Revengeful Billionaire

Revengeful Billionaire
Bab 35 | Awal Huru-hara


__ADS_3

Hello guys. Welcome back to my story.


Selamat bermalam minggu yaa kalian semua! Sengaja upload sore-sore biar kalo udah kelar review bakalan bisa nemenin malming kalian ♡


Jangan lupa dukung terus cerita aku yaa. Yuk follow yuk bentar lagi ada karya baru loh. Jangan lupa LIKE VOTE 5 STARS GIFT dan pastinya KOMENNN. Aku usahain balesin satu-satu kok hehehe. Kalo ga kebales maapin tapi pasti seenggaknya aku baca atau aku like ♡


Makasih yaa udah mau baca sampe sini. Xoxo.


Luvluv,


Alana


***


Seminggu setelah Carlotta kembali ke apartemennya di Roma, Giacomo mengunjunginya. Ketika membuka pintu, Ciara dan Carina bertanya-tanya siapakah pria besar yang menjadi tamu kakaknya kali ini. Ketika Carlotta memperkenalkan Gio sebagai kakak mereka bertiga, Ciara dan Carina shock.


"Kalian, kan, sudah pernah bertemu denganku." Begitu kata Giacomo sembari tertawa, mengomentari keterkejutan di wajah Ciara dan Carina yang begitu menggemaskan.


Ciara melongo. "Kapan?"


Giacomo mengacak rambut Ciara. "Saat kau berusia tiga tahun?"


Carina maju. "Dan aku?"


Carlotta merangkul Carina. "Kau baru lahir."


Carina menutup mulutnya. "Pantas saja aku tidak ingat apa pun."


Carlotta menjelaskan bahwa Giacomo adalah kakak mereka yang hilang.  Ciara dan Carina hampir tidak percaya, tapi mereka berempat memang sangat mirip satu sama lain.


"Bukan sepupu yang hilang, tapi kakak yang hilang?" Ciara bertanya lagi, masih tidak menyangka.


Giacomo memegangi dadanya seolah tertusuk pisau. "Aku tidak menghilang, Sayang-sayangku. Aku hanya tidak tinggal bersama kalian."


Hanya Carlotta yang ingat dia pernah tinggal di jalanan, dan Giacomo tidak ingin adik-adiknya yang lain tahu. Jadi, ia hanya tersenyum lebar dengan penuh pesona dan menanyai adik-adiknya tentang kehidupan mereka.


Carlotta senang sekali dengan kepribadian Giacomo yang hangat dan menyenangkan. Dalam waktu sekejap, Gio sudah bisa mendapatkan kepercayaan adik-adiknya. Ciara dan Carina kini sudah nyaman bercerita panjang lebar kepada Gio, sementara Carlotta menyiapkan sarapan untuk mereka berempat.


Giacomo memiliki rambut panjang sebahu yang jauh lebih indah dibanding kebanyakan wanita. Ciara dan Carina sekarang sudah naik ke atas sofa dan berebut memegang cepol rambut pria itu.


"Gadis-gadis baik, apa yang kalian lakukan?" Carlotta berkacak pinggang, pura-pura marah. Ciara dan Carina tertawa cekikikan. Sungguh, Carlotta merasa beruntung sekali Gio mau datang menemui mereka. Baru setengah hari bersama saja, Carlotta seperti menemukan sosok ayah yang tidak pernah ia dan adik-adiknya miliki.


Seandainya Gio tinggal bersamanya sejak kecil, Carlotta yakin hidupnya pasti akan lebih baik. Seandainya ayahnya tidak mengusir Gio, seandainya ibunya tidak pergi dengan lelaki lain, seandainya ayahnya tidak menghina Alessandro, Carlotta yakin dia pasti jadi anak perempuan paling bahagia di dunia.


"Kak Gio lucu!" Begitu komentar Carina.


Ciara mencubit pipi Gio gemas. "Kau akan tinggal dengan kami, kan, Kak Gio?"

__ADS_1


Gio memandang Carlotta dengan memelas, meminta pertolongan. "Selamatkan aku dari gadis-gadis nakal ini, Carlotta..."


Carlotta duduk di sofa bersama saudara-saudaranya. "Baiklah, aku akan menyelamatkanmu. Apa yang harus kulakukan?"


Giacomo tersenyum senang. "Ikutlah denganku keliling Roma. Aku warga Milan dan belum familiar dengan situasi kota ini."


Carina langsung memprotes. "Aku juga mau ikut! Aku mau jalan-jalan!"


Ciara ikut-ikutan. "Aku juga! Aku bahkan bisa menunjukkan lebih banyak hal menarik di Roma ketimbang Kak Carlotta. Kau tidak tahu, ya? Kak Carlotta tidak pernah ke mana-mana. Hidupnya dihabiskan untuk bekerja!"


Giacomo terkekeh. "Justru karena itu aku ingin membawanya keluar. Jangan khawatir, kalian berdua juga akan mendapatkan giliran yang sama."


Ciara mencebik. "Benar, ya?"


Giacomo mengacungkan kelingkingnya. "Pinky promise?"


Ciara dan Carina terkikik seperti bocah kecil.


***


Carlotta sudah berganti pakaian dengan gaun longgar tanpa lengan yang cocok dipakai di musim panas. Ia masuk ke dalam Maserati milik Giacomo tanpa curiga. "Ke mana kita akan pergi kali ini?"


Gio tampak berpikir sebentar. "Ke restoran dulu?"


Carlotta tertawa. "Kita, kan, baru saja makan di rumah!"


"Tidak. Keponakanmu sudah terlalu kenyang sampai jika diberi makan sedikit lagi saja, dia akan keluar dari perut ibunya sebelum waktunya." Jawab Carlotta, tampak sungguh-sungguh.


Giacomo terbelalak. Ia segera menyilangkan jarinya. "Jangan sampai itu terjadi."


Carlotta tertawa. Jarinya juga disilangkan. "Jangan sampai."


Lalu, Giacomo mulai menyalakan mesin mobil. "Kalau begitu, aku akan mengajakmu jalan-jalan saja."


Carlotta mengangguk bersemangat. "Ayo!"


***


Giacomo telah membawa Carlotta berputar-putar di kota Roma hampir sejam lamanya. Mereka melewati berbagai tempat wisata yang ramai dengan turis tanpa turun dari mobil. Kemudian pergi ke tempat-tempat indah tersembunyi lainnya yang tidak pernah didatangi Carlotta sebelumnya.


Tanpa Carlotta sadari, mobil kakaknya sudah meluncur mulus di sebuah jalan pribadi menuju sebuah tempat yang tampaknya penting di pusat kota Roma. Jalanan masih lebar, tapi tidak ada lagi mobil-mobil yang berpapasan dengan mereka atau berada di belakang mereka. Bagian kanan dan kiri jalan dipenuhi pepohonan eksotis yang mahal dan taman-taman yang indah.


"Apa kita akan pergi ke istana kepresidenan?" Carlotta bertanya serius.


Giacomo hanya tertawa sambil terus tancap gas.


"Kak, aku tidak yakin tempat seperti ini boleh kita kunjungi sembarangan. Ayo berputar dan pergi ke tempat turis lainnya saja!" Carlotta mulai panik.

__ADS_1


Gio tersenyum menenangkan pada Carlotta. "Apa kau melihat berita pagi ini?"


Carlotta menggeleng. "Apa hubungannya berita dengan tempat tujuan kita ini?"


"Kita akan segera sampai di rumah pacarmu." Kata Gio dengan santainya.


Carlotta memucat. "Aku tidak punya pacar!"


Gio mengangkat bahunya. "Tapi bayimu punya ayah."


Oh, tidak. Pikiran Carlotta langsung berputar-putar. Mereka akan menuju rumah Alessandro? Maksudnya, rumah keluarga Ferrara? Giacomo ternyata tidak hanya nekat, tapi lelaki itu juga sudah gila!


Carlotta memegang lengan kakaknya dan memandangnya dengan sorot memohon. "Ayo kita pulang, Kak Gio, aku tidak mau ke sana!"


Ekspresi Gio dingin. Ia terus tancap gas seolah Carlotta tidak pernah berkata apa-apa. "Aku sudah berjanji padamu, kan? Kita akan meminta pertanggung jawabannya setelah dia pulih. Berita pagi ini mengabarkan bahwa dia sudah keluar dari rumah sakit dan pulang ke rumah keluarganya."


Carlotta menggeleng kuat-kuat. "Dia tidak ada di sini. Dia punya rumah sendiri. Sebuah apartemen penthouse di atas tower kantornya."


Gio tak terpengaruh. "Aku punya informan, Carlotta. Aku tahu di mana Alessandro Ferrara berada sekarang."


"Informan? Apa pekerjaanmu sebenarnya?" Carlotta bertanya.


"Aku memimpin sebuah organisasi untuk menjaga keamanan." Jawab Giacomo.


"Polisi? Tentara?" Carlotta menebak.


Gio tertawa. "Kau lucu juga, Carlotta. Kita sudah hampir sampai di rumah kekasihmu dan kau masih bisa mencemaskan pekerjaanku."


Carlotta terhenyak. "Tidak. Jangan, Kak. Kita tidak akan memberitahu Alessandro. Tolong, Kak. Aku tidak pernah minta tolong apa pun seumur hidupku padamu. Sekarang, aku mohon. Jangan lakukan ini!"


Gerbang hitam berukir besar menuju rumah keluarga Ferrara sudah tampak di depan mata. Dua petugas penjaga keamanan bersenjata lengkap menghampiri mobil mereka.


"Permisi, Signor dan Signora, ada yang bisa kami bantu?" Salah seorang penjaga bertanya.


Giacomo menjawab dengan luwes. "Carlotta Marinelli ingin bertemu dengan Alessandro Ferrara. Kami sudah membuat janji."


Carlotta terkesiap kecil. "Kapan kita membuat janji?" Bisiknya takut.


Petugas penjaga keamanan tampak berbicara di alat komunikasinya. Sepertinya ia mengkonfirmasi pernyataan Giacomo langsung pada Alessandro Ferrara.


Gerbang dibuka.


"Bagus sekali." Gio berkata. Tangannya mencengkeram kemudi dengan penuh semangat, sementara kakinya menekan gas dengan kekuatan penuh. "Dia membukakan gerbang untukmu dengan mudah. Itu awal yang baik. Kukira aku harus menerjang gerbang sialan ini dengan mobilku." Katanya kepada Carlotta.


Carlotta menggeleng sekali lagi. Tangannya memegangi tangan kakaknya kuat-kuat. "Kak Gio... kita tidak harus melakukan ini. Tolonglah. Tolong aku, Kak..."


Gio mengabaikan rengekan Carlotta. "Aku sedang menolongmu dan keponakanku sekarang. Jadi, duduk saja dan bersantai sebentar."

__ADS_1


***


__ADS_2