RINDHIMA Putri Sang Mafia

RINDHIMA Putri Sang Mafia
SUDAH MENJADI SEORANG KAKAK.


__ADS_3

•⊶⊷❉্᭄͜͡💓 Mutiara Hikmah 💓❉্᭄͜͡⊶⊷


Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."


(Q.S Az Zumar :53)


Ketika kegagalan kembali menghampiri sedang kau sudah berusaha berkali-kali. Jangan mundur, jangan menyerah, maju terus sampai kata gagal itu kalah. Tiada usaha yang sia-sia bagi mereka yang mau berusaha. Di balik kata gagal itu, ada pengalaman berharga yang kau dapat sebagai kenang-kenangan terindah dari kegagalan


Dan dari pengalaman itulah kau mampu tuk belajar lebih banyak pelajaran yang tak pernah kau ketahui sebelumnya. Percayalah bahwa Allah tak akan membuatmu kesusahan tanpa memberimu kebahagiaan


__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__


•⊷⊷⊶⊷⊶⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💓❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶⊷⊶⊷⊷


Setelah mendapatkan telpon dari Haidar, Leo pun langsung membawa Rindhima berserta istrinya ke rumah sakit tempat Haidar membawa Fatimah. Setibanya mereka dirumah sakit, mereka ternyata sudah ditunggu oleh Haidar didepan lobby rumah sakit. Hal itu membuat Leo merasa heran.


"Loh Bang, kenapa Anda berada disini? Kenapa tidak menunggui kak Fatimah?" Tanya Leo dengan memasang wajah penasarannya.


Namun bukannya dijawab oleh Haidar, ia malah langsung meraih tubuh Rindhima yang saat ini sedang berada di dalam gendongan adik iparnya itu. Setelah itu ia langsung memeluk tubuh kecil itu dengan erat, serta berkali-kali ia mengecup wajah Rindhima dengan mata yang terlihat sedikit berkaca-kaca. Membuat Leo maupun Yasmin semakin penasaran dengan apa yang telah terjadi.


"Sebenarnya ada apa Bang? Ceritakanlah pada kami?" Tanya Yasmin terlihat amat penasaran. Mendengar pertanyaan dari Yasmin, membuat Haidar enggan untuk mengabaikannya,


"Tadi Fatimah sempat kritis," balas Haidar. Membuat Yasmin terlihat begitu terkejut.

__ADS_1


"Astaghfirullah Fatimah!" Sentak Yasmin, sambil menutup mulutnya. "Sebenarnya apa yang telah terjadi pada Fatimah Bang?" Tanya Yasmin, tampak ia begitu mencemaskan sahabatnya itu.


"Tadi Fatimah sempat mengalami pendarahan yang hebat. Dan para dokter sempat kewalahan karena golongan darah Fatimah sulit didapat, untungnya ada seseorang yang berbaik hati yang rela mendonorkan darahnya. Akan tetapi saat aku ingin menemui si pendonor itu, ternyata dia telah pergi begitu saja. Tanpa jejak sedikitpun, saya sudah mencari tapi orang tersebut benar-benar menghilang begitu saja," balas Haidar, yang akhirnya ia menceritakan apa yang terjadi pada Fatimah. Dan untuk sesaat ia menjedah perkataannya. Sambil menatap wajah putri kecilnya, dan kembali ia memberikan kecupan lembut pada dahinya Rindhima.


"Pada awalnya aku merasakan ada hal yang aneh. Namun saat mendengar perkataan Leo ditelpon tadi, akhirnya aku paham. Karena ternyata, segala pertolongan yang datang hari ini, semuanya atas permohonan putri kecilku ini. Makanya Allah mengirimkan para malaikat-Nya untuk menyelamatkan istriku," lanjut Haidar, seraya ia menyatukan dahinya ke dahinya Rindhima.


"Terima kasih Nak. Berkat doa-doa yang kamu panjatkan, Allah telah memberikan keselamatan untuk Umi dan Adik kamu. Dan sekarang keduanya dalam keadaan baik-baik saja," ucap Haidar lagi, sambil menatap wajah putri kecilnya, yang saat ini juga sedang menatap sang Ayahnya.


"Hmm.. be-benarkah Dad? Benarkah Umi dan Adik Indhi sekarang baik-baik saja?" Tanya Rindhima dengan mata yang terlihat begitu berbinar.


"Benar Sayang. Apakah sekarang kamu mau melihat mereka hm?" Balas Haidar, seraya menoel pucuk hidungnya Rindhima.


"Mau! Mau-mau Dad! Indhi mau melihat mereka!" Ujar Rindhima dengan spontan dan juga penuh semangat.


Setibanya di depan ruangannya Fatimah, Haidar pun langsung membuka pintu ruangan tersebut. Dan tampaklah oleh mereka, Fatimah yang terlihat masih berbaring di tempat tidurnya dalam keadaan yang terlihat masih lemah. Namun ia masih sempat menyunggingkan senyumannya, saat melihat Rindhima.


Melihat senyuman sang ibu sambungnya, Rindhima pun meminta diturunkan dari gendongannya Haidar. Setelah itu ia langsung berlari menuju ke pembaringannya Fatimah. Bahkan ia langsung naik ketempat tidur tersebut dan duduk tepat disisinya Fatimah. Untuk sejenak ia hanya menatap wajah sang ibu yang terlihat masih sangat pucat. Membuat Fatimah, mengerutkan keningnya, karena sepertinya ia merasa heran melihat tingkah putri sambungnya itu. Yang biasa, ia selalu memeluk dirinya, setiap kali bertemu.


"Kok malah diam aja sih? Emangnya nggak mau ya meluk Umi lagi, hm?" Tanya Fatimah, terdengar masih lemah.


"Mau kok. Tapikan Uminya masih sakit, nanti kalau Indhi peluk, takutnya.." balas Rindhima, namun langsung di potong oleh Fatimah.


"Nggak papa kok Sayang. Sini Umi saja yang peluk kamu," kata Fatimah, sambil ia menarik tangan Rindhima. Dan otomatis, tubuh kecil itu langsung terjerembab ke dalam pelukannya Fatimah. Dan aneh Rindhima malah menetes air matanya, saat berada didalam pelukan sang ibu.

__ADS_1


"Loh kok putri Umi malah nangis sih? Kenapa Sayang?" tanya Fatimah, seraya menghapus air matanya Rindhima yang sudah membasahi pipinya gembulnya.


"Hiks..Umi, jangan sakit lagi ya? Indhi nggak mau melihat Umi sakit. Hiks..hiks.. kalau Umi sakit, hiks.. Indhi takut Umi juga pergi hiks..hiks..kayak Mommynya Indhi, hiks.. hiks.." balas Rindhima, yang akhirnya ia mengeluarkan unek-unek yang selalu tersimpan di hatinya.


"Sssth.. jangan berpikir yang aneh-aneh ya Sayang? Kamu hanya cukup mendoakan Umi yang terbaik oke. Bukankah tadi kamu juga doakan Umikan? Sekarang lihatlah, Umi baik-baik sajakan? Dan ini semua berkat doa-doa Indhi loh. Jadi kedepannya, Indhi cukup doakan Umi yang terbaik oke Sayang?" balas Fatimah memberi pengertian pada putri kecilnya itu. Mendengar perkataan sang Ibu Rindhima hanya membalasnya dengan anggukan kepalanya saja.


"Alhamdulillah, sekarang jangan nangis lagi dong. Masa sudah menjadi seorang kakak, masih suka nangis sih? Malu dong sayang sama Adik kamu, nanti kalau dia lihat bagaimana hayo?" lanjut Fatimah, terdengar sedikit meledek.


"Enggak kok! Indhi nggak cengeng lagi," balas Rindhima, seraya ia menghapus air matanya dengan cepat-cepat, "Tuh lihat Umi, Indhi udah nggak nangis lagi kok," lanjutnya, sambil menunjuk ke dua pipinya, yang kini telah kering.


"Alhamdulillah.. ya sudah kalau begitu, sekarang, kamu sudah boleh lihat adik kamu. Pasti saat ini dia sedang nungguin kakaknya loh," kata Fatimah, sambil mengedipkan matanya.


"Aah.. iya! Indhi juga ingin melihat Adik Umi! Indhi bolehkan lihat adik bayinya sekarang Umi?" tanya Rindhima dengan mata yang terlihat berbinar.


"Boleh dong Sayang. Ya sudah sekarang pergilah.." balas Fatimah, namun belum lagi ia menyelesaikan perkataannya, Rindhima sudah langsung meluncur menuju, ke box baby yang tak berapa jauh dari tempat tidurnya Fatimah.


"Hai Dede! Perkenalkan, ini kakak Indhi," ujar Rindhima, saat ia sudah berada di sisi Box babynya Fatimah. "Eh, kenapa Dedenya mulut begitu Dad?" tanya Rindhima, saat melihat wajah bayinya Fatimah.



Mendengar pertanyaan Rindhima, dengan spontan Haidar langsung menghampiri Box babynya dan berdiri tepat di samping Rindhima. Dan seketika, matanya terbelalak saat melihat bayinya.


"Haah? Ada apa dengan Babyku?!"

__ADS_1


...⊷⊶⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💓❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶⊷...


__ADS_2