
*••••••❉্᭄͜͡💓 Mutiara Hikmah 💓❉্᭄͜͡••••••*
Nasihat yang dibutuhkan oleh kekhilafan adalah yang kehadirannya diterima bak tamparan keras mengguncang seantero jiwa, sehingga kesadaran diri yang sempat hilang akan kebenaran pada saat itu segera pulih kembali.
Ketika perih, bukan nasihatnya yang salah.Tapi hatimu ketika itu sedang diobati dari kekeliruan, lalu egomu mengerang kesakitan meminta pembelaanmu. Tak perlu kamu lindungi dengan penolakanmu.
Sadari, kebenaran walau bagaimanapun disuguhkan, wajib diterima. Sebab, hanya kesombongan yang menolak kebenaran. Bukankah sezarrah kesombongan tempatnya di neraka?
Dari 'Abdullah bin 'Abbas, Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda ; "Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia."
[HR. Muslim]
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
•×××××××××××⊶•❉্᭄͜͡💓❉্᭄͜͡•⊶×××××××××ו
Sesuai dengan yang kesepakatin disore harinya setelah mendapatkan kabar serta alamat dari Rindhima. Fatimah pun langsung melacak alamat mansionnya Haidar. Dan setelah bersusah payah mencarinya akhirnya ia pun sampai di sebuah rumah yang terlihat begitu megah. Untuk sesaat Fatimah tertegun melihat mansio milinya Haidar.
"Maa shaa Allah.. ini rumah apa istana ya? Besar banget sih?" gumamnya seraya ia melihat sekeliling mansion tersebut.
"Tapi ngomong-ngomong benaran nggak sih, ini alamat rumahnya Rindhi?" gumam Fatimah seraya ia mengambil benda pipihnya, lalu ia pun menatap layar ponselnya itu, "Benaran kok tiitiknya berhenti disini. Berarti benaran dong ini rumahnya? Aah.. tapi kenapa Ana jadi ragu begini ya?" gumamnya lagi, sambil kembali menatap mansionnya Haidar yang bak istana itu.
Di saat Fatimah masih pada keraguannya, tiba-tiba pintu gerbang Mansion tersebut terbuka. Membuat Fatimah sempat tersentak kaget. Dan seketika ia pun langsung bergegas menoleh ke pintu tersebut. Dan tak berapa lama kemudian keluarlah seorang pria berjas hitam, yang terlihat ia langsung datang menghampiri Fatimah.
"Permisi Nona? Apakah benar Anda bernama Nona Fatimah?" tanya Pria itu dengan sopan.
"Benar sekali saya Fatimah?" balas Fatimah, apa adanya.
"Ooh kebetulan sekali! Kalau begitu mari ikut Saya Nona! Karena Anda sudah ditunggu oleh Nona kami!" kata Pria tersebut, seraya tangannya ia arahkan ke pintu gerbang tanda mempersilahkan Fatimah untuk masuk.
Mendengar kata, Nona kami, Fatimah pun bisa menebaknya, siapa Nona yang dimaksud oleh pria tersebut. Dan sudah pasti dia adalah Rindhima. Makanya ia pun langsung bersedia mengikuti Pria tersebut.
__ADS_1
"Baiklah! Kalau begitu antar Saya ke tempat Nona Anda!" balas Fatimah.
"Baik Nona! Mari ikut saya!"
Fatimah akhirnya mengikuti langkah pria tersebut, yang terlihat mulai memasuki pintu gerbang Mansion. Dan Fatimah terlihat kembali merasa takjub, tatkala kakinya mulai memasuki halaman pada mansion tersebut.
"Maa shaa Allah.. ini mah benar-benar istana. Lihat saja halamannya, begitu luas dan indah," gumam Fatimah, sambil melihat-lihat di sekelilingnya. Namun langkahnya masih mengikuti langkah bawahannya Rindhima. Hingga akhirnya mereka sampai di sebuah taman yang berada di belakang Mansion tersebut.
"Nona, silakan Anda kesana. Karena Nona kami sudah menunggu Anda disana," ujar pria tersebut sambil mengarahkan tangannya ke sebuah joglo yang terdapat ditaman belakang tersebut.
"Ooh, baiklah, saya.." Baru beberapa kata saja Fatimah ingin membalas perkataan Pria tersebut, tiba-tiba terdengar suara teriak seorang anak kecil memanggil namanya.
"Aunty Fatimah!! Indhi ada disini!"
Mendengar teriakan tersebut, dengan spontan Fatimah menolehkan pandangannya ke arah sumber suara tersebut. Dan terlihatlah olehnya seorang gadis kecil yang terlihat sedang berdiri didepan joglo sambil melambai-lambaikan tangannya. Tampak sekali ia terlihat begitu senang melihat kedatangan Fatimah.
Fatimah pun langsung tersenyum melihatnya. Lalu ia bermaksud ingin mengucapkan terima kasih kepada pria tadi. Namun disaat ia menolehkan pandangannya kembali, ternyata pria yang tadi sudah tidak terlihat lagi. Membuat Fatimah sedikit terkejut.
"Aaah.. sudahlah! Lebih baik aku nyamperin Rindhi sajalah!" gumamnya lagi, lalu ia pun langsung melangkah kakinya menuju ke joglo tempat Rindhima berada.
"Assalamu'alaikum, Rindhi?" ucapnya setelah ia berada dihadapannya Rindhima.
"Wa'alaikumus salam Aunty!" balas Rindhima, sambil menatap wajah Fatimah dengan tatapan mata yang terlihat begitu bahagia.
"Alhamdulillah.. Anak pintar! Kalau begitu, apakah sekarang kamu sudah siap, untuk menerima segala ilmu dari Aunty Cantik?" tanya Fatimah, sambil menoel pucuk hidungnya Rindhima.
"Siap dong Aunty! Dengan senang hati, Indhi akan menerima pembelajaran apapun yang Aunty berikan!" balas Rindhima, terlihat begitu bersemangat.
"Alhamdulillah, kalau begitu ayo kita mulai saja yuk? Makin cepat akan semakin bagus."
"Okay Aunty! Kalau begitu kita belajar disana saja ya?" kata Rindhima seraya menggandeng tangan Fatimah. Dan membawanya ke sebuah meja Osin yang berada di tengah-tengah joglo tersebut.
__ADS_1
"Duduklah disini Aunty," kata Rindhima sambil membenarkan sebuah bantalan yang biasa dipakai untuk duduk, yang biasa terdapat di sekeliling meja Osin tersebut.
"Terima kasih Sayang," balas Fatimah, lalu ia pun langsung duduk di bantal tersebut. Begitu juga dengan Rindhima, yang ikut duduk disalah satu bantalan meja Osin itu.
"Baiklah sekarang kita mulai ya? Tapi sebelum kita memulai, Indhi maukan memakai hijab?"
Rindhima langsung terlihat bingung, saat mendengar pertanyaannya Fatimah, "Jilbab? Hum.. jilbab itu apa Aunty?"
Fatimah pun tersenyum lembut padanya. Lalu ia pun membuka tas ransel yang selalu ia bawa kemanapun. Lalu ia pun mengambil kantongan plastik yang berada di sana.
"Sayang, jilbab itu adalah penutup kepala bagi kaum muslimah. Dan karena kamu ingin mempelajari kitabullah. Maka lebih baik kita, menjaga kesempurnaan adab kepada Kitabullah agar kita mendapatkan pahala atas perbuatan tersebut-insyaallah-. Allah Ta’ala berfirman,
ذَٰلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ
“Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (QS. Al Hajj: 32)
Diriwayatkan dari Anas bin Malik, jika beliau hendak membahas sebuah hadits Nabi shallallahu’alaihi wasallam beliau memakai pakaian terbagus, memakai minyak wangi terbaik yang beliau miliki dan beliau duduk dengan posisi duduk paling sempurna sehingga beliau memiliki ketenangan dan wibawa," jelas Fatimah, sambil mengeluarkan sebuah lipatan kain kecil yang terdapat di kantong plastik.
"Jadi untuk itu kamu pakai jilbab ini ya Sayang," lanjut Fatimah lagi, seraya ia memakaikan kain kecil itu yang ternyata sebuah hijab.
"Maa shaa Allah, kamu tambah cantik deh, Sayang," puji Fatimah, membuat Rindhima jadi penasaran.
"Benarkah Aunty?" tanyanya dengan matanya yang langsung berbinar.
"Iya sayang, coba deh kamu lihat sendiri disini," kata Fatimah seraya ia memberikan cermin kecil pada Rindhima.
"Wah.. Benar! Indhi tambah Cantik! Terima kasih Aunty!" katanya sambil ia memeluk tubuh Fatimah.
"Sama-sama Sayang,"
...×××××⊶•❉্᭄͜͡💓❉্᭄͜͡•⊶××××××...
__ADS_1
Terus dukung author terus ya guys dan jangan lupa tinggalkan jejaknya juga oke