
Keesokan harinya.
Seperti biasanya, di setiap jam-jam tertentu, Fatimah akan memberikan pelatihan taekwondo pada para siswa di beberapa sekolah yang telah mempercayai dirinya sebagai pelatih disekolah-sekolah tersebut. Namun dihari itu, ia merasakan ada keanehan disetiap sekolah yang ia datangi. Pasalnya tanpa sebab dan musabab tiba-tiba saja ia di pecat oleh pihak sekolah.
"Sebenarnya ada apa ini? Kenapa tiba-tiba mereka memecat Ana ya? Apa Ana sudah melakukan kesalahan?" gumam Fatimah, sambil ia mengingat-ingat masa ia mengajar kemarin.
"Kayaknya nggak ada deh! Bahkan kemarin mereka malah memuji Ana karena salah satu siswa yang mengikuti turnamen taekwondo mewakili sekolah mereka jadi menang. Tapi kenapa tiba-tiba seperti ini ya?" gumamnya lagi. Tampak ia merasa bingung dengan peristiwa pemecatannya.
"Aah.. sudahlah Ana tidak boleh su'udzon. Mungkin mereka memang sudah bosen kali dengan Ana. Jadi positif thinking sajalah," katanya lagi, sambil ia mulai melangkahkan kakinya lagi, meninggalkan sekolah yang baru saja memecatnya.
"Oh iya hari inikan disekolah TB juga sudah waktunya Ana memberikan pelatihan juga disana? Nggak papakan kalau Ana kesana lebih awal? Kan sekalian Ana bersilaturahmi sama Yasmin. Ya sudah deh kalau begitu Ana langsung kesana saja!" gumam Fatimah lagi. Lalu ia pun mulai berjalan untuk mencari angkutan umum.
"Ana naik bus saja aah.. menghemat ongkos," katanya lagi seraya ia mendekati halte bus. Dan berapa lama ia menunggu dihalte bus tersebut, bus pun datang dan berhenti tepat didepannya. Dan begitu pintu Bus terbuka Fatimah pun langsung menaikinya. Setelah para penumpang naik, bus pun kembali melaju.
Setelah melakukan perjalanan selama empat puluh menit, akhirnya bus pun berhenti di sebuah halte bus, yang tak berapa jauh dari sekolah TB. Lalu Fatimah pun segera turun, dan langsung berjalan menuju ke pintu gerbang sekolah Tunas Bangsa. Sesampainya di sana, ternyata suasana begitu sepi. Karena sudah pasti mereka sedang dalam proses belajar.
"Hmm... kayanya mereka masih belajar ya? Ya sudah kalau begitu Ana tunggu ditaman aja deh. Lagian tadikan Ana sudah kasih tahu Yasmin lewat pesan. Jadi nanti pasti dia akan datang ke taman juga," gumam Fatimah, dan akhirnya ia pun berjalan menuju ke taman sekolah.
Setibanya di sana ia pun memilih duduk disalah satu bangku yang berada dibawah pohon yang lumayan rindangnya, "Aaah.. Alhamdulilah, akhirnya duduk juga," gumamannya setelah ia duduk di bangku tersebut.
"Hmm.. sambil menunggu Yasmin, baiknya Ana mengasah hafalan Qur'an saja deh," gumamnya lagi. Dan berapa lama Fatimah pun, mulai melantunkan ayat-ayat Al Qur'an, dengan syahdunya, dan tanpa melihat Al-Qur'an itu sendiri.
Fatimah tampak begitu menghayati dalam melantunkan ayat-ayat suci tersebut, sambil ia memejamkan matanya. Suaranya yang mendayu-dayu terdengar begitu indah. Membuat siapapun yang mendengarnya pasti akan ikut terhanyut didalamnya.
__ADS_1
Seperti saat ini seorang gadis kecil yang terlihat sedang membaca sebuah buku, seorang diri disalah satu bangku taman, yang jaraknya lumayan jauh dari Fatimah. Langsung menutup bukunya ketika ia mendengar lantunannya Fatimah. Pada awalnya ia merasa terganggu dengan suaranya Fatimah.
Namun ketika tatapan mata gadis kecil itu, menangkap sosoknya Fatimah, ia pun langsung bangkit dari duduknya. Lalu ia pun bermaksud menghampirinya. Akan tetapi ketika langkahnya sudah mulai mendekati Fatimah, tiba-tiba mata gadis kecil itu melihat beberapa tangkai bunga yang terlihat sedang mekar. Lalu ia pun memetik beberapa tangkai saja. Dan kemudian ia kembali mendekati Fatimah.
Setibanya disana, gadis kecil itu langsung berdiri dihadapannya Fatimah. Sambil menatap wajah Fatimah yang terlihat masih memejamkan matanya. Gadis kecil itu terlihat sedang tertegun kala mendengar lantunannya Fatimah, dengan tatapan mata yang terlihat begitu fokus melihat wajah Fatimah yang masih tertutupi oleh cadarnya. Sampai pada akhirnya Fatimah pun mengakhiri lantunannya.
"Shadaqallahul adzim..." ucap Fatimah, seraya ia membuka matanya. Dan seketika ia langsung tersentak saat melihat seorang gadis kecil yang berdiri di hadapannya sambil membawa beberapa tangkai bunga.
"Hai, Aunty!" sapa gadis kecil itu, tatkala melihat Fatimah membuka matanya.
"Eh! Ha-Hai juga putri cantik!" balas Fatimah, masih dalam suasana keterkejutannya.
"Ini untuk Aunty, karena suara Aunty begitu indah," kata gadis kecil itu lagi. Seraya ia, menyerahkan bunga-bunga yang ia tadi ia petik tadi, pada Fatimah.
"Terima kasih Aunty," ucapnya, sambil ia memegang pipi yang baru saja dicium oleh Fatimah.
"Sama-sama Sayang, Oh iya kitakan belum kenalankan? Siapa sih, nama putri cantik ini? Aunty jadi penasaran deh," tanya Fatimah, seraya ia mengulurkan tangannya pada si gadis kecil itu.
"Nama saya Rindhima Reffadhina Aunty! Biasa di panggil Reffa kalau di sekolah dan Indhi kalau dirumah," balas Gadis kecil itu, sambil menyambut uluran tangannya, Fatimah, "Kalau Aunty siapa namanya?" tanya si gadis kecil balik. Dan ternyata gadis kecil itu adalah Rindhima.
"Maa shaa Allah, nama yang cantik, secantik orangnya. Oh iya, kalau nama Aunty, Fatimah Fathiyah! Biasa di panggil Fatimah, terkadang ada juga sih yang manggil Thiyah," balas Fatimah terdengar lembut.
__ADS_1
"Ooh.. nama Aunty juga cantik kok. Oh iya Aunty masih ingatkah sama Saya?" tanya Rindhima.
"Masih dong! Kamukan yang waktu itu disandarkan?" tanya Fatimah balik.
"Eh, benar banget Aunty. Oh iya bolehkah saya bertanya pada Aunty?"
"Boleh dong Sayang. Emangnya kamu mau tanya Apa cantik?"
"Hum.. itu Aunty hmm..." Rindhima tampak sedikit ragu-ragu untuk bertanya pada Fatimah.
"Loh, kok ragu gitu sih? Katakanlah, in shaa Allah, kalau Aunty tahu, pasti akan Aunty jawab," kata Fatimah dengan lembut.
"Baiklah, begini Aunty, saya mau tanya. Benarkah Aunty menolak untuk menjadi bodyguard saya?" tanya Rindhima dengan wajah yang terlihat Penasaran. Fatimah pun langsung teringat pada kejadian kemarin, saat ia didatangi oleh Haidar dan Leo.
"Benar!" balas Fatimah singkat.
"Emangnya kenapa Aunty? Bukankah Aunty, jago beladiri?"
Fatimah pun tersenyum mendengar perkataannya Rindhima. "Iya benar, tapi Aunty tidak suka berkelahi Sayang. Dan Aunty memiliki ilmu beladiri hanya untuk melindungi diri sendiri saja. Dan bagi yang mau belajar in shaa Allah, akan Aunty ajakan, tapi bukan untuk berkelahi ya. Karena bela diri itu, hanya untuk melindungi diri kita sendiri, kamu pahamkan cantik?" jelas Fatimah, dengan penuturan yang terdengar begitu lembut.
"Hmm.. kalau begitu saya juga ingin belajar beladiri, Aunty. Maukah Aunty mengajarkan saya?"
...⊷⊶⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💓❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶⊷...
__ADS_1
Dukung Ramanda terus ya? Dan jangan pelit, ya Guys! untuk memberikan VOTE nnya. Kan biar Ramanda semangat loh Update, oke guys.