
Akhirnya sampai juga di bab terakhir kita guys. Cuman mau pesen kalian sehat-sehat terus, jangan kebanyakan begadang, inget istirahat, happy-happy aja jangan stress-stress yaa. Luv you all so much!
Jangan lupa klik link novel-novelku yang lain di bio Instagram aku @alananourah ya guys ♡
See you di novelku yang lain. Jangan takut kangen karena series ini masih bakal lanjut ke cerita tokoh yang lain, terutama kisah cinta kakak dan adek-adeknya Carlotta. Makasih ya semuanya ♡
Luvluv,
Alana
***
Carlotta tahu bahwa ayahnya belum benar-benar menerima Alessandro. Namun, kehadiran Maurizio jelas banyak menolong. Ayahnya sangat menyukai bayi itu. Begitu pula dengan Maurizio. Bahkan Carlotta dan adik-adiknya selama ini tidak bisa terlalu dekat dengan ayah mereka, tapi Maurizio menempel erat pada Rocco dan tampak seperti versi mini beda generasi dari Rocco. Mulai dari rambutnya yang pirang, matanya yang biru, dan caranya memberengut tidak setuju pada banyak hal yang tidak ia sukai. Alessandro sampai merasa cemburu karena Maurizio terus-terusan digendong oleh Rocco.
"Tenanglah, Sayang. Ambil sisi positifnya. Kita bisa berduaan selama Maurizio dijaga oleh Papa." Carlotta berbisik mesra di telinga Alessandro. Alessandro langsung mengecup pipi istrinya dan tersenyum sumringah.
Mereka semua kini berkumpul di kediaman Mancini di Verona. Alessandro bersikeras untuk menyumbangkan dana yang besar demi kemeriahan pesta pertunangan Roberto Mancini dan Ciara. Namun, Roberto menolak. Calon suami adik iparnya itu diam-diam memiliki gengsi yang juga selangit.
"Benar-benar bodoh si Roberto. Kalau aku jadi dia, aku pasti dengan senang hati menerima uangmu." Giacomo menghampiri Alessandro dan Carlotta.
Carlotta memutar bola matanya malas. "Kalian seharusnya memujinya karena ia ingin berada di atas kakinya sendiri. Lagipula, kudengar firma hukumnya melejit sukses di London. Kurasa masa depan adikku cukup terjamin."
Mata Alessandro menyipit mendengar pembelaan Carlotta. Sementara Giacomo mengibaskan tangannya di udara. "Omong kosong. Roberto tidak sekaya suamimu atau aku."
Carlotta balas berkacak pinggang pada kakaknya. "Jangan mulai bersikap seperti Papa. Jika Ciara menyukai Roberto, maka kita semua akan mendukungnya sepenuh hati."
Giacomo mengangkat tangan di udara tanda menyerah pada argumen adiknya. "Baiklah, baiklah. Kita akan mendukungnya. Separuh hati."
Carlotta memelototi Giacomo.
"Sepenuh hati. Baiklah, sepenuh hati." Giacomo mengoreksi kata-katanya sendiri.
Di antara semua orang yang sedang berbahagia, hanya satu orang yang tampak murung. Gretta. Gadis itu duduk sendirian di salah satu meja bundar di halaman rumahnya yang luas, memandang bosan ke arah kakaknya dan tunangan barunya.
Alessandro mengikuti arah pandang istrinya dan melihat Gretta juga. "Tumben sekali dia sendirian. Biasanya ia selalu bersama dengan temannya si pembuat onar."
Giacomo langsung tersedak sampanye dan terbatuk-batuk kecil.
Carlotta mengangguk membenarkan perkataan suaminya. "Itu betul. Ke mana perginya Patrizia?"
__ADS_1
Giacomo berdeham. "Kudengar dia tidak enak badan."
Carlotta dan Alessandro langsung memandang Giacomo heran. "Patrizia sakit?" Carlotta mengerutkan dahi. "Sakit apa? Tidak biasanya Patrizia sakit. Setahuku dia punya ketahanan tubuh yang sangat bagus."
Giacomo berdeham lagi. "Tidak sakit. Hanya sedikit tidak enak badan."
Carlotta dan Alessandro saling berpandangan curiga.
***
Pada saat Ciara muncul dengan gaun berwarna perak keluaran rumah mode Volta yang cantik, semua orang berseru gembira. Pembawa acara mengumumkan bahwa Ciara dan Roberto dipersilakan naik ke atas panggung. Carlotta bersorak riang menyemangati Ciara.
"Itu baru adikku yang cantik!" Perempuan itu kemudian bersiul.
Carina yang biasanya lebih banyak diam juga bertepuk tangan dengan heboh.
Ciara melambai pada mereka sambil memamerkan senyum lebar. Roberto menggandeng Ciara dan membantu gadis itu mengangkat sedikit ujung roknya agar tidak mengganggu saat berjalan menaiki panggung. Ciara berterima kasih sambil tersenyum manis pada Roberto dan Roberto dengan senang hati membalas senyumnya.
Pertunangan berlangsung ramai dan penuh canda tawa. Ciara dan Roberto sama-sama orang yang praktis. Sama sekali tidak ada kata-kata penuh cinta yang terucap di sini. Sejujurnya, hal itu mengusik jiwa romantis Carlotta. Namun, baik Ciara maupun Roberto, keduanya sama-sama tampak bersenang-senang hari ini. Dan itu saja sudah cukup.
Alessandro menggenggam jemari Carlotta selama prosesi pertunangan adik perempuan itu berlangsung. Di tengah keramaian, Alessandro berbisik lirih. "Kau tidak menyesal melepaskan Roberto Mancini, kan?"
Alessandro mengedikkan bahu. Sikap percaya dirinya menguap entah ke mana. "Siapa tahu melihat Roberto Mancini tampak tampan dengan tuksedo seperti itu kau jadi memikirkan ulang pertunanganmu dengannya yang--"
Carlotta mencium suaminya cepat, agar lelaki itu tak lagi melantur. "Hanya kau."
Alessandro mengerjap. "Apa?"
"Yang kucintai hanya kau." Carlotta berkata sambil mengedipkan sebelah matanya, menggoda suaminya sendiri.
Alessandro berdeham. "Sepertinya kebun milik keluarga Mancini adalah tempat yang tepat untuk--"
"Suamiku." Carlotta berkata dengan nada memperingatkan. "Kita sedang berada di rumah orang."
Alessandro berdeham sekali lagi. "Maaf." Lalu, sesaat kemudian, ia melanjutkan. "Tapi, kalau kamar mandinya luas, kita bisa--"
"Alessandro." Carlotta memeloti pria itu.
Alessandro terkekeh geli. "Baiklah, baiklah. Kita tidak akan melakukannya di sini ... Bagaimana kalau di mobil?"
__ADS_1
"Alessandro!" Carlotta hampir berteriak, kemudian cepat-cepat menutup mulutnya sendiri.
Alessandro tertawa keras, membuat beberapa kepala menoleh ke arahnya.
Kini, Alessandro merasa kebahagiaannya telah lengkap. Istri dan anaknya berada di sisinya. Papa Carlotta belum sepenuhnya menerima dirinya sebagai menantu, tapi paling tidak, lelaki paruh baya itu mau belajar untuk menerima keberadaannya. Ia juga memiliki hubungan yang baik dengan keluarga Carlotta yang lain, mulai dari Caterina dan Benito, Giacomo, Ciara, serta Carina. Satu-satunya PR yang tersisa bagi Alessandro adalah berusaha membuang kekesalannya pada Roberto Mancini. Meskipun lelaki itu dulu pernah bertunangan dengan Carlotta, namun sekarang Roberto adalah calon suami Ciara.
Carlotta juga merasa kebahagiaannya lengkap sudah. Ibunya ada di sini bersama ayah tirinya, berkumpul kembali dengannya dan menghadiri acara pertunangan adiknya. Ayahnya lengket pada Maurizio dan karena pengaruh bayi mungil itu, sang ayah juga tidak lagi terlalu mempermasalahkan pernikahannya dengan Alessandro. Dan adiknya, Ciara, sepertinya memang lumayan menyukai Roberto. Carlotta tidak lagi merasa terlalu bersalah karena awalnya mengira Ciara berkorban terlalu banyak untuk dirinya.
Alessandro merangkul istrinya agar perempuan itu duduk merapat padanya. Carlotta menempel padanya tanpa perlu diminta lebih jauh. Perempuan itu menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya dan melihat ke langit biru di atas mereka. Pertunangan Ciara yang mengambil tempat di taman didukung oleh cuaca yang cerah.
"Hari ini indah." Carlotta berkata. Kepalanya masih mendongak ke langit.
"Setiap hari indah asal kau ada bersamaku." Alessandro mengecup pipi istrinya mesra.
Carlotta kini memandang Alessandro serius. "Kau akan tetap mencintaiku sampai kita berdua menjadi tua, kan?"
Alessandro balas mengangguk dengan serius. "Tentu saja."
"Selamanya?" Carlotta mengangkat jari kelingkingnya di udara.
Alessandro menautkan jari kelingkingnya sendiri pada jari Carlotta. "Selamanya."
Carlotta tersenyum. "Seal it with a kiss."
Alessandro langsung menuruti keinginan istrinya. Ia memeluk erat Carlotta, lalu menautkan bibirnya pada bibir sang istri. Mereka berciuman lama dan lembut. Seperti di masa remaja mereka dulu.
"Aku akan mengatakan pada dunia bahwa aku mencintaimu." Alessandro berkata dengan serius.
Carlotta terkikik kecil. "Benarkah?" Perempuan itu membayangkan Alessandro akan naik ke panggung untuk merebut mic dan menyabotase acara pertunangan adiknya. Atau melakukan siaran langsung di seluruh media untuk mengumumkan perasaannya.
Namun, Alessandro justru berbisik di telinga Carlotta. "Ti amo."
Carlotta mengernyitkan dahinya. "Kenapa kau bilang padaku?"
Alessandro tersenyum manis. "Karena kau adalah seluruh duniaku."
***
END.
__ADS_1
Yuk baca karya terbaru aku di F I Z Z O. Cari namaku Alana Nourah atau cari judulnya karya terbaru aku Dosen Salah Ranjang. See you there ♡