
Udah berapa hari nih Crazy Up nya guys udah hampir habis tabungan bab aku hahaha
Enjoy this one!
Jangan lupa like vote gift 5 stars dkk nya biar aku makin semangat kebut nulisnya ya! Thank you ♡
Luvluv,
Alana
***
Patrizia de Angelo tidak kaget saat melihat Gretta Mancini membuat ulah di pesta ini. Sebelumnya, bahkan ia sendiri yang mengompori Gretta untuk membenci Carlotta. Namun, sekarang tidak lagi. Patrizia sudah berubah. Dia tidak ingin merasa iri dan dengki kepada Carlotta Marinelli.
Sial. Kenapa Carlotta tidak bilang dari awal jika ia punya kakak laki-laki yang sangat tampan? Kalau tahu begitu, sia-sia saja selama ini Patrizia merasa iri saat semua laki-laki yang diincarnya justru mendekati Carlotta. Karena di antara semua pria yang ada di dunia, kakak Carlotta-lah yang paling segalanya.
Carlotta mengikuti Patrizia ke tempat kejadian. Gretta Mancini menjambak rambut pirang Ciara Marinelli. Ciara juga melakukan hal yang sama. Roberto Mancini berdiri di sisi kedua gadis itu, tampak bingung akan melakukan apa. Atau membela siapa. Situasi yang cukup menarik, sebenarnya.
"Berhenti, Gretta." Patrizia mulai menarik lengan Gretta dari rambut Ciara. Namun, hal itu justru membuat rambut Ciara semakin terjambak, karena cengkeraman Gretta sangat kuat.
Ciara jadi lebih marah lagi. Sekarang, salah satu tangannya pindah ke rambut Patrizia.
Carlotta memandang horor semua kejadian ini. Ia berdiri di belakang Patrizia, kemudian berkata pelan. "Ciara, Sayang, ayo lepaskan dia."
"Tidak, Kak!" Ciara berseru.
"Sayang, banyak tamu penting di sini. Reputasimu bisa-"
Ciara menjambak kedua gadis di hadapannya dengan kekuatan ekstra. Gretta dan Patrizia mulai berteriak heboh karena kesakitan. Carina yang biasanya sibuk dengan ponsel entah di suatu tempat, ikut bergabung.
"Aku akan menarik Kak Ciara." Begitu katanya.
Carlotta mengangguk. Kini, Carina menarik Ciara dan Patrizia menarik Gretta mundur. Akan tetapi, bukannya lepas, tangan Ciara dan Gretta justru mencengkeram makin erat.
Patrizia menarik lebih keras lagi, kemudian semua gadis itu terlempar ke berbagai arah. Tanpa sengaja, Patrizia terlempar ke arah Carlotta dan jatuh menimpa perut perempuan itu.
Situasi semakin kacau.
__ADS_1
Carlotta merasa perutnya sakit bukan main. Gio dan Alessandro berlari cepat ke arahnya, berusaha membantunya bangun. Namun, Carlotta tidak bisa bangun. Perempuan itu merasakan air ketubannya pecah, bersamaan dengan darah segar yang membasahi gaun putihnya.
"Alessandro ..." Carlotta memanggil suaminya dengan suara yang lemah.
"Ya, Sayang, aku di sini. Tetap bersamaku, Carlotta, tolong tunggu sebentar, ya?" Alessandro memindahkan Carlotta ke pangkuannya.
"Aku ... merasa ... sakit ..." Ujar Carlotta lirih.
"Tidak, jangan tutup matamu. Ya. Begitu. Ayo kita berlatih pernapasan. Ambulans sedang datang kemari. Kita tunggu sebentar lagi, ya?" Alessandro mulai panik.
Mata Carlotta perlahan memejam. Keringat dingin bercucuran di wajah dan lehernya. "Bayi kita ..." Bisik Carlotta. "Aku tidak bisa merasakan bayi kita ..."
"Carlotta, Sayang ..." Alessandro memeluk kepala istrinya dengan tangan gemetaran. 'Ya Tuhan, kau berdarah banyak sekali.'
"S-sakit sekali ..." Napas Carlotta mulai terasa sesak. "Alessandro ... Aku takut ..."
"Tidak apa-apa, Carlotta. Kau baik-baik saja. Bantuan akan segera datang. Ayo, tarik napas yang panjang ..." Alessandro berusaha menenangkannya.
"Alessandro ..." Rintih Carlotta.
Alessandro mulai berteriak marah. "Lombardi!"
Alessandro kembali fokus pada Carlotta. Ia membelai beberapa helai rambut istrinya yang jatuh menutupi mata. "Bertahan sebentar lagi, Sayang ... Kau akan baik-baik saja. Aku janji."
Perlahan, Carlotta mulai kehilangan kesadaran.
Alessandro semakin tidak tenang. "Tidak, tidak, jangan pejamkan matamu. Ayo, buka, Sayang. Lihat aku. Carlotta?"
Pemandangan itu sungguh mengerikan di mata Alessandro. Ia berteriak marah kepada semua orang, mengumpat, memaki kasar. Namun, pada akhirnya ia hanya bisa berlutut di samping istrinya dan meminta tolong kepada siapa saja yang bisa menolongnya.
***
Giacomo mencengkeram leher Patrizia. "Kau bilang kau akan berubah, tapi ternyata kau berniat untuk membunuh adikku, rupanya?"
Patrizia menciut ketakutan. "Tidak, tidak, Gio! Aku sama sekali tidak bermaksud begitu. Aku bersumpah tidak sengaja!"
"Dasar pembohong!"
__ADS_1
"G-gio, aku tidak-" Patrizia mulai kesulitan bernapas.
"Kau benar-benar perempuan yang licik, Patrizia! Aku menyesal sudah percaya kepadamu." Gio menggeram rendah.
Air mata Patrizia mulai mengalir. Gadis itu berusaha untuk bicara, mengeluarkan argumen bantahan untuk membela diri, apapun. Akan tetapi, untuk sekedar bernapas saja ia sudah kesulitan. Cengkeraman Gio di lehernya sangat kasar. Terlalu keras. Pandangan Patrizia mulai berkunang-kunang.
Situasi di rumah sakit amat tidak kondusif. Ciara dan Carina menangis. Alessandro terlalu panik untuk berdiam diri. Roberto Mancini marah besar pada Gretta. Lombardi merasa bingung untuk mengamankan keadaan, tetapi pada akhirnya memutuskan untuk memisahkan Giacomo dari Patrizia de Angelo, karena Gio tampak benar-benar siap membunuh.
"Tenang, Signor Marinelli. Tolong lepaskan nona ini. Anda tidak ingin dipenjara sekarang. Anda bahkan belum melihat keponakan Anda." Lombardi berkata dengan nada membujuk yang tenang.
Gio melepaskan Patrizia dengan kasar. Ia meninju tembok di sampingnya sebagai gantinya. Patrizia terkulai dan jatuh ke lantai. Gadis itu menangis sembari memegangi lehernya yang mulai terasa kebas.
"Anda baik-baik saja, Nona? Perlukah saya memanggil dokter?" Lombardi berlutut di samping Patrizia.
Patrizia menggeleng pelan.
Perhatian Lombardi teralih pada Alessandro yang mulai membenturkan kepala ke tembok rumah sakit.
"Signor..." Lombardi dengan sigap menarik Alessandro agar menjauhi dinding.
"Aku tidak tahu apakah aku masih bisa hidup setelah ini, Lombardi. Jika terjadi sesuatu pada Carlotta-"
Lombardi menggeleng cepat. "Jangan berkata seperti itu, Signor. Nyonya Carlotta sangat kuat. Begitu juga bayi Anda."
'Bayiku', pikir Alessandro kalut. 'Bagaimana jika ternyata dia memang benar bayiku? Bagaimana jika terjadi sesuatu pada Carlotta dan bayiku? Dengan apa aku bisa menebus semuanya?'
Lombardi menarik Alessandro dengan kasar karena tuannya itu kembali mendekati dinding.
"Tidak boleh, Signor."
"Minggir, Lombardi."
"Nyonya Carlotta akan segera sadar setelah selesai dioperasi dan bayi Anda akan segera lahir. Anda harus tetap waras dan sehat untuk mereka." Kata Lombardi.
Alessandro terdiam. Pikirannya masih kacau, tetapi kata-kata Lombardi memang masuk akal. Namun, demi Tuhan. Usia kehamilan Carlotta baru menginjak tujuh bulan. Apakah ada kemungkinan Carlotta dan bayi mereka akan selamat? Alessandro ingin jadi orang relijius dan berdoa pada Tuhan untuk keselamatan istri dan calon anaknya.
Persetan dengan semua rencana awalnya untuk melakukan tes DNA. Alessandro tidak lagi peduli. Baginya, keselamatan Carlotta dan bayi dalam kandungan perempuan itu adalah yang paling utama.
__ADS_1
"Mari duduk dulu, Signor. Anda harus tenang." Lombardi menggiring Alessandro agar tuannya mau duduk di bangku ruang tunggu. Operasi Carlotta sudah berjalan selama kurang lebih empat puluh menit. Dokter dapat keluar dari ruangan operasi dalam waktu dekat. Alessandro duduk sembari menyangga kepala dengan kedua tangan. Ia tidak pernah merasa sekalut ini seumur hidupnya.
***