Revengeful Billionaire

Revengeful Billionaire
Bab 53 | Hari Pernikahan (2)


__ADS_3

Udah hampir kelar kompetisinya TBL TBL TBL hahaha


Jangan kasih kendor yaa like, vote, love/favorite, comments, 5 stars dll. Thank you so much my dearest readers ♡


Luvluv,


Alana


***


Alessandro menyadari bahwa Carlotta belum selesai dengan rajukannya. Sepanjang hari, perempuan itu lebih banyak diam dan makan. Ketika keluarganya menghampirinya dan bercanda penuh suka cita, perempuan itu hanya tersenyum sekedarnya. Alessandro tidak tahu apakah keputusannya mengundang ibu kandung dan ayah tiri Carlotta kemari adalah keputusan yang tepat atau tidak. Carlotta tidak memberitahunya apapun. Namun, pandangan perempuan itu terus tertuju pada ibunya.


Ciara dan Carina tidak banyak berinteraksi dengan ibu mereka. Dua gadis itu lebih menempel pada Giacomo dan tertawa riang mendengarkan banyolan-banyolan konyol kakak laki-laki mereka. Signor Benito sudah menghilang dari tempatnya untuk bertemu dengan orang-orang dari dunia hiburan. Caterina Benito hanya terus memandangi Carlotta sambil tersenyum.


Menyadari bahwa Carlotta butuh bicara dengan ibunya, Alessandro menawarkan, "Mau kuantar ke kursi di sebelah ibumu?"


Carlotta memandangnya perlahan, kemudian menggeleng sedih. "Tidak perlu, terima kasih. Lagipula aku tidak tahu apa yang akan kukatakan padanya."


Alessandro menggenggam tangan Carlotta. "Kau bisa memeluknya dan tidak perlu berkata apa-apa, Sayang."


Carlotta menggeleng sekali lagi. "Aku bisa bicara dengannya nanti."


Alessandro membelai tangan istrinya. "Kalau sekarang, dengan siapa kau ingin berbicara?"


"Tidak ada." Kata Carlotta. "Aku tidak ingin berbicara dengan siapa pun."


Alessandro melepaskan genggamannya pada Carlotta. "Baiklah kalau itu maumu."


Carlotta mengambil sendok dan memakan sepotong kue cokelat. Kue pernikahan mereka yang tadinya berdiri setinggi satu meter. Carlotta memang tadinya terharu mendengar Alessandro masih mengingat janji pernikahan yang dulu pernah mereka tulis bersama. Namun, hal itu tidak mengubah fakta bahwa Alessandro masih belum mempercayainya. Dan itu menyakiti Carlotta.


Hiburan di acara pernikahan mereka sangat meriah. Alessandro mengundang band-band kenamaan dunia kesukaan Carlotta untuk tampil mengisi acara, tetapi hal itu juga sama sekali tidak mempan untuk memperbaiki suasana hati istrinya. Alessandro tidak tahu harus melakukan apa lagi untuk Carlotta.


"Maaf mengganggu waktu Anda, Signor. Ada tamu yang ingin bertemu dengan Anda dan Nona Carlotta." Lombardi mendekati tempat duduk Alessandro dan Carlotta.


Alessandro mengangkat tangan. Sebelah lengannya merangkul Carlotta. "Dia sekarang Nyonya Carlotta Ferrara, Lombardi."


"Ah. Maafkan saya. Maksud saya, ada tamu yang ingin bertemu dengan Anda dan Nyonya Carlotta Ferrara." Lombardi cepat-cepat mengoreksi kalimatnya.

__ADS_1


Alessandro memandang Lombardi bingung. "Siapa yang kau maksud? Tentu saja semua tamu di sini ingin bertemu dengan kami."


Lombardi berbisik, "Signor Rocco Marinelli."


Carlotta terkesiap pelan. "Papa?"


Alessandro menggenggam tangan Carlotta untuk menenangkan perempuan itu. "Di mana dia?"


"Saya menempatkannya di ruang tamu sayap kanan, Signor. Saya tidak berani mempersilakannya masuk kemari karena beliau tidak dalam kondisi yang... semestinya."


"Apa maksudmu, Lombardi?" Tanya Carlotta.


"Beliau mabuk berat, Nyonya."


Carlotta terkesiap lagi. "Kita harus cepat ke sana, Alessandro."


Alessandro mengangguk. Dengan tangkas, ia membantu Carlotta berdiri dan menggandeng istrinya ke tempat yang disebutkan Lombardi. Lombardi mengikuti mereka dengan satu tim kecil berisi beberapa pria berjas hitam.


Benar saja, ketika Carlotta melihat ayahnya, keadaan pria paruh baya itu persis seperti yang dituturkan oleh Lombardi. Ayah Carlotta adalah orang yang menjunjung tinggi penampilan selama ini. Namun, hari ini beliau tampak seperti gelandangan. Bajunya koyak di beberapa sisi, rambutnya kotor, wajahnya penuh debu, dan seluruh tubuhnya bau alkohol yang menyengat.


Ayah Carlotta melihat putrinya. Pandangannya tidak terlalu fokus, tetapi cengkeraman tangannya kuat. Ia menarik Carlotta ke sisinya, menyembunyikan putrinya dari Alessandro.


Kemudian, pria itu mengacungkan telunjuk ke muka Alessandro. "Kau! Kau yang telah menghancurkan keluargaku! Sekarang kau menghamili putriku dan menikahinya tanpa restuku! Dasar bajingan kecil!"


Rocco melayangkan tinjunya pada Alessandro, tetapi Alessandro menahannya dengan mudah.


"Aku tidak merestui pernikahan ini! Kalian tidak bisa menikah tanpa ijinku!" Rocco berusaha memukul Alessandro lagi.


Carlotta berusaha menghentikan ayahnya. "Tenanglah, Papa. Mari kita bicarakan semuanya baik-baik!"


Rocco kini berbalik menghadap putrinya. "Kau juga! Dasar anak durhaka! Bisa-bisanya kau menikahi pria brengsek seperti dia padahal aku sudah mati-matian mengatur perjodohanmu dengan Roberto Mancini!"


Carlotta terhuyung mundur. Alessandro hendak berlari ke sisi Carlotta, tetapi Rocco menghalangi pria itu.


"Jangan berani-berani menyentuh putriku!" Rocco berteriak.


Alessandro khawatir sekali dengan kondisi istrinya. Carlotta tampak pucat setelah didorong dengan keras. Perempuan itu tidak membentur apapun. Belum. Alessandro tidak tahu apa lagi yang akan dilakukan oleh Rocco Marinelli selanjutnya. Dan ia tidak ingin mengambil resiko.

__ADS_1


"Apa yang harus aku lakukan? Katakan apa yang kau inginkan, Signor Marinelli." Alessandro berusaha bernegosiasi.


"Kau adalah tukang kebun rendahan! Kau tidak cocok untuk putriku yang berharga! Aku tidak mau kau mengotori garis keturunan keluarga kami." Rocco menerjang sebuah bufet dan memporak-porandakan isinya. "Ketika Carlotta melahirkan nanti, aku akan membuang anak kalian ke panti asuhan!"


Carlotta sekali lagi berusaha menenangkan ayahnya. "Tapi dia keturunan keluarga Ferrara, Papa. Dia tidak lebih rendah daripada kita. Kumohon, Papa. Mari kita selesaikan ini dengan berbicara..."


Rocco hendak menyerang Carlotta sekali lagi, tetapi Alessandro berteriak dengan suara menggelegar, "Signor Marinelli!"


Rocco berbalik memunggungi Carlotta dan menghadap Alessandro.


Perlahan, Alessandro bersimpuh di hadapan ayah istrinya. "Saya akan melakukan apa pun. Apa pun yang Anda inginkan. Tolong, biarkan kami bersatu, Signor."


Carlotta menggeleng keras. "Kau tidak perlu melakukan ini, Alessandro..."


"Aku ingin rumah dan bisnisku kembali!" Rocco Marinelli berteriak dengan suara parau.


"Baik." Alessandro langsung menyanggupi.


Rocco tertawa puas. "Dan aku ingin memukulmu!"


Pasukan keamanan Alessandro langsung maju dan mengacungkan senjata pada Rocco Marinelli.


Rocco Marinelli mundur, kemudian mencengkeram bahu Carlotta. "Jika bukan kau yang kupukul, maka Carlotta akan menggantikanmu untuk kupukul."


"Tidak!" Alessandro buru-buru berkata. Pria itu mengangkat tangannya dan meminta pasukannya mundur. "Kau bisa memukulku sepuas hati, tapi jangan Carlotta."


Carlotta menggeleng kuat-kuat. "Tidak. Papa, mari kita bicara baik-baik. Jangan begini. Tolong, Papa..."


Rocco Marinelli hendak mendorong putrinya sekali lagi, tetapi tangan Alessandro dengan sigap menghalanginya. "Aku sudah bilang, kau boleh memukulku, tetapi jangan istriku, Signor."


Alessandro memberi isyarat agar Lombardi dan pasukan keamanannya membawa pergi Carlotta.


Carlotta meronta sekuat tenaga. "Tidak! Jangan! Lepaskan aku! Aku tidak mau membiarkan Papa memukul Alessandro!"


Alessandro tersenyum pada Carlotta. Di hari pernikahannya ini, belum pernah Carlotta menunjukkan rasa cintanya sebelum kejadian ini. Namun, ketika ayahnya mengancam akan memukul Alessandro, Carlotta melupakan semua amarah yang dipendamnya dan tetap membela suaminya. Meskipun harus bersimpuh dan menerima pukulan dari ayah mertuanya, hati Alessandro terasa hangat. Ya, dia rela melakukan apapun jika itu untuk mendapatkan hati Carlotta. Termasuk dipukuli sekali lagi oleh Signor Marinelli.


***

__ADS_1


__ADS_2