
Buat bekal TGIF kalian HAHAHA. Alana lagi deg2an besok pengumuman. Tau sih kesempatan buat menang kecil banget, apalagi author lain udah pada famous kan ya, sementara ini karya pertama Alana di sini. Buuuuuut, ini bukan kali pertama Alana nulis. Masih banyak karya lama yang belum dipublish dan Alana masih nyari-nyari rumah terbaik buat karya Alana yang lain. Please please bantu dukungan di sini temen-temen ♡
Minggu depan kita masuk konflik lagi. Enjoy yaa! Hope you'll like it.
Luvluv,
Alana
***
Ternyata, Lombardi adalah seorang pecinta yang hebat. Sia-sia saja Alicia merasa ketakutan semalam. Apa yang dikatakan orang bahwa saat pertama kali melakukan akan sangat sakit ternyata tidak benar. Memang, dia merasakan sensasi aneh di bawah sana. Tapi, dia tidak terlalu peduli. Gadis itu sudah terlalu siap saat Lombardi bercinta dengannya.
Segalanya justru terasa indah. Tak pernah terbayangkan bagi Alicia bahwa kekasih pertamanya adalah orang seluar biasa Luca Lombardi. Gadis itu seharusnya yang menggoda Lombardi. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Lombardi yang mengatur jalannya permainan mereka. Memberinya begitu banyak kejutan dan membuatnya melayang ke angkasa.
Alicia tersenyum puas saat Lombardi berguling menjauh di akhir permainan. Pria itu lebih menawan lagi dilihat dari dekat. Dan meskipun tidak tersenyum, Alicia tahu bahwa Lombardi juga merasakan kepuasan yang sama dengannya.
"Terima kasih." Lombardi berkata ketika telah selesai membersihkan diri.
Alicia melebarkan mata. "Apa katamu tadi? Terima kasih?"
Lombardi memandang Alicia heran. "Ya. Terima kasih. Ada yang salah?"
Alicia terdiam. Ya. Segalanya tiba-tiba menjadi terasa salah. "Tidak ada."
Lombardi mengernyit. Kemudian, ia mengeluarkan buku ceknya lagi.
"Jangan berani-berani." Ancam Alicia.
Gerakan tangan Lombardi terhenti di udara. "Kau kelihatan tidak senang. Padahal, tadi semuanya menyenangkan. Aku ingin memberimu bonus."
Sengatan air mata mengancam tumpah dari mata Alicia. Benar. Bagi Lombardi, ia selamanya akan menjadi pelacur. Seorang wanita yang mau ditiduri karena uang. Sedihnya lagi, semua itu memang benar.
Tapi kenapa Alicia merasa kecewa?
Lombardi mendekati ranjang tempat Alicia berada. "Tadi kau berdarah. Apakah aku terlalu menyakitimu?"
'Ya. Ya! Kau menyakiti hatiku!' Alicia ingin melemparkan jawaban itu tepat ke wajah Lombardi, tapi pada akhirnya ia hanya menggeleng pelan. "Aku baik-baik saja."
"Kau tidak terlihat baik-baik saja." Kata Lombardi.
Alicia segera bangkit dari tempat tidurnya. "Apakah aku sudah boleh pergi sekarang?"
Lombardi masih memandangi Alicia dengan bingung. "Ya. Kau boleh pergi."
Alicia mengangguk. "Kalau begitu aku akan memakai kamar mandinya, kemudian pergi."
Lombardi balas mengangguk. "Silakan. Sebaiknya kau berendam dengan air panas dulu sebelum--"
__ADS_1
"Aku tahu apa yang harus kulakukan. Dan aku tidak butuh saranmu." Potong Alicia dingin.
Gadis itu bergegas menutupi tubuhnya dengan kain yang tadinya berserakan dan turun dari tempat tidur. Tubuh bagian bawahnya masih berdenyut nyeri dan rasanya ia tidak sanggup langsung berjalan, tapi ia memaksakan diri.
Keheningan menyeruak menyesakkan dan Alicia sama sekali tidak ingin menjadi seseorang yang memecahnya. Jadi, gadis itu memandang lurus ke depan dan berjalan perlahan menuju kamar mandi dalam ruangan. Segala hal tentang tempat ini indah. Begitu pun dengan kamar mandinya. Namun, yang ingin dilakukan Alicia hanyalah menutup pintu rapat-rapat dan menangis pilu di dalam bathtub mewah berukir keemasan yang ada di dalam kamar mandi. Nanti. Itu semua akan dilakukannya nanti setelah pria yang baru saja bercinta dengannya hilang dari pandangan.
Lombardi terdiam. "Kalau begitu, aku harus pergi sekarang. Tuan Menteri sedang menungguku dan--"
Alicia memotong lagi. "Pergi saja. Aku tidak peduli."
***
"Lombardi!" Alessandro Ferrara mengangkat kedua tangannya lebar-lebar saat melihat Lombardi datang. Senyuman bahagia tersungging di wajahnya. "My man! Akhirnya kau kembali. Bagaimana dengan pacarmu? Apa kau sudah mengantarnya pulang?"
Lombardi terkejut sekali karena Alessandro tahu.
Alessandro tertawa terbahak-bahak. "Semua orang di sini menggosipkanmu, Lombardi. Dan, tidak. Jangan merasa malu! Itu hal yang bagus! Kau boleh bercinta di sela-sela waktu kerja. Itu sangat menyehatkan. Aku juga suka melakukannya dengan Carlotta dan--- Maksudku, aku seorang profesional. Aku tidak akan mencontohkan hal-hal buruk pada para pekerjaku."
Lombardi membelalakkan matanya. Pipinya perlahan bersemu merah.
Alessandro berdehem. "Kau belum menjawab pertanyaanku. Apa kau sudah mengantar pacarmu?"
"Tidak. Dia bukan pacarku." Lombardi menggeleng.
Alessandro mengernyit. "Jangan bilang kau meniru jejakku dulu untuk menikmati wanita-wanita seksi di luar sana."
Kerutan di dahi Alessandro makin dalam. "Kau menyewa pelacur?"
Lombardi terdiam. Ia ingin menjawab tidak, tapi ia memang membayar Alicia. Jika ia menjawab iya, maka .... "Tidak. Ini pertama kalinya bagi gadis itu."
Alessandro tertawa dengan bangga sambil menepuk bahu Lombardi. "Bagus sekali! Di mana dia sekarang? Kau harus memperlakukannya dengan lembut. Aku bahkan memandikan Carlotta saat pertama kali kami-- Jangan bayangkan itu. Lupakan saja." Alessandro berdehem lagi. "Jadi, di mana gadis spesial ini?"
"Dia mungkin sudah pergi." Jawab Lombardi.
Alessandro terkesiap. "Kau membiarkannya pergi sendirian setelah merenggut kesuciannya? Aku tidak pernah mengajarimu berlaku begitu kasar pada wanita, Lombardi!"
Lombardi terdiam lagi.
Alessandro berkacak pinggang. "Sekarang kejar dia."
"Maaf, Signor?"
"Kejar dia." Alessandro mengulangi. "Jangan khawatirkan si tua bangka Menteri Perdagangan. Aku sudah mengurusnya."
Lombardi mengamati Alessandro dengan pandangan tak yakin.
"Aku sungguh tidak apa-apa!" Alessandro menunjuk Tomasso di sudut ruangan. Pria berambut keriting itu melemparkan pandangan memelas pada Lombardi. Di dekapannya ada bayi laki-laki super aktif yang cekikikan sambil meraup apa saja yang bisa diraup tangan mungilnya. "Mauricio aman bersama Tomasso. Aku bisa bekerja dengan tenang sambil mengawasi putraku."
__ADS_1
Lombardi masih mematung di tempatnya berdiri.
Alessandro segera mendorong Lombardi keluar dari ruang kerjanya. "Cepat pergilah! Cari gadis itu dan minta dia jadi pacarmu! Perlakukan dia dengan baik. Jangan sampai menyesal!"
"T-tapi, Signor ..."
Alessandro berkacak pinggang. "Aku tidak mau disebut sebagai bos kurang ajar yang merusak hidupmu. Kejar dia dan beri gadismu seikat bunga!"
Carlotta datang dari luar ruangan. Perempuan itu melenggang anggun mendekat. "Aku mendengar suaramu dari ujung lorong, Alessandro. Ada apa ini?"
Alessandro menunjuk Lombardi. "Dia membiarkan pacarnya pulang sendiri. Aku menyuruhnya untuk mengantar gadis malang itu pulang."
Carlotta terkesiap. "Lombardi, kau benar-benar melakukan itu? Aku sama sekali tidak menyangka ternyata kau tidak memahami wanita!"
Alessandro mengangguk-angguk. "Nah. Kau dengar apa kata istriku, Lombardi."
Lombardi masih tampak ragu. Sesaat kemudian, ia akhirnya mengangguk pasrah. "Mungkin, aku memang harus mengantarnya."
"Tentu saja!" Alessandro mendorong Lombardi lagi.
Lombardi berjalan ragu-ragu menjauh. Setelah beberapa saat, kakinya berjalan semakin mantap untuk mengejar Alicia.
Alessandro bergegas menghampiri istrinya saat Lombardi sudah pergi. "Ah. Cara Mia. Kau sudah selesai tidur siang?"
Carlotta menyibakkan rambut panjangnya. "Aku tidak bisa tidur, jadi aku mengundang Marco, Ciara, dan Carina untuk minum teh."
Alessandro mengerjapkan matanya cepat. "Kau memintaku menjaga Mauricio untuk minum teh?" Tanyanya tak percaya.
Carlotta menyipitkan matanya. "Memangnya kenapa? Kau merasa keberatan menjaga putramu sendiri?"
Alessandro buru-buru menggeleng dan tersenyum lebar. "Tidak. Tentu saja tidak begitu. Aku senang menjaga Mauricio. Aku bahkan sibuk menggendongnya saat menerima berita bahwa Menteri Perdagangan menunggu aku menjawab panggilan."
Carlotta melipat tangan di depan dada. "Benarkah? Kau pasti sangat terganggu."
Alessandro buru-buru menggeleng dan tertawa gugup. "Tidak! Sama sekali tidak." Pria itu berdehem, mengenali tanda-tanda bahaya dari pandangan Carlotta. Jangan sampai perempuan itu marah.
"Lalu, di mana Mauricio sekarang?" Carlotta menyipitkan mata.
"Di sana." Alessandro membuka pintu ruang kerjanya lebar-lebar, membuat Carlotta dapat mengamati semua orang yang ada di dalam. Pandangan Carlotta langsung terfokus pada putranya yang tampak bersenang-senang dengan pria berambut keriting di sudut ruangan.
"Kenapa dia bersama Tomasso?" Tanya Carlotta.
Alessandro mengendikkan bahu. "Mauricio menyukainya. Jadi, aku menunjuk Tomasso sebagai baby sitter tambahan putra kita."
Carlotta tertawa geli melihat Tomasso menggeleng cepat padanya. "Berhenti menyiksa para pekerjamu dan segera bawa Mauricio padaku, Alessandro."
"Baik, Ma'am!" Alessandro segera melaksanakan apa yang dikatakan Carlotta, membuat para pegawainya menutup mulut rapat-rapat, menahan jangan sampai tawa mereka lolos begitu saja.
__ADS_1
***