
Honestly I'm so down this week. But I gotta be strong for myself. Tetap menyerah dan jangan semangat, Lana. You can't do this. Hahaha candaaa. Jadi curhat kan.
Sehat selalu kalian, jangan sedih-sedih, jangan stress. Everything will work out eventually.
Luvluv,
Alana
***
Hari berikutnya, Carlotta mengajak suaminya untuk mengunjungi Salumeria Gironda, sebuah restoran mediterania paling populer di Verona yang dulu sering mereka kunjungi berdua. Alessandro membeli sebuah mobil sport baru karena akan terlalu mencolok memakai limo di pusat kota Verona. Bukannya mobil sport juga tidak mencolok. Hanya saja, tidak separah limousin.
Carlotta memaksa Alessandro untuk menyetir sangat pelan, karena perempuan itu masih trauma mendengar Alessandro kecelakaan di tempat ini, jalanan yang sama, beberapa bulan lalu. Namun, jalanan yang mulus dan lengang membuat Alessandro tanpa sadar menekan gas lebih dalam beberapa kali.
"Berhenti." Kata Carlotta galak.
"T-tapi, Cara Mia..." Alessandro belum menyelesaikan kalimatnya dan Carlotta sudah menyahut cepat.
"Kubilang, berhenti."
Alessandro menuruti istrinya. Pria itu segera menepikan mobilnya dan parkir di pinggir jalan.
Carlotta melepas sabuk pengamannya sendiri. "Turun. Biar aku yang menyetir."
"Tidak, Sayang. Aku bisa menyetir dengan lebih hati-hati lagi."
Carlotta memelototi Alessandro. "Kau selalu mengebut."
Alessandro cepat-cepat menggeleng. "Aku tidak akan mengebut lagi."
Carlotta mencoba taktik lain. "Biarkan aku mencoba mobil barumu."
Alessandro terdiam sejenak. Ia jelas tidak mau dikatai pelit oleh istrinya sendiri. "Tentu saja boleh."
Carlotta tersenyum senang. Ia hendak melompat turun, tetapi Alessandro menahannya. Alessandro menyeringai, lalu mengangkat tubuh Carlotta dengan mudah dan meletakkan perempuan itu di atas pangkuannya. Carlotta terkesiap dan tertawa.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya perempuan itu.
"Eh..." Alessandro jadi tidak bisa bergerak bebas setelah duduk memangku Carlotta di depan setir. "Carlotta, aku merasa--"
Carlotta terkesiap lagi ketika menyadari ada sesuatu yang salah di bawah tempatnya duduk. "Alessandro, kau mesum sekali!" Lalu, perempuan itu tertawa geli. Pipinya merona.
Alessandro segera membuka pintu mobil dan beringsut keluar sebelum ia tergoda untuk bercinta di mobil barunya, di pinggir jalan, saat itu juga. "Kau benar-benar masalah untukku, Carlotta."
__ADS_1
Carlotta tertawa terbahak-bahak mendengarnya.
***
Salumeria Gironda tidak pernah sepi. Pemandangan Sungai Adige terbentang indah dari sana, dan hal itu merupakan daya tarik terbesar selain makanannya yang sangat lezat. Restoran tersebut memiliki konsep yang unik, seolah memberikan fasilitas piknik bagi para pengunjungnya. Carlotta dan Alessandro mengambil sebuah keranjang dan mulai memasukkan roti pilihannya beserta ham Italia, keju, sosis, daging dingin, dan sebotol anggur lokal produksi Ferrara yang dijual di sana. Kemudian, mereka berdua bergerak ke area piknik luar ruangan melalui pintu belakang dan langsung dihadapkan dengan Sungai Adige dan jembatan Ponte Pietra tua yang indah.
Alessandro menarikkan sebuah kursi yang menghadap sungai untuk Carlotta. Ketika telah duduk dengan nyaman, Carlotta berbisik pelan. "Aku rindu sekali tempat ini."
Alessandro menggenggam tangan istrinya dan tersenyum. "Aku juga. Lebih tepatnya, aku rindu datang kemari denganmu. Kau yang paling jago membuat kombinasi sandwich yang enak di sini."
Carlotta mencubit lengan Alessandro main-main. "Hanya merindukan sandwich buatanku?"
Alessandro langsung minta ampun. "Tentu saja aku juga merindukan dirimu!" Carlotta masih mencubitnya, jadi Alessandro buru-buru menambahkan. "Dan cintamu! Dan kebersamaan kita!"
Carlotta tertawa puas, kemudian berhenti melayangkan cubitan mautnya. Perempuan itu memandang menerawang ke Kastil San Pietro di seberang sungai dan mendesah kecil. "Betapa waktu telah berlalu."
"Dan tempat ini tidak pernah berubah." Alessandro melingkarkan tangannya di belakang pinggang Carlotta, menarik istrinya agar duduk merapat padanya. "Kastil itu masih di sana. Sungai itu juga masih sama. Jembatannya juga."
Carlotta merebahkan kepalanya di bahu Alessandro. "Ini bukan pertama kalinya aku kemari setelah kau pergi sepuluh tahun lalu. Aku selalu datang ke sini sendirian dan menangis karena mengingat dirimu."
Alessandro membelai rambut Carlotta dan menciumi kening perempuan itu. "Itu semua sudah berlalu. Sekarang kita sama-sama di sini."
Carlotta mendongak menatap suaminya. "Jangan pernah tinggalkan aku lagi, apa pun yang terjadi."
Carlotta tertawa pelan. "Aku tidak mungkin tidak mencintaimu lagi."
Alessandro mencium Carlotta lembut. "Dan aku tidak mungkin meninggalkanmu lagi."
Carlotta mengangguk. "Nanti, saat Maurizio sudah lebih besar, kita harus membawanya kemari."
Alessandro memeluk Carlotta lebih erat lagi. "Baiklah, aku berjanji."
***
Ketika Carlotta sedang asyik menyusun sandwich dengan daging, keju, dan isian lain pilihannya, namanya tiba-tiba disebut oleh seseorang. Suara pria yang menyebut namanya terdengar familiar. Saat berbalik, Carlotta dan Alessandro menemukan Roberto dan Gretta Mancini berjalan ke arah mereka. Roberto tampak sumringah, sementara Gretta menyeret langkahnya seolah lebih baik berada di neraka daripada di sana.
"Oh? Kalian ada di sini juga?" Carlotta berdiri menyambut Roberto dan Gretta.
Alessandro ikut berdiri, dengan malas. "Bisa-bisanya kita bertemu di sini." Ujarnya, tak terdengar antusias.
Roberto mengabaikan nada itu dan tersenyum lebar pada Carlotta dan Alessandro. "Kebetulan sekali, bukan? Bagaimana jika kita bergabung saja? Gretta juga ingin mengatakan sesuatu padamu, Carlotta."
Gretta memelototi kakaknya sendiri. "Aku? Mengatakan apa?"
__ADS_1
Roberto melipat tangannya di depan dada. "Permintaan maaf, mungkin? Karena telah membuat kegaduhan dan membuat Carlotta celaka di pesta Baby Showernya."
Gretta langsung cemberut. "Baiklah, mungkin aku memang harus mengatakan beberapa hal."
Carlotta melirik Alessandro, menyadari perasaan suaminya memburuk sejak melihat Roberto. "Ah, begini. Bukannya bermaksud--"
"Tidak apa-apa, Sayang. Mereka boleh bergabung dengan kita." Alessandro memotong kata-kata Carlotta cepat. Pria itu segera mengatur tempat duduk agar Carlotta jangan sampai duduk di sebelah Roberto atau berhadapan langsung dengan Roberto. Carlotta hampir merasa sakit perut karena menahan tawa. Alessandro selalu menggemaskan jika sedang cemburu.
"Seharusnya kau melahirkan bulan ini, kan, Carlotta? Seandainya saja Gretta tidak mengacau waktu itu." Roberto membuka percakapan ketika mereka semua sudah duduk di tempat yang diatur Alessandro. "Tapi aku senang kau melahirkan dengan selamat dan sekarang sudah kembali sehat." Roberto meneruskan.
Carlotta mengangguk, kemudian berterima kasih pelan. Sementara itu, Alessandro menjawab dengan frontal. "Kami sengaja tidak mengadakan pesta apa pun untuk menyambut kelahiran putra kami. Kami merasa trauma dengan pesta karena kelakuan adikmu."
Roberto langsung merasa bersalah. Pria itu menyenggol Gretta, memberikan kode agar adiknya segera meminta maaf.
Gretta terpaksa membuka mulut. "Aku minta maaf. Tapi, itu semua bukan salahku. Semua hal yang terjadi hari itu disebabkan oleh Ciara Marinelli."
Carlotta menyipitkan matanya tidak suka. "Apa maksudmu?"
Gretta mendengus kasar. "Sama sepertimu, Ciara senang mempermainkan perasaan orang. Dia terus-menerus menggoda kakakku. Aku tidak terima dia menggoda Roberto dan--"
"Gretta, hentikan." Roberto memperingatkan.
Namun, Gretta mengabaikannya. "Dan terus membuat alasan untuk bertemu berdua saja dengan Roberto. Aku tidak percaya dengan gadis-gadis dari keluarga Marinelli. Kau pernah mengecewakan kakakku. Sekarang adikmu Ciara mendekati kakakku. Apa maksud kalian sebenarnya? Tidakkah cukup kalian sudah mempermalukan keluargaku selama ini?"
Carlotta terdiam dengan kening berkerut. Ciara mendekati Roberto Mancini? Memang benar, Ciara pernah mengaku merencanakan pertemuan dengan Roberto. "Tapi, bukankah Ciara hanya mengajak Roberto bertemu untuk membahas tugas akhir kuliahnya atau hal-hal semacam itu?"
Gretta memutar bola mata. "Itu semua hanya alasan yang dibuat-buat."
Roberto menggeleng marah. "Gretta, Ciara bukan orang seperti itu. Berhentilah dengan tuduhan tidak masuk akalmu itu."
Namun, menurut Carlotta, perkataan Gretta justru memang benar. Ciara tidak mungkin mengatur pertemuan dengan orang yang tidak disukainya. Ciara orang yang idealis. Hidupnya terbagi atas dua pilihan besar. Hitam dan putih. Salah dan benar. Ciara akan mendekati orang yang dia sukai dan menjauhi orang tidak dia sukai. Sesederhana itu.
Dan jika Ciara sampai repot-repot membuat alasan untuk bertemu dengan Roberto ...
Carlotta menggeleng, berusaha mengenyahkan pikiran liarnya. "Ah, jadi begitu. Jangan khawatir, Gretta. Aku akan menyampaikan keluhanmu pada Ciara."
Roberto buru-buru menolak. "Jangan dengarkan Gretta, Carlotta. Aku dan Ciara berteman baik. Jika kau menyampaikan pikiran buruk Gretta padanya, aku takut dia akan menjauh dan hubungan pertemanan kami akan putus begitu saja."
Gretta memelototi kakaknya. "Memang itu yang seharusnya terjadi! Kakak tidak malu tetap dekat dengan keluarga mantan tunanganmu? Lihat saja, dia memutuskanmu untuk menikahi mantan pacarnya yang dulunya tukang kebun dan sekarang menjadi kaya raya!"
Carlotta, Alessandro, dan Roberto langsung memprotes pernyataan Gretta bersamaan.
***
__ADS_1