Revengeful Billionaire

Revengeful Billionaire
Bab 31 | Saudara yang Hilang


__ADS_3

Malam Sayang ♡


Ga nyangka udah sampe bab 31 aja loh. Makasih buat kamu yang udah setia nungguin novel ini update tiap hari. Jangan lupa buat LIKE tiap bab, gimme 5 stars, comments, VOTE juga yaa ♡


Don't forget to click FAVORITE button (tombol love+) biar kamu nggak ketinggalan update-nya tiap malem ♡


Luvluv,


Alana


***


"Ada yang ingin bertemu denganmu, Nona Carlotta." Bibi Valentina menghampiri Carlotta yang sedang memasak sup untuk makan siang anak-anak di panti asuhan.


Mata Carlotta masih sembap hasil menangis semalaman. Bajunya kotor bernoda makanan. Rambutnya agak kusut. Namun, jantungnya berdebar keras. Tidak ada yang tahu dia berada di sini. Bagaimana mungkin ada tamu untuknya?


"Siapa, Bibi? Apakah Alessandro?"


Bibi Valentina menggeleng sedih. "Kami belum mendapatkan kabar terbaru kondisi Alessandro hingga saat ini. Tamumu hari ini bernama Giacomo."


Alis Carlotta bertaut. Nama itu tidak asing, tapi dia tidak begitu ingat. "Giacomo?"


Bibi Valentina mengangguk. "Dia bilang, namanya Giacomo Marinelli."


Lalu, Carlotta mengingat semuanya. Giacomo. Benar. Itu adalah nama kakak laki-lakinya. Ayahnya memiliki seorang anak tidak sah sebelum ia lahir. Anak laki-laki itu dulu begitu mirip dengan ayahnya. Ayahnya versi mini. Carlotta tidak mungkin melupakan anak laki-laki itu. Tangisannya dulu membuat hati Carlotta sakit. Ia begitu sedih dan terpukul mengetahui bahwa ia memiliki seorang kakak yang hidup sulit di jalanan.


Carlotta telah bersiap menemui seseorang yang lusuh dan kumal. Namun, ketika berhadapan langsung dengan sang kakak, rupanya Carlotta-lah yang lusuh dan kumal.


Kakaknya berdiri begitu tinggi, dengan badan besar penuh otot, dan setelan jaket pemotor mahal yang mengkilap. Wajahnya bersih dan mirip sekali dengan Carlotta, versi laki-laki. Rambutnya berkilau sehat, digelung membentuk cepol yang macho di atas kepalanya. Senyumannya semanis yang diingat Carlotta.


"Kak Gio..." Carlotta sudah melalui banyak hal akhir-akhir ini, sehingga ketika ada sesuatu sekecil apa pun, perempuan itu jadi gampang menangis.


Giacomo merentangkan kedua tangannya, dan tanpa diminta dua kali, Carlotta segera masuk dalam pelukannya dan menangis di sana. "Oh, Ya Tuhan. Sudah lama sekali sejak terakhir kita bertemu!" Carlotta berseru riang.


Giacomo terkekeh. Carlotta-nya masih merupakan orang yang hangat seperti sewaktu kecil dulu. "Bagaimana kabarmu?"


Carlotta melepaskan pelukan Giacomo dan mengusap air matanya. Ia memamerkan perutnya dengan bangga. "Kau akan segera punya keponakan."


Giacomo mengangguk. Pria itu membelai rambut Carlotta penuh kasih sayang. "Bolehkah aku menyentuhnya?"


"Boleh."

__ADS_1


Giacomo meletakkan tangannya di perut Carlotta. "Ini berisi bayi, ya? Luar biasa sekali."


Carlotta mengangguk. "Aku juga merasa begitu setiap saat."


"Sudah lama kita tidak bertemu. Bagaimana jika kita keluar sebentar dan mengobrol di sebuah kedai. Ada sesuatu yang ingin kau makan?" Giacomo tidak ingin menyinggung Carlotta dengan mengatainya terlalu kurus. Namun, kondisi adiknya itu memang terlihat menyedihkan. Mata cantik itu tampak layu. Wajahnya pucat. Perempuan itu terlihat kepayahan.


Sepertinya berita tentang kecelakaan tunggal Alessandro Ferrara mempengaruhi adiknya lebih kuat daripada yang diduga Gio.


"Bisakah kau menunggu? Aku harus menyiapkan makanan untuk anak-anak dulu. Mereka juga kelaparan." Carlotta tersenyum samar.


"Aku akan membelikan mereka semua makanan dan mengirimkannya kemari. Tolong jangan khawatirkan apa pun hari ini dan pergilah menghirup udara segar sebentar denganku. Ya?" Gio mengusap rambut Carlotta dengan lembut, seolah Carlotta masih berusia tujuh tahun.


Bagi Giacomo, Carlotta akan selalu menjadi adik kecil yang harus dilindungi olehnya. 


"Kau sungguh akan melakukan itu?" Carlotta tampak tidak yakin.


Giacomo tertawa geli. "Apa kau tidak percaya kakakmu ini sudah menjadi orang yang berhasil sekarang?"


Carlotta menggeleng cepat. "Bukan begitu maksudku... Memberi makan anak-anak adalah tugasku. Aku tidak ingin membebanimu."


Giacomo memandang Carlotta dalam-dalam. "Kau memang gadis yang baik."


Carlotta tersenyum. "Aku senang kau menganggapku begitu."


Carlotta tertawa kecil. "Dia bahkan belum lahir."


Giacomo pura-pura cemberut. "Tapi kita harus memperhatikan gizinya jauh sebelum dia lahir. Bukan begitu?"


Carlotta tidak bisa membantah.


"Kapan terakhir kali kau makan?" Giacomo bertanya lagi.


Carlotta menggeleng. "Aku... tidak ingat."


"Ya Tuhan." Giacomo memegangi dadanya sendiri dengan sikap dramatis. "Kau pasti berniat jahat pada keponakanku!"


"Tidak! Mana mungkin aku begitu?" Carlotta langsung memprotes keras.


Giacomo tertawa. Kini, ia merangkul Carlotta dan membawa gadis itu pergi dari sana. "Kalau begitu, kita akan memberi makan keponakanku makanan yang lezat dan penuh gizi hari ini."


***

__ADS_1


Gio membawa Carlotta menuju sebuah kedai di pinggiran kota Verona. Gio menduga, adiknya itu tidak tahu bahwa wajah cantiknya terpampang di halaman depan tabloid gosip, sehingga Carlotta tidak begitu peduli jika ada yang mengenalinya.


Tapi Gio peduli. Ia memilih sebuah kedai yang lumayan sepi dan terpencil, beralasan masakan di sana luar biasa lezat. Gio sungguh-sungguh memesankan banyak sekali makanan untuk Carlotta dan memaksa perempuan yang lebih muda itu untuk memakan semuanya.


Ketika Carlotta selesai makan, Gio baru memulai percakapan. "Aku melihatmu di halaman depan tabloid gosip."


Carlotta mendongak. "Benarkah? Apakah itu berita tentang pengunduran diriku dari film Putri Gaia?"


Gio menggeleng. Mukanya menampakkan keseriusan. "Itu memuat tentang kehamilanmu. Kau dan Alessandro Ferrara menghiasi sampul depan dengan gambar yang besar."


"Oh, astaga!" Carlotta terkejut sekali. "Mereka mengaitkan aku dengan dia? T-tapi bagaimana mungkin?"


"Kalian terlihat bersama di jalanan dekat Rumah Juliet." Giacomo memberi tahu.


Carlotta menduga, ada paparazzi yang mengambil gambar saat pertemuan tidak sengaja mereka beberapa hari lalu.


"Pihak Ferrara tidak menurunkan berita itu dari media?" Carlotta bertanya.


Giacomo menggeleng. "Sepertinya mereka sedang berfokus pada hal lain. Kau... sudah mendengar berita kecelakaan Alessandro Ferrara?"


Carlotta mengangguk pelan.


Giacomo mengamati adiknya lekat-lekat. "Bagaimana perasaanmu saat mendengarnya?"


Carlotta tidak menyangka akan mendapat pertanyaan itu, tetapi dia tidak akan memberikan jawaban bohong kepada kakaknya. Ia mulai menangis lagi. "Rasanya seperti didorong masuk ke jurang. Aku sungguh takut sekali. A-aku tidak pernah mengharapkan dia celaka."


"Tentu saja." Gio berkata dengan yakin. Carlotta memiliki hati bak malaikat. Sikap suka melindungi orang lain sudah ada dalam dirinya sejak kecil, mana mungkin dia punya niat mencelakakan orang lain?


"A-aku... merasa seperti akan mati. Lebih dekat dengan kematian daripada saat... kau tahu, saat aku berusaha menenggelamkan diri dalam bathtub." Carlotta berkata pelan-pelan sekali, agar Giacomo tidak terkejut. Namun, kakaknya itu tidak berkata apa-apa. Jadi, ia melanjutkan. "Alessandro dan aku dulu pernah menjalin hubungan. Kami berpisah selama hampir sepuluh tahun sebelum dia menemuiku malam sebelum kejadian."


"Apa yang terjadi ketika kalian bertemu? Apa yang dia lakukan padamu?" Gio bertanya. Nadanya begitu tenang, sehingga Carlotta merasa aman untuk bercerita.


"Dia... memaksaku. Pagi harinya ketika terbangun, aku tidak bisa berpikir. Aku tidak berpikir panjang. Aku lupa bahwa aku masih memiliki tanggung jawab membesarkan adik-adikku. Kau ingat Ciara dan Carina?"


Giacomo mengangguk. "Ya, aku ingat."


"Pagi itu aku tidak memikirkan mereka. Yang ada di otakku adalah aku sudah menjadi perempuan yang kotor dan tidak berharga. Aku sangat membenci Alessandro kala itu, tapi aku lebih membenci diriku sendiri yang tetap mencintainya tidak peduli apa yang telah ia lakukan padaku." Carlotta melanjutkan.


"Dan kehamilanmu ini... apakah hasil dari perbuatannya malam itu?" Gio bertanya menyelidik.


"Ya."

__ADS_1


Tangan Gio terkepal kuat di sisi-sisi tubuhnya, tetapi Carlotta tidak menyadari itu. Amarah Gio bangkit dan siap meledak. Gio pernah membunuh orang, dan tidak akan segan-segan melakukannya lagi demi melindungi kehormatan adik kesayangannya.


***


__ADS_2