
Wah akhirnya sampeee juga di bab puncak pengakuan Carlotta. Seperti janji aku tadi pagi, aku bakal double upload sekarang. Please please banget jangan kasih kendor LIKE VOTE 5 STARS GIFT-nya ya! Kalo bisa rekomendasikan cerita ini ke temen-temen kalian juga! Terkahir, ayo klik FAVORITE (tombol love) biar kamu nggak ketinggalan setiap bab yang aku update ♡
Luvluv,
Alana
***
Taman-taman di rumah keluarga Ferrara tiada tandingannya. Jika saja ia sedang berwisata dan bukannya panik memikirkan apa yang akan terjadi nanti, Carlotta pasti mengira dirinya sedang berada di taman surgawi. Banyak sekali pepohonan yang ditanam di sana, sampai jumlahnya mungkin mengalahkan cagar alam milik pemerintah. Suasananya benar-benar asri. Carlotta tidak menyangka tempat seperti ini ada di pusat kota Roma.
Mereka masih harus berkendara agak jauh dengan mobil sebelum rumah utamanya mulai terlihat. Rumah itu sendiri tidak kalah menakjubkan dari taman-tamannya yang teramat luas. Bangunannya seperti kastil abad pertengahan. Disusun dengan batu bata merah kuno dan lantai-lantai granit langka. Tidak ada rumah keluarga kaya Verona yang sebanding dengan rumah ini. Carlotta tidak meragukan pernyataan tak tertulis di mana-mana yang menganggap keluarga Ferrara masih ada kaitannya dengan kaisar Romawi kuno.
Giacomo memarkir mobilnya sembarangan di depan pintu utama kastil itu.
Tepat pada saat Gio memaksa Carlotta keluar, pintu setinggi dua tingkat itu terbuka dan Alessandro keluar.
"Carlotta! Baru saja aku ingin keluar untuk menemuimu, ternyata kau datang kemari!" Alessandro berseru dengan antusias.
Carlotta terpaksa berjalan terseok-seok di belakang kakaknya karena tangan kakaknya yang besar melingkari punggungnya bagai cangkang besi. Alessandro yang baru saja keluar, tadinya tersenyum lebar. Ekspresinya berubah drastis ketika melihat ada orang yang berani menyentuh Carlotta sembarangan.
'Siapa sebenarnya pria itu?' Pikir Alessandro marah.
Alessandro berjalan cepat melewati rerumputan dan menghampiri kedua tamu tak diundangnya.
"Ada apa ini? Siapa kau?" Alessandro menunjuk Giacomo geram. Kemarahan mulai membakarnya dari dalam. Ia menarik Carlotta ke sisinya. Carlotta agak terhuyung, tetapi Alessandro menangkapnya dengan cepat dan menopang perempuan itu agar tidak jatuh.
Carlotta hari ini cantik sekali. Pakaiannya tidak lagi lusuh. Wajahnya tampak segar, dan kulitnya tampak terawat dengan baik. Alessandro ingin mengagumi kecantikan perempuan itu, jika saja lelaki besar di hadapannya tidak ada.
"Dia kakakku." Kata Carlotta pelan kepada Alessandro.
Alessandro menggeleng. "Kau tidak punya kakak."
"Kau tidak tahu apa-apa tentang adikku rupanya." Gio memancing.
__ADS_1
Alessandro menyipitkan mata pada Gio. Tangannya telah terkepal erat. "Aku mengenalnya sejak dia berumur delapan tahun dan tidak pernah melihat dia punya kakak."
Carlotta memegang dada Alessandro untuk menenangkan pria itu. "Dia sungguh kakakku. Dia pergi dari rumah saat umurku tujuh tahun. Tentu saja kau tidak tahu."
Alessandro memandang Carlotta dengan sangsi. "Benarkah?"
Carlotta mengangguk.
Kemarahan Alessandro perlahan menguap. Jika dilihat-lihat, pria besar di depannya ini memang punya beberapa kemiripan dengan Carlotta. Iris mata mereka sama-sama biru cerah yang luar biasa cemerlang. Rambut mereka sama-sama pirang yang berombak lembut. Lalu, bentuk bibir mereka berdua juga sama-sama seperti kuncup mawar.
"Ah, maafkan sikap tidak sopanku. Aku Alessandro Ferrara. Senang bertemu denganmu." Alessandro mengulurkan tangan untuk berjabat dengan Giacomo.
Giacomo tersenyum sinis. "Aku Giacomo Marinelli. Dan aku tidak begitu senang bertemu denganmu."
Bukannya menjabat tangan Alessandro yang terulur, Giacomo justru melayangkan tinjunya ke rahang Alessandro. Alessandro yang tidak siap dengan serangan mendadak itu jatuh ke atas rerumputan dengan bunyi berdebum. Carlotta menjerit takut.
Beberapa pengawal pribadi Alessandro menyerbu keluar dari berbagai arah sembari mengacungkan senjata pada Giacomo.
Alessandro mengangkat tangannya, mencegah pasukan keamanannya maju lebih jauh. Ia bangkit berdiri dan mengusap darah yang muncul di sudut bibirnya.
Giacomo jadi teringat saat Carlotta melakukan hal yang sama untuknya bertahun-tahun lalu. Ia lalu tertawa sumbang dan menyisir rambutnya ke belakang dengan kesal. Rupanya, Carlotta benar-benar mencintai pria itu. Sama besar, atau mungkin lebih besar dari cintanya kepada saudara-saudaranya, termasuk dirinya.
"Carlotta, kau harus berhenti menjadi tameng bagi orang lain. Kau harus belajar berhenti mengorbankan diri sendiri!" Giacomo terdengar sangat, sangat marah.
Carlotta mulai menangis. "Jangan lukai Alessandro, Kak..."
Alessandro menarik pinggang Carlotta sampai perempuan itu berada di pelukannya. "Kau tidak perlu melindungiku, Carlotta. Aku bisa menghadapinya."
Kemudian, Alessandro memelototi Giacomo. "Apa sebenarnya masalahmu denganku?"
Gio tertawa keras-keras. "Kau pikir kau bisa lolos begitu saja dengan nama besar keluargamu setelah melakukan pelecehan kepada adikku?"
Alessandro terdiam. Ia langsung merasa bersalah. Tangannya tak lagi terkepal. Benar juga. Ia pantas menerima pukulan dari anggota keluarga Carlotta. Justru, sekarang ia malah jadi menghargai orang yang baru saja memukulnya karena orang itu hanya ingin melindungi kehormatan Carlotta.
__ADS_1
"Aku sudah minta maaf dan aku menyesal." Alessandro berkata. "Dan aku siap minta maaf seribu kali lagi jika itu bisa meringankan perasaanmu. Aku benar-benar menyesal."
Giacomo meludah di rerumputan. Merasa jijik dengan pembelaan diri Alessandro. "Kau pikir minta maaf cukup? Kau membuat adikku hamil! Kau pikir aku akan rela keponakanku lahir di luar ikatan pernikahan?"
Alessandro terperanjat. Carlotta bisa merasakan tubuh lelaki itu menegang di sisinya. Rahang lelaki itu mengeras. Sorot matanya setajam pisau. "Apa katamu tadi? Aku menghamili Carlotta?"
Ketika Alessandro mencari kebenaran di mata Carlotta, perempuan itu hanya bisa menunduk, menolak membalas tatapan Alessandro.
Lalu, Alessandro mengguncang Carlotta pelan. "Katakan padaku yang sebenarnya. Siapa ayah dari bayimu?"
Bulir-bulir air mata jatuh di pipi Carlotta. "K-kau... Alessandro..."
Alessandro terdiam tanpa ekspresi selama beberapa detik. Ia butuh mencerna informasi ini dengan baik.
"Kalau Carlotta akan menjadi istriku, dia akan tinggal di sini bersamaku. Kau bisa pulang." Alessandro berkata pada Gio.
Gio menarik lengan Carlotta, membawa adiknya agar lebih dekat ke sisinya. "Tidak. Kalian akan menikah, tapi dia akan ikut denganku. Kau melecehkannya sekali. Aku tidak tahu hal jahat apa lagi yang akan kau lakukan kepadanya."
Alessandro menarik pinggang Carlotta agar perempuan itu kembali ke sisinya. "Aku akan menikah dengannya secara keseluruhan, bukan hanya di atas kertas. Dia akan tinggal bersamaku."
"Cukup sudah!" Carlotta buru-buru melepaskan diri dari cengkeraman pria-pria besar di hadapannya. Ia mengambil jarak dari keduanya, kemudian berkata, "Ini hidupku. Aku yang berhak menentukan akan bagaimana menjalaninya."
Kedua pria itu terdiam, menanti keputusannya.
"Aku akan tinggal di sini sebentar, Kak..." Carlotta berkata pada Gio. "Aku... butuh bicara dengan Alessandro."
Alessandro masih berdiri kaku di tempatnya. Wajahnya datar tanpa mengungkap apa yang sebenarnya ia pikirkan. Carlotta tahu ia harus menjelaskan sesuatu. Apa pun. Alessandro pasti merasa marah. Carlotta tidak tahu Alessandro marah kepada siapa, tapi Carlotta tahu betul kemarahan Alessandro harus segera diredakan. Jika dibiarkan berlarut-larut, Carlotta tidak bisa membayangkan hal gila apa lagi yang bisa dilakukan pria itu.
Giacomo mengangkat tangannya. "Baiklah jika itu maumu. Kau bisa meneleponku kapan pun jika ingin aku menjemputmu."
Carlotta mengangguk. Giacomo berjalan mendekati Carlotta untuk mencium puncak kepala adiknya, dan melihat Alessandro jadi berapi-api dari sudut matanya.
Giacomo menyeringai malas pada Alessandro. "Hati-hati, Carlotta. Calon suamimu sepertinya pencemburu."
__ADS_1
***