
Kehidupan panti asuhan sudah melekat lama di benak Carlotta. Sejak kecil, ia menyukai anak-anak. Ia senang mengurus adik-adiknya. Dan lebih senang lagi ikut dengan neneknya melihat-lihat panti. Anak-anak di panti asuhan neneknya tumbuh dengan baik. Kesehatan dan kesejahteraan mereka diperhatikan sungguh-sungguh. Mereka disekolahkan di sekolah umum terbaik yang bisa mereka dapatkan. Keluarga Carlotta juga tak segan-segan membiayai mereka yang ingin melanjutkan ke perguruan tinggi. Itu semua terjadi sebelum neneknya meninggal.
Setelah neneknya meninggal, kepengurusan panti yang diserahkan ke ibunya tidak terurus dengan benar. Ayah mereka memangkas dana panti dalam jumlah yang besar. Saat ibunya pergi, Carlotta masih terlalu muda untuk mengerti apa pun tentang keuangan panti asuhan. Ayahnya yang mengurus semuanya, tapi yang jelas, Carlotta tahu ayahnya tidak akan mengurus panti dengan benar.
Ia benci mengakui ini, tapi ayahnya adalah orang yang tamak dan tidak semurah hati neneknya. Beliau adalah orang yang butuh pengakuan. Harga dirinya terluka parah saat istrinya memilih untuk melarikan diri dengan pria lain. Carlotta benci melihat ayahnya hancur, tetapi gadis itu lebih benci lagi saat panti terbengkalai.
Melihat keadaan panti yang sekarang, diam-diam Carlotta merasa bersyukur Alessandro telah mengambil alih. Panti asuhan itu berada di kondisi yang jauh lebih baik. Bangunannya diperbaharui, kamar-kamarnya diberi penghangat untuk musim dingin dan pendingin untuk musim panas. Interiornya tidak mewah, tetapi semuanya fungsional. Sebagian besar furniturnya baru. Hanya sedikit yang dipertahankan dari masa kejayaan nenek Carlotta. Hanya furnitur lama yang masih benar-benar bagus.
Ada dua kamar yang tersisa di panti itu. Yang pertama adalah kamar tamu. Ruangannya besar. Ada dua buah jendela raksasa yang menghadap langsung ke taman depan. Ranjangnya queensize berkanopi. Kamar yang kedua berada di lantai atas. Karena diperuntukkan untuk anak kecil, ranjangnya sempit. Kamar itu tidak luas. Hanya ada ventilasi besar di sana, bukan jendela.
Carlotta memilih kamar yang lebih kecil, karena menurut penuturan Bibi Valentina, Alessandro kadang-kadang datang ke panti dan menginap semalam di kamar tamu. Jangan sampai Alessandro menemukannya di sana. Jika suatu saat Alessandro pergi ke panti pun, Carlotta berencana untuk bersembunyi di kamarnya yang berukuran kecil di lantai atas dan mengunci pintu.
Namun, Carlotta tidak perlu terlalu khawatir. Lagipula, kata Bibi Valentina, Alessandro tidak pernah lama di sana. Ia hanya akan datang untuk memantau kondisi keuangan panti dan memberikan donasi, kemudian pergi. Rupanya, bukan hanya panti asuhan ini saja yang menjadi prioritas pria itu. Ada banyak panti yang dikelola secara resmi oleh keluarga Ferrara. Namun, panti inilah yang secara khusus diurus oleh Alessandro. Entah mengapa.
Carlotta senang Alessandro tidak menurunkan foto neneknya dari entrance hall. Neneknya tampak cantik di masa mudanya dulu. Beliau mengenakan gaun hitam polos dan sebuah bros merah jambu. Senyumnya sangat manis. Foto itu diambil jauh sebelum Carlotta lahir, tapi sekarang Carlotta bisa melihat kemiripan dirinya dengan sang nenek. Bedanya, sang nenek membuat keluarga Marinelli berjaya, dan Carlotta-lah yang menyebabkan kejatuhan keluarga mereka.
"Kau sudah siap, Nona Carlotta?" Bibi Valentina memanggil Carlotta yang tampak tenggelam dalam lamunan sembari memandang lukisan neneknya.
"Tentu saja." Carlotta bergegas menuju ke halaman depan, menyusul Bibi Valentina. "Biarkan aku yang belanja sendiri, Bibi. Kau harus mengawasi anak-anak."
"Benarkah tidak apa-apa? Tapi perutmu...?" Bibi Valentina menunjuk perut Carlotta yang mulai tampak membesar. Kehamilannya telah memasuki usia ke-20 minggu.
Carlotta tertawa. "Tidak apa-apa, Bibi. Justru, kata dokter, trisemester kedua adalah saat yang paling bagus untuk berolahraga. Aku tidak mual-mual lagi seperti di awal kehamilan, dan merasa tubuhku kembali bugar. Lagipula perutku belum terlalu besar. Aku tidak akan mendapat banyak kesulitan."
Bibi Valentina memandang Carlotta khawatir.
__ADS_1
Carlotta segera merebut keranjang belanja dari tangan wanita yang lebih tua itu. "Pasarnya hanya satu kilo dari sini. Aku butuh jalan-jalan pagi. Biarkan aku pergi sendiri. Oke, Bibi?"
"Baiklah," kata Bibi Valentina pada akhirnya. "Tapi kau harus hati-hati, Sayang. Jangan berjalan terlalu cepat. Kalau kelelahan, berhentilah sebentar dan duduk dulu di sebuah kedai."
Carlotta tersenyum. "Kalau begitu, aku akan mampir sebentar untuk minum minuman manis."
"Jangan terlalu banyak, ya? Itu tidak baik untuk bayimu."
Carlotta mengangguk. Ia tersenyum pada Bibi Valentina dan segera melenggang ke luar panti.
***
Alessandro berpikir, kali ini dia akan pulih lebih cepat karena telah terbiasa mendapat penolakan dari Carlotta. Namun, pada kenyataannya, ia belum pulih bahkan setelah berbulan-bulan lamanya. Bisnisnya stagnan. Ia tidak sampai merugi, berkat kecakapan Lombardi. Pikirannya terus kacau. Pertemuan singkatnya kembali dengan Carlotta terus menghantui hidupnya.
Mungkin seharusnya Alessandro tidak melakukan serentetan rencana balas dendamnya. Bukannya puas setelah melihat Carlotta, entah mengapa hati Alessandro justru merasa sakit. Saat ini rasa sakit hatinya bertambah dua kali lipat. Ia merasa sakit untuk dirinya sendiri yang tidak pernah bisa sadar diri dan berhenti mengejar Carlotta. Ia juga merasa sakit untuk Carlotta yang merasa perlu bertindak sejauh meninggalkan karir gemilangnya untuk bisa terbebas dari gangguan Alessandro.
"Sepertinya Anda butuh suasana baru, Signor. Bagaimana jika kita mengadakan rapat kali ini di tempat lain?" Lombardi menawarkan.
Alessandro berusaha mengembalikan fokusnya pada dokumen-dokumen yang seharusnya sedang ia baca, bukan hanya ia pandangi saja. "Ide bagus. Ada saran tempat yang menyenangkan untuk melakukan rapat?"
"Karena klien anak perusahaan kita kali ini berasal dari Amerika dan bergerak di bidang pariwisata, saya ingin mengusulkan kita menyewa sebuah tempat wisata." Lombardi berujar.
"Tempat wisata yang mana?" Tanya Alessandro.
"Sebuah tempat wisata di luar kota Roma akan lebih baik. Orang-orang Amerika pasti sudah familier tempat wisata mainstream di Roma."
__ADS_1
Alessandro mengangguk-angguk. "Bagus. Kurasa aku punya sebuah tempat yang cocok."
"Di mana itu, Signor?" Lombardi bertanya.
"Rumah Juliet. Tempat itu ada di Verona. Sewa tempat itu untuk seminggu penuh. Bayar kerugian seharga pendapatan tertinggi mereka per hari jika perlu." Alessandro mengeluarkan perintah.
Lombardi mengangguk patuh. "Anda akan ke sana untuk ikut rapat juga, Signor?"
Alessandro menggeleng lelah. "Aku percayakan proyek ini padamu. Keadaanku tidak begitu baik."
Lombardi tahu, keadaan yang dimaksud oleh tuannya bukan tentang fisik. Ini adalah kekacauan hati. Sejak Nona Carlotta pergi, tuannya jadi uring-uringan dan lebih tidak terkontrol. Segala sesuatu memancing emosinya dengan cepat. Jika harus berurusan dengan klien-klien menyebalkan yang tidak sabaran, Lombardi juga takut tuannya akan lepas kendali.
"Anda bisa datang saat konferensi peresmian proyek. Ini kali pertama Ferrara Group membuka anak perusahaan di bidang pariwisata. Setidaknya, Anda harus setor muka, Signor."
Alessandro melambaikan tangan gusar mendengar ceramah panjang Lombardi. "Aku tahu. Baiklah, aku akan datang pada saat penutupan. Sekarang, pergilah dan biarkan aku mengurung diri dengan tenang."
Luca Lombardi hampir menyemburkan tawa. Ia buru-buru pergi karena Alessandro sudah memelototinya.
***
Pagi, Sayang-sayangnya Alana ♡
Makasih buat yg udah setia baca + komen + like dsb itu beneran naikin mood aku dan bikin makin semangat nulis & upload hehehe.
Semoga bahagia selalu di mana pun kalian berada yaa. Tetep jaga kesehatan ♡
__ADS_1
Luvluv,
Alana