Revengeful Billionaire

Revengeful Billionaire
Bab 44 | Mengundang Masalah


__ADS_3

KLIK LIKE sebelum baca ya guys thank you! Yuk follow aku biar kalian dapet notif kalau aku update cerita baru ♡


Jangan kasih kendor VOTE GIFT COMMENT 5 STARS-nya yaa. Oh iya, klik FAV juga biar kalian langsung dapet notif tiap aku update bab baru.


Luvluv,


Alana


***


"Aku tidak bisa melanjutkan pernikahan ini, Marco." Begitu kata Carlotta saat keluar dari ruang makan dan menemukan Marco berdiri di depan pintu dengan was-was.


Marco Bruni mengumpat pelan. Lelaki itu tahu ada sesuatu yang terjadi. Tidak mungkin Alessandro dan Lombardi tidak bertemu dengan Carlotta di dalam ruang makan, kecuali Carlotta bersembunyi.


Marco menarik Carlotta dan mendudukkan gadis itu di sofa. "Tenanglah dulu. Apa yang terjadi?"


Carlotta menceritakan semua yang ia temukan dan apa saja perintah Alessandro pada Lombardi yg ia dengar.


Marco menutup mulutnya yang terbuka lebar dengan tangannya. "Bisa-bisanya dia melakukan itu! Kau tidak pernah tidur dengan pria mana pun selain dia!"


Carlotta menyandarkan punggungnya di sandaran sofa. Perempuan itu terlalu lelah sekarang. "Dia tidak percaya padaku."


Marco berjalan mondar-mandir. "Tapi, kau tidak bisa membatalkan pernikahanmu begitu saja. Seluruh persiapan telah dilakukan, semua undangan sudah dikirim. Jika tidak bisa melakukannya untuk dirimu, lakukan ini untuk bayimu, Carlotta."


Carlotta memejamkan matanya. Seluruh tubuhnya terasa kebas. Ia bahkan tidak bisa lagi menangis. Rasanya terlalu menyakitkan bahkan untuk sekedar meneteskan air mata.


"Aku ingin pergi dari sini dan tidak pernah kembali, Marco." Kata Carlotta lirih.


Marco langsung berlutut di depan tempat Carlotta duduk. "Kau tidak bisa menyelesaikan masalah dengan pergi, Sayang. Hentikan kebiasaan itu, ya? Kita bisa menghadapinya. Yang kau butuhkan sekarang adalah membicarakan ini dengan Alessandro."


Carlotta mendengus. "Apa lagi yang mau dibicarakan, Marco? Dia tidak akan percaya padaku begitu saja hanya karena aku berbicara kepadanya."


Marco tertunduk. Apa yang dikatakan Carlotta ada benarnya juga.

__ADS_1


"Lalu, apa yang akan kau lakukan? Tolong jangan melakukan sesuatu yang bodoh, Carlotta." Marco memperingatkan. Ia tahu persis bagaimana Carlotta. Semua yang dilakukan oleh Alessandro mempengaruhi jalan pikiran perempuan itu. Menjadikannya tidak lagi rasional.


Carlotta tertawa masam. "Apa lagi yang menurutmu bisa kulakukan? Aku bahkan tidak bisa bergerak bebas karena membengkak sebesar kuda nil."


Marco ingin tertawa, tapi ini adalah situasi serius. "Kalau begitu, duduk diamlah di sini. Kau bisa marah padanya begitu dia kembali."


Carlotta menggeleng keras kepala. "Kau tahu, Marco, aku justru ingin membuatnya marah. Dia melarangku bertemu dengan pria lain, maka aku akan melakukannya."


"Carlotta..." Marco menggeleng keras. "Sepertinya kau sudah lupa kalau Alessandro-mu bisa jadi pria yang buas jika dia marah."


Carlotta berdiri. Tekadnya sudah bulat. "Undang adik-adikku, Marco."


Marco mendesah lega. "Baiklah, Sayang. Aku akan menjemput Ciara dan Carina."


Carlotta tersenyum separo. Senyum yang ia pelajari dari Alessandro. "Juga, undang Johann von Schiller dan Roberto Mancini kemari."


Marco langsung gelagapan. "T-tidak, Carlotta, jangan lakukan itu... Kau tidak boleh... Carlotta!" Namun, perempuan itu sudah menghilang di balik selasar dan mengunci pintu kamarnya.


***


Lagipula, wanita itu, kan, sedang hamil. Apa yang bisa dilakukan wanita hamil selain berdiam diri di rumah dan beristirahat di atas kasur mahalnya?


Lombardi memutar-mutar kunci mobil sport milik tuannya dan berjalan santai di taman milik keluarga Ferrara yang luar biasa indah. Pagi ini sangat indah. Langit musim panas cerah tanpa awan dan berwarna biru terang. Lombardi berpikir untuk menghabiskan tiga hari mirip liburannya ini dengan pergi menonton opera. Atau lebih baik ke sebuah club?


Tiba-tiba, dari belakangnya terdengar deru tiga buah mobil yang datang bersamaan. Lombardi memperhatikan siapa saja yang turun dari ketiga mobil tersebut di depan pintu utama rumah keluarga Ferrara.


Mobil pertama membawa Ciara dan Carina Marinelli, kedua adik perempuan dari Nona Carlotta. Mobil kedua membawa Johann von Schiller, mantan sutradara Nona Carlotta. Dan mobil ketiga dikendarai sendiri oleh Roberto Mancini, mantan tunangan Nona Carlotta.


Sialan. Lombardi baru merasakan bebas tugas selama kurang dari empat jam, tapi masalah sudah kembali membentang di hadapannya.


Lombardi langsung mengambil alat komunikasinya dan menghubungi bagian keamanan garda terdepan Castello Ferrara. Seseorang menjawab panggilannya.


"Ya, Signor Lombardi?"

__ADS_1


"Siapa yang mengijinkan dua tamu laki-laki ini masuk?" Lombardi bertanya dengan suara menggeram pelan.


Seseorang di garda depan menjawab, "Tidak ada larangan masuk bagi semua tamu yang diundang oleh Nona Carlotta Marinelli, Signor. Mereka berdua diundang langsung oleh Nona Carlotta."


Dua kali sial. Lombardi hampir mengumpat. "Lain kali tolong konfirmasikan dulu denganku."


"Maaf, Signor, tetapi Signor Alessandro Ferrara memberitahu kami bahwa otoritas Nona Carlotta Marinelli persis di bawah dirinya. Kami tidak berani membantah Nona Carlotta."


Beribu kali sial! Lombardi panik bukan main. Ah, sepertinya hari liburnya yang indah dan damai ini harus segera berakhir.


Lombardi segera mengakhiri sambungan komunikasinya, merasa jengkel dengan orang-orang di garda terdepan yang tidak pintar membaca situasi. Ya Tuhan. Tuannya pasti akan marah besar. Lombardi tidak berani membayangkannya.


Di satu sisi, ia merasa kasihan pada Nona Carlotta jika sampai diharuskan menghadapi kemarahan Signor Alessandro. Wanita itu sedang hamil besar, Demi Tuhan. Bagaimana jika sesuatu yang buruk terjadi lagi pada janinnya seperti waktu itu?


Namun, jika tidak melapor pada tuannya dan membiarkan hal ini terjadi, Lombardi tahu nyawanya yang akan menjadi taruhan. Alessandro Ferrara jelas tidak akan mungkin mengampuninya.


Di tengah kebimbangan, Lombardi memutuskan untuk menghubungi seseorang dari pihak keamanan dalam Castello.


"Ya, Signor Lombardi?"


"Ah. Begini, bisakah kau mengusir dua laki-laki yang baru saja datang? Aku akan mengurus sisanya nanti."


Ada jeda sejenak sebelum seseorang dari keamanan dalam rumah menjawab lagi, "Mohon maaf, Signor Lombardi. Kami tidak bisa melakukannya. Kedua tamu laki-laki tersebut adalah teman Nona Carlotta yang diberikan undangan khusus. Kami tidak ingin sampai menyinggung Nona Carlotta dengan mengusir tamunya."


Lombardi mengumpat keras sekarang. "Kalian akan lihat konsekuensinya nanti!" Ujarnya dengan marah.


Brengsek. Tidak ada yang berjalan sesuai rencananya. Lombardi berjalan mondar-mandir di depan pintu utama dengan cemas. Tuannya pasti saat ini sudah lepas landas. Jika menghubunginya sekarang, sudah pasti tuannya akan terbang kembali ke Italia begitu menyentuh New York. Perjalanan sembilan jamnya pasti akan sia-sia. Kesepakatan bisnisnya akan porak poranda. Tapi jika tidak mengabarinya sekarang, sudah pasti tamatlah riwayat Lombardi saat tuannya pulang nanti.


Dengan berat hati, Lombardi membuka ponselnya dan mengirimkan sebuah pesan teks pada Alessandro Ferrara. Pria itu menyusun kalimatnya sehalus mungkin untuk meredam kemarahan yang mungkin akan dirasakan Alessandro, meskipun tahu itu tidak akan banyak membantu.


'Mohon maaf, Signor. Nona Carlotta mengundang beberapa tamu ke Castello. Dua di antaranya adalah Johann von Schiller dan Roberto Mancini.'


***

__ADS_1


__ADS_2