
Malem guysssss
I'm so sorry dari pagi ribet bener urusan hidup jadi baru sempet upload malem2 banget huhu. Makasih udah stay di sini buat baca ya! Love you guys always ♡
Please banget JANGAN DIPLAGIAT ya guys baik ide ataupun tulisan aku, aku bikinnya pake mikir & cape loh ini. Jangan lupa buat like vote komen gift 5 stars-nya kayak biasa ♡
Happy reading!
Luvluv,
Alana
***
Alessandro paling benci dibohongi. Apalagi oleh Carlotta. Ini bukan masalah sepele. Carlotta bermaksud menyembunyikan anaknya darinya. Entah karena apa. Pria itu dikuasai dorongan untuk balas menyakiti sebanyak Carlotta sudah menyakitinya. Dan Carlotta sepertinya sama sekali tidak sadar jika dia sudah sangat menyakiti Alessandro.
Mungkin Alessandro bisa memaafkan Carlotta yang dulu mengusirnya ke jalanan tanpa membawa apa-apa. Tapi tidak kali ini. Carlotta sudah banyak sekali berbohong hingga Alessandro tidak tahu lagi perkataan Carlotta mana yang benar dan mana yang salah.
Namun, ketika melihat perempuan itu mengalami perdarahan dan jatuh tak sadarkan diri, nyawa Alessandro rasanya seperti berkurang satu. Ia panik dan merasa sangat amat takut.
Suasana menjadi kacau balau sejak Carlotta pingsan. Alessandro berlari sembari menggendong Carlotta ke kamarnya. Kakeknya memanggil rombongan dokter yang membawa peralatan lengkap dari rumah sakit. Kamar Alessandro dalam sekejap menjadi kamar rawat inap bagi Carlotta dan bayi dalam kandungannya.
Ketika para dokter keluar dari kamar itu, Alessandro beserta kakek dan neneknya langsung menyerbu.
"Bagaimana keadaannya?" Alessandro terdengar sangat cemas.
"Nona Carlotta mengalami perdarahan. Hal ini bisa diakibatkan oleh stres berlebih atau aktifitas fisik yang terlalu berat." Sang dokter berkata.
"Apa dia baik-baik saja? Bagaimana dengan bayi kami?" Kali ini, Alessandro bertanya dengan lebih menuntut.
Di belakangnya, tanpa sepengetahuannya, kakek dan neneknya tersenyum senang mendengar Alessandro menyebut bayi itu sebagai 'bayi kami'. Benar saja dugaan mereka bahwa gadis bernama Carlotta itu tengah mengandung anak Alessandro.
"Bayinya selamat. Hanya saja, tolong pastikan hal seperti ini tidak terulang lagi. Ini sangat berbahaya bagi perkembangan janin. Jika terjadi terus menerus, janin bisa lahir dengan prematur." Dokter itu menjelaskan.
"Maksudnya, aku tidak boleh membuat Carlotta stres?" Tanya Alessandro.
__ADS_1
Sang dokter tersenyum. "Ya, itu benar, Signor. Tolong pastikan Nona Carlotta selalu senang."
Alessandro mendesah berat. Itu adalah tugas yang berat. Pria itu tahu bahwa ia adalah penyebab nomor satu level stres Carlotta naik. Apakah dia harus menghindari perempuan itu untuk sementara waktu agar tidak menyakitinya?
Ya, sepertinya itu adalah jalan terbaik.
"Bisakah aku melihatnya sekarang? Apakah dia sudah sadar?" Tanya Alessandro.
Sang dokter mengangguk. "Perdarahannya sudah berhenti. Aku menyuntikkan penguat kandungan padanya. Kau bisa menjenguknya sekarang, tapi dia belum sadar. Biarkan dia beristirahat, Signor. Dia membutuhkan banyak istirahat."
Tanpa menunggu lagi, Alessandro berlari masuk ke dalam kamarnya.
Carlotta tampak tertidur di atas ranjangnya. Peremuan itu masih tampak sedikit pucat, tetapi tidurnya tampak damai. Perutnya masih besar, menandakan anak mereka masih berada di sana. Alessandro jatuh bersimpuh di sisi ranjang dan tanpa sadar, lelaki itu mulai menangis lega. Carlotta dan calon bayi mereka baik-baik saja. Itu yang paling penting sekarang.
Alessandro meraih tangan Carlotta dan mengecupnya lembut. Air matanya membasahi tangan ramping itu. "Maafkan aku. Aku benar-benar minta maaf, Sayang..."
***
"Alessandro..." Carlotta terbangun dengan kepala berat. Perlahan, ketika kesadaran sudah sepenuhnya datang kepadanya, ia melihat ke sekeliling. Ia berada di sebuah kamar yang besar dan asing. Ranjangnya luas dan berkanopi. Dekorasinya klasik, seperti kamar raja di masa lalu. Beberapa pelayan wanita berdiri di sisi ranjangnya. Salah satunya maju dan mendekati Carlotta.
Kemudian, Carlotta ingat apa yang terjadi sebelumnya, tentang pertengkarannya dengan Alessandro juga. Ia pasti sekarang sedang berada di rumah keluarga Ferrara yang terkenal itu.
"Tolong carikan ponselku." Kata Carlotta. Ia ingin bangun, tapi badannya masih lemas.
"Maaf, Nona. Signor Alessandro membawa ponsel Anda." Jawab si pelayan.
Carlotta menyipitkan mata tidak suka. "Kalau begitu, tolong berikan aku ponselmu. Aku ingin menelepon kakakku dan minta dijemput."
Sekali lagi, si pelayan menggeleng dengan menyesal. "Signor Alessandro melarang Anda untuk pergi ke mana-mana."
Sekarang, Carlotta menjadi kesal. "Aku bukan tahanan! Dia tidak bisa memenjarakanku di sini!"
"Bukan memenjarakan." Seorang wanita tua masuk dan tersenyum hangat pada Carlotta. Wanita itu memakai pakaian desainer yang mahal dan berkelas. Wajahnya memperlihatkan kemiripan dengan Alessandro. Terutama cara wanita itu tersenyum.
Wanita itu kemudian duduk di sisi ranjang Carlotta dan menggenggam tangan gadis itu. "Kita belum berkenalan. Aku Helena, nenek dari Alessandro."
__ADS_1
Carlotta mengerjapkan mata beberapa kali. Rasanya menakjubkan sekali ia bisa bertemu dengan anggota keluarga Alessandro. Carlotta mengenal Alessandro sejak kecil, tetapi Alessandro tidak pernah punya keluarga dan tumbuh sebatang kara. Sekarang, ketika melihat orang lain yang memiliki hubungan darah dengan pria itu, Carlotta jadi merasa senang. Merasa senang untuk Alessandro karena kini pria itu tidak sendirian lagi di dunia ini.
"Namaku Carlotta Marinelli." Carlotta berkata pelan.
Nenek Alessandro membelai tangan Carlotta yang masih ada dalam genggamannya. "Aku tahu."
Carlotta mendadak merasa jadi orang yang tidak sopan. Ia datang kemari tanpa diundang, membuat keributan, dan sekarang sudah merepotkan banyak orang.
Nenek Alessandro terkekeh melihat ekspresi Carlotta. "Jangan khawatirkan apa pun dan fokus saja pada pemulihanmu, Nak. Dan aku ingin minta maaf karena kami tidak mendidik Alessandro dengan baik selama ini. Entah bagaimana anak itu bisa memperlakukanmu dengan buruk. Tapi, dia sangat menyesal. Dia menungguimu sepanjang hari dan sepanjang malam. Dan dia menangis. Padahal aku tidak pernah melihatnya menangis sebelum ini."
Alessandro? Menangis? Carlotta hampir-hampir tidak bisa membayangkannya.
"Cucuku memang memiliki banyak kekurangan, Nak. Namun, sesungguhnya dia anak yang baik. Dia tidak bermaksud jahat dengan mengatakan kau tidak boleh ke mana-mana. Dokter berpesan padanya agar menjagamu dari stres dan aktifitas yang berlebihan. Itu tidak baik bagi bayi kalian."
Pipi Carlotta memanas mendengar nenek Alessandro tahu bahwa ia hamil dengan cucunya. Ia merasa malu. Tapi... bagaimana jika nenek Alessandro menganggap Carlotta sebagai wanita nakal yang menjadikan kehamilannya sebagai alat untuk menjebak Alessandro dalam pernikahan?
Carlotta cepat-cepat berkata, "Aku tidak menuntut apa pun dari Alessandro, Nek. Sungguh. Aku tidak mau merepotkannya. Aku bisa mengurus bayi ini sendiri."
Nenek Helena Ferrara tertawa geli. "Kau ini bicara apa, Sayang? Tentu saja kau tidak merepotkan. Kau membuat kami semua bahagia. Aku bahkan sudah khawatir saat dulu Alessandro bilang tidak akan menikah dan tidak akan meneruskan garis keturunan Ferrara. Aku senang kau mengandung cicit kami. Dia akan mendapatkan semua yang pantas didapatkannya sebagai pewaris Ferrara yang paling baru."
Carlotta agak terkejut dengan pernyataan ini. Dengan kekayaan keluarga Ferrara yang luar biasa, Carlotta mengira kakek dan nenek Alessandro sama piciknya dengan ayahnya dulu. Ia mengira ia akan diusir dari sana begitu mereka tahu ia mengandung anak Alessandro. Bahkan mungkin Alessandro sudah mereka jodohkan dengan seseorang yang lebih pantas. Putri dari sebuah kerajaan, mungkin?
"Apa kau lapar, Nak? Makanan apa yang ingin kau makan?" Nenek Alessandro bertanya.
Carlotta tadi merasa marah, tapi sekarang ia jadi merasa lapar. "Aku bisa makan apa saja selain makanan yang berbau bawang. Bau bawang membuatku mual."
Nenek Alessandro tiba-tiba tertawa. "Ya Tuhan. Kau benar-benar persis denganku. Apakah ini pengaruh darah Ferrara pada bayimu? Aku juga tidak bisa membaui bawang saat mengandung ayah Alessandro dulu."
Carlotta tersenyum. "Benarkah, Nek?"
Nenek Alessandro mengangguk pasti. "Ya, itu benar. Dan Alessandro juga tidak bisa makan bawang, kan?"
Carlotta mendesah. "Sejak hamil, aku jadi menyukai kue-kue kesukaan Alessandro dan membenci makanan-makanan yang tidak bisa dimakan olehnya. Sepertinya aku jadi kehilangan jati diriku." Kata Carlotta, dengan sengaja pura-pura mengeluh.
Nenek Alessandro tertawa semakin keras.
__ADS_1
***