
•⊶⊷❉্᭄͜͡💓 Mutiara Hikmah 💓❉্᭄͜͡⊶⊷•
Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling banyak manfaatnya untuk orang lain. Maka, ketika Allah datangkan orang yang butuh pertolongan yakini bahwa saat itu Allah sedang ingin menjadikan kita menjadi manusia terbaik. Harus disadari oleh diri, karena masih ada manfaat pulalah saat ini masih bernyawa. Walau hanya untuk memberikan minum bagi seekor anjing yang kehausan.
Jika tidak berpunya manfaat, waktu sudah Allah wafatkan. Betapa sempurnanya Allah dalam setiap takdir-Nya. Kasih sayang Allah meliputi semua ciptaan-Nya. Dunia adalah ladang, tempat menyebar bibit kebaikan, menumbuhkan kebermanfaatan di setiap langkah dan tempat dimana bumi berpijak. Dunia adalah tempat berpayah menumbuhkan pohon-pohon amal shalih. Di akhirat buahnya insyaallah kita nikmati.
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
•⊷⊷⊶⊷⊶⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💓❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶⊷⊶⊷⊷•
"Ini baru yang namanya ciuman sayang, nikmatkan?" bisik Haidar, sambil menaik turunkan alisnya tepat didepan wajah Fatimah.
BLUSH..!!
Seketika wajah Fatimah langsung memerah. Sebab perkataan Haidar, seakan menyindirnya. Dan ia juga mengakui, kalau dirinya sempat menikmati permainan bibir yang diciptakan oleh Suaminya itu. Karena merasa malu Fatimah bermaksud ingin bangkit dari pangkuan Suaminya.
"Eh, apaan sih? Udah akh Thiyah, mau.." katanya seraya ia bangkit. Namun belum sempat ia berdiri, tangan Haidar sudah melingkar di pinggangnya, lalu kembali menarik ke pangkuannya.
"Kamu mau kemana Sayang? Bukankah, tadi kamu tidak rela saat Mas melepaskan bibir kamu ini, hm?" tanya Haidar, seraya ia menatap serta mengelus bibir Fatimah nan merah merona itu. Sepertinya ia sudah mulai kecanduan.
"Eh..a-apa yang i-ingin Mas lak..." tanya Fatimah, terlihat begitu gugup. Namun belum sempat ia menyelesaikan kata-katanya, bibir Haidar sudah kembali mendarat kebibirnya. Membuat matanya langsung terbelalak, menatap wajah suaminya. Akan tetapi Haidar langsung menutupnya dengan telapak tangan kirinya. Ia seakan memberikan syarat agar, Fatimah ikut memejamkan matanya, dan ikut menikmati tautan bibir yang sedang ia mainkan.
__ADS_1
Fatimah yang mulai merasakan lembutnya permainan bibir Suaminya. Membuat ia akhirnya kembali terhanyut, hingga tanpa sadar kini tangannya telah melingkar di leher suaminya. Sehingga membuat Haidar penasaran, ingin melihat wajah polos istrinya saat ini. Hingga akhirnya ia pun membuka matanya sedikit. Dan nampaklah olehnya, reaksi wajah istrinya yang terlihat, ia sedang menikmati bibirnya.
Haidar merasa menang, karena ia telah menguasai kesadaran istrinya. Pada awalnya ia a hanya ingin mengenalkan Fatimah, dengan ciuman yang sebenarnya. Dan ia tak bermaksud melakukan hal yang lebihnya. Namun ketika ia ingin melepaskan tautannya kembali, tiba-tiba Fatimah menahan kepalanya dengan disertai suara lenguhannya.
"Ukhmm.." Mata Haidar langsung membulat saat melihat istrinya, yang terlihat sedikit berbeda. Membuat hasrat tiba-tiba terpancing, sehingga rasanya ia ingin melanjutkannya diatas ranjang mereka. Namun seketika ia teringat, pada luka istrinya.
"Thiyah hentikan!" sentak Haidar, seraya melepaskan tautannya sedikit dipaksa. Dan seketika wajah Fatimah langsung terlihat kecewa. Membuat Haidar merasa bersalah, "Maaf Thiyah, kalau ini dilanjutkan, aku takut tidak bisa menahan diriku. Sedangkan tubuh kamu masih belum pulih benarkan?" sambungnya lagi, memberikan pengertian pada istrinya yang saat ini, seperti sedang kecewa.
"Kata siapa? Kan kemarin sudah Thiyah bilang, ini sudah nggak sakit lagi tau! Tapi ya sudahlah, Thiyah, mau tidur aja!" balas Fatimah, walaupun suaranya terdengar lembut. Namun tetap aja, nada kecewanya masih terdengar jelas ditelinganya Haidar.
Fatimah langsung bangkit tanpa berkata apapun. Ia malah langsung bergegas menuju ke tempat tidurnya, dan langsung membaringkan tubuhnya dengan posisi miring membelakangi suaminya yang terlihat masih duduk di sofa sambil menatap dirinya, dengan tatapan yang terlihat bingung melihat sikap istrinya yang sedikit berbeda.
"Sayang? Kamu marah padaku?" bisik Haidar, seraya ia menyingkirkan rambut Fatimah yang menutupi lehernya. Setelah ia pun mengecupi leher Fatimah dengan lembut. Membuat tubuh Fatimah tersentak, seperti terkena sengatan listrik.
"Aakh..! Geli Mas!" protes sambil ia menutupi lehernya dengan telapak tangannya.
"Benarkah Sayang? Apakah begini juga terasa geli, hm?" tanya Haidar, yang kali ini ia mengecup tengkuknya Fatimah, membuat suara yang terdengar aneh muncul dari mulutnya Fatimah.
"Aaah..uhm..!" Fatimah langsung menutup mulutnya. Haidar malah tersenyum tipis, ia jadi semakin ingin mendengarnya kembali. Sehingga ia kembali mengecup tengkuknya Fatimah dan lagi-lagi suara lenguhan itu muncul kembali. Membuat hasrat Haidar yang tadi sempat meredam kini bangkit kembali.
"Humm..aah..Mas.!"
__ADS_1
Haidar sedikit terkejut, saat Fatimah tiba-tiba saja membalikkan tubuhnya menghadap ke dirinya dengan wajah terlihat memerah. Bahkan ia mendapatkan tatapan yang membuatnya semakin ingin segera memilikinya.
"Iya Sayang? Hum.. Thiyah, apakah Aku boleh melakukan itu?" tanya Haidar, dengan suara beratnya. Seraya ia menatap bibir ranumnya Fatimah, yang seakan ia ingin segera mencaploknya. Dan benar saja, belum lagi ia mendapatkan balasan dari istrinya, bibir malah sudah mendarat duluan.
Fatimah, yang sepertinya sudah mulai kecanduan juga. Akhirnya ikut terhanyut didalamnya, kini tangannya pun juga sudah melingkar sempurna. Membuat Haidar gairah kembali terpancing ia segera berlayar di lautan asmara yang mulai memanas tersebut. Bahkan kini tangan-tangannya sudah mulai melucuti pakaiannya sendiri. Setelah itu tangan-tangannya mulai melepaskan kain-kain yang menempel pada tubuh istrinya. Sehingga terlihatlah bekas luka tembakan yang terdapat di bahunya.
"Benaran ini sudah tidak sakit lagikan Sayang?" tanya Haidar dengan suara yang masih terdengar berat.
"Hu'um.. udah nggak sakit lagi Mas," balas Fatimah terdengar lirih.
Mendengar jawaban dari istrinya Haidar pun langsung mengecup lembut bekas luka Fatimah. Karena sangat berdekatan dengan bukit kembarnya, ia pun langsung bermain-main di sana, mengulumi permen coklatnya. Bahkan juga ia memberikan tanda hak kepemilikannya disana. Sehingga membuat tubuh Fatimah mulai menggeliat, karena ia mulai merasakan hal yang aneh pada tubuhnya.
"Uhmm..ah.. ah..sha..aakh..Mas..!" pekik Fatimah, yang tiba-tiba saja tubuhnya menegang. Haidar tersenyum tipis.
"Lepaskanlah..Sayang..uhmm.." katanya seraya ia mulai membidikkan senjatanya ke sasarannya. Perlahan tapi pasti, ia mulai mendorongnya dengan perlahan. Namun tetap saja yang namanya pertama, pasti membuahkan rasa sakit. Dan itu juga yang dirasakan oleh Fatimah saat ini.
"Akh..! Astaghfirullah!" pekiknya, namun ia langsung menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Sangat terlihat jelas saat ini ia sedang mencari rasa sakit yang amat sangat. Sehingga ia matanya tanpa terasa mengalir begitu saja. Melihat hal itu, Haidar langsung mempercepat ritmenya hingga akhirnya.
"Aakh..!!"
bersambung akh..
__ADS_1