RINDHIMA Putri Sang Mafia

RINDHIMA Putri Sang Mafia
APAKAH PINTU TAUBAT AKAN TERBUKA?


__ADS_3

•⊶⊷❉্᭄͜͡💓 Mutiara Hikmah 💓❉্᭄͜͡⊶⊷•


Meraih surga, bukan hal mudah, yang cukup diraih dengan angan-angan dan malas-malasan. Penduduk surga adalah orang-orang yang diuji dengan berbagai perjuangan dan pengorbanan, yang mencapekkan jiwa, raga dan pikiran, lalu mereka lulus ujian. Penduduk surga adalah, pejuang tangguh, orang-orang rela berkorban tanpa pamrih kecuali cinta Robb mereka.


.


Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, “Kami telah beriman,” dan mereka tidak diuji? Sungguh! Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta. (QS. Al-Ankabut, 2-3)


Oleh karena itu, dalam banyak ayat, Allah menceritakan apa sebabnya mereka bisa masuk surga. Yaitu karena kesabaran mereka menahan ‘capek’ demi memperjuangkan surga.


__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__


•⊷⊷⊶⊷⊶⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💓❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶⊷⊶⊷⊷•


"Maaf Mas, Saya tidak mau!" kata Fatimah terdengar begitu serius dan juga tegas. Membuat Haidar terlihat begitu terkejut mendengarnya. Dan ia pun langsung melepaskan pelukannya.


"Nggak mau? Apa maksud kamu Fathiyah? Kenapa Kamu tidak ingin menjalani hidup bersamaku, hm?" tanya Haidar, sambil menatap wajah istrinya, dengan tatapan yang begitu lekat dan serius. Dan tiba-tiba saja ia teringat pada tunangannya Fatimah. Seketika wajahnya langsung berubah kesal.


"Ooh Aku tahu! Kamu tidak mau, itu karena diakan? Mantan tunangan kamu, iyakan? Karena dia lebih tampan, dan seorang dokter gitu? Tapi apakah kekayaan bisa lebih aku hah? Sampai-sampai kamu masih berharap untuk menjadi istri tunangan kamu itukan?!" tanyanya lagi dengan suara yang sudah berubah dan terdengar lebih keras.

__ADS_1


"Astaghfirullah..! Tidak Mas, bukan seperti itu.." sangkal Fatimah, dan langsung dipotong oleh Haidar.


"Lalu apa hah?! Kenapa kamu mengatakan tidak mau hah? Apakah menurut kamu aku tidak bisa.." sela Haidar, dengan nada suara yang semakin keras. Terlihat sekali ia sudah dikuasai oleh amarahnya.


Fatimah yang melihat itu akhirnya memberanikan diri untuk menutup mulut suaminya dengan telapak tangannya. Membuat Haidar sedikit terkejut, namun ia tak memberontak, malahan ia membiarkan tangan Fatimah berada di mulutnya.


"Maaf Mas, tapi dengarkan dulu alasan saya ya?" kata Fatimah, dengan tangan masih menutupi mulutnya Haidar. Dan di balas Haidar dengan anggukan kepalanya. Karena sudah mendapatkan jawaban akhirnya Fatimah pun melepaskan tangannya yang tadi menutupi tangannya Fatimah.


"Mas, kamu masih ingatkan, saat mas mengajak nikah kontrak ketika dirumah sakit?" tanya Fatimah dengan lembut. Dan langsung dianggukan oleh Haidar.


"Alhamdulillah, kalau begitu seharusnya Mas juga masih ingat perkataan saya ketika dirumah sakit tersebutkan? Waktu saya berkata, Pernikahan adalah momentum sakral, yang tak bisa sembarang dilakukan. Karena pernikahan itu adalah salah satu ibadah yang paling banyak pahalabya. Sebagai umat muslim, kita diwajibkan untuk beribadah hanya kepada Allah. Dan pernikahan juga bukan hanya melakukan ibadah terpanjanh. Namun itu juga merupakan penyempurna agama.


"Itulah sebabnya Saya berkata kalau pernikahan itu tidak semudah yang dibayangkan Mas. Karena didalamnya ada yang harus kita tanggung jawabkan, bukan hanya sebatas suami atau istri saja Mas. Tapi kita juga harus mempertanggung jawabkan terhadap Rabb kita juga. Makanya, Saya bilang tidak mau, bukan karena saya melihat fisik, ataupun hartanya Mas! Dan saya tidak memandang itu semua Mas! Sebab itu tidak akan bisa menjamin saya bisa hidup bahagia di dunia maupun di akhirat! Maka dari itu saya hanya ingin miliki seorang Suami yang bisa menjadi imam untuk saya. Dan bersama menjalankan ibadah ini karena Allah,"


Haidar langsung terdiam setelah mendengar penjelasan dari istrinya. Namun tiba-tiba saja, ia tersenyum kecut, tatkala ia teringat bahwa dirinya bahkan tak pernah mengingat pada Tuhannya. Apalagi pada hal-hal tentang agamanya, bahkan hal itu tak pernah terlintas dipikirannya. Karena yang menjadi prioritasnya selama ini hanyalah mengejar dunia saja. Bahkan karena hanya dunia ia tak segan-segan melakukan kemaksiatan.


"Heh.. berarti Aku sangat jauh sekali ya dari kriteria kamu? Dan sepertinya juga tidak ada harapan, karena aku hanyalah seorang pendosa. Jadi nggak pantaskan menjadi..." ujar Haidar, dengan memasang wajah pesimisnya. Dan dengan suara yang terdengar begitu lemas. Membuat Fatimah kembali menutup mulutnya yang kalau ini hanya dengan jari telunjuknya.


"Kata siapa nggak ada harapan?" tanya Fatimah, menyela perkataan Haidar, "Ada kok! Asalkan Mas mau belajar. Dan setiap orang memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri Mas. Untuk itu Thiyah akan memberikan Mas kesempatan, asalkan Mas, mau berjanji untuk memperbaiki semuanya, termasuk hubungan Mas pada Allah. Mas maukan?" lanjutnya sambil memegang kedua tangan Suaminya.

__ADS_1


"Tapi Thiyah, aku ini adalah manusia yang berlumur dosa. Dan terlalu banyak kemaksiatan yang aku perbuat. Bahkan aku tak segan-segan menghilangkan nyawa orang tanpa merasa bersalah sedikitpun. Jadi apakah mungkin Tuhan kamu akan memaafkan kesalahanku? Tidak mungkinkan? Yang ada dia pasti sangat membenciku, karena Aku sudah melakukan hal yang sangat Dia benci. Jadi apakah mungkin pintu taubat akan terbuka untukku, Thiyah?" ungkap Haidar, seraya ia menundukkan wajahnya, untuk menutupi rasa malunya karena terlalu besarnya kesalahan yang selama ini ia perbuat.


Fatimah langsung mengangkat wajah suaminya, lalu ia pun tersenyum lembut kepadanya, "Mas? Kamu bertanyakan? Apakah pintu taubat akan terbuka untuk Mas? Sedangkan dosanya Mas teramat banyak. Bahkan dosa tersebut terus berulang-ulang, iyakan?" tanya Fatimah dengan lembut, dan dengan spontan Haidar pun mengangguk.


"Mas, kamu tidak perlu khawatir, Asalkan Mas bersungguh-sungguh ingin bertaubat, maka pintu taubat akan terbuka. Ingatlah, Allah mengampuni setiap dosa, dan itu sesuai dengan firman-Nya," sambung Fatimah, kemudian tiba-tiba ia melantunkan sebuah ayat, dengan merdunya, membuat Haidar langsung terkesima mendengarnya.


Allah Azza wa Jalla berfirman:


قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ (53) وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ (54)


“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).” (QS. Az Zumar: 53-54).


"Mas, Ayat yang tadi Tiyah lantunkan, adalah seruan untuk segenap orang yang terjerumus dalam maksiat. Dan Ayat tersebut memberikan kabar gembira bahwa Allah mengampuni setiap dosa bagi siapa saja yang bertaubat dan kembali pada-Nya. Walaupun dosa tersebut amat banyak, meski bagai buih di lautan (yang tak mungkin terhitung).


“Tidaklah mereka mengetahui, bahwasanya Allah menerima taubat dari hamba-hamba-Nya?” (QS. At Taubah: 104).


"Jadi, sekarang Mas tidak perlu khawatir lagi ya? Karena sudah pasti Allah akan memaafkan Mas Haidar,"


Mendengar penjelasan dari istrinya, dengan penuturan yang begitu lembut. Membuat hati Haidar, begitu bergetar, bahkan tanpa sadar ia langsung menitikkan air matanya. Kemudian ia langsung memeluk tubuhnya Fatimah.

__ADS_1


"Terima kasih Thiyah, hiks.. Terima kasih!" ucapnya terdengar begitu lirih.


__ADS_2