RINDHIMA Putri Sang Mafia

RINDHIMA Putri Sang Mafia
PENYANDERAAN.


__ADS_3

"Heh..! Takut kok sama Mafia yang hanya manusia biasa? Seharusnya takut itu, sama Allah Tante!" ujar Fatimah, dengan nada terdengar mengejek.


"Eh, Tante! Sembarangan aja Anti manggil orang! Ana masih muda tau! Belum nikah lagi, jadi jangan sembarangan manggil deh! Nanti didengar orang, pasti menyangkanya Ana tante-tante lagi!" protes Yasmin, yang tampaknya ia tak suka mendengar sahabatnya memanggil dirinya dengan sebutan Tante.


"Ay..Anti marah? Tadikan Anti duluan nyebut Ana Enengkan? Jadi ya udah, ana panggil Anti Tantelah,"


Mendengar balasan dari Fatimah, Yasmin malah mendengus kesal, "Hngs..! Sudahlah lupakan saja! Hmm.. oh iya, mengingat perkataan Anti tadi, Emangnya Anti nggak takutsama mafia ya?" tanya Yasmin, tampak penasaran, karena teringat pada perkataannya Fatimah.


"In shaa Allah tidak! Sebab selagi Mafia itu masih tergolong makhluknya Allah, tidak seharusnya kita takutkan? Karena yang harus kita takutkan itu hanya Allah Yas," balas Fatimah dengan santainya.


"Emang sih, pada umumnya kebanyakan manusia, selama ini lebih takut kepada selain Allah. Seperti sekarang ini Anti takut sama Mafia. Dan para pekerja kantoran takut pada bos, hingga mereka lebih mendahulukan tugas-tugas kantor karena takut pada atasan hingga meninggalkan atau melalaikan kewajiban pada Allah Subhanahu wa Ta’ala, iyakan?"


Mendengar perkataan dari Fatimah, Yasmin langsung tersentak. Sehingga perasaan malu pun akhirnya muncul dari lubuk hatinya. Karena yang dikatakan oleh sahabatnya itu juga terjadi pada dirinya selama ini


"Astaghfirullah..Iya Fat! Bahkan Ana termasuk dari mereka, yang lebih takut dari ciptaannya ketimbang pada Sang Penciptanya. Astaghfirullah, Ana malu banget, Fat."


Fatimah pun menyipitkan matanya, tanda ia sedang tersenyum, "Syukurlah kalau Anti, mulai menyadarinya dengan cepat! Tapi memang dijaman sekarang ini, manusia tidak lagi takut dan khawatir saat melakukan hal-hal yang dilarang oleh syari’at. Tapi mereka lebih takut pada bos, pimpinan, atasan, komandan, ketua, yang sebenarnya mereka hanyalah seorang hamba dari Yang Maha Perkasa, yang seharusnya kita takutkan! Benarkan?"


Yasmin langsung mengangguk kepalanya dengan perasaan malu, "Na'am, kamu benar Fat, sudah seharusnya kita takut kepada Allah," balasnya terdengar lirih.


"Iyaka? Tapi mengapa kita harus memiliki rasa takut pada Allah?" tanya Fatimah, ingin mengasah lagi, ilmu yang pernah mereka pelajari saat mereka masih belajar dipondok pesantren yang sama.

__ADS_1


"Ya, tentu saja jawabannya adalah karena sifat takut ini yang akan menjaga kita untuk tidak berbuat maksiat kepada-Nya. Bahkan dalam Alquran Allah memperintahkan kita untuk hanya takut kepadanya, seperti firman-Nya di surah Al-Maidah ayat 44..


“Janganlah kalian takut kepada manusia dan takutlah kalian kepada-Ku.” (QS. Al-Maidah: 44)


Setelah Yasmin menjawab pertanyaan Fatimah, seketika terdengar suara hembusan nafas lega dari Fatimah.


"Huuft.. Alhamdulillah, anti masih ingat ternyata. risau rasanya hati, bila salah satu ayat saja terlupakan bagi kita penghafal Alquran. Maka dari, kita harus memiliki rasa takut terhadap Allah. Anti ingatkan, Kisah sahabat Rasulullah ﷺ.


Umar bin Khatthab, salah seorang Sahabat Rasulullah yang sudah dijamin surga saja begitu takutnya pada adzab Allah, hingga ia bergumam, “Seandainya seorang penyeru dari langit memanggil, “Wahai manusia, sesungguhnya kalian akan masuk surga seluruhnya kecuali satu orang” maka sungguh aku takut bila itu adalah diriku, dan seandainya sang penyeru itu mengatakan, “Wahai manusia, sesungguhnya kalian semua akan masuk neraka kecuali seorang” maka aku berharap dia adalah diriku.” (Ash-Shabah: 154)


Itu adalah ucapan seorang ahli surga yang sosoknya saja membuat gentar para syetan dan Iblis, Umar masih begitu takutnya pada kemurkaan Allah dan adzabNya, maka apalagi kita? Seharusnya kita yang ia lebih merasa takut karena tak ada jaminan kita akan memasuki surga Allah, atau menemui Allah dalam kondisi diridhoiNya, iyakan?" jelas Fatimah lagi. Membuat Yasmin merasa lega karena dirinya langsung diingatkan oleh sahabatnya. Dan cepat menyadari kesalahannya.


"Terima kasih ya, Fat. Karena Anti, Ana langsung menyadari kesalahan Ana," ucap Yasmin, penuh rasa syukur, karena memiliki sahabat yang selalu mengingatkan dirinya.


"Eeh, Ada apa tuh Yas? Sepertinya Ana mendengar suara teriakkan anak kecil deh, dan asalnya dari ruangan itu," kata Fatimah, seraya ia mengarahkan jari telunjuknya ke sebuah ruangan yang berada di lantai tiga.


"Ana juga nggak tahu Fat! Tapi sebaiknya kita langsung kesana Fat, ayo!" ajak Yasmin, seraya ia bangkit dari duduknya.


"Baiklah ayo!" balas Fatimah, dan ia pun akhirnya mengikuti langkahnya Yasmin. Karena terdengar juga suara tangisan anak kecil, keduanya pun langsung berlari menuju ke lantai tiga tempat suara tersebut berasal.


Belum lagi mereka sampai ke tempat tujuan, tiba-tiba Fatimah melihat sesuatu yang mencurigakan. Dan seketika ia menarik tangan Yasmin, membuat Yasmin yang masih ingin menaiki anak tangga langsung terhenti. Bahkan Fatimah langsung menarik tangan Yasmin agar mereka duduk disalah satu anak tangga yang menuju ke lantai tiga itu.

__ADS_1


"Ada apa Fat? Kenapa Anti menahan Ana?" tanya Yasmin, tampak penasaran.


"Lihat disana Yas! Sepertinya ada penyanderaan dikelas tersebut, lihatlah di punggung pria yang ada di depan kelas itu!" balas Fatimah, sambil setengah berdiri untuk mengintip kearah Pria yang dimaksud sedang berdiri. Mendengar perkataan Fatimah, Yasmin pun mengikuti caranya berdiri dan ia pun ikut mengintip kearah yang dimaksud oleh Fatimah.


"Astaghfirullah! Itukan pistol! Dari mana mereka masuk! Karena setahuku, di pos keamanan ada alat pendeteksi senjata apapun. Kenapa bila lolos dari sana?" kata Yasmin, terlihat terkejut dan juga merasa heran.


"Sepertinya itu sudah biasa terjadi Non! Karena sudah pasti bagian keamanan sudah termasuk bagian dari mereka. Jadi tidak perlu dibahas lagi! sekarang yang kamu lakukan, adalah membuat anak-anak di kelas lain untuk segera keluar dari kelas mereka! Lakukanlah senatural mungkin, agar mereka tidak curiga! Kamu paham?" ujar Fatimah, tampak ia lebih tenang, ketimbang Yasmin. Karena memang terlihat jelas kalau saat ini Yasmin sedikit panik.


"Baiklah Ana Paham! Lalu apa yang akan Anti lakukan?" tanya Yasmin, yang terdengar suaranya sudah sedikit bergetar.


"Ana akan melihat situasi disana! Sekalian mau lihat ada berapa anak yang mereka sandra!" balas Fatimah, seraya ia menatap keruangan yang terlihat sedang dijaga tersebut.


"Eh, tapi Anti tidak akan melakukan tindakan seperti jagoankan? Karena Ana tau, tabiat Anti yang tak bisa tinggal diam kalau melihat hal seperti ini!" ujar Yasmin, yang sepertinya ia tahu sekali dengan sifatnya Fatimah.


"Anti tenang saja! Ana tidak akan bertindak kalau situasinya tidak memungkinkan! Terkecuali ada celah, yang baik maka.. " balas Fatimah. Namun belum lagi ia menyelesaikan perkataannya tiba-tiba terdengar suara tembakan dari dalam kelas tersebut dan dibarengi dengan suara jeritan para Anak-anak kecil. Membuat Fatimah langsung tegak.


"Ini tidak bisa dibiarkan! Cepat Yasmin kamu lakukan apa yang Ana katakan tadi! Sekarang ana mau lihat mereka!" teriak Fatimah, dan ia pun langsung bergegas menuju ke kelas yang sepertinya sedang ada penyanderaan disana.


"Eh Fatimah tunggu! Haiis..tuh anak apa nggak punya rasa takut sama sekali apa ya?!"


...⊷⊶⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💓❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶⊷...

__ADS_1


Terus dukung author ya guys dan jangan lupa berikan Vote + ⭐ ⭐⭐⭐⭐ + 👍 serta komentarnya oke biar Author semangat Update lagi loh.😉 Syukron 🙏🥰


__ADS_2