Luvluv,


Alana


***


Ada ratusan kamar di Castello Ferrara, dan Alicia Contadino mengikuti Luca Lombardi yang berjalan cepat menuju salah satu kamar tamu terindah yang pernah Alicia lihat. Kamar itu didekorasi dengan gaya Renaisans penuh, membuat Alicia merasa bahwa dirinya adalah seorang Principesa, tuan putri, di abad ke-16 atau semacamnya. Langit-langitnya tinggi, dipenuhi lukisan cantik malaikat-malaikat yang membawa busur panah. Sebuah jendela besar menghadap labirin berada di sisi lain ruangan. Sinar matahari masuk dengan bebas, membuat Alicia lebih gugup lagi karena tidak ada yang akan bisa ditutupinya dengan cahaya seterang ini.


"Aku ingin melihatmu." Kata Lombardi. Raut wajahnya serius, tanpa sedikit pun tanda-tanda senyuman.


Alicia buru-buru melepas mantelnya seperti tadi. Lombardi menggeleng tidak setuju.


"Beri aku sebuah pertunjukan yang bagus." Ujar lelaki itu.


Alicia berusaha menenangkan degup jantungnya yang sudah berdetak lebih cepat. Tangannya bergerak perlahan untuk membuka mantelnya. Ketika mantel itu jatuh ke lantai, Alicia menangkap di sudut matanya bahwa Lombardi menahan napas. Itu seharusnya adalah hal yang bagus, bukan? Alicia hendak melakukannya lagi dengan gaun tipisnya.


"Tunggu." Lombardi mengangkat tangannya. Alicia berhenti.


"Apakah aku melakukan kesalahan?" Tanya Alicia.


Lombardi menggeleng pelan. "Kemarilah dan lepaskan pakaianku."


Alicia merasa ragu-ragu sejenak. Gadis itu melangkah pelan mendekati Lombardi. Lombardi berdiri tegak membelakangi jendela, membuat sosoknya menjadi siluet misterius yang membangkitkan rasa ingin tahu Alicia. Ketika sampai di hadapan Lombardi, Alicia mengulurkan tangannya untuk mulai melepas kemeja pria itu. Baru melepas satu kancing paling atas saja Lombardi sudah menahan napas lagi. Alicia mengerjapkan matanya. Pria ini sungguh menarik. Lombardi bahkan belum pernah menyentuh Alicia sedikit pun, tapi Alicia merasa jantungnya sudah berdebar-debar.


Alicia menunduk, berusaha menghindari tatapan Lombardi. Tangannya berkutat untuk membuka kancing-kancing kemeja pria itu, yang semakin lama semakin susah dibuka saja, karena Alicia semakin gugup. Lombardi menyadari itu, lalu memutuskan untuk membantu Alicia sedikit. Pria itu melepaskan kemejanya melewati bagian atas kepala, seperti membuka kaos.


Kini, giliran Alicia yang menahan napas. Tubuh Lombardi bagus sekali. Ototnya keras dan menyembul di tempat-tempat yang seharusnya. Tanpa sadar, jemari Alicia sudah menelusuri bagian atas dada Lombardi.


"Suka dengan apa yang kau lihat?" Tanya Lombardi.

__ADS_1


Alicia segera menarik tangannya yang lancang. "M-maaf!"


Lombardi meletakkan tangan Alicia kembali di dadanya. "Kau boleh menyentuhku sesukamu."


Alicia terkesiap pelan ketika tangannya sudah kembali menyentuh kulit halus lelaki di hadapannya.


"Tapi." Lombardi berkata lagi. "Aku juga akan menyentuhmu."


Lombardi menggerakkan tangannya untuk meraba lengan atas Alicia yang terbuka. Gadis itu gemetar sedikit, tapi tidak menarik diri. Tangan Lombardi kembali bergerak, kali ini menelusuri sisi samping leher panjang Alicia, menuju ke leher bagian belakang.


Bibir Alicia membuka sedikit akibat sentuhan itu. "Signor L-Lombardi ... Aku ..."


"Panggil aku Luca." Titah Lombardi.


Alicia menjilat bibirnya sendiri sebelum mencoba mengucapkan nama itu. "Luca."


Lombardi mengangguk. "Itu nama depanku."


***


Seseorang mengabarkan bahwa Menteri Perdagangan sudah dibiarkan menunggu selama setengah jam. "Ke mana sebenarnya Lombardi? Berani sekali dia membuat orang penting menunggu?" Alessandro meraung marah.


Beberapa pekerjanya langsung membungkuk berbarengan, ketakutan. Alessandro tidak merasa iba sama sekali.


Mauricio mulai menangis keras. Alessandro langsung menelan kembali amarahnya. "Oh, Sayangku." Ia mengangkat putranya tinggi-tinggi ke udara. "Papa minta maaf. Papa membuatmu takut, ya? Papa tidak marah padamu. Tidak. Ssshh ..." Pria itu mencium pipi kanan dan kiri putranya, kemudian mendekap putranya kembali setelah bayi itu berhenti menangis.


"Tomasso." Panggil Alessandro.


Seseorang yang bernama Tomasso maju ke depan. "Ya, Signor?"


"Kau tidak lihat aku sibuk?" Alessandro menunjuk putranya.


Tomasso menggeleng cepat. "Maafkan saya, Signor. Tapi, bayi Anda dapat diserahkan pada istri Anda terlebih dulu."


Alessandro berdecak tidak suka. "Istriku lelah. Dia sedang tidur siang. Dia bisa jadi segalak macan jika aku--" Alessandro segera menutup mulutnya sendiri sebelum para pegawainya berspekulasi bahwa dia adalah sosok suami yang takut istri. "Aku tidak mau mengganggu tidur siang istriku."

__ADS_1


"Kalau begitu, berikan bayi Anda pada para baby sitter, Signor." Tomasso memberikan usulan lain.


Alessandro memelototi Tomasso. "Kau tidak lihat putraku sedang menempel padaku? Dia tidak mau dipegang orang lain selain ayahnya!"


Tomasso menunduk dalam-dalam. "Maafkan saya."


"Sekarang berhenti mencari alasan dan panggil Lombardi kemari." Alessandro mulai tidak sabar.


"Beliau sedang sibuk dan tidak bisa diganggu, Signor." Tomasso menunduk sekali lagi. "Kami minta maaf."


Sekarang, Alessandro benar-benar murka. "Sebenarnya aku atau Lombardi bos kalian di sini?"


Tomasso cepat-cepat menjawab. "Anda, Signor. Tentu saja Anda!" Lalu, Tomasso berbisik. "Tapi, Signor Lombardi sedang bersama wanita. Sepertinya spesial. Beliau tidak pernah punya pacar sebelumnya. Apakah Anda tidak merasa kasihan padanya?"


Alessandro mengerjapkan matanya cepat. Wanita, katanya? Wah. Alessandro sempat mengira Lombardi tidak punya ketertarikan pada asmara saking kakunya pria itu. "Kalau begitu, biar aku sendiri yang mengurus pekerjaan hari ini. Ah. Dan tolong pegangi Mauricio sementara aku menghubungi kembali Menteri Perdagangan. Kau benar. Ini saat-saat langka. Kita tidak boleh mengganggu Lombardi."


"Bukan kita, tapi Anda, Signor." Tomasso mengoreksi. Alessandro pura-pura tidak dengar.


Tomasso melebarkan mata ngeri saat Alessandro mendorong Mauricio ke dekapannya. Tomasso belum pernah memegang bayi sebelumnya. Tapi, Mauricio justru tertawa-tawa senang saat melihat wajah Tomasso yang sedang shock. "S-Signor ..."


Alessandro mengangkat sebelah tangannya, meminta Tomasso diam. Beberapa pegawai lain di belakang Tomasso terkikik pelan. Dalam sekejap, Alessandro sudah tersambung dengan seseorang di telepon dan tenggelam dalam percakapan bisnis.


"Selamat siang, Tuan Menteri. Saya Alessandro Ferrara." Jeda sejenak, kemudian Alessandro mulai tertawa. "Tidak, tidak. Sama sekali tidak mengganggu. Pegawai saya sedang ada urusan mendesak. Urusan ranj-- maksud saya, urusan kesehatan. Kesehatan jasmani dan rohani. Saya sendiri yang akan mengurus semuanya hari ini, Tuan Menteri." Ada jeda lagi. Alessandro mengangguk-angguk. "Saya akan mengatur pertemuan dengan Perdana Menteri Singapura minggu depan untuk membahas masalah ini dengan Anda. Seluruh akomodasi akan difasilitasi oleh Ferrara, tolong jangan khawatir. Saya jamin, perijinan ekspor ini akan sangat menguntungkan bagi negara kita ..."


Alessandro berbicara di telepon hampir tiga puluh menit penuh. Ketika kembali pada Tomasso untuk mengambil Mauricio, rupanya Mauricio sedang asyik menarik-narik rambut keriting kribo Tomasso. Bayi itu mengeluarkan cekikikan senang. Tomasso berusaha melepaskan rambutnya dari cengkeraman Mauricio, tapi Mauricio tidak mau melepaskannya.


Alessandro menyemburkan tawa. "Sepertinya putraku menyukaimu. Kau mau naik jabatan, Tomasso?"


Tomasso memandang Alessandro dengan mata berbinar-binar. "Tentu saja, Signor! Terima kasih banyak! Tapi, jabatan apakah yang Anda maksud?"


Alessandro memandang Tomasso serius. "Baby sitter baru untuk putraku."


Tomasso langsung menyesali persetujuannya tadi.


***

__ADS_1


__ADS_2