
•⊶⊷❉্᭄͜͡💓 Mutiara Hikmah 💓❉্᭄͜͡⊶⊷•
Kadang apa yang kita anggap baik bagi diri sendiri belum tentu baik bagi orang lain. Demikian pula keadaan seseorang yang kita anggap baik-baik saja, bahkan dianggap memiliki kelebihan dalam beberapa hal, terkadang kita tidak tahu ujian apa yang sedang dihadapinya. Sebab apa yang kita lihat tak selalu yang sebenarnya di rasakan orang lain.
Jangan dikira yang selalu tersenyum itu pasti bahagia. Kadang ada yang menampakkan kebahagiaan supaya tidak nampak kesedihan yang ada di hati.
Hargai dan syukuri apapun yang ada di hadapan kita. Ridho lah atas apapun yang di berikan Allah pada kita. Percayalah ada skenario Allah yang lebih baik. Rubahlah yang masi bisa dirubah, terimalah apa yang sudah menjadi kepastian. Semoga sabar selalu menghiasi diri.
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
•⊷⊷⊶⊷⊶⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💓❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶⊷⊶⊷⊷•
Di HARDHAN Grup.
Semenjak meninggalkan Fatimah, dipulau S, bersama putrinya. Haidar memilih bekerja di perusahaanya sendiri. Padahal saat itu akhir pekan, yang artinya semua karyawannya sedang libur. Namun ia tak memperdulikan hal itu, karena memang tujuan utamanya yang sebenarnya adalah untuk menghindari istrinya. Makanya, walaupun dirinya berada di perusahaannya tapi hati dan pikirannya selalu saja mengarah ke istrinya.
"Hah! Kenapa gue nggak bisa fokus sih! Padahal pekerjaan gue banyak banget! Tapi tetap saja, yang selalu muncul malahan wajah Fatimah lagi, di layar laptop gue! Aah.. kalau begini terus gue bisa gila!" keluh Haidar, seraya mengacak-ngacak rambutnya yang biasanya selalu klimis.
"Sebenarnya aku kenapa ya? Kenapa akhir-akhir ini aku tidak bisa mengendalikan diriku sendiri? Dan perasaan ini sangat berbeda sekali. Bahkan Aku tidak pernah merasakan hal seperti ini ketika masih bersama Keyla. Sebenarnya apa yang membuat semuanya jadi berbeda ya?" gumam Haidar, terlihat begitu penasaran. Dan disaat bersamaan tiba-tiba terdengar suara deringan yang berasal dari Handphone. Dan seketika matanya langsung melirik ke layar handphonenya.
"Leo? Mau apa dia menghubungiku?" gumam Haidar. Seraya ia langsung mengambil benda pipihnya itu dan langsung menyambungkannya, "Hallo! Ada apa?" tanyanya terdengar begitu ketus.
"Ini Bang, saya hanya ingin menyampaikan bahwa, Rindhi sudah sudah bersedia pulang tanpa Kak Fatimah!" jelas Leo, memberikan laporannya pada Abang iparnya itu.
__ADS_1
"Ooh Baguslah! Oh iya, kalau kalian sudah sampai di kota! Suruh Nick langsung ke perusahaan saja, mengerti?"
"Mengerti Bang!"
Setelah mendengar jawaban dari Leo, Haidar pun langsung memutuskan sambungannya tanpa berbasa-basi lagi. Setelah itu ia langsung meletakkan kembali benda pipihnya diatasi mejanya. Seraya matanya melirik ke arah jam tangannya.
"Aah.. sudah sore rupanya. Pantas saja Leo dan Rindhi sudah mau kembali ke kota. Hmm.. berarti sekarang dia sendirian dong? Aah.. sebaiknya aku berkemas saja sekarang! Jangan sampai membuat Dia merasa kesepian," gumam Haidar, seraya ia bangkit dari duduknya. Lalu ia pun mengambil tas kerjanya, dan kemudian ia memasukkan berkas-berkas yang menurutnya sangat penting.
Setelah semuanya masuk ke dalam tas, Haidar pun langsung mengambil jasnya yang ia sampirkan disandaran kursinya. Dan setelah memakai jasnya ia pun langsung bergegas pergi dari ruangannya sambil membawa tas yang berisi berkas-berkas pentingnya. Dan kini Haidar sudah berada di lantai paling atas, yaitu puncak dari gedung diperusahaannya. Dan tak berapa lama ia berada disana, helikopter yang ia tunggu-tunggu akhirnya datang juga.
Karena tak ingin membuang-buang waktu, Haidar pun langsung naik ke helikopternya tersebut. Dan beberapa jam kemudian, helikopter yang membawa Haidar, telah mendarat di kepulauan s tersebut. Dan ia langsung disambut oleh para bawahannya, yang terlihat sudah berjajar di depan gerbang villanya.
"Selamat datang Tuan," ucap mereka secara serentak. Akan tetapi, Haidar malah mengabaikan mereka, bahkan mereka seperti tak terlihat olehnya. Dan ia malah langsung bergegas memasuki Villanya, dimana disana juga sudah berjajar para bawahannya yang menjaga pintu villa, "Selamat datang Tuan," ucap mereka juga. Tetapi tetap saja ia main nyelonong bae, tanpa memperdulikan mereka.
Sementara itu Fatimah yang kebetulan sedang duduk di sofa yang berada di ruang keluarga. Langsung bangkit dari duduknya, setelah mendengar ucapan selamat datang dari para bawahannya, "Eh, benarkah Mas Haidar pulang? Ah, sebaiknya aku lihat sendiri deh," gumamnya yang kemudian ia langsung berlari menuju ke ruang tamu.
Namun baru saja Fatimah ingin memasuki ruang tamu, tiba-tiba saja Haidar sudah muncul dan hampir saja menabrak dirinya. Untungnya ia bisa langsung menghentikan langkahnya.
"Mas! Kamu sudah pulang?" tanyanya dengan mata yang terlihat begitu berbinar, saat melihat wajah suaminya itu.
"Hemm," balas Haidar hanya berhem saja. Sambil ia melewati Fatimah bergitu saja, tanpa melirik sedikit pun kearahnya. Membuat Fatimah merasa heran melihat tingkah suami, yang terlihat langsung berjalan menuju ke lantai dua.
"Hah? Ana diabaikannya lagi? Sebenarnya ada apa ini? Kenapa sikapnya jadi aneh setelah malam itu? Apa mungkin karena Dia sudah mendapatkan apa yang diinginkan, makanya sekarang aku tak dibutuhkannya lagi?" gumam Fatimah, dengan tatapan mata yang terlihat masih mengarah ke lantai atas tepatnya kearah pintu ruang kerja, tempat Haidar menghilang tadi.
__ADS_1
"Aah.. kenapa Ana su'udzon lagi sih? Kan bisa saja Mas Haidar bersikap seperti itu, karena dia kelelahankan? Atau ada masalah di perusahaan juga. Makanya dia bersikap seperti itu," gumam Fatimah lagi berusaha untuk berprasangka baik pada suaminya, "Ya sudah sebaiknya Ana membikinkan Dia minuman saja, biar rasa lelahnya berkurang" katanya lagi, lalu ia pun langsung bergegas kedapur untuk membikinkan minuman untuk suaminya.
Setelah membikinkan minuman, Fatimah pun langsung membawanya menuju ke ruang kerja suaminya. Setibanya di depan pintu, ia pun langsung mengetuk pintunya. Dan tak berapa lama..
"Masuk!!" seru Haidar dari dalam. Dan dengan spontan Fatimah pun langsung masuk ke ruangan tersebut, sambil membawa baki yang diatasnya terdapat sebuah gelas yang berisi minuman.
"Assalamu'alaikum, Mas?" ucap Fatimah seraya ia menghampiri meja kerja suaminya.
"Wa'alaikumus salam!" balas Haidar tanpa melirik istrinya.
"Mas pasti sedang lelahkan? Ini Thiyah bikini minuman yang segar loh, biar lelah Mas hilang," kata Fatimah.
"Taruh saja disana!" balas Haidar terdengar datar, dan tetap masih tak ingin melihat wajah istrinya. Hal itu membuat kesabaran Fatimah akhirnya habis. Dan ia pun meletakkan gelas tersebut dengan kasar. Membuat Haidar langsung tersentak dan dengan spontan ia langsung menatap wajah istrinya.
"Kamu kenapa?" tanyanya dengan memasang wajah datarnya.
"Mas yang kenapa hah?! Kenapa Mas bersikap seperti ini pada Thiyah, hah?!" balas Fatimah dengan suara yang terdengar bergetar, seperti sedang menahan tangisnya. Karena memang saat ini matanya terlihat sudah berkaca-kaca.
Melihat hal itu, Haidar langsung berdiri dan bermaksud ingin menghampiri Fatimah, akan tetapi Fatimah malah langsung berlari meninggalkannya, "Thiyah tunggu!" teriaknya Namun tak dihiraukan Fatimah. Bahkan ia sudah menghilang di balik pintu ruangannya.
"Aah..damn! Thiyah pasti marah! Sebaiknya aku susul saja!"
...*••••••••••⊶•❉্᭄͜͡💓❉্᭄͜͡•⊶•••••••••*...
__ADS_1
Terus dukung author ya guys dan jangan lupa berikan 👉 ⭐ ⭐⭐⭐⭐ + 👍 serta komentarnya oke 😉 🙏🥰