
Wohoooo this one is soooo damn satisfying to write. Semoga chapter panjang ini memuaskan juga buat dibaca ya!
Jangan lupa dukungannya please! Like komen vote 5 stars gift dkk. Makasih banyak! Sehat-sehat dan bahagia selalu kalian semua ♡♡♡
Luvluv,
Alana
***
Carlotta belum juga siuman hingga malam dan Alessandro kembali panik. Dokter memberitahunya untuk bersabar dan menunggu, tapi dia tidak bisa. Pria itu berjalan mondar-mandir di kamar, merasa sangat khawatir kenapa wajah istrinya masih tampak sangat pucat. Kantong darah dan infus masih mengaliri tubuh wanita itu.
"Ada yang ingin saya katakan, Signor." Lombardi berbisik. Ia mengode Alessandro untuk membuntutinya keluar ruangan.
Alessandro mengernyit. "Aku tidak mau meninggalkan Carlotta."
"Hanya di depan ruangan saja, Signor. Jangan sampai kita mengganggu waktu istirahat Nyonya Carlotta. Beliau sangat membutuhkan istirahat." Ujar Lombardi.
Pada akhirnya, Alessandro mengikuti Lombardi ke depan pintu. "Jangan pergi jauh-jauh. Aku ingin ada di sisi istriku ketika dia siuman nanti."
Lombardi mengangguk. Pada akhirnya, mereka hanya berada di depan pintu ruang rawat inap VVIP Carlotta.
"Ada masalah apa?" Tanya Alessandro tak sabar, sesaat setelah menutup pintu di belakangnya.
Lombardi berbisik. "Hasil tes DNA yang Anda inginkan sudah keluar."
Alessandro terperangah. "Tidak, tidak. Jangan katakan." Kata Alessandro cepat. Tangannya terangkat di udara, mencegah Lombardi untuk melanjutkan bicara. "Buang saja semua hasilnya. Aku tidak lagi ingin tahu."
"Tapi, Signor-"
"Aku sudah bilang tidak mau mendengarnya. Kau ini sebenarnya mengerti Bahasa Italia atau tidak?" Alessandro menatap Lombardi tajam.
Lombardi menghembuskan napas perlahan. "Baik, Signor."
Alessandro menyugar rambutnya sendiri. Jantungnya berdegup cepat penuh antisipasi. Sejujurnya, dia ingin tahu. Namun, hatinya tidak pernah siap seandainya menerima jawaban-jawaban yang sama seperti yang selama ini diterimanya dari anak wanita lain yang mengaku-ngaku. Carlotta-nya sangat cantik. Dia yang tercantik di dunia ini. Mana mungkin tidak ada pria lain yang mengajaknya bercinta?
Lagipula, jika Alessandro tidak mendengar hasil itu, artinya masih ada kesempatan lima puluh persen bahwa anak itu memang anaknya. Ya. Alessandro memutuskan lebih sanggup hidup dengan lima puluh persen kemungkinan itu dalam membesarkan bayi Carlotta ketimbang nol persen.
"Ada lagi yang ingin kau katakan?" Alessandro melipat tangannya di depan dada.
Lombardi hendak menggeleng, tetapi tiba-tiba memutuskan untuk mengatakan hal lain. "Sebelum pernikahan Anda berlangsung, ketika Anda pergi ke New York, Nyonya Carlotta mengalami perdarahan setelah bertengkar dengan Anda."
Alessandro terbelalak. "Apa maksudmu?"
Lombardi mengangguk. "Ketika Anda meninggalkan rumah, Nyonya Carlotta pingsan dan mengalami perdarahan yang lebih parah ketimbang saat hari pertama kali beliau menginjak rumah Ferrara."
Alessandro terkejut sekali. "Kenapa baru memberitahuku sekarang?"
"Anda sendiri yang meminta agar saya tidak melaporkan apapun tentang Nyonya Carlotta saat itu, Signor." Jawab Lombardi.
Alessandro mengepalkan tangannya. Sialan. Rupanya, selama ini memang dia sendiri yang paling banyak menyakiti Carlotta. Pria itu selalu berpikir bahwa ia adalah orang yang paling mencintai Carlotta di seluruh dunia, tetapi kenyataannya justru sebaliknya.
"Apakah keputusan saya untuk menuruti perintah Anda saat itu salah, Signor?" Lombardi bertanya lagi.
Alessandro berusaha mengatur napas agar tetap tenang. "Ya. Kau salah. Kau tahu aku salah, tapi tetap menurutiku. Seharusnya kau tahu lebih baik daripada itu!"
__ADS_1
Lombardi tersenyum. "Kalau begitu, saya akan katakan ini. Keputusan Anda untuk tidak mau tahu hasil tes DNA bayi Nyonya Carlotta adalah keputusan yang salah."
Alessandro memicingkan mata. "Jangan coba-coba, Lombardi. Untuk yang satu ini, keputusanku sudah final."
Lombardi mengangkat bahu. "Jangan salahkan saya untuk keputusan Anda kali ini, Signor."
Alessandro melambaikan tangan. "Pergilah. Aku tidak mau dengar apa-apa lagi."
***
Lombardi berderap cepat menuju ruangan Dokter Frederico di Maggio. Lorong-lorong rumah sakit terasa sangat panjang ketika ia sedang tergesa-gesa seperti ini. Semua orang di lorong juga terasa mengganggu. Lombardi ingin menyingkirkan mereka semua.
"Dokter di Maggio?" Lombardi mengetuk pintu ruangan dokter pelan.
Seorang perawat keluar. "Anda harus mengambil antrian terlebih dulu, Signor." Ujar si perawat sembari menunjuk beberapa ibu hamil yang duduk mengantri di ruang tunggu.
"Tolong sampaikan pada Dokter di Maggio bahwa utusan Signor Ferrara ingin berbicara sebentar." Lombardi berkata.
Mendengar nama Ferrara disebut, si perawat buru-buru mengangguk dan kembali ke dalam ruang praktek dokter. Beberapa saat kemudian, pasien yang telah diperiksa oleh Dokter Frederico di Maggio keluar, dan perawat mengijinkan Lombardi masuk memotong antrian.
"Ada yang bisa saya bantu, Signor?" Tanya pria berumur itu.
Lombardi duduk di hadapan sang dokter. "Saya ingin meminta tolong sesuatu, Dok. Hal ini sangat penting. Pihak Ferrara akan membayar mahal untuk jasa dokter ini."
Dokter Frederico mengernyit. "Jasa apa? Nyonya Carlotta Ferrara sudah baik-baik saja sekarang. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kita hanya tinggal menunggunya pulih."
Lombardi menatap dokter itu lurus-lurus, kemudian menceritakan maksud kedatangannya tanpa basa-basi lagi.
***
"Carlotta... Sayang...." Bisiknya.
Carlotta mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum mencoba berbicara. Pandangannya masih berkunang-kunang. Dan ia sudah bicara, tapi belum mampu mendengar suaranya sendiri.
"Alessandro..."
"Ya, Sayang? Bagaimana perasaanmu? Apakah ada yang sakit?" Alessandro bertanya, suaranya berat menahan tangis.
Carlotta mengerutkan kening. "Bayiku?"
Alessandro menangguk cepat. Butir-butir air mata mengalir pelan di pipinya. Ia hampir tidak pernah menangis seumur hidupnya, tapi hari ini dia sudah menangis dua kali. "Dia sudah lahir. Dia baik-baik saja. Aku akan memberitahu perawat agar membawanya kemari. Kau mau melihat bayi kita sekarang?"
Carlotta tersenyum senang mendengar semua itu. Bagian paling penting adalah bayinya selamat. Bagian terpenting kedua adalah Alessandro kembali menyebut bayinya dengan sebutan 'bayi kita'.
"Apakah kau sudah yakin bahwa dia anakmu?" Tanya Carlotta pelan. "Apakah dia mirip denganmu?"
Alessandro tidak sanggup untuk mengatakan banyak hal, jadi ia hanya mengangguk saja.
Carlotta tertawa pelan, kemudian tawanya mendadak berhenti karena bekas operasi di perutnya terasa sakit akibat tawa itu. "Apakah rambutnya sewarna dengan rambutmu?"
Alessandro menggeleng. "Tidak, dia sedikit pirang."
Carlotta tersenyum. "Dia lebih mirip denganku, ya?" Tebaknya.
Alessandro ingin berbohong, tapi toh Carlotta akan melihat bayinya sendiri nanti. Jadi, pria itu mengangguk. "Dia lebih mirip Giacomo daripada aku."
__ADS_1
Carlotta hampir tertawa lagi kalau tidak mengingat jahitannya. "Kak Gio dan aku memang sangat mirip."
Alessandro menggeleng keras. "Kau jauh lebih baik. Terutama bagian temperamennya."
Carlotta mengulurkan tangan untuk membelai pipi suaminya. "Kau pasti masih teringat saat dia meninjumu?"
Alessandro terkekeh. "Bagaimana mungkin aku lupa?"
Kemudian, Dokter di Maggio mengetuk pintu. Tanpa menunggu jawaban, sang dokter beserta beberapa perawatnya memasuki ruangan.
"Bagus sekali Anda sudah sadar, Nyonya Carlotta." Ucap sang dokter. "Bagaimana kondisi Anda?"
Carlotta tersenyum. "Aku merasa sedikit pusing. Dan perutku agak nyeri."
Dokter di Maggio mengangguk. "Itu reaksi yang umum. Pusing dapat disebabkan oleh sisa obat bius. Anda harus banyak beristirahat. Nanti kita akan latihan berjalan setelah Anda merasa cukup kuat."
Carlotta mengangguk. "Baik. Terima kasih, Dok."
Dokter di Maggio mulai memeriksa perut Carlotta. "Semuanya dalam kondisi baik. Jika kondisi Anda terus membaik dengan cepat seperti ini, Anda bisa pulang lebih dulu daripada bayi Anda."
Carlotta menggeleng. "Tentu saja aku ingin cepat pulih, tapi aku akan tetap di sini dengan bayiku."
Doktee di Maggio tersenyum. "Kami bisa mengatur itu untuk Anda, Nyonya Ferrara."
Carlotta mengangguk senang.
"Ya. Tolong lakukan semuanya sesuai keinginan istriku, Dok." Alessandro berkata.
Dokter di Maggio berpaling pada Alessandro. "Ada sesuatu yang harus saya bicarakan dengan Anda, Signor Ferrara."
Alessandro langsung berdiri dari tempat duduknya di sisi ranjang Carlotta. "Ada apa, Dok? Apakah ada masalah?"
Dokter di Maggio menggeleng. "Ini berkaitan dengan tes DNA yang Anda pesan bulan lalu. Hasilnya sudah keluar."
Alessandro melirik Carlotta sekilas, kemudian menggeleng cepat. "Tidak perlu, Dokter. Aku tidak membutuhkan itu lagi. Dia adalah putra kami. Aku akan membesarkannya dengan nama keluargaku."
Carlotta memutar bola mata. "Kau boleh mengatakannya, Dokter."
Alessandro memandang Carlotta panik. "Tidak, jangan. Tidak perlu, Sayang. Aku sudah berjanji padamu untuk-"
"Dia memang putramu, Signor Ferrara." Dokter di Maggio berkata dengan tidak sabar. Pria tua itu menjulurkan tangannya pada salah satu perawat, untuk meminta dokumen yang memuat hasil tes DNA.
Alessandro terkesiap. Jantungnya berdegup kencang.
Dokter di Maggio memberikan dokumen itu pada Alessandro. Alessandro menerimanya dengan tangan gemetar. Pelan-pelan, ia membaca hasilnya. Saat sampai pada kesimpulan akhir, Alessandro hampir menangis lagi.
"Hasil analisa menunjukkan bahwa tiga belas alel Loci marka STR terduga ayah cocok dengan alel paternal dari anak. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa probabilitas Alessandro Ferrara sebagai terduga ayah biologis dari anak Carlotta Marinelli adalah lebih dari 99.99%. Oleh karena itu terduga ayah tidak dapat disingkirkan dari kemungkinan ayah biologis anak." Alessandro membacanya keras-keras.
Kemudian, ia memandang Carlotta yang tengah tersenyum padanya. "Carlotta..."
Senyum Carlotta makin lebar. "Aku, kan, sudah bilang padamu."
"Oh, Dio Mio. Ya Tuhan, Carlotta..." Alessandro menangis parau sambil jatuh berlutut di sisi ranjang Carlotta. Seluruh beban dalam kehidupannya terangkat saat itu. Perasaannya berkecamuk. Ada sesal karena sempat meragukan istrinya, haru karena dia sekarang benar-benar menjadi seorang ayah, dan terutama bahagia. Tidak ada kata yang dapat menggambarkan kebahagian Alessandro saat ini.
***
__ADS_1