
Keesokan harinya.
Hari masih sangat pagi sekali, namun Haidar tampak telah rapih, dengan memakai stelan jas berwarna navy serta celananya yang berwarna senada dengan jasnya. Setelah dirasa sudah cukup rapih Haidar pun langsung melangkah keluar dari kamarnya. Dan ia bermaksud ingin menunggu putrinya di ruangan keluarga. Setibanya ia diruangan tersebut. Haidar pun duduk di salah satu sofa yang berada di sana. Dan baru saja ia duduk, Markum langsung menghampiri dengan membawa baki yang diatasnya terdapat secangkir kopi, serta cemilannya.
"Permisi Tuan! Ini kopi Anda, silahkan di minum Tuan!" ujar Markum, seraya ia meletakkan secangkir kopi ke atas meja, tepat dihadapannya Haidar.
"Terima kasih Butler!" ucap Haidar. Membuat Markum seketika tersentak, karena tampaknya ia begitu terkejut, mendengar ucapan terima kasih dari Bosnya itu. Karena setahunya Bosnya itu tak pernah sekalipun mengucapkan kata terima kasih, selama ia bekerja dengannya.
"Eh! Sama-sama Tuan!" balas Markum, antara senang dan terkejut menjadi satu.
"Oh iya, Butler, coba kamu lihat apakah putriku, sudah siap? Kalau sudah siap bawa dia ke kesini!" kata Haidar lagi seraya ia mengambil cangkir kopinya yang baru saja diletakkan di atas mejanya. Sepertinya ia bermaksud ingin meminumnya.
Namun belum lagi Haidar meminum kopinya. Tiba-tiba terdengar suara anak kecil, membuat ia tak jadi meminum kopi tersebut.
"Indhi disini Daddy! Indhi sudah siap!"
Mendengar perkataan anak kecil tersebut, Haidar pun langsung menoleh ke sumber suara. Dan seketika ia langsung tercengang saat melihat pakaian yang di kenakan oleh putri kecilnya itu.
"Hah..? Bukankah kamu ingin sekolah Nak? Tapi kenapa pakaiannya seperti itu sih Nak?" tanya Haidar, dengan tatapan yang terlihat begitu heran melihat pakaian putri kecilnya itu.
__ADS_1
"Mau bagaimana lagi Dad! Indhikan belum punya baju sekolahnya. Jadi ya udah Indhi pakai baju ini aja!" balas Rindhima dengan entengnya. Mendengar perkataan sang putri, Haidar langsung menepuk dahinya.
"Haiis..! Benar juga! Hah! Ya sudah kalau begitu kita langsung pergi saja! Biar sekalian belikan kamu baju sekolanya!" kata Haidar, seraya ia kembali meletakkan cangkir kopi yang tak jadi ia minum. Setelah itu ia pun langsung bangkit dari duduknya dan bermaksud ingin menggedong Rindhima. Namun tangannya langsung di tepis oleh sang putri.
"Iikh..! Apaan sih Dad! Indhi sudah besar tahu! Jadi Indhi nggak mau di gendong lagi!" ujar si kecil terdengar ketus. Lalu ia pun langsung melangkahkan kakinya dengan gaya orang dewasanya. Membuat Haidar kembali menepuk jidatnya.
"Aaah..! Kalau begini siapa yang salah, coba?! Haeee... kalau begini terus, bisa gawat! Masa putri kecilku, jadi dewasa sebelum waktunya sih? Hah! Tidak bisa begini! Pokoknya Aku harus melakukan sesuatu! Aku nggak mau putri kecilku dewasa sebelum waktunya!" gumam Haidar, yang terlihat ia masih berdiri di tempatnya semula. Hal itu membuat Rindhima yang tadinya sudah berada di luar, kini harus kembali masuk, karena sang Ayah yang tak kunjung datang.
"Iiikh..! Daddy! Kenapa jadi bengong disitu sih?! Cepat Daddy! Nanti kita terlambat tau!" teriak Rindhima, seraya ia berkacak pinggang, sambil menatap wajah Ayah dengan tatapan kesalnya.
"Eh! Sorry-sorry Sayang! Ya sudah, ayo kita berangkat!" balas Gibran, seraya ia mulai melangkahkan kakinya menuju pintu keluarnya. Sesampainya di luar ternyata para bawahannya juga sudah berjajar untuk mengiringi kepergian mereka.
"Selamat jalan Tuan besar, dan Nona Rindhi, semoga selamat sampai tujuan," ucap mereka secara bersamaan. Dan sambil membungkuk sedikit tubuh mereka secara serentak juga. Namun lagi-lagi Haidar dan Rindhima hanya berlalu, tanpa memberikan respon sedikit pun pada mereka. Keduanya justru hanya menunjukkan wajah dingin mereka. Dan kemudian langsung masuk ke dalam mobil.
Iringan-iringan mobil Haidar dan para pengawalnya masih terlihat terus melaju di jalanan raya. Hingga pada akhirnya mobil Haidar memasuki gerbang yang di atasnya tertuliskan *Sekolah Tunas Bangsa*. Kini mobil Haidar telah berhenti tepat didepan sebuah gedung berlantaikan tujuh. Tampak sekali sekolah itu, adalah sekolah yang bonafit, dan bisa dikatakan sekolah tersebut adalah sekolah anak-anak orang kaya.
"Kita sudah sampai Tuan!" ujar Leo, seraya ia membuka pintu mobil untuk Haidar. Karena memang kali ini Dialah, yang mengemudikan mobilnya Haidar.
"Terima kasih Leo!" balas Haidar, berbeda dengan Markum bagi Leo ucapan terima kasih sangatlah biasa baginya. Karena walaupun status Leo disembunyikan, Haidar tetap menghargai adik iparnya itu.
Bahkan Haidar selalu memberikan perhatian pada Leo tanpa sepengetahuan oleh anak buahnya yang lain. Karena ia takut identitas Leo akan terkuak. Dan alasan Haidar merahasiakan siapa Leo, gunanya agar Leo bisa mematai-matai para bawahan lainnya. Makanya Haidar selalu saja tahu. Apabila para bawahannya telah berkhianat dan seketika itu juga, ia pasti akan menuntaskan si pengkhianatan tersebut.
"Sama-sama Tuan!" balas Leo. Seraya ia membungkukan tubuhnya di hadapan Haidar yang baru saja turun. Sama halnya dengan para bawahan Haidar yang lainnya. Leo juga akan melakukan seperti apa yang dilakukan oleh para bawahannya Haidar yang lainnya. Seperti saat ini ia membungkukkan tubuhnya sedikit, tanda ia memberi hormat pada Haidar.
__ADS_1
"Ayo Nak, kita masuk!" ajak Haidar, pada Rindhima, "Leo! Kamu ikut saya!" lanjutnya pada Leo. Ia mengajak Leo masuk, karena ia menganggap Leo, sebagai wakilnya Keyla.
"Baiklah Tuan!" balas Leo, lalu ia pun langsung mengikuti langkahnya Haidar dan Rindhima dari belakang.
Setibanya mereka di dalam, mereka langsung disambut oleh pihak sekolah, yang tampaknya mereka juga sangat mengenal Haidar.
"Senang rasanya, karena sekolah kami telah kedatangan tamu istimewa! Selamat datang Pak Haidar!" ujar kepala sekolah STB, seraya ia mengulurkan tangannya pada Haidar, untuk berjabatan tangan.
"Terima kasih Pak Suhendra!" balas Haidar, seraya menyambut uluran tangannya kepsek tersebut.
"Mari-mari Pak, silakan duduk," ucap kepsek, sambil merentangkan sebelah tangannya, mempersilahkan Haidar duduk.
"Baik Pak terima kasih," balas Haidar, seraya ia menarik tangan Rindhima agar sang putri duduk di sebelahnya.
"Oh iya pak Hendra! Saya datang kesini, karena saya ingin mendaftarkan sekolah putri saya ini! Apakah Anda mau menerima putri saya, disekolah Anda ini Pak?" tanya Haidar lagi, yang akhirnya ia mengutarakan maksud kedatangannya. Dan Kepsek tampak tersentak mendengar perkataannya Haidar.
"Eh! Diterima Pak! Diterima! Saya akan menerima putri Anda disekolah ini!" balas Kepsek dengan spontan. Entah karena takut, atau memang sedang kepanasan. Namun memang sejak kedatangan Haidar, Wajah kepsek tersebut, terlihat tidak pernah kering dari keringatnya. Sehingga ia akan berkali-kali mengelapkan wajahnya dengan sapu tangan yang ia pegang sejak tadi.
"Bagus! Kalau begitu mulai besok sediakanlah kursi untuk putriku!" kata Haidar seraya ia bangkit dari duduknya, lalu ia pun langsung menggandeng tangan putrinya keluar dari ruangan kepala sekolah tersebut, dan masih diikuti oleh Leo dibelakangnya.
"Aaah.. Mimpi apa aku semalam ya! Kenapa hari ini sekolahku didatangi seorang Mafia berdarah dingin, begini!" gerutu Kepsek masih terlihat mengelap keringatnya yang tak kering-kering diwajahnya itu
...⊷⊶⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💓❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶⊷...
__ADS_1
Dukung Ramanda terus ya? Dan jangan pelit, ya Guys! untuk memberikan VOTE nnya. Kan biar Ramanda semangat loh Update, oke guys?Jadi please berikan dukungan kalian terus ya 🙏