
HELLOOOOO GUYSSSS I'M BACK ♡
Udah lama banget yaa rasanya hahaha. Aku ngerjain 3 naskah on going sekaligus & dubbing 2 novel sekaligus, jadi agak repot akhir-akhir ini. Jadi, ceritanya aku kirim naskah ini buat lomba Mengubah Takdir versi cowok. Pas masih nulis naskah ini iseng-iseng kirim form buat lomba Yang Muda Yang Bercinta. Aku pikir ga keterima karena udah sebulan lebih ga ada kabar. Terus tau-taunya diterima dong guys, ga tau mesti seneng apa sedih :') sisa waktunya tinggal 23 hari. Should I give it a go?
Naskah ketiga yang aku kerjain adalah sekuel cerita ini. Tentang anaknya Carlotta & Alessandro (I changed his name from Mauricio to Maurizio, karena ternyata temen aku yang namanya Mauricio asalnya dari Spanyol guys bukan Italia duh oon bgt Alana hahaha, kata dia versi Italia-nya adalah Maurizio). Sekuel ini nantinya bakal aku kirim ke lomba Mengubah Takdir versi cewek. Semoga keterima dan semoga kalian suka yaa ♡
So, here we go. Jangan lupa like komen vote (mumpung senin kan ya, kalo kalian masih ada jatah vote mingguan please give it to me hahaha), gift, 5 stars ☆☆☆☆☆
Luvluv,
Alana
***
Alessandro meletakkan bayinya di ranjang, tepat di sebelah Carlotta yang masih tertidur. Pria itu tertawa-tawa sendiri saat melihat kedua manusia berambut pirang kesayangannya itu tidur dengan muka polos yang sama. Tak tahan karena keduanya menggemaskan, Alessandro kemudian mengambil ponsel dan memotret mereka.
Sialnya, Alessandro lupa untuk mengaktifkan mode silent pada ponselnya hingga bunyi gambar yang terjepret membangunkan baik Carlotta maupun bayinya. Maurizio menangis dan Carlotta memberengut kesal.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Carlotta. Perempuan itu segera bangkit dan membuai bayinya yang kini hampir genap tiga bulan.
"Ah. Sayang." Alessandro nyengir kuda.
Mata Carlotta menyipit.
Alessandro menggaruk lehernya yang tidak gatal. "Kalian lucu."
"Ini tengah malam, Alessandro."
Alessandro buru-buru mencium kening istrinya. "Maafkan aku. Jangan marah. Ayo, tidur lagi. Maurizio sudah tidak menangis. Biar aku pindahkan dia ke box-nya."
Carlotta menyerahkan bayinya yang sudah tenang pada Alessandro, kemudian Alessandro mengembalikan Maurizio ke tempat yang seharusnya.
"Kau tidak bisa tidur?" Carlotta bertanya.
Alessandro mengangguk pelan.
Carlotta hampir tertawa terbahak-bahak jika tidak ingat bayinya baru saja menangis. "Kau selalu seperti ini saat aku datang bulan."
Alessandro terdiam sebentar, hendak mengelak, tetapi tak urung mengangguk juga.
"Kalau begitu kemarilah." Carlotta menepuk ranjang di sisinya.
Alessandro naik ke atas ranjang menuruti istrinya. Carlotta segera mendorong suaminya sampai terlentang. Alessandro tertawa. "Apa yang akan kau lakukan padaku?"
Carlotta mulai naik ke atas tubuh Alessandro. "Sst ... Aku bisa membantumu tidur nyenyak."
Alessandro tertawa geli saat Carlotta mulai membenamkan wajah di sisi lehernya, turun ke dada, hingga ke perut. "Cara Mia ..."
__ADS_1
Carlotta meletakkan telunjuknya di mulut Alessandro, mencegah pria itu untuk berbicara lebih lanjut. Alessandro terkesiap keras saat Carlotta menggenggam miliknya dan mulai melakukan aksinya.
***
Pagi harinya, Alessandro bangun dengan segar bugar. Bau telur panggang menusuk penciumannya. Pria itu tersenyum lebar saat Carlotta meletakkan piring berisi makanan itu tepat di bawah hidungnya.
"Kau tahu cara paling efektif untuk membangunkan aku." Alessandro membuka mata, langsung duduk, dan Carlotta segera menyuapkan telur buatannya ke mulut suaminya.
"Bagaimana? Enak?" Tanya Carlotta.
Alessandro berhenti mengunyah. Mengapa telurnya terasa tidak benar? Rasanya asin cenderung pahit. "Apakah kau mengganti koki kita?"
Carlotta tertawa dengan bangga. "Tidak. Aku yang memasak pagi ini."
Alessandro langsung tersedak. Beracun. Segala masakan yang dibuat istrinya tidak layak dimakan oleh manusia!
"Kenapa?" Carlotta mengernyitkan dahinya. "Kau tidak suka masakanku?"
Alessandro menggeleng cepat. Ia buru-buru mengunyah dan menelan. Lalu, ia mengambil segelas air dan meneguknya sampai habis. "Aku suka sekali!"
"Nenek Helena bilang, salah satu cara untuk mengambil hati suami adalah lewat masakan." Carlotta tersenyum lembut. "Baguslah kalau kau suka. Ini pertama kalinya aku memasak sendiri. Biasanya, di panti, Bibi Valentina yang meracikkan bumbunya. Aku hanya tinggal menumis atau memanggang dan memotong sayuran. Aku akan memasak untukmu lebih banyak mulai sekarang."
Mata Alessandro terbelalak ngeri. "Kau sudah mengambil hatiku sepenuhnya. Tidak ada lagi yang bisa diambil. Kau tidak perlu memasak untukku, Cara Mia ..."
Carlotta menggeleng penuh determinasi. "Aku harus bisa memenangkan cintamu setiap hari lewat perut. Nasehat dari nenekmu benar."
Carlotta tertawa terbahak-bahak. Perempuan itu mengambil bantal, lalu memukulkannya main-main ke muka suaminya. "Dasar nakal!"
***
Waktu sudah hampir menunjukkan jam makan siang, tapi sekali lagi Lombardi terlambat hadir. Alessandro turut merasa senang karena sekarang Lombardi punya pacar. Namun, tak urung ia kesal juga karena waktunya sendiri untuk pacaran dengan istrinya jadi terganggu.
Tak ada cara lain. Jika sudah mulai rapat, Alessandro terkadang bisa lupa waku. Apalagi bila ia yang harus memimpin jalannya rapat sendirian tanpa kehadiran asisten nomor satunya. Bisa-bisa ia tidak melihat Carlotta dan Maurizio selama berjam-jam. Itu akan membuatnya gelisah bukan main.
"Tomasso." Alessandro memanggil asistennya yang lain mendekat.
"Ya, Signor?"
"Kapan kira-kira Lombardi akan kembali?" Tanya Alessandro.
"Anda tidak tahu, Signor? Hari ini Signor Lombardi mengambil cuti." Jawab Tomasso takut-takut.
Alessandro memicingkan mata. "Cuti? Sejak kapan Lombardi punya keinginan mengambil cuti?"
Tomasso mendesah sedih. "Anda mempekerjakan Signor Lombardi bagai robot, Signor. Dia bekerja setiap hari sepanjang tahun tanpa pernah sekali pun meminta ijin atau mengambil cuti."
Alessandro terdiam. "Aku tidak pernah menyuruhnya begitu."
__ADS_1
"Ya ..." Tomasso sengaja memanjangkan nada bicaranya. "Tapi Anda memanggilnya kemari sesuka hati, padahal ia juga punya kehidupan pribadi di luar sana."
Alessandro mengibaskan tangannya. "Baiklah, baiklah. Aku mengijinkannya mengambil cuti." Pria itu mendesah kesal. Namun, tiba-tiba ia teringat akan sesuatu. "Siapa wanita itu?"
Tomasso menengok ke kanan dan ke kiri, mencari wanita yang dimaksud tuannya. Tak ada seorang pun di ruang kerja itu selain dirinya sendiri dan Alessandro Ferrara. Tomasso sempat takut kalau-kalau Alessandro melihat hantu.
"Maksudku, pacar Lombardi. Siapa dia?" Alessandro mengulangi dengan tak sabar.
"Oh. Itu." Diam-diam Tomasso mendesah lega. Tidak ada hantu di sana. "Signor, kan, sudah pernah bertemu dengannya. Wanita itu pernah datang kemari dan bertemu Signor di entrance hall."
Dahi Alessandro mengerut. "Siapa?"
"Namanya ,kalau tidak salah, adalah Alicia Contadino." Tomasso menerangkan.
Kerutan di dahi Alessandro makin dalam. Alicia Contadino? Gadis berambut pirang dan bermata biru yang pernah mengaku-ngaku memiliki putra darinya? Sebenarnya apa sih yang dipikirkan Lombardi? Bagaimana bisa pria itu justru terjebak rayuan si gadis penipu? Ke mana logika Lombardi yang sempurna itu? Alessandro mempercayakan sebagian pekerjaannya pada Lombardi karena pria itu punya pemikiran yang tajam dan tidak mudah ditipu. Bagaimana mungkin semua ini terjadi?
"Tomasso, aku punya tugas untukmu." Alessandro berkata.
"Apa itu, Signor?" Tanya Tomasso.
"Cari dan buat daftar perempuan kelas atas yang belum menikah. Perempuan itu harus cantik, berasal dari keluarga baik-baik, pintar, dan elegan. Aku ingin mencarikan calon istri untuk Lombardi karena sepertinya dia tidak bisa mencari perempuan yang pantas untuk dirinya sendiri." Ujar Alessandro.
Tomasso terkesiap. "T-tapi, Signor Lombardi sudah punya pacar, Signor ..."
Alessandro melipat tangan di depan dada. "Lombardi bilang, gadis itu bukan pacarnya, kan, saat itu? Aku percaya Lombardi hanya ingin main-main sebentar dengan Alicia."
"Ya, saya juga mendengar Signor Lombardi bilang bahwa Nona Alicia bukan pacarnya. Tapi, bagaimana jika sekarang mereka sudah pacaran?"
Alessandro memandang Tomasso kesal. Memang benar, tidak ada asisten lain yang sebaik Lombardi. Alessandro juga tidak tahu mengapa putranya, Maurizio, senang sekali menempel pada Tomasso.
"Jalankan perintahku tanpa banyak bertanya, Tomasso." Kata Alessandro di sela-sela giginya.
"T-tapi, Signor ..."
Alessandro berdehem. "Kau benar-benar ingin naik jabatan menjadi baby sitter putraku, rupanya?"
"Tidak, Signor. Baik, akan saya laksanakan!" Tomasso sudah bersiap untuk mengambil langkah seribu.
Alessandro memanggilnya lagi. "Dan satu hal lagi. Aku tidak jadi mengijinkan cuti Lombardi. Dia tidak boleh menghabiskan waktunya lama-lama dengan perempuan penipu itu."
***
Nah sambil nungguin aku up, biar ga berasa lama, kalian bisa bacain punya besties aku. Ceritanya bagus-bagus loh!
__ADS_1