
•⊶⊷❉্᭄͜͡💓 Mutiara Hikmah 💓❉্᭄͜͡⊶⊷
Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah ﷺ bersabda :
“Ada tiga orang yang doanya tidak ditolak: Pemimpin yang adil, orang yang berpuasa sampai dia berbuka, dan doa orang yang didzalimi, Allah angkat di atas awan pada hari kiamat.” [HR. At-Turmudzi dan, Thabrani)
Allah memberikan setiap waktu di bulan Ramadhan itu penuh berkah dan rahmat-Nya, di sepanjang bulan mulia ini semua doa-doa memenuhi langit dan di antar oleh para malaikat utusan Allaah.
Dengan banyak berdoa sesungguhnya akan mendekatkan jarak kita pada Allah, akan menentramkan jiwa dan meningkatkan keimanan, karna setiap berdoa ada keinsyafan atas dosa yang telah lalu, ada taubat yang mendahuluinya dan penetralan kesombongan diri setelah menyadari hakikat hamba Illahi.
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
•⊷⊷⊶⊷⊶⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💓❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶⊷⊶⊷⊷
Tanpa terasa sudah dua Minggu Fatimah berserta bayinya dirawat di rumah sakit yang berada didekat Masjidil haram. Maka tak heran kalau keadaannya semakin membaik. Hal itu membuat ia ingin secepatnya kembali ke tanah air.
Pada awalnya, Haidar amat sangat ragu sekali untuk mengikuti keinginan istrinya. Sebab mengingat putranya yang baru berusia dua Minggu itu. Apalagi kelahirannya terbilang prematur. Jadi wajar saja kalau ia memiliki rasa takut untuk membawanya menaiki pesawat.
Namun setelah di berikan pengertian oleh Fatimah, dan mengingatkan Rindhima yang juga sudah lebih dulu pulang. Dan hal itu membuat Haidar akhirnya pun luluh. Dan akhirnya mereka pun kembali ke tanah air. Bahkan mereka telah sampai di mansionnya Haidar. Dan ternyata di mansionnya juga telah ramai orang. Membuat Haidar merasa heran saat melihatnya.
"Ada apa ini Leo? Kenapa di mansionku jadi ramai orang begini?" Tanya Haidar, tatkala ia baru saja turun dari mobilnya.
__ADS_1
"Maaf Bang, saya lupa untuk memberitahukannya pada Anda. Kalau Yasmin berencana mengadakan syukuran, untuk kak Fatimah beserta bayinya. Katanya.." balas Leo, namun perkataannya langsung dipotong oleh Fatimah.
"Maa shaa Allah, kalian benar-benar pengertian banget ya? Padahal saya memang berniat bikin juga setelah pulang nanti. Tapi ternyata kalian sudah duluan melakukannya. Terima kasih ya Leo, Yasmin. Terima kasih karena sudah mewakili kami membuat syukuran ini," kata Fatimah, terlihat begitu senang. Namun tidak bagi Haidar, karena sepertinya ia belum memahaminya.
"Apa maksudnya sayang? Mas tidak paham apa yang kalian bicarakan?" Tanya Haidar, sambil mengerutkan keningnya. Tanda ia amat penasaran.
"Mas, Pengertian syukur adalah bagian dari rasa berterimakasih. Syukur adalah mengakui nikmat kepada yang memberi nikmat dan menyatakannya secara rabubiyahnya. Bersyukur berarti sadar bahwa segala bentuk nikmat yang akan datang tak mungkin dari selain Allah kan? Jadi rasa syukur itu adalah pujian kepada Sang pemberi kebaikan. Dan kita juga diperintahkan untuk bersyukur, seperti firman-Nya disurat Al-Baqarah, Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (QS. Al-Baqarah ayat 152).
"Nah, Maskan tahu, kalau istrinya Mas ini baru saja melahirkan dan diberikan Allah kemudahan serta keselamatankan? Dan kita juga baru saja kembali pulang dengan selamat. Jadi sudah sepatasnyakan Mas, kita mengadakan syukuran? Karena Allah sudah memberikan kita keselamatan dan juga kebahagiaan pada kita, iyakan Mas?" Tutur Fatimah panjang lebar memberikan penjelasan pada suaminya dengan penuturan yang terdengar lembut. Membuat Haidar sepertinya langsung memahaminya.
"Kamu benar Sayang. Ya sudah kalau begitu ayo kita masuk dan melanjutkan acara syukurannya. Kasian mereka sudah menunggu kita," ajak Haidar, seraya ia merangkul pundak Fatimah, yang terlihat sedang menggendong bayi mereka.
"Iya Sayang, sesuai keinginan kamu saja ya?" Balas Haidar, seraya tersenyum lembut pada istrinya. Dan masih berjalan sambil merangkul pundak istrinya.
Setibanya mereka didalam, Haidar pun langsung meminta sang ustadz yang telah di undang oleh Leo, untuk memulai acara syukuran tersebut. Dan akhirnya acara pun dimulai dengan penuh hikmat. Suara lantunan ayat yang di kumandangkan oleh para undangan memenuhi ruangan tamu Mansionnya Haidar.
Setelah doa selamat telah usai, sang Ustadz langsung menabalkan nama putra mereka yang di bernama "Rifardhan Rafassya". Dan setelah pemberian nama usai, acara pun dilanjutkan dengan makan-makan yang memang sudah disediakan. Namun kebanyakan dari mereka memilih untuk membawanya pulang.
"Alhamdulillah, akhirnya selesai juga acaranya dengan lancar," ucap Fatimah, penuh rasa syukur.
__ADS_1
"Aah.. syukurlah, Mas tadi sempat khawatir.. Karena mas tadi sempat melihat, Ardha, mulai gelisah, Sayang," timpal Haidar, seraya ia menatap wajah putranya yang saat ini berada di dalam pangkuannya.
"Iya Mas, Thiyah tadi juga sempat lihat kok. Ya mungkin dia sedang kelelahan kali Mas. Lagian kitakan baru melakukan perjalanan jauh. Jadi wajar saja kalau dia lelah," balas Fatimah, yang terlihat ia juga sedang menatap wajah kecil putranya juga.
"Aah, ya sudah kalau begitu, bawalah Dia ke kamar kita, dan sekalian kamu istirahat juga ya sayang," kata Haidar, seraya ia memberikan putranya pada Fatimah.
"Baiklah Mas, kalau Thiyah ke kamar duluan ya?" pamit Fatimah, seraya ia berdiri dari duduknya.
"Pergilah Sayang," balas Haidar dengan lembut. Dan baru saja Fatimah melangkahkan kakinya, tiba-tiba.
"Umii.. bolehkah Indhi ikut!" tanya Rindhima, yang kebetulan ia duduk tak jauh dari mereka tadi.
"Boleh dong Sayang, ayo kita kekamar," balas Fatimah, seraya tersenyum lembut pada putri sambungnya itu.
"Alhamdulillah, asyik bisa main sama Dede," kata Rindhima, terlihat senang. Dan akhirnya mereka pun beranjak menuju ke kamarnya Fatimah.
Setibanya mereka di kamar, Fatimah pun langsung meletakkan bayinya di tempat tidurnya. Dan Rindhima pun ikut naik ke atas tempat tidurnya Fatimah, dan duduk disisi Adiknya yang terlihat sedang tertidur. Untuk sesaat Rindhima hanya memandangi wajah sang Adik. Dan tak berapa lama ia kembali menatap wajah Fatimah, yang kebetulan juga sedang menatap dirinya sambil menyunggingkan senyuman lembut kepadanya.
"Umii?" panggil Rindhima, dengan nada pelan, karena ia takut Adiknya akan terbangun.
"Iya Sayang? Ada apa hm?" balas Fatimah seraya ia mengelus rambut ikal sang putri kecilnya.
__ADS_1
"Terima kasih," ucap Rindhima, dengan tatapan sendunya.
...⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💓❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶...