Revengeful Billionaire

Revengeful Billionaire
Bab 60 | Alicia


__ADS_3

LIKE DULU PLEASEEEEEE


Thank you for supporting this story! Jangan diplagiat yaaa ♡


Enjoy!


Luvluv,


Alana


***


Carlotta merasa seolah sedang dihantam badai. Apa tadi yang dibilang Lombardi? Ada seorang wanita yang mengaku pernah bertemu dengan Alessandro? Dan wanita itu memiliki anak dari suaminya? Ya Tuhan. Tubuh Carlotta langsung lemas seketika. Ia menahan badan agar tetap berdiri di tempatnya karena banyak orang yang memandang ke arah mereka. Lagipula, dokter sudah memperingatkannya agar tidak stres. Ia harus tenang sekarang.


Alessandro merasakan Carlotta mendadak tegang. Perempuan itu mulai memegang perut dan wajahnya memucat. Alessandro langsung memutar tubuh Carlotta agar menghadapnya.


"Lihat aku, Carlotta." Kata Alessandro sembari mendongakkan wajah istrinya. Ketika Carlotta menatap matanya, Alessandro berbisik. "Ayo tarik napas... Ya, ya. Benar begitu. Hembuskan... Tarik napas panjang sekali lagi..."


Carlotta merasa sedikit lebih tenang ketika Alessandro menopang tubuhnya.


"Sayang, jangan khawatir. Aku akan menyelesaikannya dalam sekejap. Aku janji tidak akan lama. Kau tenang saja di sini dan percayakan semuanya padaku. Oke?" Alessandro membimbing Carlotta untuk duduk di sebuah kursi. Namun, Carlotta menepis tangannya.


"Tidak. Aku akan ikut denganmu." Kata Carlotta. Matanya penuh determinasi.


Alessandro menggeleng. "Tidak, tidak. Tetaplah di sini. Kau tidak boleh lelah dan stres, ingat kata dokter minggu lalu?"


Carlotta menatap Alessandro tajam. "Justru aku akan sangat stres jika tetap di sini dan tidak tahu apa-apa!"


Alessandro membelai punggung Carlotta dengan gerakan menenangkan. Perempuan itu tanpa sadar tadi berteriak. Semua orang sudah melihat ke arah mereka sekarang.


"Ada apa, Carlotta?" Giacomo mendekat dengan cepat.


Carlotta menggeleng pelan. "Alessandro punya sebuah... urusan. Dia ingin pergi sebentar, tapi aku ingin pergi dengannya."


Giacomo tertawa sambil geleng-geleng kepala. "Ya Tuhan. Kau baru saja menakutiku. Kukira ada hal buruk yang membuatmu kesal."

__ADS_1


Carlotta dan Alessandro terdiam.


Giacomo memandang Alessandro dengan geli. "Kalau begitu, turuti saja kemauannya, Alessandro. Bisa jadi ini hanya pengaruh si bayi yang tidak mau jauh-jauh dari ayahnya."


Alessandro memejamkan mata frustasi, tampak berpikir keras. Carlotta melipat tangan di depan dada, menunggu keputusan suaminya.


"Tidak." Alessandro berkata. "Ini urusan bisnis. Aku tidak ingin Carlotta ikut pusing. Bisakah kau tolong jaga dia sebentar?"


Gio mengangkat bahunya. "Tidak masalah."


Alessandro mencium pipi Carlotta singkat, kemudian berderap pergi diikuti Lombardi dan timnya.


***


Lombardi menempatkan wanita yang datang bersama anaknya di ruang tengah. Ketika Alessandro tiba, wanita itu langsung berlari dan hendak memeluk Alessandro. Namun, Lombardi dan beberapa pria berjas hitam menghalanginya.


"Alessandro, tidak ingatkah kau padaku? Kita bermalam bersama di Verona tiga tahun lalu. Ini adalah anakmu!" Wanita itu mengangkat bocah laki-laki berusia sekitar dua tahun yang dibawanya dan menyodorkannya pada Alessandro. "Ini putramu!"


Anak ini memang memiliki rambut dan mata kecokelatan. Jika dilihat-lihat, anak ini memang lebih memiliki ciri Alessandro ketimbang ibunya. Namun, banyak sekali orang Italia yang memiliki rambut dan mata kecokelatan. Sementara itu, sang wanita memiliki rambut pirang dan mata biru. Alessandro memang hanya meniduri wanita-wanita dengan rambut pirang dan mata biru karena mereka mengingatkannya akan Carlotta.


Sial. Alessandro tidak pernah menyangka kelakuannya di masa lalu akan menjadi bumerang terhadap hidup indah pernikahannya dengan Carlotta sekarang. Pria itu tadi sempat melihat kilasan kekecewaan dan rasa sakit hati di mata Carlotta. Dan ia sama sekali tidak menyukainya.


Lombardi mengangguk dan segera menjalankan perintah.


Akan tetapi, si wanita berambut pirang itu mulai menangis dan menyodorkan anaknya sekali lagi. "Tidak perlu melakukan tes! Tidakkah kau lihat bahwa ia sangat mirip denganmu?"


Alessandro mulai hilang kesabaran. "Dengar, kau, siapa pun namamu..."


"Namaku Alicia. Tapi, malam itu kau terus memanggilku 'Carlotta'." Perempuan itu menyela.


Alessandro memijat keningnya sendiri. Ya. Mungkin wanita ini tidak berbohong saat berkata bahwa ia pernah tidur dengan Alessandro. Namun, Alessandro bisa merasakan jika anak ini bukan darah dagingnya. "Aku selalu mengenakan pengaman. Dari kualitas yang paling bagus. Pengamanku tidak pernah gagal melindungiku sebelum ini. Dan kau, Alicia, bukanlah wanita pertama yang mengaku memiliki anak dariku."


Alicia menangis semakin keras. "Tidak! Kau salah, Alessandro! Dia memang putramu!"


Alessandro mengabaikan wanita itu. Ia berpaling pada Lombardi. "Ambil sampelnya, Lombardi."

__ADS_1


Lombardi dan pria-pria dalam timnya segera maju melaksanakan perintah. Tidak peduli sang wanita dan si anak memohon dan meronta, mereka memegangi ibu dan anak itu kuat-kuat dan segera mengambil beberapa sampel. Agar hasil lebih akurat, mereka tidak hanya mengambil darah, tapi juga usapan bagian dalam pipi.


"Berapa lama hasilnya akan keluar, Lombardi?" Alessandro bertanya.


"Paling cepat sehari, Signor."


Alessandro mengumpat. "Jika memungkinkan, lakukan tes itu dalam sejam."


Lombardi memutar bola mata. "Signor-"


"Kau bukan jin, aku tahu. Lakukan saja secepat yang kau bisa." Alessandro mengibaskan tangan. "Aku benar-benar tidak ingin merusak hari besar Carlotta."


Alicia langsung terdiam mendengar Alessandro menyebut nama Carlotta. Nama itu terdengar menyakitkan, karena dulu Alessandro memanggilnya begitu. Sementara sekarang, bahkan untuk memandang matanya saja Alessandro tidak sudi.


"Siapa Carlotta ini sebenarnya?" Alicia bertanya.


Alessandro langsung menyipitkan mata pada perempuan itu. "Jangan berani menyebut namanya. Dia istriku."


Alicia langsung memberontak lagi. "Kau benar-benar brengsek! Kau sudah memiliki istri, tapi kau tidur denganku! Kau harus bertanggung jawab, Alessandro!"


Alessandro menatap Alicia tajam. "Aku tidur dengan banyak wanita sebelum menikah. Tapi, aku jelas tidak akan mengkhianati istriku. Hanya ia satu-satunya yang aku inginkan di dunia ini."


Alicia kembali berteriak dengan marah.


"Nona, bisakah kau memberikan kontak informasimu? Kami akan mengirimkan hasilnya padamu juga jika tes ini telah selesai dilakukan." Lombardi berkata pada wanita itu.


Wanita itu memandang Lombardi dengan tidak suka. "Aku menyerahkan keperawananku pada Alessandro dan tidak pernah tidur dengan lelaki lain. Kau yang membawaku pada Alessandro, Signor Lombardi. Kau menemukan aku di jalanan, memutuskan bahwa aku sesuai dengan selera tuanmu, kemudian membawaku ke sebuah salon ternama untuk mempercantikku. Kau juga yang melakukan tes keperawanan padaku. Bukankah setidaknya kau berhutang untuk meyakinkan tuanmu agar mau bertanggung jawab atas putranya?"


Lombardi memandang wanita itu tanpa ekspresi. "Kau sudah menerima bayaranmu waktu itu, Nona. Aku tidak berhutang apapun padamu."


Wanita itu melayangkan tangannya untuk memukul Lombardi. "Dasar bajingan!"


Namun, Lombardi sudah terlebih dulu mencekal tangan Alicia. "Lebih baik kau mengikuti prosedur dan tidak membuat keributan, Nona. Atau terpaksa, kami akan melakukan kekerasan padamu."


Wanita itu memalingkan wajah pada Alessandro sekali lagi. Kali ini, yang ditunjukkannya hanya raut sedih. "Aku mencintaimu sejak pertama kali mengandung putramu, Alessandro. Kumohon, beri kami kesempatan. Kau bisa menjadikan aku sebagai istri kedua, atau bahkan hanya sekedar simpananmu. Tapi, jangan kirim kami kembali ke jalanan. Kumohon?"

__ADS_1


Alessandro melirik Lombardi. Tatapannya sangat dingin. "Singkirkan mereka."


***


__ADS_2