
Quick story of their 1 month honeymoon phase tapi nggak ada 18+ nya jadi amaaaan lah ya ♡
Bakal upload langsung 3 tapi please di-LIKE 33nya ♡♡♡
Luvluv,
Alana
***
Alessandro membawa Carlotta terbang ke Yunani dengan jet pribadi keesokan harinya. Mereka berangkat membawa serombongan pelayan pribadi yang dengan siap siaga menyiapkan segala sesuatunya. Alessandro menginstruksikan Lombardi agar tetap di Roma untuk mengurus Ferrara Group selama Alessandro berbulan madu.
"Kapan Anda akan pulang, Signor?" Lombardi bertanya dengan cemas. Tugasnya jelas bertambah berkali lipat jika seluruh urusan Ferrara diserahkan semua padanya.
Alessandro tertawa senang. "Aku akan berlibur dalam waktu yang sangat lama. Mungkin, aku tidak akan kembali ke kantor. Tujuan hidupku sekarang adalah istriku."
Lombardi menyipitkan mata kesal. "Saya menyesal mendukung kisah cinta Anda."
Alessandro tertawa lebih keras. "Apa tadi kau bilang? Coba katakan sekali lagi."
Lombardi menggeleng cepat. "Bukan apa-apa, Signor."
Alessandro terbahak sembari menepuk-nepuk bahu Lombardi sebelum naik ke jet-nya. Carlotta sudah berada di dalam pesawat sejak tadi. "Aku pergi dulu, Lombardi. Istriku sudah menungguku."
Lombardi geleng-geleng kepala. Pria itu masih ingat betul Alessandro pernah menasehatinya untuk tidak jatuh cinta karena jatuh cinta itu menakutkan. Dan perjalanan cinta Alessandro memang penuh lika-liku. Namun, hari ini Lombardi melihat tuannya tampak luar biasa bahagia. Jauh lebih bahagia daripada kehidupan monotonnya selama sepuluh tahun ini. Untuk pertama kalinya, Lombardi menganggap kata-kata Alessandro bahwa jatuh cinta mengerikan itu salah. Karena kebahagiaan yang didapat dari cinta memang pantas diperjuangkan.
Alessandro masuk ke dalam jet pribadi dan merebahkan diri di kursi kulit mewah di samping Carlotta. Senyum di wajahnya semakin melebar. "Aku masih tidak percaya kita sudah menikah."
Carlotta membalas senyumnya. "Aku juga."
Alessandro membawa telapak tangan Carlotta ke bibirnya, kemudian menciumnya. "Kau sudah baca berita hari ini? Semuanya mengulas tentang kita."
"Ya." Sahut Carlotta. Perempuan itu menunjukkan sebuah laman berita di iPad-nya. "Ada koran online yang mendapatkan foto-foto lama kita. Entah bagaimana caranya."
Alessandro tersenyum geli. "Aku yang mengirimkannya."
Carlotta terbeliak. "Serius? Memangnya kau punya foto-foto itu?"
Alessandro mengangkat bahu. "Aku menyalinnya dari ponselmu."
"Ah." Carlotta tersenyum hangat. "Ternyata ulahmu."
"Aku tidak ingin orang berbicara buruk tentangmu. Aku ingin semua orang tahu kita sudah menjalin hubungan sejak sepuluh tahun yang lalu." Alessandro mengecup pipi Carlotta.
__ADS_1
"Tapi di situ pakaianmu tampak..."
"Miskin?"
Carlotta menggigit bibir. "Sederhana."
Alessandro tertawa. "Tidak apa-apa, Sayang. Aku tidak malu akan masa laluku."
Carlotta tersenyum pada suaminya. "Kau adalah orang yang hebat."
Alessandro mengangkat alisnya. "Begitukah menurutmu?"
Carlotta mengangguk. "Ya."
"Kalau begitu, kau tidak menyesal menjadi istriku?" Alessandro menggoda.
Carlotta pura-pura mempertimbangkan. "Sejauh ini belum."
Alessandro mencubit pipi perempuan itu. "Belum? Berani sekali kau bilang belum?"
Carlotta tertawa sambil berusaha menghindar. "Sebaiknya kau tidak membuatku menyesal, ya!"
Alessandro menangkup wajah Carlotta. "Tidak akan. Aku berjanji."
***
Santorini di musim panas sangat cerah. Pemandangannya luar biasa menakjubkan. Alessandro memiliki sebuah vila pribadi di Oia, salah satu lokasi paling indah di Santorini. Tempat itu menghadap langsung ke laut Aegea yang berwarna tuquoise, serta diselimuti langit biru bersih hampir sepanjang musim.
Vila milik Alessandro berada di tempat yang berbukit-bukit. Bangunannya seperti gua-gua yang besar yang terbentuk akibat peristiwa alam. Arsiteknya menambahkan sentuhan klasik sehingga tempat itu tetap terlihat elegan meskipun terkesan alami. Terdapat sepuluh buah kamar di vila itu. Sebuah kamar utama dan sembilan buah kamar lain yang biasa digunakan asisten dan pelayan Alessandro.
Carlotta suka sekali kamar utamanya. Kamar itu bernuansa putih dan biru, seperti kebanyakan bangunan lain di Oia. Tepat menghadap laut, ada sebuah sliding door yang terbuat dari kaca tebal yang membatasi kamar dengan infinite pool. Kolam renang air hangatnya langsung menghadap laut, membuat pemandangan dari kamar tidak pernah terasa menjemukan.
"Rasanya aku tidak mau pulang." Begitu komentar Carlotta ketika membuka pintu kaca.
Alessandro tersenyum sembari memeluk Carlotta dari belakang. "Kita bisa pindah ke sini kalau kau mau."
Carlotta menyandarkan diri di dada bidang suaminya. "Seandainya saja bisa begitu. Aku masih memiliki banyak hal yang harus diurus dengan Marco terkait proyek-proyek yang telah kami batalkan sebelum ini."
Alessandro mengernyit. "Apakah kau akan tetap bekerja? Kau tidak perlu bekerja, Sayang. Aku bisa membelikanmu apa pun."
Carlotta tersenyum manis. "Kau tidak bisa membelikanku karirku sendiri, Alessandro. Itu semua hasil kerja kerasku selama ini."
Alessandro terdiam beberapa saat. Otaknya berpikir keras. "Baiklah, kau bisa kembali bekerja. Tapi, aku membatasi adegan yang akan kau perankan. Tidak boleh ada scene mesra dengan lelaki lain."
__ADS_1
Carlotta tertawa. "Kenapa? Apakah kau cemburu?"
Alessandro menggeram rendah. "Jangan memancingku, Sayang."
Carlotta tertawa semakin keras. "Baiklah, baiklah. Tidak ada adegan mesra dengan lawan jenis. Akan aku ingat itu."
Alessandro mengangguk puas. "Sekarang, bagaimana jika kita melepas pakaian dan mulai berendam air hangat?"
"Ah." Carlotta menggeleng sedih. "Aku lupa membeli baju renang untuk ibu hamil."
Alessandro tertawa pelan. "Siapa bilang kau butuh baju?"
***
Bulan madu Alessandro dan Carlotta luar biasa menyenangkan. Mereka berdua berlibur ke tempat-tempat wisata tersembunyi yang jarang dikunjungi turis, membeli cindera mata di pedagang lokal, berswa foto di berbagai tempat, serta mencicipi berbagai sajian autentik masyarakat Oia. Pada malam harinya, Alessandro mengajak Carlotta berjalan santai menyusuri pantai pasir putih di bagian bawah vilanya.
"Berapa lama kau ingin berada di sini, Sayang?" Alessandro bertanya pada Carlotta.
Carlotta tertawa pelan. "Kenapa? Apakah Lombardi menerormu lagi?"
Ya. Sesungguhnya, Lombardi sudah meneleponnya lima kali sehari sejak seminggu lalu. Alessandro dan Carlotta telah menghabiskan sebulan penuh di Oia sekarang. Pada awalnya, Carlotta ingin kepulangan mereka diundur sehari. Kemudian dua hari. Kemudian seminggu. Hingga akhirnya jadi sebulan. Perempuan itu terlalu terlena dengan suasana indah di tempat itu.
Alessandro mendesah. "Kau membuatku tergoda menyerahkan kembali Ferrara Group pada kakekku."
Carlotta tertawa geli. "Kasihan sekali kakekmu."
Alessandro mencubit hidung Carlotta ringan. "Kau tidak kasihan padaku? Aku ingin berada di sini bersamamu dan tidak perlu bekerja selamanya."
Carlotta mencibir. "Kakekmu akan menganggapmu cucu tidak tahu diri."
Alessandro pura-pura marah. "Kakek harusnya tahu rasanya tidak ingin berpisah dengan istri meski hanya untuk bekerja sebentar. Dia selalu menghabiskan waktunya dengan Nenek sepanjang hari, setiap hari. Aku juga mau melakukan itu denganmu."
Carlotta menyusup ke pelukan Alessandro. "Aku juga."
"Haruskah kita benar-benar melakukan itu?" Alessandro bertanya serius.
Carlotta tertawa dan menggeleng. "Aku siap pulang sekarang. Pekerjaanmu sudah menunggu, Alessandro. Kau punya tanggung jawab yang besar kepada banyak orang."
Alessandro mengeratkan pelukannya pada Carlotta. "Kau pengertian sekali. Aku sangat mencintaimu."
Carlotta tersenyum di dada Alessandro. "Aku juga sangat mencintaimu."
***
__ADS_1