
Nah ini dia bab kedua yang aku janjiin buat double upload. Yuk please di-LIKE duaduanya ♡
Nggak usah diingetin lagi kan LIKE VOTE 5 STARS & KOMENNN-nya? Terutama komennya ya, pengen banget kenal sama kalian yang baca. Sayang banget sama kalian! Tetep dukung aku nulis di sini yaa! I'm nothing without you guys♡
Luvluv,
Alana
***
Jantung Carlotta berdegup kencang setelah Giacomo pergi dari kediaman keluarga Ferrara. Sekarang, ia harus menghadapi Alessandro sendirian. Sialnya, pria itu terlihat luar biasa marah.
"Alessandro..." Carlotta memulai. Kemudian, ia tidak tahu apa yang harus ia katakan.
Alessandro memandangnya dengan pandangan paling dingin yang pernah dilihat Carlotta. "Kau berniat menyembunyikan ini dariku." Tuduhnya kepada perempuan itu.
Carlotta merapatkan bibirnya. Kali ini ia tidak bisa mengelak lagi. "Benar."
"Kenapa?"
Carlotta membuka mulutnya untuk mengeluarkan jawaban, tetapi tak satu kata pun terucap.
Alessandro tertawa sinis. "Karena aku tidak pantas menjadi ayah dari anak kita?"
Carlotta cepat-cepat menggeleng. "Bukan seperti itu..."
Alessandro berkobar seperti bara api. Pria itu harus melakukan sesuatu. Sesuatu di antara mengguncang Carlotta atau mencium perempuan itu keras-keras. "Hari itu, saat aku bertemu denganmu di Verona, kenapa kau berbohong padaku?"
Carlotta menunduk. Air mata mengaliri pipinya dengan menyedihkan.
Tapi, Alessandro tidak bisa berhenti sampai di situ. "Apakah kau menganggap aku tidak tahu caranya menyayangi seorang anak karena aku tidak punya ayah?"
Carlotta menggeleng lagi. "Alessandro... Tolong jangan berkata seperti itu..."
"Aku tidak tahu lagi, Carlotta. Aku sungguh tidak tahu lagi." Alessandro mengacak rambutnya sendiri dengan frustasi. "Saat itu kau bilang bukan aku ayah dari bayimu. Kata-katamu terus terngiang di kepalaku dan aku tidak berkonsentrasi pada apa pun. Kemudian, kecelakaan itu terjadi dan aku hampir tiada. Kau benar-benar membenciku sampai ingin aku mati, ya?" Alessandro berkata.
Carlotta terisak-isak mendengarnya. "Tidak! Aku... tidak menginginkan itu terjadi..."
Alessandro berbalik dan berkata, "Sampai kapan kau akan terus membohongiku, Carlotta Marinelli? Apakah ini hukumanmu untukku karena perbuatanku malam itu? Demi Tuhan, aku begitu mencintaimu sampai saat sadar dari koma, yang kupikirkan hanya aku akan melamarmu dan menerima bayimu sebagai anakku sendiri, tidak peduli ia anak dari Johann von Schiller atau Roberto Mancini!"
__ADS_1
Carlotta tersentak mendengar pengakuan itu. "K-kau mencintaiku? Alessandro... aku sungguh minta maaf..." Ujarnya di sela-sela isak tangis. "T-tapi bagaimana mungkin kau berpikir ini anak Johann atau Roberto? Aku tidak mungkin melakukan itu dengan mereka!"
Alessandro mencengkeram bahu Carlotta dan menatap mata perempuan itu lurus-lurus. "Kau bilang padaku bahwa kau tidur dengan banyak lelaki setelah malam bersamaku. Kau menangis sambil berpegangan tangan dengan Johann von Schiller di tendamu malam sebelum kau menghilang. Aku melihatmu sendiri! Menurutmu apa yang harus aku pikirkan?"
Carlotta ingat apa yang terjadi malam itu. Ia berbohong pada Alessandro bahwa ia muak dengan lelaki itu dan berniat pergi dari dunia hiburan untuk menghindarinya. Kemudian, Johann menghampirinya dan mereka bicara di dalam tenda Carlotta.
"Aku hanya mengucapkan salam perpisahan. Aku meminta maaf pada Johann karena tidak bisa lagi berpartisipasi di filmnya." Carlotta berusaha menjelaskan.
"Omong kosong." Kata Alessandro penuh emosi. "Lihat saja, kau bahkan memanggilnya begitu akrab dengan nama depan!"
Carlotta berusaha meraih tangan Alessandro, tetapi lelaki itu menepisnya. "Alessandro... Aku tidak punya hubungan apa pun dengan Johann von Schiller..."
Alessandro memandang Carlotta selama beberapa detik, menimbang-nimbang akan mempercayai perempuan itu atau tidak. Sudah berapa banyak kebohongan yang dikatakan Carlotta? "Lalu bagaimana dengan Roberto Mancini? Bukankah dia langsung terbang kemari dari London saat kau masuk rumah sakit sehari setelah malam kita berhubungan? Dia pulang demi dirimu, kan? Apa kalian melakukannya di rumah sakit?"
Carlotta menampar Alessandro. Cukup sudah. Laki-laki itu sudah keterlaluan.
"Jangan bicara macam-macam." Kata Carlotta. Air mata menggenang di matanya.
Alessandro kaget. Dia tidak menyangka Carlotta akan menamparnya hanya karena dia menyebut nama Roberto Mancini.
Alessandro membuka mulutnya lagi. Ada kepahitan dalam suaranya. "Jika kita akan menikah demi anak ini, aku butuh tes DNA."
Akan jadi seperti apa pernikahannya kelak? Carlotta tidak bisa membayangkan anaknya akan tumbuh dengan ayah yang terus meragukan hubungan darah mereka.
"Baiklah. Jika kita menikah demi anak ini, aku akan meminta cerai darimu setelah anak ini lahir." Balas Carlotta tak kalah sengit.
Alessandro mengangguk. "Lihat saja nanti."
Apa kata lelaki itu tadi? Lihat saja nanti? Alessandro memang tidak sungguh-sungguh berniat menikahinya, ya? Pria itu dengan mudahnya menyetujui permintaan cerai Carlotta bahkan sejak sebelum mereka berdua menikah.
Wajah Carlotta memucat. Kulitnya jadi seputih kertas. Perutnya tiba-tiba terasa sakit sekali. Ia mengerang pelan sembari membungkuk memegangi perutnya. Kemudian, Alessandro melihat darah segar mengalir di kaki Carlotta.
"Carlotta!" Alessandro melesat maju.
Carlotta tidak tahu lagi apa yang sedang terjadi di sekelilingnya. Tubuhnya limbung. Pandangannya kabur. Perutnya luar biasa sakit. Kemudian dunia mendadak gelap gulita.
***
Kakek dan nenek Alessandro mengamati semua kejadian dari jendela besar di lantai atas. Mereka mulai penasaran semenjak penjaga pintu garda terdepan mengabarkan bahwa seorang wanita bernama Carlotta Marinelli datang berkunjung dan mengaku telah membuat janji temu dengan Alessandro. Padahal, Alessandro bilang, hari ini dia tidak punya agenda bertemu siapa-siapa.
__ADS_1
Lalu, nama Carlotta Marinelli terdengar tidak asing.
"Carlotta Marinelli... siapa dia, Lombardi?" Kakek Alessandro bertanya.
Lombardi mengeluarkan sebuah tabloid gosip yang memuat gambar Alessandro dan seorang wanita hamil di sampulnya. "Dia seorang aktris film layar lebar." Lombardi menjawab.
"Ah, aku ingat! Dia aktris yang dikabarkan pernah melakukan percobaan bunuh diri di Fendi Suite Hotel, kan? Demi menonton konferensi pers-nya hari itu, Alessandro sampai memohon untuk mengganti channel televisi." Nenek Alessandro masih ingat betul hari itu Alessandro merebut tayangan opera sabun yang disukainya demi menonton konferensi pers aktris cantik itu.
"Benar, Nyonya." Lombardi menjawab dengan sopan.
"Dia sedang hamil?" Kakek Alessandro bertanya. "Apakah anak Alessandro?"
Lombardo menggeleng. "Saya tidak tahu, Signor."
Kalau dilihat dari sikap Alessandro yang kelewat bersemangat ketika mendengar kabar gadis itu datang kemari, sepertinya Alessandro memang menyukai gadis itu. Tapi permasalahannya, gadis itu hamil. Alessandro tidak mungkin menyukai gadis yang hamil anak orang lain, kan?
Kemudian, gadis itu datang dengan seorang lelaki kekar. Kakek dan nenek Alessandro menonton semua kejadian seperti sedang menonton film dari atas. Pada saat lelaki kekar itu meninju cucunya hingga roboh, kakek Alessandro sudah akan bereaksi. Namun, nenek Alessandro memintanya untuk tenang dan percaya saja pada cucunya.
Herannya lagi, Alessandro tidak melawan penyerangan itu. Tidak biasanya cucu mereka begitu. Alessandro adalah anak laki-laki yang agresif dan ambisius selama tumbuh dengan mereka. Dia tidak mau kalah dengan siapa pun. Itu sebabnya dia bisa sukses. Dia tidak takut dengan lawannya sama sekali dan sangat percaya diri dengan kemampuannya sendiri.
Kemudian, sang gadis yang tengah berbadan dua itu memosisikan diri di antara dua lelaki tersebut, yang menurut dugaan kakek dan nenek Alessandro adalah untuk melindungi Alessandro agar tidak kena pukul lagi.
"Ooh, bukankah gadis itu manis sekali?" Nenek Alessandro berkomentar.
Kakek Alessandro mengangguk setuju. "Sepertinya gadis itu menyukai cucu kita. Dan dilihat dari kemarahan lelaki yang datang dengannya pada Alessandro, kurasa mereka datang untuk meminta pertanggungjawaban Alessandro karena telah membuat gadis itu hamil."
Nenek Alessandro terkesiap senang. "Aku memang punya firasat Alessandro akan menikah tahun ini. Tapi aku tidak mengira kita akan memiliki cicit tahun ini juga!"
Mereka berdua tersenyum senang, lalu kembali menonton muda-mudi di bawah sana. Lelaki yang datang bersama sang gadis terlihat pergi dari sana tak lama kemudian. Pemain hanya tersisa Alessandro dan gadis bernama Carlotta itu. Sang gadis terlihat menangis dan Alessandro tampak marah.
"Ah, dasar anak laki-laki kurang ajar. Siapa yang mendidiknya untuk tidak menjadi gentleman seperti itu? Alessandro seharusnya tidak boleh marah-marah pada kekasihnya! Apalagi gadis itu sedang mengandung!" Kakek Alessandro mulai gusar.
Nenek Alessandro mengangguk setuju. "Kita harus lebih sering mengajarinya menghormati kekasihnya."
Kemudian sang kakek dan nenek terkejut bukan main saat melihat gadis itu mengalami perdarahan dan pingsan setelah bertengkar dengan Alessandro.
Kakek Alessandro langsung berteriak, "Segera panggil tim medis terbaik, Lombardi! Aku tidak mau hal buruk terjadi pada cicitku!"
***
__ADS_1