Revengeful Billionaire

Revengeful Billionaire
Bab 22 | Positif


__ADS_3

Keesokan paginya, Carlotta termenung di salah satu sisi tempat tidur, memegang hasil test pack. Tangannya sedikit gemetar. Gadis itu terus memandangi garis dua berwarna merah yang tertera di sana. Mungkin saja, seiring waktu berlalu, salah satu garisnya dapat menguap dan hilang.


Harapannya jelas tidak terkabulkan. Garisnya masih tetap dua. Berwarna merah pekat, bukan sekedar garis samar. Ia sudah melakukan tes dengan tujuh test pack yang berbeda merek. Dan ia telah membuang enam test pack sebelumnya karena tidak yakin dengan hasilnya. Kini, test pack yang ketujuh ia pegang erat-erat.


Tidak ada keraguan lagi bahwa ia hamil. Tapi, bagaimana mungkin? Malam itu, kan, Alessandro memakai pengaman!


Carlotta ingin menangis. Ia tidak tahu harus bagaimana.


"Kak? Marco menunggumu di ruang depan. Sudah waktunya berangkat syuting!" Terdengar suara Ciara mengetuk pintu kamarnya.


Carlotta membuang hasil test pack-nya yang ketujuh ke tempat sampah. Tempat benda itu berkumpul dengan teman-temannya yang lain. Carlotta berniat merahasiakan hal ini sebentar. Tidak boleh ada yang tahu sebelum ia memutuskan akan melakukan apa.


Pagi berjalan seperti biasanya. Carlotta masuk ke kamar mandi dan membasuh tubuhnya secara keseluruhan. Ia kemudian mengambil baju di lemari urut sesuai tumpukan pertama karena tidak mau ambil pusing apa yang akan dipakainya. Tanpa polesan makeup sama sekali, Carlotta turun ke ruang depan.


"Selamat pagi!" Carlotta menyapa Marco seolah tak terjadi apa-apa.


"Pagi! Kita berangkat sekarang?" Marco menangkap sinyal Carlotta tidak mau membicarakannya sekarang. Tidak di depan adik-adiknya.


Carlotta mengangguk dan mengikuti Marco keluar dari apartemennya. Gadis itu bahkan tidak menoleh kembali ke dalam untuk sekedar berpamitan pada Ciara dan Carina yang sedang bersiap-siap untuk berangkat sekolah.


Setelah mereka berdua masuk ke dalam mobil dan Marco yakin tidak ada yang mendengar pembicaraan mereka, Marco bertanya, "Jadi? Bagaimana hasilnya?"


Carlotta mengangkat bahu. "Aku belum melakukannya. Aku akan menunggu jadwal bulananku datang seperti biasa."


Marco memandang Carlotta tak percaya. "Carlotta, Sayang, aku mengatur pola makanmu sesuai anjuran dokter untuk memastikan tubuhmu dalam kondisi prima. Hal itu juga berlaku untuk kesehatan reproduksimu. Kau tidak pernah telat haid, Sayang. Tidak sehari pun. Sudah berapa lama kau terlambat sekarang?"


Carlotta menjawab pelan, "Dua minggu."


Marco menepuk jidatnya sendiri.


Carlotta menggeleng. "Aku pasti hanya stres. Kau tahu Alessandro muncul dan mengganggu hidupku lagi sejak sebulan lalu. Aku stres berat, Marco."

__ADS_1


Marco memandang Carlotta serius. "Dia memperkosamu, Carlotta. Oke, dia membelimu, lebih tepatnya. Kita tidak bisa menuntut apa-apa, apalagi jika pihak pengadilan mengetahui seberapa banyak uang yang aku terima darinya. Kau seharusnya membencinya. Dia sudah melecehkanmu, merenggut malam pertamamu. Tapi apa yang kau lakukan? Kau memaafkannya dengan mudah. Kau mau diundang ke rumahnya dan kau mau dicium olehnya. Kau tidak stres karena merasa terganggu olehnya, Carlotta. Kau hanya masih punya perasaan padanya."


Carlotta merenungi kata-kata Marco. Ia ingin menyangkalnya, tapi kemudian ia tersadar kalau semua yang dikatakan Marco benar.


"Kau harus mengambil keputusan dengan cepat, Carlotta. Perutmu akan membesar tidak lama lagi." Marco berkata.


"Apa tidak ada opsi lain?" Carlotta menyerah dan tanpa sadar mengakui bahwa ia memang sudah tahu kalau dirinya hamil.


Marco mengangkat kedua alisnya. "Ada, cukup masuk akal, tapi aku tidak tahu apakah kau akan menyukai ini. Kita akan mencari suami untukmu. Aku mempertimbangkan Johann von Schiller. Dia terlihat begitu mengagumimu. Atau kau lebih menginginkan Roberto Mancini? Persetan dengan Gretta. Kakaknya orang yang baik, kita semua tahu itu."


Carlotta meringis ngeri. "Tidak."


Marco mendesah. "Atau begini saja, dengan uang dari Alessandro, kita bisa menyewa seorang suami untukmu. Seseorang dari kalangan biasa dan tidak menarik perhatian. Kau dan suami sewamu ini akan bercerai setelah bayimu lahir."


Carlotta menggeleng sekali lagi. "Tidak, tidak. Aku tidak mau menikahi orang asing begitu."


Marco mulai tak sabar. "Aku yang lebih pusing daripada kau sekarang, Carlotta. Kita tidak akan mendapatkan jalan keluar jika kau terus menolak opsi-opsi yang ada."


"Kita tidak ingin publik melihat perutmu membesar dan kau tidak bisa menjawab siapakah ayah dari bayimu saat diwawancara oleh para wartawan, kan? Kita juga tidak ingin ganti rugi kesepakatan kontrak peran yang telah kita setujui setahun ke depan." Marco menghentikan mobilnya di pintu masuk Colosseum.


"Tidak. Jumlahnya pasti banyak sekali." Jawab Carlotta masam.


"Kau punya waktu seminggu untuk memutuskan. Jika kau ingin menggugurkan janinmu, kita harus melakukannya sebelum dia terlalu besar. Akan lebih baik bagi kesehatanmu jika dia diambil saat masih super mungil." Marco menjelaskan.


"Baiklah. A-aku akan memikirkannya." Carlotta turun dari mobil dan memilih untuk menyudahi percakapan mereka tentang hal ini.


***


Johann memperhatikan, akhir-akhir ini Carlotta lebih cepat lelah. Mereka mulai syuting setelah sarapan, berhenti pada saat makan siang, tapi menjelang senja, wajah Carlotta sudah pucat pasi. Ketika Johann menawarkan untuk rehat, Carlotta menggeleng dan tersenyum. Gadis itu lebih memilih untuk melanjutkan.


Hari ini, lebih tepatnya, kondisi gadis itu benar-benar tidak bagus. Berkali-kali Johann menahan marah karena Carlotta terus salah mengucapkan dialog dan pandangannya kosong. Mereka baru mendapatkan gambar yang bagus setelah minimal tiga kali take. Namun, Johann tidak tega memarahi Carlotta. Gadis itu tampaknya sedang dalam mood yang buruk. Johann takut, salah kata sedikit saja akan menghancurkan mood gadis itu seluruhnya.

__ADS_1


Ketika matahari terbenam, tersisa scene terakhir yang kemarin terlewatkan. Scene mesra Putri dari Gaia dengan Marc Anthony. Alessandro Ferrara sudah berganti kostum dan menunggu di set, sementara Johann menghampiri Carlotta.


"Sungguh kau tidak apa-apa? Kita bisa mengambil ulang gambar besok jika kau belum siap untuk ini." Kata Johann.


Carlotta tersenyum dan menolak lagi. "Maaf karena hari ini aku banyak melakukan kesalahan. Tapi scene berikutnya aku janji tidak akan salah lagi."


Johann mengangguk. "Baiklah kalau begitu. Ingat, jangan terlalu memaksakan diri, Carlotta."


Carlotta segera berganti kostum dan menemui Alessandro di set selanjutnya.


Alessandro tersenyum padanya. "Aku sedikit gugup. Ini kali pertamaku berakting."


Carlotta hanya memandanginya. Ini dia, pikir Calotta, ini dia ayah dari bayiku. Perasaannya tak menentu. Ia bahkan tidak mendengar saat Johann meneriakkan, "Action!"


Alessandro berjalan perlahan ke arahnya. Lengan pria itu menyelubungi dirinya. Carlotta mendongak. Ia hampir menangis sekarang. Alessandro menciumnya persis seperti ciuman mereka di masa muda. Lembut, ringan, hanya kecupan ringan di bibir. Ketika membuka mata, Carlotta mengira ciuman mereka telah berakhir. Namun, Alessandro memandanginya dengan sorot tak terbaca. Matanya pekat oleh gairah. Pria itu kemudian menunduk untuk menciumnya sekali lagi. Kali ini, Carlotta harus berpegangan padanya agar tidak jatuh.


Alessandro memeluk Carlotta erat, sebelum memperdalam ciumannya. Air mata Carlotta mengalir perlahan melewati kedua pipinya. Gadis itu tidak terisak. Namun, ada sorot keputusasaan ketika ia membuka mata.


Johann melihat di layar, ini adalah adegan paling paripurna yang pernah dilihat dalam proses pembuatan filmnya. Carlotta tampak begitu menjiwai perannya sebagai Putri Gaia yang tidak seharusnya jatuh cinta pada Marc Anthony, tapi ia tidak kuasa melawan perasaannya sendiri.


Sedangkan Alessandro Ferrara tampak jelas tidak memahami apa yang baru saja terjadi, peran seperti apa yang harus dilakukannya, dan segala hal tentang akting. Pria itu hanya tampak sangat menginginkan Carlotta. Tapi bukankah semua orang menginginkan gadis secantik Carlotta Marinelli?


Kebetulan saja Alessandro Ferrara merupakan pria yang punya kuasa. Ia dapat melibas seluruh saingannya dengan satu kibasan tangan. Johann mulai berpikir dunia tidak adil.


***


Halohalooo buat kalian yang udah pada nungguin ♡


Jangan lupa like, vote, gift, komen yaa karena itu semua berarti banget buat penulis. Thankyou!


Luvluv,

__ADS_1


Alana♡


__ADS_2