Revengeful Billionaire

Revengeful Billionaire
Bab 85 | Alessandro di Milan


__ADS_3

Jangan lupa LIKE DULU SEBELUM BACA YAAA & jangan lupa FAV COMMENTS GIFT 5 STARSnyaaa ♡


Luvluv,


Alana


***


Rocco Marinelli tidak menyukai pemandangan di hadapannya. Alessandro datang menemuinya membawa pasukan keamanan. Bukankah itu artinya menantu kurang ajar itu mengajak ribut? Menantangnya? Seolah belum cukup membuat Carlotta putri sulung yang dibanggakannya menjadi pembangkang, menghancurkan bisnisnya, merobohkan rumahnya, sekarang pria itu berani-beraninya datang kemari dengan para bodyguard terlatih.


Ini adalah undangan perang terbuka.


Ketika melihat pria itu masuk ke dalam ruang makan bersama orang-orangnya, Rocco merentangkan kedua tangannya dan tersenyum lebar. "Menantuku. Akhirnya kau mengunjungi mertuamu yang sudah renta ini juga."


Alessandro balas tersenyum ramah. "Papa mertua." Pria itu menghampiri Rocco dengan langkah lebar penuh percaya diri, membuat Rocco dua kali lebih membencinya.


"Aku hanya menyediakan makan siang untuk dua orang saja. Kau dan aku. Maafkan aku, tapi sebaiknya orang-orangmu menunggu di luar." Rocco kembali berkata. Nadanya luar biasa ramah dan terukur.


Alessandro mengangguk setuju. "Mereka semua akan keluar jika orang-orangmu juga keluar."


Rocco Marinelli tertawa terbahak-bahak. "Tentu saja. Itu adil. Kita berdua aman dengan kebersamaan kita sekarang, bukan?"


'Jika kau tidak berusaha berbuat macam-macam, tentu saja semuanya aman.' Alessandro mengumpat dalam hati. "Keluarlah." Pria itu berujar pada Lombardi dan seluruh pasukan keamanan Ferrara.


Lombardi menggeleng. "Tidak bisa, Signor."


Rocco Marinelli balas berkata pada anak buahnya. "Kalian semua juga keluar."


Ketika melihat seluruh anggota mafia yang tadinya berdiri tegap di belakang Rocco satu per satu keluar dari ruang makan super besar itu, Lombardi dan rekan-rekannya baru setuju ikut keluar.


"Tinggal kita berdua saja." Rocco masih tersenyum dengan amat manis pada Alessandro. "Apa ada yang ingin kau bicarakan?"

__ADS_1


Alessandro balas tersenyum, berusaha tetap bersikap menghormati Rocco, meski hatinya berkecamuk. Pria di hadapannya telah memukuli Carlotta dan adik-adik gadis itu sejak mereka kecil. Alessandro merasa geram. Sangat geram.


"Ya. Ada beberapa hal." Alessandro menjawab lambat-lambat.


Rocco Marinelli mempersilakan Alessandro duduk di kursi sebelah kanan kepala meja. Alessandro mengangguk pelan, lalu duduk setelah Rocco duduk.


"Apakah itu lukisan asli Sandro Botticelli?" Alessandro dengan sengaja menunjuk sebuah lukisan besar di belakang Rocco. Madonna and Child. Ketika Rocco berbalik untuk melihat apa yang ditunjuknya, Alessandro dengan cekatan menukar gelas sampanye miliknya dengan milik Rocco.


Rocco berbalik menghadapi Alessandro tanpa curiga. "Entahlah. Sepertinya bukan. Giacomo tidak terlalu menaruh minat pada hal-hal seperti itu. Dia tidak terpelajar."


Alessandro mengepalkan tangannya sendiri, tapi tidak berkata apa-apa.


Senyum lebar masih tersungging di bibir Rocco. "Ayo, silakan dimakan, Alessandro. Atau kau ingin kita bersulang terlebih dulu?"


"Bersulang sepertinya menyenangkan. Ini pertama kalinya kita bertemu sebagai menantu dan mertua yang akrab." Alessandro mengangkat gelas sampanyenya dengan pongah. "Bersulang untuk kebahagiaan?"


"Untuk kebahagiaan." Rocco juga mengangkat gelasnya. Saat melihat Alessandro menenggak habis sampanyenya, Rocco tersenyum puas. Pria paruh baya itu juga hendak meminum sampanye miliknya, tapi tiba-tiba memutuskan untuk tidak. Ada yang salah.


Rocco menatapnya tajam. Sikap pura-pura ramahnya hilang tak berbekas. "Kudengar kau menghentikan bantuan pada perusahaan wine-ku pagi ini. Para pegawai di rumahku juga bilang bahwa kau berniat menyita kembali rumahku. Apa kau bisa menjelaskan itu?"


Alessandro menghembuskan napas berat. "Aku baru tahu kalau Anda suka memukuli putri-putri Anda."


Rocco tertawa terbahak-bahak, tetapi tawanya terdengar kejam. "Aku memukul hanya untuk mendisiplinkan mereka. Sedangkan kau? Tidak ingatkah bahwa kau membuat keuangan kami hancur dan putri-putriku menderita dalam kemiskinan selama bertahun-tahun? Itu semua adalah kesalahanmu!"


Alessandro terdiam sejenak. Kemudian, saat berbicara, suaranya sarat emosi. "Tetap saja Anda tidak seharusnya meninggalkan mereka di jalanan. Apa Anda sama sekali tidak memikirkan keselamatan putri-putri Anda?"


"Keselamatan, kau bilang?" Rocco menggebrak meja makan. "Bagaimana dengan keselamatanku? Kau menjadikan aku buron. Aku bersembunyi di luar atau tertangkap polisi dan mendekam di dalam penjara pun, putri-putriku akan tetap sendirian di luar sana!"


Alessandro balas menggebrak meja makan dan berdiri. "Kalau begitu Anda bisa datang padaku dan memohon ampun atas semua yang telah Anda lakukan di masa lalu. Jika Anda melakukan itu, aku pasti akan mengembalikan semua milik Anda."


Rocco tertawa sumbang. "Itukah yang kau inginkan, Bajingan Sombong? Permohonan maaf dariku? Biar kutebak. Setelah aku memohon ampunanmu, kau pasti akan mengajukan syarat untuk menikahi putriku Carlotta jika aku ingin rumah dan bisnisku kembali."

__ADS_1


Alessandro mendengus kesal. Itulah tepatnya rencana awalnya dulu. Dan Rocco berhasil menebak segalanya dengan mudah.


"Bukan hanya rumah dan bisnismu. Aku bisa memberikan lebih banyak. Properti baru? Anak perusahaan milik Ferrara? Jaringan hotel? Kapal pesiar? Sebutkan saja dan itu semua bisa jadi milikmu." Alessandro berkata.


Rocco tampak semakin marah. "Mungkin aku bukanlah seorang ayah yang lembut. Tapi aku tidak akan menjual putriku pada Bajingan sepertimu!"


Alessandro memejamkan matanya lelah. "Kau tidak menjualnya padaku. Kau tinggal merestui saja hubungan kami. Kami saling mencintai!"


Rocco meludah kesal, kemudian mengumpat keras. "Saling mencintai, katamu? Aku tahu bahwa kau melecehkan putriku, membuatnya hamil, dan Giacomo tidak punya pilihan lain selain memaksamu untuk bertanggung jawab! Itu semua adalah rencana busukmu, Brengsek! Kau bahkan membuat pengaturan agar aku tidak dapat mendekati putri-putriku lagi!"


Alessandro merasa limbung. Semua yang dikatakan oleh Rocco Marinelli ada benarnya. Selama ini ia mengira bahwa semua yang ia lakukan untuk Carlotta adalah didasari rasa cinta. Namun, tanpa ia sadari, itu semua adalah pemaksaan.


Bagaimana jika sebenarnya Carlotta sama sekali tidak mencintainya? Bagaimana jika sebenarnya Carlotta memutuskan pertunangannya dengan Roberto Mancini bertahun-tahun lalu hanya karena takut dengan ancamannya? Dan bagaimana jika Carlotta memutuskan untuk mau menikah dengannya hanya karena perempuan itu mengandung bayinya?


Bukan cinta.


Alessandro menggeleng cepat. "Kau tidak bisa menanamkan gagasan yang salah dan mencuci otakku seperti ini! Aku dan Carlotta saling mencintai. Sejak dulu hingga maut memisahkan. Kau tidak bisa mengubahnya."


Rocco memberikan sebuah isyarat kecil pada seseorang yang dengan senyap berdiri di belakang Alessandro. "Kalau begitu, biar kudatangkan maut itu padamu." Rocco berkata dengan sebuah senyum lebar penuh kepuasan.


Orang yang berdiri di belakang Alessandro melakukan serangan ringan secepat kilat. Alessandro tidak sempat bereaksi dan langsung merasa tubuhnya limbung, serta kehilangan kesadaran seketika. Orang di belakangnya langsung menangkap Alessandro dan mendudukkannya di kursi makan dengan tenang, menghindari keributan yang dapat menimbulkan kecurigaan pada pasukan keamanan Ferrara di depan ruang makan. Kepala Alessandro yang terkulai pun diletakkan di atas meja makan dengan hati-hati.


Rocco mengacungkan jempol pada orang kepercayaan Giacomo yang telah berhasil melumpuhkan Alessandro dalam satu kali serang.


"Kerja bagus." Rocco memuji dengan senang.


"Terima kasih, Signor." Orang tersebut membungkuk sedikit, kemudian segera pergi untuk memberikan Rocco privasi.


Rocco menggeledah saku Alessandro dan mendapatkan apa yang ia inginkan. Ponsel. Ia mencari nomor Carlotta, menyimpannya pada ponselnya sendiri, dan segera menghubungi putrinya itu.


***

__ADS_1


__ADS_2