Revengeful Billionaire

Revengeful Billionaire
Bab 43 | Formulir Tes DNA


__ADS_3

Siapa yang udah ga sabar ngeliat kebrengsekan Alessandro berikutnya? Hahaha. Here it comes! Chapter ini ada kalo 1200an kata deh keknya. Hope it can makes it up to you karena kemarin-kemarin agak tersendat update (because the 21+ review yang took so long itu guys bukan karena aku ngga update loh ya! Chapter 42 bahkan took more than 24 hours gosh idk anymore).


Don't forget click LIKE before you read ya guysss. Keep the loves comments gifts tips & VOTES! Please we need more VOTE♡


Luvluv,


Alana


***


Persiapan pernikahan telah menghabiskan waktu satu minggu. Vendor telah dipesan, baju pengantin telah diukur dan disesuaikan, menu makanan telah dipilih. Lombardi bahkan sudah menyaring pers dari berbagai koran dan saluran televisi yang diperbolehkan melakukan siaran langsung atau meliput. Marco Bruni juga datang setiap hari untuk mengabarkan siapa saja selebriti yang akan diundangnya untuk menaikkan pamor Carlotta.


"Kau tidak perlu pusing, Sayang. Biar kami yang mengurus semuanya." Begitu kata Marco saat melihat Carlotta turun ke ruang tengah rumah Ferrara dengan raut wajah yang menunjukkan betapa lelah dan kurang tidurnya perempuan itu.


Carlotta memutar bola mata. "Aku tidak lelah karena itu, Marco."


Lalu, ketika Marco mengerti apa yang dimaksud oleh Carlotta, pria itu tertawa terbahak-bahak. "Ayolah ceritakan sedikit. Apakah dia hot?"


Carlotta tersenyum. "Hal itu tidak perlu dipertanyakan lagi."


Marco mengeluarkan ******* iri. "Kau sungguh beruntung."


"Ya, benar. Tapi dia terlalu bersemangat." Carlotta memegangi perutnya sebelum menjatuhkan diri ke sofa di samping Marco.


"Oh, Ya Tuhan." Marco menutup mulutnya yang mengaga dengan kedua tangan. "Staminanya pasti bagus sekali."


Carlotta memutar bola matanya. "Dia tidak akan berhenti sebelum aku pingsan."


Marco tertawa terbahak-bahak. "Apakah malam itu, saat kalian pertama kali melakukannya, dia juga begitu?"


Carlotta mengangkat bahu. "Kalau dia tidak begitu, mana mungkin aku bisa hamil?"


Marco Bruni tertawa geli.


Percakapan mereka berdua langsung terhenti ketika derap langkah orang yang sedang mereka bicarakan terdengar. Marco merasa, Alessandro Ferrara banyak berubah. Pria itu jelas masih menjulang dan berotot besar. Namun, kini ada kelembutan di wajahnya yang biasanya tampak dingin. Apalagi ketika lelaki itu tersenyum manis pada Carlotta.


"Selamat pagi, Sayang." Alessandro mengecup pipi Carlotta, kemudian memandang Marco. "Selamat pagi untukmu juga, Marco."


"Selamat pagi!" Marco menyahut riang. Rasanya sudah berjuta-juta tahun lalu ketika ia ketakutan saat pertama kali diundang makan malam oleh Alessandro.


Carlotta memperhatikan Alessandro tampil rapi sekali pagi ini. Kemudian, Lombardi muncul membawa dua koper besar.

__ADS_1


"Kau mau pergi ke suatu tempat?" Carlotta bertanya.


Alessandro memandang gadis itu dengan tatapan merana. "Ya. Aku harus pergi mengurus peresmian anak perusahaanku yang tertunda karena kecelakaan di Veneto waktu itu. Sekarang tidak bisa ditunda lebih lama lagi. Aku tidak ingin mengganggu acara bulan madu kita nanti."


Carlotta langsung berdiri. "Peresmiannya di Verona, kan? Aku bisa ikut denganmu."


"Tidak, Sayang. Seluruh dewan direksi anak perusahaan sudah kembali ke New York. Tidak efisien mengundang mereka kemari lagi. Jadi, aku yang akan ke sana." Alessandro merapikan jasnya. Lewat sudut matanya, ia memberikan kode bagi Lombardi untuk segera mengangkut koper-kopernya ke dalam limo.


"Apakah aku akan ikut?" Carlotta bertanya.


Alessandro menggeleng dan tersenyum. "Kau di sini saja, ya? Guncangan di pesawat tidak baik bagi calon bayi. Lagipula, aku hanya akan pergi selama tiga hari."


Carlotta cemberut. "Ya sudah kalau begitu. Tapi, seharusnya kau bilang dulu padaku."


Alessandro tertawa. "Kalau aku bilang sejak kemarin, kau akan menekuk muka sejak kemarin."


Carlotta tidak bisa membantah itu, karena memang benar. "Jangan lama-lama, Alessandro. Pernikahan kita tinggal seminggu lagi. Kau tidak akan melewatkannya, kan?"


Tawa Alessandro semakin keras. "Mana mungkin aku melewatkannya? Pernikahan kita adalah tujuan hidupku."


Carlotta memeluk pria itu dan merasa enggan untuk melepaskannya. "Kalau begitu, hati-hati di jalan."


"Omong-omong, apakah kau sudah makan?" Carlotta bertanya.


Alessandro menggeleng pelan. Ia menoleh kembali pada asistennya. "Tunggu aku di ruang makan, Lombardi. Aku akan bicara padamu sebentar sebelum pergi."


Lombardi segera melaksanakan perintah dan menghilang di balik pintu ruang makan.


"Kau sendiri sudah makan?" Alessandro bertanya pada Carlotta.


Carlotta menggeleng. "Belum lapar. Nanti aku makan dengan Marco saja."


"Baiklah kalau begitu." Kata Alessandro. Kemudian pria itu seperti teringat akan sesuatu yang tadi sempat ia lupakan. "Pakta kerjasamanya! Lombardi, bantu aku mencarinya!"


Alessandro langsung melepaskan Carlotta dan berbalik kembali menuju ruang kerjanya. Lombardi juga segera keluar dari ruang makan dan mengikuti tuannya.


Carlotta mengangkat tangan. "Aku tidak mengerti tentang bisnis dan apa yang dilakukan calon suamiku dengan pekerjaannya, Marco."


Marco menepuk bahu Carlotta untuk menenangkan perempuan itu. "Jika dilihat dari keberhasilan Ferrara Group di bawah kepemimpinannya, sepertinya dia tahu apa yang dia lakukan."


"Baguslah kalau begitu." Ujar Carlotta.

__ADS_1


"Kenapa kau tidak masuk ke ruang makan saja? Bukankah Alessandro bilang akan bicara sebentar dengan asistennya di ruang makan sebelum pergi?" Marco mengusulkan.


Carlotta berbinar. Gadis itu sudah pasti menganggap ide Marco brilian. Tanpa menunggu apa-apa lagi, Carlotta menyelinap masuk ke dalam ruang makan.


Ruang makan di rumah Ferrara adalah sebuah ruangan berbentuk segi delapan. Ketujuh sisinya memiliki jendela luar biasa besar yang menghadap langsung ke taman mawar. Satu sisinya yang lain ditempati pintu ganda abad pertengahan. Setiap jendela memiliki gorden berwarna keemasan yang lebarnya dapat menyembunyikan lima orang dewasa. Mejanya sendiri diperuntukkan untuk dua puluh enam orang. Terdapat kandelir-kandelir indah bergelantungan dari atap. Dan yang paling Carlotta suka dari ruangan ini adalah atapnya yang berisi lukisan dewa-dewa. Sangat indah.


Kemudian, Carlotta melihat ada sebuah dokumen tergeletak di atas meja makan. Pasti Lombardi tidak sengaja meninggalkannya di sana karena buru-buru mengikuti perintah Alessandro.


Carlotta berniat untuk membantu merapikan dokumen yang berserakan itu, tetapi tiba-tiba sangat terkejut ketika membaca tentang apa dokumen itu sebenarnya.


Tes DNA. Dokumen-dokumen itu adalah formulir pengajuan tes DNA dari Alessandro Ferrara atas bayi yang akan dilahirkan Carlotta Marinelli.


Napas Carlotta tercekat. Udara di sekelilingnya jadi terasa menyesakkan. Perempuan itu tidak sempat berpikir apa-apa lagi ketika derap langkah kaki Alessandro dan Lombardi menuju ke tempatnya berada. Ia harus segera bersembunyi untuk mendengarkan apa sebenarnya rencana Alessandro. Carlotta berlari ke belakang sebuah gorden dan membentangkan kain keemasan besar itu untuk menutupi dirinya.


"Masukkan dokumen itu ke rumah sakit, Lombardi. Jangan sampai Carlotta tahu." Terdengar suara Alessandro.


Hati Carlotta terasa bagaikan dihujam sebilah pisau dan patah menjadi dua.


"Lalu..." Alessandro berkata lagi. Sebelah tangannya bergerak untuk mengambil sandwich isi tuna di atas meja makan. "Terus ikuti Carlotta. Jangan sampai dia lepas dari pengawasanmu. Aku ingin kau melaporkan setiap kegiatannya padaku, siapa saja yang dia temui, di mana saja dia beraktifitas, semuanya."


"Baik, Signor." Lombardi menjawab patuh.


Alessandro terdengar puas. Pria itu mulai makan sandwich di tangannya. "Dan yang paling penting, jangan sampai Carlotta bertemu lelaki lain selain Giacomo dan Marco Bruni."


"Baik, Signor."


"Bagus. Cepat bereskan dokumen itu. Aku akan menemui Carlotta dan berpamitan sekali lagi padanya sebelum mengejar penerbanganku." Alessandro berderap pergi dari ruangan itu.


Marco Bruni heran melihat Alessandro keluar dari ruang makan berdua saja dengan Lombardi. Ke mana Carlotta?


Alessandro menghampirinya. "Di mana Carlotta? Aku ingin berpamitan dengannya sekali lagi."


Kemudian, Marco sadar ada sesuatu yang salah di sini. Carlotta jelas-jelas masih ada di ruang makan, karena Marco melihat gadis itu masuk tetapi tidak melihatnya keluar. Jadi, ia segera memutar otak dan mengatakan kebohongan kecil. "Carlotta sedang di toilet. Dia meminta tolong agar aku menyampaikan salamnya padamu. Tidak perlu ditunggu, katanya."


Alessandro melirik arlojinya. "Begitukah? Kebetulan sekali aku sedang terburu-buru. Baiklah kalau begitu, tolong jaga Carlotta, Marco."


Marco mengangkat bahu. "Tanpa diminta pun aku selalu menjaganya."


Alessandro mengangguk penuh terima kasih. "Kalau begitu, aku pergi dulu."


***

__ADS_1


__ADS_2