Revengeful Billionaire

Revengeful Billionaire
Bab 34 | Pagi yang Hangat


__ADS_3

Malam, Loves ♡


Semoga kamu selalu bahagia di mana pun kamu berada yaa. Semoga sedikit karya aku ini bisa bikin hari kamu lebih berwarna. Semoga cerita ini bisa menghibur kamu. Tetap semangat dan jangan menyerah! Jangan dibalik :D


Bikin author bahagia caranya gampang kok, LIKE sebelum baca, tinggalin komen, please gimme vote & 5 stars, jangan diplagiat. Makasih buat semua dukungannya selama ini, Loves ♡


Luvluv,


Alana


***


Apa yang sebenarnya dipikirkan Alessandro? Carlotta tidak bisa menebak jalan pikiran pria itu. Baru beberapa hari lalu, pria itu pergi dengan wajah kecewa, terlibat sebuah kecelakaan tunggal, membuat dunia Carlotta terbolak-balik, serta membuat Carlotta tidak bisa tidur dan tidak bisa makan. Sekarang, pria itu ada di hadapannya.


Bukan, pria itu bahkan tidur sambil memeluknya.


Carlotta ingin bangun, tetapi pelukan Alessandro sangat nyaman. Terlalu nyaman, sampai-sampai pengakuan bahwa bayi yang ada dalam kandungannya adalah anak Alessandro sudah berada di ujung lidahnya. Pengakuan tersebut tertelan kembali saat ia mendengar Alessandro mengerang kesakitan untuk kesekian kali.


"Tolong berikan ponselmu." Kata Carlotta.


Alessandro mendesah berat. "Kau pasti akan menghubungi Lombardi."


Carlotta bangkit dari pelukan Alessandro dan mengubah posisinya menjadi duduk. "Aku akan menghubungi siapa pun untuk mengembalikanmu ke rumah sakit."


"Tidak perlu, Sayang..."


Carlotta tidak mengindahkan kata-kata pria itu. Tangannya sudah menggerayangi tubuh Alessandro untuk mencari ponsel.


"Oh, tidak, tidak. Kau tidak akan menemukannya dengan cara seperti itu. Sial, kita bahkan akan berada di ranjang seharian jika kau tidak berhenti sekarang, Carlotta." Alessandro memperingatkan.


Carlotta hampir tertawa, jika Alessandro tidak terlihat amat serius. "Kau sedang sakit. Bisa-bisanya kau berpikir untuk melakukan 'itu'."


Alessandro menggulingkan Carlotta ke dalam pelukannya lagi. "Aku tidak bercanda. Cium aku."


Carlotta terkesiap kecil. Namun, ia bisa melihat mata Alessandro berkobar dengan gairah. Tubuh Carlotta terasa seolah meleleh hanya karena dipandang seperti itu.


"Alessandro, hentikan. Kita harus bangun sekarang dan-"


Carlotta tidak sempat melanjutkan kata-katanya karena Alessandro sudah menciumnya. Hanya ciuman ringan, tapi tubuh Carlotta seperti terbakar. Ya Tuhan, Alessandro benar-benar terasa seperti buah terlarang.

__ADS_1


"Kau manis sekali..." Alessandro berbisik. Kemudian, pria itu mengerang keras sambil memegang dada.


Carlotta langsung bangkit dan mencari ponsel Alessandro secepat yang ia bisa. Ketika menemukannya, ia segera menekan nomor orang yang dipasang sebagai kontak darurat pria itu.


Suara seorang pria terdengar di seberang sana. "Ya, Signor?"


Tiba-tiba Carlotta merasa malu. "Ah, ini bukan Alessandro. A-aku temannya."


"Nona Carlotta?" Tebak pria di telepon.


Carlotta agak terkejut. "Kau mengenalku?"


"Ya, Nona Carlotta. Perkenalkan, saya Luca Lombardi. Ada masalah apa?"


Carlotta memandang Alessandro yang meringkuk kesakitan sembari menggelengkan kepalanya. "Begini, Signor Lombardi, bisakah kau kemari dan menjemput Alessandro? Dia tampak kesakitan. Kurasa seharusnya dia masih berada di rumah sakit."


Lombardi terdengar waspada. "Tulang rusuknya patah dan semalam beliau berkeras memindahkan Nona Carlotta ke kamar tamu sendiri. Saya tidak terkejut dia akan merasa sakit sesudahnya."


Carlotta terbelalak. Alessandro memaksakan diri untuk menggotongnya melewati dua buah lorong dan menuruni tangga untuk mencapai kamar tamu, padahal rusuknya patah. Apa artinya itu?


"Dia benar-benar nekat." Carlotta mulai mengomel. "Memangnya dia pikir aku tidak berat? Berat badanku naik sekitar-"


"Kau seringan bulu, Sayang..." Alessandro memotong Carlotta. "Dan aku tidak apa-apa. Jangan membesar-besarkan masalah."


Lombardi menjawab cepat. "Baik, Nona. Saya dan orang-orang saya sudah menuju ke sana."


***


Carlotta tergoda untuk ikut naik ke dalam limo Alessandro ketika pria itu memintanya ikut. Paginya sangat menyenangkan karena Alessandro memperlakukannya dengan lembut. Rasanya nyaris seperti kembali ke masa lalu. Namun, pria itu kesakitan. Carlotta tahu Alessandro berusaha menyembunyikan kesakitannya, dan tidak terlalu berhasil melakukannya.


Hati Carlotta lega karena meskipun masih kesakitan, Alessandro tidak terluka sangat parah. Tidak separah kecelakaan mobilnya yang menghebohkan seluruh Italia. Ketika pria itu pergi dengan rombongan pria berjas hitam, Carlotta mengelus perutnya sendiri dan tersenyum. "Kau bertemu dengan ayahmu hari ini, Nak."


Tanpa bisa dicegah, Carlotta membayangkan masa depan indah yang bisa saja terbentang di hadapannya. Bagaimana jika ia mengaku kepada Alessandro, dan ternyata Alessandro merasa senang dengan kabar bahwa ia akan menjadi seorang ayah? Bagaimana jika seandainya Alessandro berkata bahwa ia mencintai Carlotta juga? Bagaimana jika setelah itu mereka menikah dan menjadi sebuah keluarga yang bahagia?


Apa yang dilakukan Alessandro terus membuat Carlotta terombang-ambing. Terkadang, pria itu memperlakukannya seolah ia adalah perempuan paling spesial di dunia. Namun, ada saatnya juga pria itu memperlakukannya seolah dia tidak ada harganya. Carlotta menggeleng pelan dan mengenyahkan semua khayalan manisnya. Ia harus kuat menjaga hatinya sendiri. Ia tidak ingin disakiti lagi.


***


Marco Bruni menyadari ada yang berbeda dengan Carlotta ketika ia membawa perempuan itu kembali ke Roma. Marco Bruni menyadari, tubuh Carlotta sudah mulai bertenaga. Perempuan itu tampak lebih sehat dan segar. Bahkan, wajahnya tampak bercahaya. Pipinya kemerah-merahan. Senyum kecil terus tersungging di bibir merah jambunya.

__ADS_1


Ada sesuatu yang terjadi, tebak Marco. Dan ini pasti ada kaitannya dengan Alessandro Ferrara.


"Apa kau begini karena kita akan segera sampai di Roma dan akan menemui Alessandro untuk mengaku?" Marco bertanya.


Carlotta tersentak mendengar pertanyaan itu. "Marco! Kita, kan, sudah sepakat untuk tidak memberitahunya!"


Marco menyetir sembari memutar bola mata. "Kau yang menyepakati itu dengan dirimu sendiri. Aku dan Giacomo tidak."


Carlotta melipat tangan di depan dada. "Kalian berdua tidak boleh melakukan apa pun tanpa ijinku."


Marco mengubah taktik untuk menggali informasi. "Baiklah, baiklah. Sekarang, ceritakan apa yang terjadi. Kau tampak berbunga-bunga, padahal situasi kita di depan publik tidak begitu baik. Mengapa kau tampak... senang?"


Carlotta kembali tersenyum, tetapi segera membuang pandangan ke luar jendela mobilnya. "Oh, bukan apa-apa."


Marco memicingkan mata. "Apakah bukan apa-apa ini ada kaitannya dengan Alessandro?"


Carlotta terkesiap lagi. "Bagaimana kau bisa tahu?"


Bingo! Pikir Marco senang karena tebakannya benar. "Jadi, apa yang dilakukannya sehingga membuatmu senang? Bukankah biasanya kau menangis setelah bertemu dengannya? Apa yang membuat kali ini berbeda?"


"Oh, entahlah, Marco. Dia sangat manis."


Marco terbelalak. Manis, katanya? Carlotta menyebut pria yang telah memperkosanya dan membuatnya hamil itu dengan kata manis? Ini pasti karena pengaruh si jabang bayi.


Marco berdehem. "Dia datang ke panti?"


Carlotta mengangguk. "Dia datang di tengah malam dan menyusup ke kamarku seperti kami berada dalam hubungan yang terlarang."


Marco tidak bisa tidak terkejut. "Alessandro? Datang ke kamarmu semalam? Bukankah dia sedang sekarat di suatu tempat setelah kecelakaan besar beberapa hari lalu?"


Carlotta tertawa. "Dia terluka, benar. Tapi jelas tidak sekarat."


Dasar pria brengsek yang disayang Tuhan, Marco mengumpat di dalam hati. "Lalu, apa yang dilakukannya padamu setelah menyusup ke dalam kamar?"


"Aku tidak tahu!" Carlotta tertawa malu-malu. "Aku sedang tidur, kemudian ketika terbangun di pagi hari, aku sudah dipindahkan olehnya ke kamar yang lebih besar. Dia memelukku sepanjang malam."


Marco langsung mengerem mendadak. "Dia sungguh melalukan semua itu?"


"Aku tidak bermimpi, Marco. Bibi Valentina dan semua anak panti jadi saksi kalau tadi pagi dia memang berada di sana." Carlotta meyakinkannya.

__ADS_1


Meskipun terdengar agak mustahil, Marco percaya pada apa yang dikatakan Carlotta. Dan jika semua yang dikatakan Carlotta memang benar, itu artinya ada kemungkinan Alessandro memang mencintai Carlotta. Dan pria itu membuat Carlotta jatuh cinta lagi. Marco hanya bisa berdoa semoga kali ini semuanya berakhir dengan baik.


***


__ADS_2