RINDHIMA Putri Sang Mafia

RINDHIMA Putri Sang Mafia
RINDHIMA.


__ADS_3

*••••••❉্᭄͜͡💓 Mutiara Hikmah 💓❉্᭄͜͡••••••*


JANGAN REMEHKAN DOSA


Amal saleh adalah perbendaharaan surga. Siapa ingin mendapatinya, dia layak mengusahakannya sejak di dunia. Demikian pula amal salah, dia adalah perbendaharaan neraka yang akan mendatangkan kesusahan bagi pelakunya.


Maka, ada satu nasihat berharga dari Al-Imam Hasan Al-Bashri. Beliau berkata:


"Wahai anak Adam, engkau kelak akan melihat seluruh amalmu akan ditimbang, yang baiknya maupun yang buruknya. Maka, janganlah engkau meremehkan sebuah amalan kebaikan.


Walau amalanmu itu kecil, kelak engkau akan berbahagia kala melihatnya. Dan, janganlah engkau meremehkan sebuah amal keburukan. Walaupun kecil, kelak engkau akan bersedih jika melihatnya." (Abu Nu'aim, Hilyatul Auliyâ').


__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__


•••••••••••••••••••⊶•❉্᭄͜͡💓❉্᭄͜͡•⊶••••••••••••••••••


Keesokan harinya di perusahaan Haidar.


Dua puluh empat jam, waktu yang diberikan oleh Rindhima ketika ia mengancam Haidar. Dan kini waktu dua puluh empat jam tersebut telah berlalu. Namun Haidar tampaknya telah melupakan ancaman itu. Bahkan ia terlihat biasa-biasa dan hanya terfokuskan pekerjaannya saja. Dan disaat ia sedang meneliti file-file yang sedang bertumpuk di meja kerjanya. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.


"Masuk!!" serunya tanpa menoleh ke pintu sedikitpun.


"Permisi Pak! Sudah waktunya Anda menghadiri rapat!" ucap seorang pria yang baru saja masuk keruangan kerjanya.


"Hmm.. apakah kamu sudah menyiapkan segalanya Haris?" tanya Haidar masih terfokus pada salah satu filenya. Namun ia tetap tahu siapa yang baru saja masuk ke ruangannya tersebut.


"Sudah Pak! Saya sudah menyiapkan semuanya!" balas harus terdengar tegas.


"Bagus! Kalau begitu ayo sekarang kita pergi keruang rapat!" ajak Haidar. Seraya ia bangkit dari kursi kebesarannya. Lalu ia langsung melangkahkan kakinya menuju pintu keluar. Sambil ia membenarkan kacing jas hitamnya.

__ADS_1


Setelah berjalan menelusuri koridor yang terdapat di kantornya, kini Haidar terlihat Berhenti tepat didepan pintu dua. Seperti biasanya, Harislah yang selalu membukakan pintu untuknya. Setelah pintu terbuka, Haidar pun langsung masuk ke ruangan tersebut. Yang ternyata di sudah berkumpul para staf yang akan mengikuti jalannya rapat tersebut.


"Selamat siang semuanya! Sekarang mari kita mulai rapat kita!" ucap Haidar. Dan seperti biasanya apabila Haidar sudah berada di ruang rapat tersebut maka wajah-wajah para stafnya pun langsung tegang.


"Baiklah, hari saya mau mendengarkan laporan dari tim perencanaan dulu gimana perkembangan.." lanjut Haidar lagi. Namun belum sempat ia menyelesaikan kata-katanya tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar. Membuat rahang Haidar langsung mengeras.


"Brengsek! Siapa yang sudah berani mengganggu jalannya rapat ini!" bentak Haidar sambil menggebrak meja yang ada di hadapannya itu, "Haris! Seret dia kemari!" serunya lagi pada Haris.


"Baik Pak Presdir!" Haris pun langsung bergegas menuju ke pintu dan tak berapa lama ia kembali lagi bersama seorang pria yang sepertinya ia sedikit ketakutan.


"Ma-maaf Pak Presdir! Sa-saya telah lancang mengganggu rapat Anda!" ujar Pria itu, terlihat ia begitu gugup.


"Heh! Kamu sudah tahukan akibat yang akan kamu dapatkan hah?!" balas Haidar, dengan tatapan serta suara yang terdengar begitu dingin. Membuat para staf yang berada di ruang rapat tersebut langsung bergidik melihatnya.


"Ta..tau pak!" bales pria itu sambil menundukkan wajahnya.


"Lalu apa yang membuat kamu memiliki keberanian ini hah?!" tanya Haidar, tanpa ingin memandang pria itu sedikit pun.


Mendengar perkataan pria tersebut dengan spontan Haidar langsung berdiri sambil menggebrak mejanya lagi.


"Apa!! Sialan! Kenapa tidak bilang dari tadi hah?!" teriak Haidar begitu keras., "Haris! ayo kita ke ruang kontrol!!" teriaknya lagi, lalu ia pun langsung bergegas pergi menuju keruang keamanan sistem, dengan diikuti Haris dari belakangnya.


Sesampainya di ruang tersebut, Haidar langsung masuk. Dan tampaklah olehnya kesibukan semua dari para stafnya yang di bagian keamanannya tersebut, "Bagaimana apakah kalian sudah mengetahui siapa yang merentas perusahaanku hah?!" serunya dengan wajah yang terlihat sudah dipenuhi dengan amarah yang amat menyeramkan bagi para karyawannya.


Melihat wajah Bosnya yang begitu menyeramkan. Membuat tidak ada satupun yang berani mengeluarkan suaranya. Melihat hal itu membuat Haidar malah semakin geram.


"Apakah Aku sudah memperkerjakan orang-orang yang bisu! Sehingga tak satupun dari kalian yang buka suara hah?!" teriak Haidar. Namun tetap saja tak ada satupun yang berani berbicara. Semuanya lebih memilih diam, Haidar semakin murka.


"Haris!! Pecat semua orang yang ada disini! Dan cari penggantinya sekarang juga!!" teriak Haidar lagi, membuat semua para staf bagian keamanan terkejut mendengarnya.

__ADS_1


"Tapi Bos! Akan semakin panjang kalau mereka langsung di pecat Bos! Di tambah lagi, untuk mencari pengganti mereka akan memakan waktu yang tidak sebentar! Itu malah akan memperkeruh keadaan Bos!" balas Haris, mengingatkan Haidar.


"Aku tidak perduli! Pokoknya pecat mereka semua! Sekarang suruh mereka keluar semuanya! Cepat!!" teriak Haidar lagi, yang nampaknya ia sudah tidak bisa berpikir secara rasional lagi. Karena emosionalnya telah menguasai dirinya secara penuh. Sehingga ia tak memperdulikan peringatan yang diberikan oleh Haris.


Haris sudah tak bisa membantahnya lagi. Dan mau tak mau akhirnya ia mengikuti perintah dari Bos itu. Dan kini ruangan keamanan sistem diperusahaannya tampak lengang. Hanya tersisa Haidar seorang diri. Karena saat ini Haris sedang menjalankan tugasnya yaitu mencari pengganti untuk para stafnya yang telah di pecat oleh Bosnya itu.


"Brengsek! Sebenarnya siapa yang sudah bermain-main denganku! Tampaknya dia sudah bosen hidup!!" gumam Haidar, dengan emosi yang terlihat sedang meluap-luap. Dan disaat bersamaan terdengar suara ketukan pintu dari luar.


"Masuk!!" teriak Haidar dan tak berapa masuklah seorang pria.


"Ada apa ini sebenarnya Bang? Mengapa semua karya.." tanya pria tersebut. Namun saat matanya melihat di sekitarnya kosong ia pun tak melanjutkan perkataannya.


"Jangan banyak tanya Leo! Sebaiknya kamu bantu Aku melancak siapa sebenarnya yang telah merentas perusahaanku!" titah Haidar yang terlihat kini ia sudah berada di depan layar monitor komputernya.


"Apa! Di rentas! Baik Bang!" balas pria itu yang ternyata ia adalah Leo. Dan ia pun langsung mengambil posisi duduk disalah satu monitor yang terlihat masih menyala. Dan ia pun memulaikan aksinya.


Hampir dua jam mereka berkutik di depan monitor komputernya. Hingga akhirnya Leo berhasil melacak sang perentas. Dan ia begitu terkejut saat melihat alamat yang tertera di layar komputernya.


"Dapat Bang!" katanya dan dengan spontan Haidar langsung bergegas menghampirinya.


"Dimana?! Cepat suruh bawahan pun menyeret orang tersebut!" titah Haidar terdengar tegas.


"Tapi Bang! Alamat IDnya berasal dari rumah Anda!" ujar Leo. Membuat Haidar terkejut dan ia pun langsung menatap wajah Leo. Yang sepertinya keduanya sudah bisa menebak siapa dalangnya.


"Hah..? Berarti yang merentas perusahaanku..?" ucap Haidar


"Rindhima!!" ucap keduanya secara bersamaan.


...*••••••••••⊶•❉্᭄͜͡💓❉্᭄͜͡•⊶•••••••••*...

__ADS_1


Terus dukung author ya guys dan jangan lupa berikan 👉 ⭐ ⭐⭐⭐⭐ + 👍 serta komentarnya oke 😉 🙏🥰


__ADS_2