
Haloooo guys aku kembali setelah merilis novel baruuu buat lomba baru ♡
Masih ada hubungannya sama novel ini tapi bisa banget kalo mau dibaca secara terpisah ya. Lebih lengkapnya aku bakal share setelah ini ♡
Oh iya ga lupa aku bawain rekomendasi karya dari temen aku lagi nih guys. Mampir deh.
Luvluv,
Alana
***
Martha membawa Carlotta memasuki sebuah private lift menuju lantai tempat penthouse Alessandro berada. Awalnya Carlotta merasa ragu, tapi Martha menatapnya penuh harap, jadi ia pikir tak ada salahnya menuruti sebuah tur pribadi di kediaman milik suaminya. Ralat, mantan suami, jika perceraiannya sudah diurus dengan tuntas.
Berapa lama perceraian memakan waktu? Atau pembatalan nikah? Haruskah Roberto dan firma hukumnya mengajukan permohonan cerainya ke Vatikan dulu? Carlotta menggeleng lelah. Ia tidak mau berpikir sekarang.
"Signor Alessandro jarang sekali menginap di sini, Nyonya. Seluruh desain yang ada murni dari desainer awal dan belum ada perubahan sama sekali, kecuali foto pernikahan di kamar utama dan di ruang kerja Signor Alessandro. Jika Anda ingin merencanakan beberapa perubahan, kami akan dengan senang hati melakukannya untuk Anda." Martha berkata ramah.
Hati Carlotta terasa seolah diremas. "Alessandro memasang foto pernikahan kami di kamar dan ruang kerjanya di sini?"
Martha mengangguk cepat dan tersenyum lebar. "Karena itulah seluruh staf kami mengenal Anda dengan baik, Nyonya. Anda ingin melihatnya?"
"Bisakah?"
"Tentu saja! Mari ikuti saya, Nyonya." Martha menunjukkan jalan pada Carlotta sembari memberikan penjelasan singkat mengenai griya tawang itu. "Ini adalah bagian utama dari keseluruhan rumah. Kami meletakkan sebuah grand piano di tengah ruangan karena kami mendengar Signor Alessandro dan Anda senang bermain piano.
Carlotta berhenti berjalan secara mendadak. Ia bergerak untuk mengamati piano itu lebih dekat. "Alessandro bilang begitu?"
Martha mengangguk lagi dengan bangga. "Signor Alessandro selalu menyebut Anda dan semua preferensi Anda saat memesan desain untuk seluruh tempat ini, Nyonya." Martha menunjuk sebuah jendela dan gordennya yang besar dan berat. "Signor Alessandro meminta jendela besar dengan tirai berwarna biru muda dengan hint keperakan karena menurutnya, Anda akan menyukainya. Signor Alessandro juga memilih sendiri seluruh furniture yang kira-kira akan Anda sukai, Nyonya."
__ADS_1
Air mata tanpa sadar menetes di pipi Carlotta. Kemudian, tanpa bisa ditahan lagi, Carlotta menangis tersedu-sedu.
Ia tidak bisa melakukan ini. Ia tidak mau bercerai dengan Alessandro. Apakah sudah terlambat untuk membatalkan perceraiannya? Dan yang paling penting, apakah ayahnya sudah memenuhi janji dengan melepaskan Alessandro?
"Nyonya ...." Martha langsung merasa bingung karena tiba-tiba melihat Carlotta menangis.
Carlotta mengusap air matanya sendiri dengan kasar, lalu berkata. "Tolong tinggalkan aku sendiri."
Martha mengangguk. "Ada enam buah kamar di sini, Nyonya, dan kamar utamanya ada di sudut. Tepat menghadap Central Park dan Madison Avenue. Kalau begitu, saya permisi dulu. Tolong panggil saya jika Anda butuh sesuatu. Saya akan berada di luar."
Carlotta segera pergi ke kamar utama dan benar saja, di ruangan indah dengan dominasi warna-warna elegan itu, ada foto pernikahannya terpasang besar di dinding. Carlotta mengamati gambar Alessandro di sana. Pria itu tampan sekali. Carlotta langsung merasa sesak karena rindu sekali lagi.
"Alessandro ...." Carlotta mengucapkan nama suaminya pelan. Seolah dengan memanggil namanya, pria itu akan langsung muncul di sini untuknya. "Alessandroku ...."
Carlotta terduduk di ranjang dan menutup mukanya dengan kedua telapak tangan ketika air mata mulai tumpah lagi. Ia merasa seluruh emosi yang menguasainya beberapa hari belakangan menimpanya bertubi-tubi, dan ia sangat lelah dengan semua itu. Carlotta kemudian merebahkan tubuhnya di atas kasur dan tangannya bergerak untuk meraba bantal yang mungkin pernah digunakan oleh Alessandro. Ia membenamkan kepalanya untuk mencari aroma suaminya, tapi tidak berhasil. Hanya ada bau sarung bantal baru yang fresh dari tempat laundry dengan parfum kain yang mewah.
Carlotta kemudian jatuh terlelap dalam tidur yang lama dan tenang tanpa mimpi.
***
Halusinasi Carlotta akan lelaki itu begitu sempurna. Seluruh tubuhnya tampak nyata. Carlotta berusaha menahan keinginannya untuk mengulurkan tangan dan menyentuh bayangan Alessandro di depan matanya itu, tapi jemarinya tak mau menurut.
Dan ia bahkan lebih terkejut lagi ketika tangannya menyentuh benda padat.
Bayangan Alessandro tersenyum melihat Carlotta terkesiap. Tidak. Bukan bayangan. Itu memang Alessandro!
"K-kau ... Bagaimana kau bisa ada di sini?" Carlotta tidak percaya ini. Alessandro ada di sini bersamanya? Apakah ini sungguhan?
"Sayang ...." Alessandro menarik Carlotta agar masuk ke dalam pelukan lelaki itu. "Kau pergi dariku untuk mengunjungi apartemenku di sisi lain dunia, dan tidur di ranjangku? Kurasa upayamu untuk menjauh dariku agak sedikit ... sia-sia, bukan?"
Carlotta berusaha untuk melepaskan diri. "Tidak. Alessandro, kita sudah bercerai. Jangan sentuh aku, tolong ...."
__ADS_1
Alessandro mendekap Carlotta semakin erat. "Kau pikir kau bisa lari dariku?"
Carlotta ingin mendorong Alessandro menjauh, tapi pelukan lelaki itu adalah yang ternyaman di seluruh dunia. Ya Tuhan. Bolehkah ia menikmati ini sebentar saja?
Alessandro merasakan perlawanan Carlotta mulai melemah. Ia menyibakkan sedikit rambut keemasan dari wajah istrinya dan menatap perempuan itu lekat-lekat. "Matamu bengkak. Kau pasti banyak menangis."
"Tidak." Carlotta menggeleng keras kepala.
"Bagaimana mungkin kau berpikir untuk berpisah dariku tapi terus menangisiku seperti ini?" Alessandro tertawa pelan.
Carlotta menunduk malu. "Aku tidak menangisimu."
"Tidak. Kau hanya menangis karena tidak mau berpisah dariku." Alessandro tertawa makin keras.
Carlotta mencubit pinggang lelaki itu karena kesal. Alessandro malah menghindar sambil teetawa-tawa.
"Lagipula ...." Alessandro berkata lambat-lambat. "Bukankah aku sudah berjanji akan selalu menempel padamu seperti orang yang tak tahu malu?"
Carlotta terdiam. Air mata di sudut-sudut matanya mulai muncul kembali. Pantaskah ia merasa seperti ini? Karena bersama Alessandro ia merasa dicintai. Dan ia terlalu serakah untuk melepas kebahagiaan yang ia rasakan sekarang.
"Jangan menangis, Cara Mia. Aku tidak akan ke mana-mana." Alessandro membelai pipi dan hidung Carlotta ringan. "Dan kau juga tidak akan pergi ke mana-mana tanpa diriku lagi."
"B-bagaimana dengan Papa? Aku sudah berjanji pada Papa untuk bercerai denganmu. Jika tidak, Papa akan membunuhmu dan Maurizio!" Carlotta berteriak histeris.
"Tidak, Sayang. Itu tidak akan terjadi. Papamu hanya menggertak. Dan kau seharusnya tidak begitu saja percaya dengan ancaman itu." Alessandro menggeram rendah.
Carlotta melepaskan diri dari pelukan Alessandro dan segera turun dari tempat tidur. Ia mulai berjalan mondar-mandir di depan jendela besar yang menghadap Central Park. "Bagaimana mungkin aku tidak percaya? Papa melakukan video call denganku dan menggores lehermu dengan belati. Dia mengucapkan ancaman yang membuatku ingin mati!"
"Tenanglah, Sayang. Lihat leherku. Tidak ada luka yang berarti." Alessandro memandang Carlotta lama. "Aku tahu apa yang harus kita lakukan untuk menghentikan semua kegilaan papamu."
***
__ADS_1