
Crazy Up dimulai ♡♡♡
PLEASE LIKE SEBELUM LANJUT BACA, Thank you my Dear ♡
Luvluv,
Alana
***
Pada saat Carlotta sudah dibawa pergi dari ruangan terkutuk itu, Alessandro berdiri tegak di atas kakinya. Pria itu meregangkan tubuh sedikit, serta mengubah postur tubuhnya menjadi posisi menyerang. Rocco Marinelli berusaha berdiri dengan benar, tapi badannya terhuyung-huyung. Bodoh sekali. Alessandro Ferrara jelas tidak akan melakukan kesalahan untuk kali kedua. Dia sekarang bukan lagi tukang kebun rendahan yang terima-terima saja diperlakukan dengan buruk.
Alessandro melayangkan tinjunya pada Signor Marinelli. Dalam sekali pukul, pria yang lebih tua itu ambruk ke lantai. Puas melihat hasil kerjanya, Alessandro mengusap tangannya yang terasa sedikit kotor dan berkata, "Aku akan tetap menepati janjiku untuk memberikan kembali mansion dan bisnismu. Sebagai gantinya, kau tidak akan mengganggu aku dan istriku lagi selamanya. Jika kau melanggarnya, aku bisa mengambil semua milikmu sekali lagi, Signor Marinelli. Apa kau mengerti?"
Pria yang lebih tua itu masih berada di lantai, mengerang kesakitan. Beberapa pasukan keamanan meringkusnya dan segera membawanya pergi.
Alessandro merebahkan diri di sofa kulit, kemudian menyilangkan kakinya. Ketika Lombardi kembali dari tugasnya mengamankan Carlotta, Alessandro meminta pria itu mendekat.
"Pukul aku, Lombardi." Titah Alessandro.
Lombardi terkejut bukan main. Alessandro memang sudah berlangganan memberinya tugas yang tidak wajar, tetapi tidak pernah segila ini. "M-maaf, Signor?"
Alessandro memutar bola matanya. "Pukul aku. Yang keras."
Alessandro tidak sudi dipukul lagi oleh Signor Marinelli, tetapi Carlotta butuh melihat pengorbanannya.
Lombardi tampak ragu-ragu sesaat. "Tapi ini mungkin akan terasa sedikit sakit, Signor."
Alessandro mengangguk. "Tidak masalah. Berikan pukulan terbaikmu."
***
"Yang tadi itu sakit sekali, Lombardi!" Alessandro bersungut-sungut sembari melihat pantulan wajahnya di cermin dan mendapati sudut bibirnya sedikit memar.
Lombardi menahan seringai. "Maaf, Signor."
Alessandro memelototinya. "Kau menikmati ini." Tuduhnya.
Lombardi berusaha menampilkan raut muka default-nya yang tanpa ekspresi. "Mana mungkin saya berani, Signor."
Alessandro memejamkan mata menahan emosi.
"Saya pergi dulu, Signor." Lombardi buru-buru melarikan diri sebelum Alessandro sempat memikirkan sesuatu untuk menghukumnya.
__ADS_1
Pesta pernikahan Alessandro belum usai. Saat ini para tamu sedang menyegarkan diri dan menikmati hiburan tanpa henti yang tersedia. Resepsi yang digelar malam nanti akan lebih meriah lagi, tetapi lebih tertutup. Hanya teman dan kerabat dekat saja yang diundang.
Alessandro menemui Carlotta di kamar. Perempuan itu sedang berjalan mondar-mandir dengan gelisah di depan jendela. Ketika mendengar langkah Alessandro mendekat, Carlotta langsung berhenti dan menoleh ke pintu.
"Ya Tuhan, Alessandro! Lihat wajahmu!" Carlotta berlari mendekat dengan panik.
Alessandro juga buru-buru mendekat agar istrinya tidak perlu berlari terlalu jauh.
"Apakah sakit sekali?" Tanya Carlotta.
Alessandro tak kuasa menahan senyuman. "Tidak apa-apa, Sayang. Jangan khawatirkan aku."
Carlotta menggeleng marah. "Papa benar-benar keterlaluan. Tidak seharusnya dia melakukan ini padamu."
Alessandro menggenggam tangan Carlotta dan mengecup puncak kepala istrinya. "Ini pantas kudapatkan. Aku merebut putri kesayangannya."
Carlotta memejamkan matanya lelah. "Apakah Papa sudah pergi? Apa saja yang ia inginkan darimu?"
Alessandro mengangguk. "Aku memberinya rumah kalian kembali dan aku akan membantunya mendirikan bisnis yang baru. Atau membangkitkan yang lama. Kita lihat saja mana yang lebih memungkinkan."
Carlotta menahan air matanya. "Kau tidak perlu melakukan itu... Maafkan Papa, Alessandro..."
Alessandro meletakkan telapak tangan Carlotta di dadanya. "Aku sudah memaafkannya. Lagipula, kini aku mendapatkan semua yang kuinginkan. Kau."
Carlotta tertawa kecil. "Kau harus tahu sesuatu. Kau tidak merebut aku dari siapa-siapa."
Carlotta tersenyum, lalu membelai beberapa helai rambut Alessandro yang keluar dari barisan. Lalu, perempuan itu memandang luka di wajah Alessandro dengan sedih. "Kita harus mengobatimu."
Alessandro membawa Carlotta duduk di pinggir tempat tidur. "Aku sudah meminta Lombardi membawakan baskom berisi es. Aku akan mengompresnya."
Carlotta hampir menangis. "Oh, Alessandro. Malang sekali dirimu."
Alessandro tersenyum. "Apakah kau merasa iba padaku, Carlotta?"
Carlotta mengangguk cepat. "Tentu saja!"
"Kalau begitu, cium aku."
Carlotta menuruti perintah itu. Ia mencium suaminya dengan segenap hatinya.
***
Suasana hati Carlotta menjelang pesta resepsi jelas jauh lebih baik. Perempuan itu telah berganti pakaian dengan sebuah gaun malam berwarna silver berhiaskan berlian Swarovski yang berpendar cantik di bawah lampu-lampu taman. Ciara dan Carina berdansa riang gembira mengikuti alunan musik. Giacomo menemani Carlotta di depan meja prasmanan, sementara Alessandro sudah disibukkan dengan menyapa rekanan bisnis yang tiada habisnya.
__ADS_1
"Bagaimana perasaanmu sekarang setelah kau resmi menikah, Carlotta?" Giacomo bertanya.
Carlotta tersenyum pada kakak laki-lakinya. "Perasaanku sangat baik malam ini. Dan aku harap seterusnya akan begitu."
Giacomo merangkul Carlotta dengan hangat. "Kau harus tahu bahwa aku akan selalu ada di sini untukmu. Kau tinggal meneleponku saja jika kau butuh apapun. Mengerti?"
Carlotta tersenyum dan mengangguk.
"Jangan sampai tidak bahagia, Sayang. Aku tidak mau melihatmu bersedih hati." Kata Giacomo.
Carlotta mengangguk lagi. "Ke mana kau akan pergi setelah ini?"
Giacomo mengangkat bahu. "Mungkin aku akan tetap di Roma. Atau kembali ke Milan. Ada banyak kemungkinan yang ingin kucoba."
"Tentang pekerjaanmu atau tentang wanita?" Carlotta mengajukan pertanyaan yang membuat Giacomo terbahak.
"Aku tidak pernah kekurangan wanita, Carlotta." Giacomo berkata di sela tawanya. "Aku bahkan tidak perlu mencari."
Carlotta mengangguk. "Aku tidak meragukan hal itu." Kakaknya memang terasa seperti magnet kuat bagi para wanita. Wajahnya tak bercela, tubuhnya dipenuhi sensualitas tingkat tinggi, dan cara bicaranya akan menggoyahkan iman wanita mana pun yang sedang digodanya.
"Aku akan mengambil minuman di sebelah sana sebentar. Sampanye. Kau tidak boleh minum alkohol, bukan?" Gio bertanya untuk memastikan.
Carlotta menggeleng.
"Tunggulah di sini sebentar. Aku akan segera kembali." Ucap Giacomo sebelum menghilang di tengah para tamu.
Kemudian, dua perempuan menghampiri Carlotta.
"Wah, wah. Lihat siapa ini." Terdengar suara Gretta Mancini.
Carlotta berbalik dan mendapati dua musuh bebuyutannya semasa SMA mendekat. Gretta Mancini dan Patrizia de Angelo.
"Hebat sekali temanmu ini, Gretta." Patrizia berkata. "Setelah mencampakkan kakakmu, dia menjebak Alessandro Ferrara dalam ikatan pernikahan dengan cara hamil duluan."
Carlotta baru saja akan membuka mulut untuk mengeluarkan pembelaan diri, tapi seseorang memotongnya. Kakaknya, Gio, muncul dengan segelas sampanye dari arah belakang Gretta dan Patrizia.
"Maaf, apa tadi kau bilang, Nona?" Gio bertanya.
Gretta dan Patrizia berbalik ke sumber suara. Mereka berdua berdiri mematung dengan mulut menganga ketika melihat Gio datang mendekat. Gio tampak bersinar terang bagi mereka, membutakan.
Patrizia mengulurkan tangannya secara otomatis. "Sepertinya kita belum pernah bertemu. Aku Patrizia de Angelo."
Giacomo menyambut uluran tangan Patrizia, menyebabkan gadis itu berjengit sedikit karena merasa tangannya seolah teraliri listrik. "Aku Giacomo Marinelli, kakak Carlotta."
__ADS_1
Carlotta puas sekali melihat Patrizia menjatuhkan gelas sampanye yang dipegangnya ke lantai.
***