Revengeful Billionaire

Revengeful Billionaire
Bab 28 | Bertemu


__ADS_3

Haloooo Sayang-sayangnya Alana ♡


Please banget KLIK LIKE dulu sebelum baca yaa, jangan lupa tinggalin komentar, VOTE, kasih GIFT dsb kalo suka ceritanya biar aku semakin semangat nulis & uploadnya. Thank you ♡


Luvluv,


Alana


***


Pekerjaan tidak pernah gagal membuat Alessandro tertarik sebelum ini. Latar belakangnya sebagai tukang kebun membuatnya harus terus belajar dengan tekun, berusaha memahami semua mata pelajaran sendirian. Tanpa bantuan guru-guru les privat seperti teman-temannya yang lain. Begitu menjadi pewaris Ferrara, Alessandro menolak penawaran kakeknya untuk melanjutkan pendidikan di universitas-universitas ternama dunia. Dia punya kemewahan itu, tapi tidak punya waktu.


Pria itu lebih suka belajar sendiri sembari terjun langsung dalam dunia bisnis. Sebagai gantinya, kakeknya mendatangkan profesor dengan kualifikasi terbaik dari seluruh dunia untuk mengajarkan Alessandro ilmu apa saja yang ingin dipelajari oleh cucunya. Terkadang, Alessandro juga belajar langsung dari kakeknya untuk memimpin bisnis. Di usia ke-23, Alessandro telah dipercaya menjadi presiden direktur. Kakeknya memutuskan untuk pensiun setelah melihat kemampuan bisnis cucunya yang menakjubkan.


Mendapat keuntungan tujuh kali lipat dari sebelumnya dan mengukuhkan citra Ferrara Group sebagai perusahaan paling bonafide di Italia merupakan awal bagi Alessandro. Ia tidak pernah mengendurkan pekerjaannya.


Kecuali dalam beberapa bulan terakhir ini.


Ia kehilangan motivasi. Ia tidak lagi berambisi. Untuk apa semua kekayaan yang ia dapatkan, jika ia tidak bisa mendapatkan kembali gadisnya?


Carlotta adalah seluruh hidup Alessandro, persis setelah ibunya tiada. Dia tidak memiliki siapa pun lagi di dunia ini. Saat itu umurnya baru sepuluh tahun. Tanpa sengaja ia melihat Carlotta bermain di taman dengan kedua adiknya. Ibu dari Carlotta baru saja kabur dengan pria lain. Carlotta berusaha mengalihkan perhatian adik-adiknya. Ia mengagumi keteguhan di mata gadis itu. Tanpa ia sadari, selama bertahun-tahun ia memperhatikan Carlotta dalam diam.


Suatu hari, delapan tahun sejak ia pertama kali memperhatikan gadis itu, dilihatnya Carlotta duduk di taman seorang diri. Alessandro tidak bisa menahan diri untuk tidak mendekat.


Pria itu tidak akan pernah melupakan cara Carlotta memandang dirinya hari itu. Ada sebuah ketertarikan. Mungkin sama besarnya seperti dia tertarik pada Carlotta. Semburat kemerahan muncul di wajah Carlotta. Lalu, Alessandro memutuskan, ia tidak akan mengagumi dalam diam lagi. Mungkin, jika dia melakukan sesuatu, ada kesempatan Carlotta menjadi miliknya. Mungkin, takdir akan berbaik hati padanya sekali ini saja.


"Signor, sudah saatnya memberikan pidato." Suara Lombardi menariknya kembali pada kenyataan.


Rumah Juliet telah disewa dan diubah menjadi venue outdoor yang cocok untuk sebuah konferensi internasional. Anak perusahaan baru milik Alessandro akan diresmikan di akhir acara, tetapi sekarang saatnya Alessandro memberikan sambutan di depan para klien dan dewan direksinya.

__ADS_1


Alessandro berdiri dan berjalan penuh percaya diri ke podium. Ketika ia hendak membuka mulut untuk mengatakan sesuatu, ia melihat perempuan itu.


Carlotta.


Alessandro mengerjapkan matanya beberapa kali, mengira itu hanya ilusi. Namun, ternyata tidak. Perempuan itu berjalan melewati venue-nya menuju sebuah pasar tradisional tak jauh dari sana. Sebuah topi lebar menutupi sebagian wajahnya dan sebuah tas belanja dari rotan menutupi sebagian tubuhnya, tapi Alessandro tahu itu dia.


Alessandro tidak mungkin salah mengenali Carlotta.


"Selamat siang. Saya Alessandro Ferrara, pemimpin Ferrara Group." Alessandro berusaha tenang di depan semua tamu undangannya. Kemudian, kendali dirinya hilang. "Luca Lombardi yang akan menyampaikan sambutan mewakili saya."


Tanpa berkata apa-apa lagi, Alessandro melesat turun dari podium dan berjalan cepat mengikuti perempuan tadi. Tamu-tamunya berbisik-bisik heboh, tetapi ia tidak peduli.


Ia juga tidak menyadari beberapa reporter dari tempat konferensinya memutuskan untuk mengikutinya.


***


Ada banyak situasi yang ingin dihindari Carlotta, tetapi situasi ini berada di puncak daftarnya. Alessandro menemukannya. Pria itu berada di hadapannya, tampak luar biasa menarik, tapi terasa seperti malaikat pencabut nyawa. Carlotta merasa takut bukan main. Ia melihat mata kelam Alessandro melihat keseluruhan dirinya, menelanjangi jiwanya.


"Kau baik-baik saja?"


Carlotta merasa ingin menyerah dan menangis. Alih-alih, ia memasang wajah tanpa ekspresi dan berkata dengan dingin, "Tentu saja."


Alessandro memandang perutnya. "Kau hamil?"


Jantung Carlotta berdetak dua kali lebih cepat. "Bagaimana kelihatannya?"


Alessandro menatap mata Carlotta lurus-lurus. "Apa ini anakku?"


Carlotta menjawab cepat. "Ini anakku."

__ADS_1


Dilihatnya Alessandro hampir hilang kesabaran. "Aku tahu ini anakmu. Tentu saja. Kau yang sedang mengandungnya. Tapi siapa ayah bayi ini?"


Carlotta memalingkan wajah, tidak mampu berbohong sambil menatap Alessandro. "Kau tidak perlu tahu, yang jelas bukan kau."


Alessandro mengguncang bahu Carlotta agak keras. "Kau masih perawan saat kita bersama. Mana mungkin ini bukan anakku?"


Carlotta mengusir semua keinginannya untuk mengakui semuanya dan menangis dalam pelukan Alessandro. Semuanya akan menjadi runyam jika itu terjadi. Ia akhirnya berkata, "Kau menggunakan pengaman. Mana mungkin ini anakmu?"


Alessandro terhuyung mundur. Cengkeramannya di bahu Carlotta mengendur. Kebenaran itu menusuk hatinya. Carlotta benar. Malam itu ia berhati-hati. Ia ingat ia menggunakan pengaman, walau tidak yakin apakah pengamannya masih tetap berguna setelah digunakan sepanjang malam.


Sekali lagi, Alessandro bertanya, "Kau tidur dengan orang lain setelah malam itu?"


Carlotta naik pitam. "Ya! Aku tidur dengan banyak pria! Memangnya kau pikir aku hanya boleh mendapatkan pengalaman seksual sekali seumur hidup, dengan pemaksaan pula? Aku juga ingin mencari pengalaman seksual yang kulakukan karena aku ingin!"


Alessandro terdiam.


Lalu, Carlotta melanjutkan, "Dan memangnya, hanya kau saja yang boleh tidur dengan perempuan-perempuan lain yang keluar masuk rumahmu?"


Alessandro terhenyak. Ia tidak bisa membantah. Carlotta memang bukan wanita pertama yang bercinta dengannya. Tapi, setelah melakukannya dengan Carlotta malam itu, Alessandro tidak pernah menyentuh wanita lain. Belum. Ia tidak ingin. Setelah mencicipi satu kali, yang diinginkannya sekarang hanya Carlotta.


Pria itu menggeleng. "Kembalilah ke Roma, Carlotta. Di mana kau tinggal sekarang?"


Carlotta menepis tangan Alessandro yang masih berada di pundaknya. "Bukan urusanmu."


Alessandro tidak bisa berhenti bertanya-tanya siapa ayah dari anak yang dikandung Carlotta. Apakah Johann? Malam setelah Carlotta mengatakan padanya bahwa gadis itu akan berhenti dari film mereka, Alessandro membuntuti Carlotta kembali ke tenda bersama Johann. Lewat celah kecil di pintu tenda, Alessandro melihat Johann menggenggam kedua tangan gadis itu sementara Carlotta menangis. Alessandro tidak bisa mendengar apa yang sedang mereka berdua bicarakan, dan ia juga tidak berniat mencari tahu. Hatinya sudah cukup sakit menyadari fakta bahwa Carlotta tidak menginginkannya sama sekali.


Atau mungkin Roberto Mancini, mantan tunangan Carlotta? Alessandro mendapat laporan bahwa Mancini terbang dari London menuju Roma setelah berita tentang Carlotta melakukan percobaan bunuh diri tersebar di media. Untuk apa dia kemari jika bukan untuk menghibur Carlotta? Apakah Mancini menawarkan percintaan yang lebih baik bagi Carlotta daripada yang pernah dilakukan Alessandro?


Alessandro menggeleng frustasi. Percintaan mana saja pasti jauh lebih baik daripada yang pernah ia lakukan pada Carlotta. Alessandro tahu, ia melakukan kesalahan besar dengan memaksa Carlotta. Jadi, Alessandro mengangguk dan berbalik pergi. Ia terpaksa menerima kenyataan bahwa Carlotta tengah mengandung anak dari lelaki lain. Tidak ada lagi yang bisa ia lakukan. Hatinya hancur berkeping-keping, dan mungkin tidak akan pernah kembali utuh.

__ADS_1


***


__ADS_2