
•⊶⊷❉্᭄͜͡💓 Mutiara Hikmah 💓❉্᭄͜͡⊶⊷•
Ketika engkau melihat orang lain mendapat nikmat kemudian engkau mendo'akan kebaikan untuknya, Itu menandakan kebersihan hatimu, tidak ada rasa iri atau dengki. Nikmat yang didapat saudara kita tidak lain karena pemberian dari Allaah Ta'ala, nikmat yang didapat saudara kita tidak lain atas ke Maha Bijaksanaan Allaah Ta'ala,
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah. Beliau berkata,
“Wahai Saudaraku, apabila Engkau melihat Allaah memberikan seorang hamba suatu kenikmatan, berusahalah agar Engkau seperti dia. Janganlah Engkau benci dengan apa yang telah Allah Ta’ala karuniakan kepada saudaramu.
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
•⊷⊷⊶⊷⊶⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💓❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶⊷⊶⊷⊷•
Haidar sangat frustasi saat melihat keadaan perusahaan yang berhenti beroperasi, akibat ulah putrinya. Sudah berbagai cara ia lakukan, bahkan ia juga memperintahkan para bawahannya agar secepatanya perusahaan bisa beroperasi lagi. Namun tetap saja semua hasilnya nihil. Hingga akhirnya Leo memberikan saran padanya agar ia mengalah pada Rindhima.
"Apa kamu bilang?! Aku harus mengalah, gitu hah?!" teriak Haidar, yang tampaknya ia benar-benar sudah diliputi oleh amarahnya. Karena memikirkan perusahaannya juga.
"Bang dengarkan saya! Masalah ini bukan hanya mengenai perusahaan saja. Tapi ini juga menyangkut Rindhima Bang! Ingat Bang, bukankah Abang pernah berjanji di depan pusaranya Kak Kaylakan? Kalau Abang akan membahagiakan putrinya bukan? Lalu kenapa sekarang Abang mengingkarinya? Malahan Abang membuat ia menjadi anak yang tidak kita kenali sekarangkan? Apakah Abang ingin menjadi dia anak yang tidak memiliki perasaan lagikah?"
Mendengar perkataan dari sang Adik iparnya Haidar pun terdiam. Karena sepertinya ia mulai teringat akan janji-janjinya pada Putri kecilnya. Dan seketika wajah yang tadinya terlihat begitu menyeramkan, kini sudah kembali seperti biasanya. Namun sekilas terlihat diwajah itu ada sebuah penyesalan yang tersirat disana. Dan tak berapa lama terdengar helaan nafas darinya.
"Huuft..! Ya sudah kalau begitu ayo kita berangkat sekarang!" ucapnya secara tiba-tiba. Membuat Leo menjadi bingung melihatnya.
"Berangkat? Berangkat kemana Bang?" tanya Leo terlihat bingung dan penasaran.
"Ya ketempat wanita Aneh itulah! Emangnya mau kemana lagi hah?!" bentak Haidar, membuat Leo langsung tersentak kaget.
__ADS_1
"Eh! Aah.. baiklah Bang!" balas Leo, yang akhirnya ia pun mengikuti langkah Abang iparnya itu. Ada perasaan lega didalam dirinya, karena pada akhirnya, Haidar mau mendengarkan perkatanya.
"Hubungi Daniel, untuk menyiapkan helikopternya segera! Karena perusahaanku tidak bisa menunggu lebih lama lagi!" ujar Haidar saat mereka sudah berada di dalam lift.
"Baik Bos!" kata Leo, karena saat ini ternyata mereka tidak hanya berdua saja. Ada Haris yang turut serta mengikuti mereka, "Sudah Bos! Daniel sudah menunggu kita!" lanjut Leo lagi.
"Bagus! Ya sudah ayo kita kesana sekarang!" balas Haidar, tatkala pintu lift terbuka. Lalu ketiganya pun langsung bergegas keatas gedung. Karena disanalah helikopter Haidar berada.
...🍃🍃🍃...
Sementara itu di sisi lain.
Di sebuah rumah sederhana, tanpak seorang wanita bercadar sedang berbicara pada seorang Pria paruh baya di teras rumah sederhana itu. Kalau dilihat dari raut wajah sang pria, tampaknya mereka sedang membicarakan hal yang serius. Bahkan di mata pria tersebut terlihat ada genangan air mata yang tampaknya akan segera jatuh. Namun ia tetap berusaha untuk menahannya.
"Maafkan Abi ya Nak? Karena peristiwa itu, Abi jadi tidak bisa bekerja lagi. Padahal Dokter mengatakan, Umi kamu harus secepatnya di operasi Nak. Tapi Abi malah jadi seperti ini, sekarang dari mana kita mendapatkan biaya untuk Umi kamu?" ujar Pria paruh baya itu, sambil ia menundukkan wajahnya. Tampaknya ia sedang berusaha menyembunyikan kesedihannya.
"Ya sudah, sebaiknya Abi istirahat saja ya? Fatimah soalnya Mau menjenguk Umi, Abi nggak papakan kalau Imah tinggal?" tanya Fatimah lagi, dengan nada suara yang terdengar begitu lembut.
"Nggak papa kok Nak, pergilah, Lagiankan sebentar lagi, Adik kamu akan pulang. Jadi kamu tidak usah mengkhawatirkan Abi, ya?"
"Baiklah Bi, kalau begitu Imah, Pergi ya, Assalamu'alaikum?" pamit Fatimah, seraya ia menyalami tangan sang Ayah serta mengecupnya.
"Iya Nak, hati-hati ya? Wa'alaikumus salam,"
Setelah mendapatkan jawaban salamnya Fatimah pun langsung beranjak pergi meninggalkan sang Ayah, yang terlihat masih menatap kepergiannya.
__ADS_1
"*Ya Allah, lindungilah putriku kemana pun dia berada. Dan mudahkanlah segala urusannya. Dan berikanlah ia kebahagiaan dunia maupun di akhirat, Aamiin," batin sang Ayah Fatimah.
...***...
Sementara di sisi lain*.
Setelah berjalan selama tiga puluh menit, Fatimah pun sampai di sebuah rumah sakit, yang tak berapa jauh dari rumahnya. Makanya ia memilih berjalan Kaki untuk ke rumah sakit tersebut. Sesampainya di rumah sakit, Fatimah langsung bergegas menuju ruang rawat sang ibu. Setibanya di ruangan tersebut, Fatimah begitu terkejut, saat melihat, sang dokter dan perawat yang terlihat sedang melakukan pemeriksaan terhadap ibunya.
"Ada apa ini Dok? Apa yang telah terjadi pada ibu saya?" tanya Fatimah terlihat begitu cemas melihatnya.
"Mari kita bicara diluar saja Nona!" balas sang Dokter, lalu ia pun langsung bergegas keluar dari ruangan tersebut. Karena rasa penasarannya begitu kuat, akhirnya Fatimah pun akhirnya mengikuti langkah sang Dokter.
Setelah mereka berada di luar, sang Dokter langsung membalikkan tubuhnya untuk menghadap ke arah Fatimah.
"Begini Nona, keadaan Ibu Anda semakin buruk, jadi Beliau sepertinya tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Maka dari itu, sebaiknya Anda harus secepatnya mengambil keputusannya Nona. Karena kita harus secepatnya mengoperasikan beliau," jelas Sang Dokter.
Mendengar perkataan sang dokter, Fatimah langsung tersentak. Bahkan tubuh Fatimah langsung gemetaran, "Ta-tapi Dok, Sa-saya belum memiliki Uangnya. Apa tidak bisa melakukan operasi dulu, Dok? Dan insya Allah, setelah operasi biaya akan saya cicil," tanyanya dengan suara yang terdengar bergetar.
"Maaf tidak bisa Nona. Operasi akan dilakukan, apabila Anda sudah melakukan pelunasan Nona," ujar sang Dokter.
"Tapi Dok, saya tidak memiliki Uang sebesar lima puluh juta Dok. Uang Saya hanya ada lima juta saja, Dok," balas Fatimah tampak bingung.
"Maaf Nona ini sudah menjadi peraturan dari pihak rumah sakit ini. Jadi ibu Anda bisa di operasi apabila Anda sudah melakukan pelunasan Nona. Jadi sekali lagi Maafkan saya karena tidak bisa membantu Anda," ujar sang Dokter itu lagi. Dan disaat bersamaan terdengar suara bariton seorang pria.
"Saya bisa membantu Anda! Asalkan Anda mau mentanda tangani surat kontrak pernikahan ini!"
__ADS_1
...*••••••••••⊶•❉্᭄͜͡💓❉্᭄͜͡•⊶•••••••••*...
Terus dukung author ya guys dan jangan lupa berikan 👉 ⭐ ⭐⭐⭐⭐ + 👍 serta komentarnya oke 😉 🙏🥰