Revengeful Billionaire

Revengeful Billionaire
Bab 82 | Ciara Berbicara


__ADS_3

Happy reading yaaa ♡♡♡


Luvluv,


Alana


***


Ciara tidak tahu apa yang sedang terjadi, tapi cara berkomunikasi Carlotta yang tidak seperti biasanya membuatnya siaga. Dia tidak mau kejadian pada saat kakaknya nekat ingin mengakhiri hidup akibat penawaran kurang ajar dari Alessandro Ferrara terulang kembali. Ciara tahu, kakaknya dan Alessandro saling mencintai. They love hard but they fight harder. Ciara bergidik ngeri ketika kembali teringat saat-saat buruk kakaknya di masa lalu akibat kisah cintanya yang sulit dengan Alessandro.


Namun, apa yang salah kali ini? Carlotta dan Alessandro sudah menikah. Memiliki seorang putra. Saling mencintai dan punya keluarga yang sempurna. Seharusnya semuanya baik-baik saja, kan?


Sebetulnya hari ini ada jadwal les masuk perguruan tinggi untuk Carina. Tetapi, Ciara membatalkan semuanya dan segera membawa adik bungsunya ke kediaman keluarga Ferrara.


"Tolong cepat sedikit, Signor." Ciara menepuk bahu supir taksi yang sedang membawa mereka menuju tempat tujuan.


Si supir tampak terlalu terkagum-kagum ketika melewati taman-taman besar yang tidak terbuka untuk umum sehingga berjalan lambat. Ciara mulai menyesal kenapa tidak menerima saja penawaran kakak iparnya yang ingin memberinya hadiah sebuah Lamborghini berwarna merah muda yang luar biasa cantik. Ciara merasa, entah mengapa, dia sedang tidak punya banyak waktu sekarang.


Supir taksi yang ditumpangi Ciara dan Carina meminta maaf cepat, kemudian mulai menekan gas lebih dalam. Gerbang hitam terbuka tanpa banyak pertanyaan dari tim sekuriti ketika Ciara dan Carina menurunkan kaca jendela.


"Nona-nona, saya rasa saya bingung. Di mana kita sekarang? Apakah masih berada di Roma?" Si supir taksi semakin terbengong-bengong.

__ADS_1


Jika saja mereka sedang dalam situasi yang santai, Ciara akan dengan senang hati menjelaskan. Atau bahkan memberi tur singkat pada si supir taksi sederhana yang sudah berumur ini. "Signor, maafkan aku, tapi kami benar-benar dikejar waktu." Jawab Ciara.


Jarak antara gerbang utama kediaman Ferrara dengan pintu masuk bangunan memang jauh. Namun, kali ini Ciara merasa jaraknya menjadi berkali-kali lipat lebih jauh dari biasanya. Ketika taksi mereka akhirnya sampai di depan entrance hall, Ciara membayar dengan uang besar tanpa meminta kembalian dan segera melompat turun dengan Carina.


"Kau selalu seperti ini." Keluh Carina. "Aku sudah sembilan belas tahun. Setidaknya beritahu aku apa yang sedang terjadi."


Ciara memutar bola mata. Baginya, Carina terasa seperti masih bayi. "Seandainya saja aku tahu apa yang sedang terjadi, tapi kenyataannya aku juga tidak tahu. Kak Carlotta menelepon dan terdengar sangat aneh. Aku takut sesuatu yang buruk sedang terjadi. Makanya kita kemari."


Carina menerima penjelasan itu dalam diam. Ia mempercepat langkah mengikuti Ciara ke bagian dalam Castello.


"Di mana kakakku?" Tanya Ciara pada beberapa pelayan berseragam yang menyambut mereka.


"Di kamarnya, Nona Ciara. Mari kami antar." Jawab salah satu pelayan.


***


Carlotta menangis sejadi-jadinya ketika tiba di kamarnya. Kamar yang ditempatinya dengan Alessandro setiap malam. Marco membiarkan perempuan itu meluapkan semua emosinya. Dengan cekatan, Marco membuka beberapa buah koper dan memasukkan seluruh barang-barang dari walk in closet Carlotta. Dia sengaja tidak meninggalkan apa pun. Jika mereka hendak membuat Alessandro percaya bahwa Carlotta pergi karena sudah tidak mencintai pria itu, mereka tidak boleh membuat kesalahan.


Setelah selesai dengan barang-barang Carlotta, Marco segera pergi ke kamar bayi dan memerintahkan beberapa baby sitter yang menjaga Maurizio agar menyiapkan segala keperluan bayi untuk bepergian. Marco juga menelepon dokter anak yang khusus ditugaskan oleh Alessandro dan Carlotta untuk memantau kondisi kesehatan Maurizio.


"Ciao, Dokter Vito! Saya Marco Bruni, manajer Nyonya Carlotta. Begini, Dok. Apakah memungkinkan bagi bayi Nyonya Carlotta untuk diajak bepergian dengan pesawat ke luar negeri?" Marco langsung menodong sang dokter dengan pertanyaan begitu teleponnya tersambung.

__ADS_1


Dokter Vito menjawab dengan hati-hati. "Ciao, Signor Bruni. Kondisi kesehatan bayi Nyonya Ferrara sangat baik. Meskipun lahir prematur, ia adalah bayi yang sehat dan kuat. Saya ingin menyarankan agar bayi mulai dibawa dalam perjalanan jauh dengan pesawat di atas usia tiga bulan. Tapi jika situasinya mendesak, bayi Nyonya Ferrara boleh bepergian dengan pesawat, dengan catatan jangan memberinya dyphenhidramine atau benadryl. Bayi mungkin akan rewel. Gunakan earmuff agar suara bising mesin pesawat tidak terlalu mengganggunya. Dan pastikan Nyonya Carlotta memberikan ASI eksklusif dan tetap menyusui selama di perjalanan. Itu akan membantu bayi beradaptasi dengan tekanan udara dalam pesawat."


"Baik, Dokter, terima kasih. Kami sangat menghargai saran-saran Dokter Vito." Marco Bruni mencatat semuanya di kepala sebelum memutuskan sambungan teleponnya. Marco sedang berjalan kembali dari kamar bayi menuju kamar Carlotta ketika tiba-tiba Ciara dan Carina muncul dari belokan di lorong.


Ciara berkacak pinggang dan menghadang Marco. "Maurizio akan pergi naik pesawat? Ke mana? Dalam rangka apa?"


***


Marco menjelaskan secara singkat tentang semua yang terjadi. Mulai dari Carlotta yang akhirnya bercerita pada Alessandro tentang apa saja yang terjadi sepuluh tahun lalu, mengapa Carlotta terpaksa mengusir Alessandro, ancaman ayah mereka untuk memukul Ciara dan Carina jika Carlotta tidak mau menurut, dan ancaman ayah mereka untuk membinasakan Alessandro jika Carlotta sampai gagal membuat Alessandro pergi dari kehidupan mereka di Verona. Marco juga menceritakan apa yang didengarnya dari Carlotta tentang Alessandro yang marah besar pada Rocco Marinelli dan entah bagaimana caranya mereka rupanya bertemu dan entah siasat licik apa yang dimainkan oleh ayah mereka untuk menjebak Alessandro, tapi Rocco Marinelli sekarang berhasil menangkap Alessandro di suatu tempat dan menuntut Carlotta untuk menggugat cerai suaminya dan pergi ke tempat yang jauh. Atau nyawa Alessandro dan Mauricio yang akan menjadi taruhannya.


Setelah mendengar itu semua, Ciara merasa benar-benar marah. Carlotta sudah berusaha melindungi ia dan Carina sejak kecil dan menderita sendirian. Ciara bahkan tidak tahu bahwa kakaknya mengalami semua ancaman mengerikan dari ayah mereka. Dan dengan bodohnya, dulu ia merasa senang ketika ayahnya menjodohkan Carlotta dengan Roberto Mancini, tanpa tahu bahwa Carlotta berada di ambang depresi dan berusaha bertahan hidup untuk ia dan Carina. Carina sudah menangis sejak sebelum Marco selesai bercerita. Tapi, yang dirasakan Ciara bukan kesedihan. Perempuan itu benar-benar marah.


Ciara membuka pintu kamar Carlotta dengan tak sabar dan melihat kakaknya masih menangis dengan menyedihkan di lantai sembari memeluk salah satu mantel besar yang biasa dipakai Alessandro.


"Kakak tidak akan ke mana-mana, dan juga tidak akan bercerai dengan Alessandro. Jangan khawatir. Aku akan bertemu dengan Papa dan mengatasi semuanya." Ciara mengulurkan tangan pada Carlotta untuk membantu kakaknya berdiri.


Carlotta memandang Ciara penuh tanda tanya. Air matanya masih mengalir, meski tidak sederas sebelumnya. "Apa maksudmu?"


Ciara berkacak pinggang. "Jika Papa menginginkan Roberto Mancini sebagai menantunya, maka aku yang akan menggantikan Kakak menikah dengan Roberto."


***

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE FAV COMMENT GIFTNYA MAKASIH SAYANG-SAYANGKU ♡♡♡


__ADS_2