
Mendengar perkataan Rindhima, serta melihat tatapan kebenciannya. Membuat hati Haidar terasa begitu sakit. Bahkan ini jauh lebih sakit, ketimbang saat ia melihat kepergian istrinya. Karena bagi Haidar, putrinya itu adalah belahan jiwanya. Sehingga ia tidak pernah bisa mengabaikan setiap permintaan si kecil. Dan alasan itu jugalah yang membuat ia mengapa belakangan ini tidak bisa dihubungi. Disaat istrinya sedang sakit parah.
Yaa.. belakangan ini Haidar lebih memilih mematikan Handphonenya. Waktu perjalanan bisnisnya keluar Negeri kemarin. Dia melakukan itu karena biasanya putrinya tersebut, akan selalu menghubunginya dan meminta sesuatu yang membuat perkerjaan selalu terganggu dan Akhirnya ia akan pulang dengan hasil yang sia-sia. Dan karena kejadian itu tak ingin terulang lagi, makanya ia sengaja mematikan Handphonenya.
Namun siapa sangka hal itu malah menjadi sebuah penyesalan seumur hidup bagi Haidar. Selain ia kehilangan istrinya, kini malah mendapatkan kebencian dari belahan jiwanya. Hal itu membuat ia semakin sedih, pasalnya semenjak hari pemakaman ibunya Rindhima selalu mengurung diri di kamarnya. Bahkan ia tak pernah mau bicara pada dirinya lagi.
"Rindhi, bisakah kita bicara empat mata Nak? Daddy akan menjelaskan semuanya pada kamu. Please Nak, beri Daddy, kesempatan sekali saja Nak!" seru Haidar, sambil sesekali mengetuk pintu kamar putri kecilnya itu. Karena saat ini Haidar sedang berdiri di depan pintu kamarnya Rindhima. Dan tetap saja Rindhima tidak memberikan respon sedikit pun. Hal itu membuat Haidar kembali menelan kekecewaannya lagi.
Hati Haidar semakin terasa sakit, karena sudah tiga hari juga, Rindhima tak mau bertemu dengannya. Dan akhirnya dengan langkah gontai Haidar kembali meninggalkan kamar putri kecilnya dengan perasaan yang begitu hancur.
Kini ia sudah berada dikamarnya sendiri. Dan entah mengapa tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah figura besar yang terpampang di dinding, tepat diatas kepala tempat tidur. Ia pandangi fotonya
"Aaaakh.. mengapa jadi begini sih? Karena ambisi ku, Aku malah kehilangan semuanya! Aaakh..!!" gerutu Haidar begitu kesal pada dirinya sendiri.
Saking kesalnya, ia langsung melemparkan handphone yang kebetulan sedang ia pegang Kedinding kamarnya dengan sekuatnya. Sehingga Handphonenya langsung hancur berkeping-keping. Disaat seperti itu ia melihat Kilauan cahaya merah yang menempel di dinding tersebut.
__ADS_1
"Kamera cctv?" gumamnya sambil mengerutkan keningnya, "Aah.. hpku sudah hancur lagi! Hah.. ya sudah aku lihat diruang kerjaku sajalah!" gumamnya lagi. Lalu ia pun langsung bergegas pergi dari kamarnya. Dan ia pun langsung menuju ke lantai tiga. Setibanya di sana ia langsung masuk ke ruang kerjanya dan ketika ia berada di dalam ia sedikit terkejut melihat keadaan meja kerjanya yang terlihat sedikit berbeda.
"Eh? Siapa yang masuk keruangan ini? Kenapa posisinya pada berbeda? Kayaknya tidak ada yang tahu deh, kode pintu masuk ruangan ini? Bahkan Keyla juga tidak tahu," gumam Haidar, merasa aneh. Dan tatapannya langsung mengarah ke dinding sudut bagian atas dan tampaklah kamera cctv yang masih menyala.
"Baiklah mari kita lihat, siapa yang telah lancang memasuki ruangan ini!" gumam Gibran lagi, dengan mata yang terlihat sedikit geram. Lalu Haidar pun langsung duduk di kursi kebesarannya, dan karena rasa penasarannya semakin besar ia pun langsung membuka laptopnya. Dan kemudian ia langsung melihat rekaman yang terekam oleh kamera cctvnya.
Pada awalnya Haidar terlihat biasa-biasa saja saat melihat rekaman cctvnya. Namun ketika rekaman memasuki tanggal dihari pemakaman istrinya, seketika matanya langsung terbelalak. Karena memang dihari itu juga Rindhima berhasil merentas perusahaannya Haidar.
"Hah.. Rindhima? Benarkah yang aku lihat ini? Jadi yang merentas perusahaanku hari itu, adalah Rindhima?" gumam Haidar, masih terlihat tidak percaya dengan apa yang sedang ia lihat saat ini. Karena masih belum percaya pada penglihatannya, akhirnya Haidar pun kembali mengulangi untuk melihat rekaman cctvnya lagi.
Menyebut nama Keyla, seketika Haidar teringat pada niatnya yang awal ia mendatangi keruang kerjanya. Yaitu ingin melihat rekaman cctv yang berada di kamarnya, yang sudah pasti dikamar itu jugalah istrinya menghembuskan nafas terakhirnya. Makanya ia penasaran dan ingin melihat apa yang terjadi sebenarnya. Karena tidak ada satu pun yang mau menceritakan apa yang telah terjadi pada istrinya.
Haidar kembali membuka rekaman cctv yang berada di kamarnya. Dan terlihatlah olehnya dari ketika istrinya masih terlihat sehat, bahkan direkaman itu ia juga melihat saat-saat mereka sedang bermesraan, hingga akhirnya ia juga melihat saat-saat istrinya sedang menahan sakit. Dan ia juga dapat melihat saat dokter memasangkan alat-alat medis ketubuhnya. Hingga pada akhirnya ia juga dapat mendengar saat-saat ia meminta Rindhima untuk berjanji padanya untuk tidak membenci Ayahnya.
Disepanjang Haidar melihat rekaman cctv tersebut. Ia tak henti-hentinya menitikkan air matanya. Bahkan ia menangis sampai keseguk-segukan. Dan sesekali terdengar lirih ucapan kata maaf dari bibirnya. Tampak sekali dari raut wajahnya ada penyesalan yang amat sangat, karena ketidak pekaan dirinya terhadap istrinya itu.
__ADS_1
"Heuheu..hiks..hiks..hgsk.. maaf...hiks.. maaf Key..hiks.. heuheu..higk..higk.. maaf key.." ucap Haidar terdengar lirih, sambil ia menatap layar laptopnya dimana disana terlihat wajah istrinya yang sedang memakai selang pernafasannya.
"Heuheu..Dasar Bodoh! Bodoh! Hiks..Aku suami yang bodoh! Hiks.. tidak memiliki kepekaan sama sekali! Sampai kamu sakit seperti ini aku tidak tahu sama sekali! Hiks.. heuheuheu..hiks..hiks.. maaf Key! Hiks.. hiks.. maafkan aku! Hiks.. heuheuheu..hiks.. Aaaakh!!..hiks.. high.. heuheuheu.." Tangis Haidar akhirnya pecah kadang ia mengacak-ngacak rambutnya karena kesalnya kadang juga ia memukul-mukul dadanya, karena dihatinya terasa amat sakit.
Haidar masih terlihat terisak-isak dengan tatapan masih mengarah ke layar laptopnya. Dan disaat rekaman menunjukkan sisi ketegaran Rindhima. Tangis Haidar kembali pecah, karena pada akhirnya ia tahu, mengapa putri kecilnya itu amat membenci dirinya.
"Heuheuheu..hiks..Aku memang pantas dibenci Rindhima! Hiks..hiks.. karena aku bukanlah seorang suami maupun Ayah yang baik untuk mereka! Hiks..hiks.. Maafin kok Daddy, Nak! Maafkan Daddymu yang bodoh ini..hiks..Daddy memang jahat..hiks..dan Daddy pantas mendapatkan kebencian darimu, Nak.. hiks. hiks.." ucap Haidar masih terisak sambil merutuki dirinya sendiri.
"Tapi mulai hari ini Daddy janji, tidak akan pernah meninggalkan kamu Rindhima. Dan Daddy janji akan melakukan apapun yang kamu inginkan. Asalkan Daddy mendapatkan cinta kamu lagi!"
Itulah ucapan janji Haidar pada Rindhima. Dan ia juga bertekad akan merebut kembali cinta Putri kecilnya yang saat ini telah hilang, karena perbuatannya sendiri.
...⊷⊶⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💓❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶⊷...
Terus dukung author ya guys dan jangan lupa berikan Vote + ⭐ ⭐⭐⭐⭐ + 👍 serta komentarnya oke biar Author semangat Update lagi loh.😉 Syukron 🙏🥰
__ADS_1