
•⊶⊷❉্᭄͜͡💓 Mutiara Hikmah 💓❉্᭄͜͡⊶⊷•
Dear sahabat Fillah,
Sebenarnya dunialah yang makin kita jauhi dan liang kuburlah yang makin kita dekati. Satu hari berlalu, berarti satu hari pula berkurang umur kita. Dan Umur kita yang tersisa di hari ini sungguh tak ternilai harganya, bila tanpa ketaatan sebab esok hari belum tentu jadi bagian dari diri kita. Jangan tertipu dengan usia muda, karena syarat untuk mati tidaklah harus tua. Jangan terperdaya dengan badan sehat, karena syarat untuk mati tidak pula harus sakit.
Teruslah senantiasa berbuat baik dan berkata yang baik. Walau tak banyak orang yang mengenalimu, tapi kebaikan yang kita lakukan akan menuntun kita pada kebahagiaan, dan akan dikenang oleh mereka yang kita tinggalkan...
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
•⊷⊷⊶⊷⊶⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💓❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶⊷⊶⊷⊷
Satu Minggu telah berlalu.
Semenjak diberitahukan kalau ibu sambungnya sedang mengandung seorang Adik untuknya. Rindhima tampak begitu senang karena dirinya akan segera menjadi kakak. Dan sejak hari itu juga, ia jadi berusaha untuk belajar mandiri. Bahkan ia juga tak pernah lagi menuntut sang ibu untuk mengantarkannya ke sekolah. Dan Ia lebih memilih, Leo yang mengantarkannya ke sekolah.
Yaa semenjak Rindhima mengetahui, kalau Leo adalah pamannya sendiri. Ia jadi semakin dekat pada Leo. Hingga terkadang membuat Haidar sedikit kesal. Pasalnya asisten yang paling ia percaya, malah lebih banyak dikuasai oleh putrinya. Makanya kini sudah tak heran lagi, bila disetiap paginya pasti selalu ada perdebatan antara ayah dan anaknya. Hanya untuk memperebutkan Leo.
"Rindhi, hari ini kamu diantar Mang Udin dulu ya? Soalnya pagi ini Daddy dan Uncle Leo, ada urusan yang sangat penting. Jadi..." ujar Haidar, ketika mereka sedang sarapan bersama.
"Nggak mau!" potong Rindhima, tanpa melihat wajah sang ayahnya sedikit pun.
"Eh! Belum juga selesai Daddy jelasinnya, kamu kok udah main potong aja sih?" tegur Haidar, mulai kesal.
"Yaa soalaya Indhi tau, Daddy mau ngomongin apa! Jadi nggak perlu dijelasin lagi!" balas Rindhima, yang terlihat masih fokus dengan sarapannya.
"Kalau memang kamu, emangnya apa yang mau Daddy omongin, hm?" tanya Haidar lagi.
__ADS_1
"Yaa apalagi, kalau bukan mau ngomongin seribu macam alasankan? Supaya Uncle Leo hari ini ikut Daddy?" balas Rindhima, dengan gaya santai. Dengan raut wajah yang bak orang dewasa, yang terlihat sedang mengintimidasi sang Ayah.
Sontak mata Haidar langsung membulat setelah mendengar perkataan putri kecilnya, "Ay! Dasar nih bocil! Memang nggak bisa diakali ya?!" gumam Haidar dengan lirih, sambil ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Aah.. pokoknya hari ini gue, nggak boleh kalah lagi! Sudah dua hari, Leo dikuasainya! Jadi hari ini pokoknya Leo harus ikut Gue!" batin Haidar, dengan tampang wajah terlihat penuh percaya diri.
"Baiklah, karena kamu sudah tahu! Maka Daddy, tidak perlu berbasa-basi lagi. Jadi intinya hari ini Uncle Leo harus ikut Daddy ke kantor! Dan ingat, tidak ada bantahan! Paham?!" ujar Haidar, terdengar begitu tegas. Dan dengan memasang wajah yang tampak begitu tegas juga. menandakan ia tak ingin ada bantahan lagi.
"Baiklah Dad!" balas Rindhima. Membuat wajah Haidar seketika berubah senang. Karena ia berpikir, kalau hari itu adalah hari kemenangannya.
"Umi?" panggil Rindhima, pada Sang ibu. Yang kebetulan sedang duduk tepat di sebelah kursinya.
"Iya Sayang?" sahut Fatimah dengan lembut.
"Umi, masih ingatkan? Dengan perkataan Daddy tempo hari?" tanya Rindhima, sambil tersenyum manis pada sang ibu.
"Ingat dong Sayang. Ya sudah kalau begitu, ayo kita bersiap-siap," balas Fatimah, seraya ia menoel pucuk hidung putri sambungnya itu.
"Eeh.. kalian mau kemana, hm?" tanya Haidar, seraya ia menangkap tangan Fatimah.
"Ya mau kemana lagi Mas? Ya mau ngantar Rindhi lah!" balas Fatimah, berkata santai.
"Eh! Tidak boleh! Kamu tidak boleh mengantar Rindhi! Ingat Thiyah, kamu itu harus banyak-banyak istirahat! Jadi kamu tidak boleh kemana-mana! Kamu paham?" ujar Haidar dengan tegas, dan masih menggenggam tangannya Fatimah.
"Iiikh.. Daddy nggak konsisten banget sih, jadi orang! Bukankah Daddy sendiri ya yang ngomong tempo hari? Kalau Uncle Leo, tidak bisa nganterin Indhi. Maka sebagai gantinya, Umi yang akan mengantarin Indhikan?" protes Rindhima, yang sepertinya ia mengingatkan perkataan sang ayah sendiri. Dan Haidar yang mendengar itu langsung tersentak.
"Aah! Kenapa masih ingat aja sih?" gumam Haidar, yang akhirnya ia pun ingat pada kata-katanya sendiri, "Tapi Sayang, Umi kamukan..." lanjut Haidar lagi, yang sepertinya ia ingin memberikan alasan kembali. Namun dengan sigap, Rindhima langsung memotong perkataannya.
__ADS_1
"Daddy, seorang laki-laki itu yang dipercaya adalah kata-katanya! Jadi Indhi harap Daddy juga seperti itu, biar Umi tidak meragukan Daddy lagi!" sela Rindhima, dengan gaya orang dewasanya lagi. Membuat Haidar terlihat begitu kesal.
"Aah.. sudahlah! Sekarang sebaiknya kamu berangkat dengan Leo saja sana!" balas Haidar, yang akhirnya ia kembali mengalah pada putri kecilnya itu.
"Nah gitu dong! Lagian, bukankah Daddy sedang memberikan misi pada Uncle Leo kan?" kata Rindhima, terlihat senang karena, pada akhirnya ia kembali menang.
"Misi? Apa maksud kamu Rindhi?" tanya Haidar sambil mengerutkan dahinya. Tampak sekali kalau ia tak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh putrinya itu.
"Iikh.. Daddy ternyata sudah pikun ya?" balas Rindhima, sambil mencibirkan bibirnya.
"Eh! Sembarangan saja! Siapa yang sudah pikun sih!" protes Haidar.
"Ya Daddylah! Padahal Daddy sendiri, yang menyuruh Uncle Leo, agar segera mencari calon istri! Tapi kenapa Daddy lupa sih?"
Haidar, langsung terkejut mendengar perkataan Rindhima, "Eh! Dari mana kamu tahu itu?" tanyanya merasa heran.
"Ya tahulah! Kemarin malamkan Daddy mengancam Uncle, waktu diruang kerja. Daddy irikan karena Uncle Leo dekat sama Indhi?"
"Eh! Jadi kamu menguping pembicaraan Daddy dan Uncle Leo?" tanya Haidar tampak kaget.
"Ya maaf Dad! Indhi nggak sengaja. Tapi Daddy tidak usah khawatir, karena Indhi sudah dapat calon untuk Uncle Leo," ujar Rindhima, terlihat begitu percaya diri.
"Calon? Heh! Anak kecil sok tahu saja! Coba saja kamu jodohkan sama Uncle Dokter mu itu! Palingan langsung diabaikan olehnya," balas Haidar, yang sepertinya ia sangat paham betul gimana sifat adik iparnya itu.
"Oke! Mau taruhan?" tantang Rindhima.
"Hm.. siapa takut!" balas Haidar, sambil tersenyum sinis.
__ADS_1
...*••••••••••⊶•❉্᭄͜͡💓❉্᭄͜͡•⊶•••••••••*...
Terus dukung author ya guys dan jangan lupa berikan 👉 ⭐ ⭐⭐⭐⭐ + 👍 serta komentarnya oke 😉 🙏🥰