
LIKE DULU SEBELUM BACA YAA ♡♡♡
HAPPY READING
Luvluv,
Alana
***
Carlotta tidak membuka pintu meski Alessandro sudah berjam-jam mengetuknya. Baru saat Marco membawakan satu loyang pizza penuh daging dan sosis, Carlotta mau mengintip sedikit lewat celah pintu.
"Ayolah, Sayang. Kau boleh kelaparan, tapi jangan buat bayimu kelaparan juga." Marco membujuk dengan halus.
Carlotta membuka pintu agak lebar. Di depan pintu, ternyata orang yang membawa loyang pizza-nya adalah Alessandro Ferrara. Marco dan Lombardi berdiri di belakang pria itu. Carlotta hendak menutup pintu kamarnya lagi, tetapi Alessandro dengan sigap menahannya dengan sebelah tangan. Kemudian, tanpa meminta persetujuan, lelaki itu masuk ke dalam kamar, meletakkan loyang pizza di atas sebuah meja, dan mengunci pintu kamar.
Carlotta masih terpaku di tempatnya berdiri. Dia tidak siap untuk ini. Dia tidak siap menghadapi Alessandro.
"Makanlah dulu, Carlotta. Kau dengar nasehat dari Marco tadi." Alessandro berkata.
Tak ada pilihan lain, Carlotta bergerak menuju loyang pizza yang dibawa oleh Alessandro tadi. Alessandro membuntuti perempuan itu, lalu menarikkan sebuah kursi untuk diduduki oleh Carlotta.
Carlotta duduk, kemudian mulai makan. Secara sengaja, ia memperlambat makannya untuk mengulur waktu. Namun, Alessandro menunggunya dengan sabar. Ketika Carlotta menyudahi makannya, Alessandro segera membereskan peralatan makan itu dan membawanya keluar. Seorang pelayan telah siap untuk mengambilnya di depan kamar.
"Sekarang kita harus bicara." Alessandro tampak lelah.
"Tidak ada yang perlu dibicarakan." Carlotta berkata.
Alessandro berdiri di belakang Carlotta. "Kita tidak akan membatalkan pernikahan kita."
Carlotta menggeleng. "Aku tidak mau menikah denganmu."
"Bahkan demi anak kita?" Tanya Alessandro.
Carlotta bangkit dari duduknya dan berbalik menghadap Alessandro. "Kau bahkan tidak yakin apakah anak ini adalah anak kita." Ujarnya tajam, sembari memegang perut.
__ADS_1
Alessandro hanya menatap perempuan itu dalam diam. Carlotta merasa semakin sakit hati karena Alessandro tidak merasa perlu repot-repot membantah.
"Kau tidak mencintaiku." Tuduh Carlotta. "Kau juga tidak pernah menginginkan anak ini."
Alessandro mencium Carlotta dengan kasar. "Aku mencintaimu. Semua yang kulakukan hanya untukmu."
Carlotta berusaha melepaskan diri. "Kau tidak mencintaku. Kau hanya ingin memilikiku untuk kepuasan pribadimu."
Alessandro mundur dan menyeringai. "Memangnya kenapa? Apa bedanya? Aku menginginkanmu. Dan kau sudah menerima lamaranku. Tidak ada jalan kembali."
Carlotta mulai merasa frustasi. "Aku bisa hidup sendiri, Alessandro. Kau tidak perlu membuat pengorbanan dengan menikahi perempuan yang entah hamil anak siapa sepertiku!"
Alessandro memegang bahu Carlotta pelan. Namun, ia mencengkeramnya dengan kuat. "Aku tidak peduli anak siapa bayi ini. Aku bahkan akan menganggapnya sebagai anakku sendiri jika ternyata memang bukan."
Carlotta tersentak mundur. Rupanya benar Alessandro sama sekali tidak percaya bahwa bayi dalam kandungannya adalah anak lelaki itu.
"Malam itu aku menggunakan pengaman, Carlotta." Alessandro berkata. "Tapi, jika kau menginginkan aku yang bertanggung jawab atas anak ini, maka akan kulakukan. Tidak tahukah kau betapa aku mencintaimu sampai mau melakukan itu?"
Mulut Carlotta menganga saking tidak habis pikirnya. "Kalau kau mencintaiku, seharusnya kau percaya saat aku berkata bahwa ini putramu!"
Alessandro menggeleng keras kepala. "Maksudmu, jika aku mencintaimu, aku harus percaya semua kata-katamu? Kalau begitu, bukankah aku juga harus percaya bahwa kau tidur dengan pria-pria lain setelah malam kita bersama?"
"Kau terlalu banyak berbohong padaku, Carlotta. Pada awal kehamilan, kau berkata bahwa kau muak padaku sehingga ingin pergi dari dunia hiburan untuk menghindariku. Padahal, kau melakukan itu semua karena kau hamil. Ketika aku menemukanmu sedang mengandung, kau bilang aku bukan ayah dari anak dalam kandunganmu. Kemudian, di depan Giacomo, kau berkata bahwa aku adalah ayah bayimu." Alessandro tertawa seperti orang gila. "Entah kebohongan apa lagi yang kau sembunyikan, Carlotta."
Karena Carlotta masih diam saja di tempatnya berdiri, Alessandro melanjutkan. "Seharusnya aku yang marah padamu, jika melihat kembali apa saja yang telah kau lakukan padaku. Tapi, aku berusaha melupakan semuanya dan membuka lembaran baru. Untuk kita. Sepertinya kau bahkan tidak mau melihat dan menghargai itu."
Kemudian, Alessandro berderap keluar dari kamar itu tanpa menoleh lagi.
Tanpa diketahuinya, Carlotta jatuh pingsan.
***
Saat tidak sanggup menghadapi kerumitan hatinya, Alessandro selalu melarikan diri pada pekerjaan. Begitu pun kali ini. Ia telah sibuk menghubungi dewan direksinya di Amerika Serikat sejak tadi. New York lebih lambat enam jam dibandingkan Roma. Hal itu jelas menguntungkan, karena di sana, saat ini masih terhitung jam kerja.
"Siapkan jet pribadiku, Lombardi." Alessandro berderap menuju ruang kerjanya dan mulai membereskan dokumen-dokumen pentingnya.
__ADS_1
Lombardi kembali memijat kening. "Ini tengah malam, Signor. Pilot yang ada pasti sudah beristirahat."
Alessandro berhenti melakukan aktifitasnya, kemudian menatap Lombardi tajam. "Kalau begitu, apa aku yang harus menerbangkan pesawat sialan itu sendiri?"
Lombardi buru-buru menggeleng. "Saya akan mencari pilot yang siap."
Alessandro mengangkat alisnya sekilas. "Berikan dua kali gaji untuk kru penerbangannya."
"Ke mana tujuan Anda kali ini, Signor?" Lombardi bertanya.
Alessandro melemparkan tas kerjanya pada Lombardi. "New York, tentu saja. Aku sudah menunda terlalu banyak pekerjaan belakangan ini."
Lombardi membuka mulut lagi, kali ini dengan ragu-ragu. "Mengenai Nona Carlotta..."
Alessandro mengangkat tangannya, meminta Lombardi untuk berhenti. "Jangan laporkan apapun tentang dia. Aku akan pergi selama seminggu dan kembali pada malam sebelum pernikahan. Jangan ganggu aku kali ini, Lombardi."
"Bagaimana jika Nona Carlotta mengundang--"
Lombardi tidak sempat menyelesaikan kalimat pertanyaannya karena Alessandro sudah memotong, "Biarkan saja dia mengundang siapa pun yang dia inginkan. Aku tidak peduli."
Alessandro berderap cepat menuju limo-nya yang telah menanti di depan pintu utama. Lombardi tergopoh-gopoh mengikuti tuannya.
Sebelum masuk ke dalam limo, Alessandro menoleh sekilas pada Lombardi dan berkata, "Selamat menikmati liburanmu, Lombardi. Kau pantas mendapatkannya."
Lombardi mengangguk senang. "Terima kasih, Signor!"
Ketika pintu limo menutup dan mobil hitam panjang itu melaju meninggalkan halaman Ferrara, Lombardi dikejutkan oleh Marco Bruni yang berlari ke arahnya dengan panik.
"Carlotta pingsan! Di mana Alessandro? Apa yang harus kita lakukan?" Tuntut Marco.
Senyum langsung lenyap dari wajah Lombardi. Jauh di dalam hatinya, pria itu tahu bahwa hal seperti ini akan terjadi lagi. Dan ia lagi-lagi harus mengucapkan selamat tinggal pada rencana-rencana liburannya.
"Aku akan memanggil tim medis. Kau sudah memindahkan Nona Carlotta ke atas ranjang?" Lombardi bertanya. Marco mengangguk cepat. Lombardi langsung disibukkan dengan alat komunikasinya.
Kemudian, ia lagi-lagi dihadapkan pada kebimbangan untuk memberitahukan kejadian ini pada tuannya atau tidak. Masalahnya, Alessandro Ferrara jelas-jelas tidak ingin diganggu oleh berita apapun tentang Nona Carlotta kali ini.
__ADS_1
Dan Lombardi juga tidak ingin disibukkan dengan kegiatan memutar balik sebuah pesawat sekali lagi. Terutama di tengah malam seperti ini.
***