RINDHIMA Putri Sang Mafia

RINDHIMA Putri Sang Mafia
MERINDUKANNYA.


__ADS_3

•⊶⊷❉্᭄͜͡💓 Mutiara Hikmah 💓❉্᭄͜͡⊶⊷•


Jika kita memandang hidup dengan rasa syukur, semuanya jadi benar-benar ajaib; indah dan luar biasa. Setiap hari adalah hari yang baik, setiap saat adalah saat yang indah sehingga hidup adalah kebahagian. Tapi jika kita tidak mampu bersyukur, semua yang baik dan indah akan menjadi buruk dan menyakitkan. Kemana pun kita pergi, apapun yang kita kerjakan adalah penderitaan. Tiada hari tanpa kegelisahan dan kejenuhan


Bukan hidup yang membuat engkau jenuh tapi ketiadaan rasa syukur yang membuat semuanya menjadi buruk dan menjenuhkan. Kesulitan sebesar apapun akan terasa wajar bagi jiwa yang tetap melebihkan syukur daripada mengeluh. Karena bukan kebahagiaan yang menjadikan kita bersyukur, tetapi bersyukurlah yang menjadikan kita berbahagia.


__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__


•⊷⊷⊶⊷⊶⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💓❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶⊷⊶⊷⊷•


Hari Minggu disore harinya.


Tampak Wajah Rindhima seketika berubah sedih, saat melihat helikopter jemputannya telah datang. Dan itu artinya ia harus berpisah lagi pada sang ibu sambungnya. Karena sudah menjadi perintah tidak mengizinkan Fatimah turut serta kembali ke kota. Jadi tidak ada satu pun yang berani menentang pemerintahnya. Dan itu termasuk Rindhima, makanya tak heran kalau saat ini wajah gadis kecil itu, terlihat sedih dan kesal.


"Huh! Indhi sebel banget sama Daddy! Padahal dulu Daddy juga nggak sukakan, sama Umi? Kenapa sekarang Dia memonopolikan Umi!" gerutu si kecil Rindhima, dengan wajah yang terlihat begitu juteknya.


"Eeh.. Sayang, kok gitu sih ngomongnya? Itu namanya nggak sopan Sayang," tegur Fatimah, seraya membelai kepala putri sambungnya itu.


"Humm.. habisnya Daddy gitu sih! Masa Umi nggak dibolehin sih ikut Indhi ke kota! Indhikan suka kangen kalau nggak ada umi dikota!" balas Rindhima sambil melipat kedua tangannya di bawah dadanya dengan keadaan kesal.


"Ya pasti Daddy ada alasannyakan mengapa Umi belum boleh menemani kamu. Jadi kita tidak boleh membantahnya oke," kata Fatimah memberikan pengertian pada Rindhima.

__ADS_1


"Benar yang dikatakan Umi kamu Nona. Deddy Nona melarang Umi Fatimah ikut, karena masih banyak orang jahat yang mengincar Uminya Nona. Jadi tunggu keadaan di kota aman baru deh, Umi Nona bisa berkumpul lagi sama Nona," sambung Leo, yang ikut memberikan pengertian pada keponakannya itu.


"Huh! Bohong! Itu mah cuma alasan Daddy aja!" balas Rindhima, yang sepertinya ia masih bersikeras menginginkan Fatimah ikut bersamanya ke kota. Mendengar perkataannya Rindhima, Leo pun langsung menarik tangan Rindhima.


"Sini deh Uncle anak bisikin ke kamu alasannya," kata Leo, sambil menarik tangan Rindhima, agar menjauh sedikit dari Fatimah.


"Apaan sih Uncle! Pokoknya Indhi nggak mau tahu alasannya titik!" balas Rindhima terdengar begitu lantang.


" Baiklah Uncle tidak akan memaksa Nona. Tapi Nona harus melihat video ini dulu!" ujar Leo seraya ia menunjukkan sebuah rekaman cctv yang terdapat di layar hpnya Leo. Sehingga mau tak mau akhirnya Rindhima tetap melihat isi dividio tersebut. Dan ia sedikit tersentak saat melihat wajah seorang pria yang terlihat sedang duduk di kursi mobilnya. Dengan tatapan mata yang terlihat sedang memperhatikan Mansionnya


"Inikan Uncle.." kata Rindhima bermaksud menyebutkan nama pria yang ia lihat didalam video tersebut. Namun langsung di sela oleh Leo.


"Sssth.. jangan disebut namanya, nanti Umi Fatimah mendengarnya Nona!" bisik Leo. Membuat Rindhima akhirnya mengikuti perkataan pamannya itu.


"Nona? Nona tahukan kalau pria itu adalah tunangannya Umi Fatimah?" tanya Leo, dan langsung dianggukan oleh Rindhima.


"Nah, itu dia penyebab, mengapa Daddynya Nona, tidak memperbolehkan Umi ikut dengan kita Nona. Sebab Daddy Nona, takut, kalau-kalau Uncle itu memabawa Uminya Nona. Karena merekakan sudah bertunangan, jadi pria itu merasa punya hak atas Umi, makanya dia selalu datang ke Mansion kita, agar bisa bertemu dengan Umi. Terus kalau Umi disana, dan dia di bawak sama Uncle itu, gimana dengan Nona coba? Pasti Nona akan sedihkan karena nggak punya ibu lagi, iyakan?" jelas Leo, panjang lebar. Berharap kali ini keponakannya itu dapat memahami perkataannya.


Rindhima langsung terdiam sesaat setelah mendengar penjelasan dari Leo. Tampak ia sedang mencerna perkataan sang Paman, "Hmm.. ya sudahlah kalau begitu, untuk kali ini, Indhi ikut apa kata Daddy saja! Tapi Daddy harus secepatnya menangani masalah ini! Jangan lama-lama! Karena Indhi nggak suka berpisah dengan Umi, sampai lama-lama! Uncle pahamkan?"


Leo langsung bernafas lega setelah mendengar perkataannya Rindhima. Karena pada akhirnya bocah kecil itu tidak bersikeras lagi, menuntut Fatimah agar turut serta dengannya ke kota. Karena sepertinya ia juga takut kalau ibu sambungnya dibawa lari oleh tunangannya itu.

__ADS_1


"Paham Nona! Nanti Uncle akan bicarakan hal ini pada Daddynya Nona, oke? Jadi apakah sekarang kita sudah bisa berangkat? Kasian loh Uncle Nick, sudah menunggu kita sedari tadi," balas Leo, seraya ia bangkit kembali.


"Baiklah Uncle. Tapi tunggu sebentar, karena Indhi mau pamitan dulu sama Umi," kata Rindhima, yang kemudian ia langsung berjalan menuju ke tempat Fatimah berdiri, tanpa menunggu balasan dari Leo.


"Baiklah Umi, untuk sekarang Indhi tidak akan memaksa Umi untuk ikut bersama Indhi ke kota. Tapi tidak untuk lain kali ya Umi?" kata Rindhima, saat ia telah berada di hadapannya Fatimah.


"In shaa Allah ya Sayang. Insya Allah kita akan segera berkumpul lagi, oke," kata Fatimah, sambil ia langsung menggendong tubuh Rindhima. Kemudian ia juga memberikan kecupan lembut di pipi gembulnya Rindhima. Dan Rindhima pun langsung membalasnya.


"Ya sudah sekarang pergilah Nak. Dan jangan lupa telpon Umi ya kalau kamu sudah sampai di kota?" kata Fatimah, sambil ia menyerah tubuh Rindhima pada Leo. Sehingga kini Leolah yang menggendong Rindhima.


"Oke Umi! Kalau begitu Indhi pamit ya? Assalamu'alaikum Umi!" ujar Rindhima, sambil kembali ia mengecup pipi sang Ibu.


"Wa'alaikumus salam warahmatullahi wabarakatu, sayang" balas Fatimah sambil menoel pucuk hidungnya Rindhima.


"Kalau begitu saya permisi juga Nyonya, Assalamu'alaikum" pamit Leo juga semabri ia membungkukkan tubuhnya sedikit.


"Iya Pak Leo, Wa'alaikumus salam warahmatullahi wabarakatu"


Setelah mendapatkan balasan dari istri Abang iparnya itu, Leo yang masih menggendong Rindhima pun langsung bergegas pergi meninggalkan Fatimah, yang terlihat masih menatap kepergian Leo dan putri sambungnya itu.


"Sebenarnya apa yang ditunjukkan oleh Leo? Kenapa Rindhi langsung luluh? Padahal kalau dia terus bersikeraskan, aku bisa secepatnya bertemu.." gumam Fatimah namun seketika ia langsung menghentikan perkatanya, "Eh, apaan sih? Kenapa Ana jadi ingat Dia ya? Humm.. apa sebenarnya Ana sedang merindukannya?"

__ADS_1


...⊶⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💓❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶...


Terima kasih pada yang sudah memberikan VOTE nya hari ini. Dan insya Allah kalau Votenya bertambah lagi, Author akan update lagi loh😉 Jadi cus yuk, kasih Vote nya lagi Ok 🙏🥰 Syukron 🙏


__ADS_2