
•⊶⊷❉্᭄͜͡💓 Mutiara Hikmah 💓❉্᭄͜͡⊶⊷•
Bukan orang shalih, namun ingin banget memiliki teman shalih…belum baik, tapi ingin jadi baik Sungguh satu teman yg mau mengingatkan, lebih aku butuhkan dari pada 10 teman yang diam saja melihat kemunkaran.
Teman yang susah bareng, seneng bareng, nolong pas butuh, bantu pas susah, insyaAllah ada...tapi teman yang ngingetin saat kamu maksiat sama Allah ada ga? Bilang ini haram ini halal, ini boleh ini ga boleh, ini haq ini bathil, ini jalan ke surga, ini jalan ke neraka….....ada??? Kalau ada Ini baru teman yang LANGKA.
Teman yang setia di dunia itu biasa, tapi teman yang peduli akan akhirat kita itu baru luar biasa dan tak banyak yang seperti dia di dunia. Maka gengaamlah erat2 tangannya jika kamu punya, meskipun hanya seorang teman.
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
•⊷⊷⊶⊷⊶⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💓❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶⊷⊶⊷⊷•
Di HARDHAN Grup lantai dua puluh.
Tampak Haidar, sedang berkutik didepan meja kebesarannya. Ia terlihat begitu fokus pada pekerjaannya. Membuat Leo sedikit khawatir, pada Abang iparnya itu. Pasalnya, ia tak pernah mau bila disuruh beristirahat. Padahal ia tak pernah tidur tatkala menjaga Fatimah yang sedang dirawat di rumah sakit. Dan Leo juga tahu kalau Abangnya itu sebenarnya sudah amat kelelahan. Namun Haidar, selalu saja menyangkalnya.
"Leo, katakan pada Ratna untuk membikinkan Aku kopi!" kata Haidar, dengan mata yang terlihat sedang fokus ke layar laptopnya.
"Hah? Bang ini sudah gelas kedua loh, masa minta bikinkan lagi sih?" tanya Leo, terlihat heran.
"Kenapa? Apakah Aku juga dilarang minum kopi diperusahaanku sendiri hah?" tanya Haidar, dengan wajah datarnya.
"Bukan begitu Bang. Cuma saya rasa, dari pada Anda meminum kopi lagi, lebih baik Anda beristirahat sejenak Bang. Karena mau seberapa banyak pun Anda meminum kopi, itu takkan mengurangi rasa kantuknya Abangkan? Makanya bukan kopi yang Anda butuhkan saat ini, tapi istirahat Bang!" balas Leo. Membuat Haidar yang mendengarnya langsung mendengus kesal.
__ADS_1
"Huh! Mulai deh ceramah lagi! Lo bisa nggak sih, sehari aja jangan membantah gue, hah? Atau gue kirim aja Lo ke Afrika ya? Biar jangan berisik lagi mulut Lo di depan gue!" cetusnya, dengan wajah yang terlihat amat kesal.
"Aduh seram banget sih Bang! Ya sudahlah kalau begitu terserah Abang saja! Sa bodo teuinglah! Mau sakit mau nggak, bukan saya ini kok yang merasakannya!" pungkas Leo, seraya ia berjalan menuju arah pintu keluar.
Mendengar perkataan Adik iparnya, dahi Haidar langsung berkerut, "Eh! Apa maksud perkataan kamu itu, hah?!" teriaknya, karena posisi Leo saat ini sudah di ambang pintu.
"Tuan pikirkan aja sendiri!" balas Leo, seraya ia menutup pintu ruangannya Haidar. Hingga akhirnya ia pun menghilang di balik pintu tersebut.
"Huh! Anak itu semakin berani saja! Tampaknya, Aku harus secepatnya mencarikan dia jodoh! Biar nggak semaunya saja!" gerutu Haidar, kesal. Disaat bersamaan, terdengar suara dentingan handphonenya, menandakan ada seseorang yang mengirimkan pesan kepadanya.
Mata Haidar pun langsung melirik ke layar handphonenya, "Rindhima? Tumben banget pakai kirim pesan segala, biasanya juga langsung teleponkan?" gumam Haidar sambil mengambil benda pipihnya itu. Setelah benda itu ditangannya, Haidar pun langsung membukanya. Dan seketika matanya langsung terbelalak saat melihat isi dari pesan itu.
"Fatimah! Siapa Pria ini? Kenapa dia memegang tangannya Fatimah?!" gumam Haidar, dengan tatapan mata yang terlihat begitu tajam melihat layar hpnya yang ternyata disana terdapat foto Fatimah dengan seorang laki-laki berjas putih. Dan tak berapa lama masuk lagi, sebuah pesan, yang kali ini berisikan tulisan dari Rindhima.
...⊶⊷⊶⊷⊷•...
...⊶⊷⊶⊷⊷•...
Rahangnya Haidar langsung mengeras setelah ia membaca pesan dari Rindhima. Bahkan ia langsung membanting handphonenya kelantai, "Brengsek! Seenaknya saja dia mau ngambil istriku! Ini tidak bisa dibiarkan!" geram Haidar, seraya ia bangkit dari duduknya, lalu ia pun langsung mengambil jasnya yang ia sampirkan disandaran kursinya. Setelah itu ia pun langsung bergegas menuju pintu, dan baru saja ia hendak membuka, ternyata Leo lebih dulu membukanya.
"Eh! Mau kemana Bang? Ini kopinya sudah saya bikinkan," kata Leo, sambil menunjukkan baki yang sedang ia pegang. Dan diatas baki tersebut terdapat secangkir kopi.
"Buang saja kopi itu! Sekarang antar aku kerumah sakit!" ujar Haidar, terdengar begitu tegas, membuat Leo bingung dibuatnya.
__ADS_1
"Hah? Tadi bukannya Anda.." balas Leo. Namun belum lagi ia menyelesaikan kata-katanya, tangan Haidar, langsung menghempaskan baki yang ia pegang ke lantai, membuat Leo begitu kaget.
PRAAANG!! gelas pun langsung hancur, diatasnya baki.
"Sekarang kita pergi!" kata Haidar, seraya ia berjalan, dengan tergesa-gesa. Membuat Leo, benar-benar heran melihatnya.
"Ada apa sebenarnya? Apakah terjadi sesuatu pada Nona Fatimah?" batin Leo, seraya ia mengikuti langkahnya Haidar dari belakangnya
Setibanya mereka ditempat perparkiran, Haidar langsung menuju ke mobilnya. Dan bahkan ia memilih duduk dibelakang kemudinya, membuat Leo terkejut melihatnya,
"Eh! Bang kenapa Anda.."
"Sudah jangan banyak tanya cepat masuk!" potong Haidar dengan suara kerasnya. Membuat Leo tak berani membantahnya, dan akhirnya ia pun masuk dan duduk di kursi tepat disamping kursi pengemudi. Setelah dilihatnya Leo masuk, Haidar pun langsung melajukan mobilnya dengan cepat.
Setelah mobil berada dijalanan lintas, Haidar pun langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Membuat tubuh Leo menjadi tegang dibuatnya. Pasalnya Haidar mengemudikan mobilnya sudah seperti orang kesetanan. Sehingga dalam waktu yang sangat singkat, mobilnya sudah terparkir tepat didepan pintu lobiy rumah sakit.
"Aah.. hah.. hah..! Akhirnya.. gue selamat juga!" ucap Leo, sambil menepuk-nepuk dadanya. Sedangkan Haidar langsung bergegas turun dan langsung masuk ke rumah sakit tersebut.
"Huh! Dasar Mafia gila! Gue hampir mati dibuatnya! Nyetir mobil kaya orang kesurupan gitu! Bikin gue tegang aja! Hah..! Sebenarnya ada apa sih? Sampai segitu banget terburu-burunya?" gerutu Leo, antara kesal dan juga penasaran, "Aah.. bodo akh! Gue ngademi jantung gue dulu dah! Baru nanti gue nyusul!" gumam Leo sambil menyandarkan kepalanya di sandaran kursinya.
"Tenang-tenang jantung. Bangun-bangun.. makan nasi sama garam,"
...*••••••••••⊶•❉্᭄͜͡💓❉্᭄͜͡•⊶•••••••••*...
__ADS_1
Terus dukung author ya guys dan jangan lupa berikan 👉 ⭐ ⭐⭐⭐⭐ + 👍 serta komentarnya oke 😉 🙏🥰