
•⊶⊷❉্᭄͜͡💓 Mutiara Hikmah 💓❉্᭄͜͡⊶⊷•
Seperti mentari di balik awan, akan selalu ada bahagia di balik duka. Terkadang, mengalah adalah cara terbaik untuk membahagiakan orang lain, tidak ada yang menang atau pun kalah, yang ada hanya akan memisahkan dan menyulitkan untuk bertukar sapa.
Hidup adalah belajar. Belajar berpuas hati meski tidak cukup. Belajar memahami walau tidak sehati. Dan belajar ikhlas meski belum rela. Sama seperti melatih hati, perlu banyak ujian agar sabarnya meluas, syukurnya melangit, dan maafnya mudah untuk diberi.
Untuk yang sedang berjauhan, segera perbaiki hubungan meski harus terlebih dahulu mengucap maaf dan mengulurkan tangan, hanya butuh berani dan mau. Untuk tenangnya hati, dan jaminan kebahagian untuk yang selalu mengusahakannya.
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
•⊷⊷⊶⊷⊶⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💓❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶⊷⊶⊷⊷•
Melihat sahabatnya, yang terlihat begitu melemah. Yasmin akhirnya membawa Fatimah ke rumah sakit. Dengan diantar oleh supirnya Fatimah. Sesampainya di rumah sakit sang supir pun langsung memanggil para perawat yang sedang bertugas di sana. dan tak berapa lama kemudian dua orang perawat pun datang menghampiri mobil mereka sambil membawa sebuah brankar.
Setelah pintu mobil terbuka, kedua perawat itu pun langsung memindahkan tubuh Fatimah keatas brankar tersebut. Dan kemudian keduanya pun langsung bergegas membawa Fatimah menuju ke ruang UGD. Sedangkan Yasmin disuruh menunggu oleh mereka. Hal itu malah membuat ia semakin gelisah, di saat seperti itu ia pun langsung teringat pada suaminya Fatimah.
"Oh iya ya, Ana seharusnya menelpon suaminya Fatimahkan? Eh, tapi gimana cara ngomongnya ya?" gumam Yasmin, sambil ia mondar-mandir di depan pintu ruangan UGD tersebut.
"Aah.. sudahlah sebaiknya Ana telpon sajalah!" gumamnya lagi. Sambil ia mengambil benda pipihnya yang berada di saku gamisnya. Setelah itu ia pun mencari-cari sebuah nama yang diaplikasi kontaknya.
"Oh iya, Ana kan nggak punya nomor telepon suaminya Fatimah. Tapi kalau no Asistennya kayaknya ada deh," gumam Yasmin, sambil ia mencari nama yang lainnya, "Tuhkan benar! Adakan nomornya Pak Leo? Ya sudah Ana hubungi saja!" katanya lagi. Lalu ia pun menyentuh tombol memanggil dilayar handphonenya. Dan tak berapa lama kemudian..
__ADS_1
"Halo? Ini siapa ya?" tanya seorang pria dari seberang.
"Iis.. ternyata nomorku tidak disimpannya ya? Kalau begitu nanti setelah memberikan kabar Aku hapus sajalah! Orang sombong nggak penting juga disimpan nomornya!" batin Yasmin terlihat kesal.
"Halo! Siapa sih ini? Telepon tapi malah diam, ah sudahlah matikan saja!" ujar pria dari seberang itu lagi. Karena Yasmin tak langsung menjawab pertanyaannya.
"Eh, tunggu-tunggu Pak Leo! Saya temannya Fatimah, istrinya Pak Haidar! Bisakah saya berbicara pada Pak Haidarnya Pak?" balas Yasmin yang akhirnya ia mengeluarkan suaranya.
"Ooh, yang namanya Yasmin itu ya?" tanya pria itu balik, yang ternyata ia adalah Leo.
"Bener Pak Leo! Saya Yasmin sekarang bisakah Anda memberikan handphone Anda pada pak Haidar?" balas Yasmin, terdengar suaranya sedikit ketus.
"Ada perlu apa Anda mencari pak Haidar? Kalau bukan hal yang penting sebaiknya nanti saja anda menghubunginya lagi. Soalnya saat ini pak Haidar sedang menjalani rapat!'' balas Leo, terdengar datar.
"Memangnya ada apa dengan istri Beliau, hm?" tanya Leo lagi, yang dari suaranya terdengar begitu dingin.
"Haiis..! Lama-lama nih orang bikin kesal ya?" ucap Yasmin terdengar lirih. Namun masih terdengar oleh Leo yang berada di seberang.
"Apa kamu bilang? Siapa yang.. ah sudahlah! Saya matikan saja! Dasar wanita Aneh!" cetus Leo, terdengar sekali ia juga sangat kesal pada Yasmin.
Mendengar suara Leo yang mengatakan ingin mematikan handphonenya Yasmin semakin geram pada Leo, "Hei, woy!! Ini Istri Bos Anda sedang berada di rumah sakit tau! Dia pingsan tadi!" kata Yasmin, dengan suara yang sedikit menggas, "Dan bilang sama bos Anda kalau istrinya berada di rumah sakit CM!" lanjutnya lagi. Dan setelah itu ia pun langsung mematikan handphonenya tanpa ingin mendengar balasan dari Leo. Dan tampak sekali ia masih sangat kesal.
__ADS_1
"Huh! Menyebalkan banget sih jadi orang! Nggak ada ramah-ramahnya sama sekali ya? Bikin naik tensi saja!" gumam Yasmin, sambil ia kembali mengantongi benda pipihnya tersebut. Dan baru saja handphonenya masuk ke dalam kantongnya. Tiba-tiba handphone tersebut, mengeluarkan suara deringan yang tandanya ada panggilan dari benda pipihnya itu.
"Siapa lagi sih?" katanya sambil kembali ia mengambil benda pipihnya itu lagi, "Huh! Kenapa tuan Sombong ini lagi yang telpon? Auh akh.. emang gue pikirin! Sebaiknya aku matikan sajalah! Sebel banget dengar suaranya!" kata Yasmin lagi, sambil ia mematikan handphonenya.
"Huh! Rasain! Bingung-bingung dah lu! Makanya jadi orang jangan songong!" gumam Yasmin sambil tersenyum miring tanda ia puas sudah mengerjain asistennya Haidar. Setelah itu ia pun langsung duduk di sebuah kursi yang berada di koridor rumah sakit. Dan tak berapa lama kemudian seorang dokter pun keluar dari ruangan UGD tersebut. Dan Yasmin pun langsung menghampirinya.
"Bagaimana keadaan teman saya Dok? Apakah dia baik-baik saja?" tanya Yasmin, tampak ada kecemasan dari raut wajahnya.
"Ya teman Anda baik-baik Saja kok Nona. Dan dia cuma butuh istirahat saja," balas Sang Dokter terlihat begitu tenang.
"Aah, Syukurlah. Tapi kenapa dia tadi bisa pingsan ya dok? Kalau boleh tau apa penyebab teman saya seperti itu Dok?" tanya Yasmin terlihat begitu penasaran.
"Itu karena teman Anda, saat ini sedang hamil Nona!" jawab sang Dokter lagi.
"Benarkah Fatimah Hamil?" tanya Yasmin, dengan wajah yang terlihat tampak senang.
"Benar Nona! Teman Anda saat ini memang sedang hamil!" balas sang dokter lagi menegaskan jawabnya. Dan disaat bersamaan terdengar suara seorang pria yang tampaknya baru saja datang.
"Apa! Istri saya Hamil?"
...*••••••••••⊶•❉্᭄͜͡💓❉্᭄͜͡•⊶•••••••••*...
__ADS_1
Terus dukung author ya guys dan jangan lupa berikan 👉 ⭐ ⭐⭐⭐⭐ + 👍 serta komentarnya oke 😉 🙏🥰