Revengeful Billionaire

Revengeful Billionaire
Bab 64 | Bayi Laki-laki


__ADS_3

LIKELIKELIKE DULU PLEASE ♡♡♡


Sumpah jadi berasa cepet banget ga sih jalannya cerita kalo sehari up 3x? Enjoy!


Luvluv,


Alana


***


Kakek dan nenek Alessandro langsung terbang ke Roma dari liburan musim panas mereka di Danau Como begitu mendengar kekacauan pesta Baby Shower. Mereka tiba di rumah sakit persis saat Alessandro mulai membenturkan kepala ke dinding rumah sakit. Ketika Lombardi telah berhasil membujuk Alessandro supaya lebih tenang dan mau duduk, kakek dan nenek Alessandro segera mendekati cucu mereka.


"Alessandro, kau baik-baik saja?" Neneknya bertanya.


Alessandro bahkan tidak mendongak saat menyadari ada orang-orang yang mendekat. Ia masih menopang kepalanya dengan kedua tangan, karena kepalanya rasanya seolah akan meledak akibat stres.


Nenek Alessandro beralih pada Lombardi. "Apa yang sebenarnya terjadi?"


Lombardi menceritakan segala yang ia ketahui pada saat pesta Baby Shower. Saat sampai ke bagian salah satu teman Carlotta jatuh terpental menimpa Carlotta, nenek dan kakek Alessandro terkesiap ngeri.


"Bagaimana keadaan Carlotta sekarang?" Kakek Alessandro bertanya. "Bagaimana dengan cicit kami?"


Lombardi menunjuk ruang operasi. "Belum ada kabar dari dalam sana, Signor."


Setelah beberapa saat, Alessandro berdiri dan mencengkeram lengan kakeknya. "Kakek, kau pria yang sangat berkuasa. Tolong minta dokter di dalam sana untuk melakukan apa saja untuk menyelamatkan Carlotta. Aku tidak akan bisa hidup jika sampai terjadi sesuatu pada istriku!"


Kakek Alessandro mengangguk-angguk. "Tenang, Nak. Dokter pasti melakukan yang terbaik. Jangan khawatir."


Alessandro berbalik dan mendengus. Ia sama sekali tidak puas dengan jawaban itu. "Lombardi, kemari!"


Lombardi segera menghampiri Alessandro. "Ya, Signor?"

__ADS_1


Alessandro menunjuk pintu ruang operasi. "Masuk ke sana dan katakan pada tim dokter bahwa aku akan memberikan apapun yang mereka inginkan asal mereka bisa menyelamatkan Carlotta."


Lombardi menggeleng tegas. "Kita tidak boleh mengganggu jalannya operasi, Signor."


Alessandro menjambak rambutnya sendiri karena frustasi. "Tidak adakah yang bisa kita lakukan? Aku ingin semua orang berusaha menyelamatkan Carlotta!"


Nenek Alessandro mendekati cucunya dan berkata dengan tenang. "Berdoa, Nak. Kita bisa berdoa untuk keselamatan istri dan putramu."


Alessandro memandang neneknya tajam. "Aku akan marah sekali pada Tuhan jika Dia berani mengambil Carlotta dariku."


Neneknya langsung terkesiap. "Nak, kau tidak boleh berkata begitu..."


Kakek Alessandro lebih mengerti keadaan cucunya. Sepertinya, darah Ferrara yang mengalir dalam diri cucunya memang sangat kental. Sama sepertinya yang rela melakukan apapun demi Helena Ferrara, dan sama dengan putranya, ayah Alessandro, yang lebih memilih mati daripada menikah dengan wanita lain yang tidak dicintainya, Alessandro juga pasti merasakan perasaan yang sama kuatnya untuk Carlotta.


"Tenang, Nak, tenang. Kau percaya padaku, kan?" Kakek Alessandro memegang bahu dan menatap mata cucunya lurus-lurus. "Carlotta akan baik-baik saja. Begitu pula dengan putramu."


Pandangan Alessandro pada awalnya tidak fokus. Matanya dipenuhi kemarahan dan ketakutan. Kini, setelah agak fokus, mata Alessandro justru berubah menjadi berkaca-kaca. Pria itu memeluk kakeknya erat-erat. "Aku takut sekali, Kek. Aku takut sekali." Ujarnya. Suaranya sarat emosi.


Alessandro tidak menjawab. Ia mulai memejamkan mata dan berdoa dengan sungguh-sungguh. Jika Tuhan memang masih punya belas kasihan untuknya, ia berharap permohonannya kali ini akan dikabulkan. Ia ingin Carlotta dan putra mereka selamat. Hanya itu saja.


***


"Bayi Anda laki-laki, Signor!" Seorang dokter keluar dari ruang operasi Carlotta sembari menggendong seorang bayi mungil yang telah dibersihkan dan diselimuti tebal. Bayi itu menangis keras.


Alessandro membeku di tempatnya berdiri. Jantungnya berdetak lebih cepat mendengar suara tangisan bayi itu. Keringat dingin terus keluar di wajah dan lehernya. "Bagaimana dengan Carlotta?!"


Nenek Alessandro sudah maju dan mendekati si jabang bayi. "Oh, Ya Tuhan. Dia kecil sekali! Bayi yang tampan!"


Sang dokter tersenyum pada Alessandro. "Nyonya Carlotta akan baik-baik saja, Signor. Masa kritis telah terlewati. Dia mengalami perdarahan hebat, tapi semuanya telah teratasi. Dia akan tetap berdarah hingga satu atau dua bulan ke depan. Jadi, Anda harus bersabar."


Alessandro merasakan beban berat terangkat dari hatinya. Tubuhnya langsung lemas seolah baru saja berhenti mendapatkan siksaan berat. Lelaki itu jatuh berlutut di lantai dan mengucap syukur pada Tuhan.

__ADS_1


Ciara, Carina, dan Marco Bruni segera bergabung dengan nenek Alessandro untuk melihat si bayi. Mereka bertiga telah berhenti menangis takut sekarang. Tapi, mereka masih tetap menangis. Tangis bahagia.


"Dia benar-benar kecil!" Seru Ciara. "Bolehkah aku menggendongnya, Dokter?"


Sang dokter tersenyum. "Tentu saja, tapi nanti. Sekarang, aku akan membawanya ke ruangan rawat bayi dan memasukkannya ke inkubator terlebih dulu."


Dokter kandungan terbaik di Roma itu, seorang laki-laki tua yang bernama Frederico di Maggio, mendekati Alessandro yang masih berlutut di lantai. "Kau boleh melihat putramu sebentar sebelum aku membawanya. Atau kau ingin menggendongnya?"


Alessandro menggeleng pelan. Tangannya masih gemetaran. Ia tidak percaya diri untuk menggendong seorang bayi mungil. Namun, ia memaksa dirinya bangkit. Giacomo membantunya berdiri. Kedua lelaki itu bersama-sama memandangi wajah si bayi yang masih menangis keras.


Suara tangisan itu terdengar begitu indah di telinga mereka berdua.


"Dia punya mata biru sepertiku." Ujar Giacomo bangga. "Dia sungguh-sungguh keponakanku yang kuat."


Dokter Frederico mengangguk. "Dia memang bayi yang kuat. Usianya baru dua puluh sembilan minggu ketika dilahirkan, tetapi berat badannya sudah ideal. Dia juga memiliki suara yang kuat dan penuh semangat."


Alessandro memandang bayi itu dengan takjub. Rambutnya tidak berwarna cokelat seperti dirinya. Hanya pirang yang lebih gelap daripada warna rambut Carlotta. Matanya pun biru jernih, bukan hazel seperti mata Alessandro. Namun, keseluruhan fitur wajahnya mirip sekali dengan Alessandro.


Nenek Alessandro menegaskan hal itu ketika berkata, "Wajahnya sangat mirip dengan ayahmu ketika dia lahir, Nak. Putraku hanya satu. Aku tidak mungkin melupakan seperti apa dia ketika lahir."


Alessandro mulai menangis. Dengan jemari bergetar, ia memegang tangan mungil bayi itu. Si bayi perlahan berhenti menangis.


"Dia mengenali ayahnya!" Seru Giacomo. "Keponakanku yang hebat, kau harus mengenali pamanmu juga!"


Alessandro menangis lebih keras. Suaranya serak dan parau. Ya Tuhan. Dia tidak menyangka bisa melalui hari yang berat ini dan mendapat kado yang sangat indah. Seorang bayi laki-laki. Bayi itu sempurna. Bayi itu kemungkinan adalah putranya. Roberto Mancini ada di sana, tetapi pria itu sama sekali tidak bereaksi dengan kehadiran sang bayi. 'Dia tidak mungkin ayah dari bayi ini, ya, kan?' Pikir Alessandro senang.


Giacomo menepuk-nepuk punggungnya keras. "Kau sekarang adalah seorang ayah, Alessandro. Kau harus jadi ayah yang baik untuk keponakanku."


Alessandro memandangi bayinya lekat-lekat. Ya. Tidak peduli anak siapakah dia, Alessandro bersumpah akan menjadi ayah terbaik untuk bayi Carlotta. Dia akan berusaha dengan keras. Dia berjanji akan melakukan apapun untuk Carlotta dan bayinya.


***

__ADS_1


__ADS_2