RINDHIMA Putri Sang Mafia

RINDHIMA Putri Sang Mafia
PERMINTAAN RINDHIMA.


__ADS_3

*••••••❉্᭄͜͡💓 Mutiara Hikmah 💓❉্᭄͜͡••••••*


Bahagia itu sederhana. jadilah diri sendiri, mengembangkan potensi diri dan dimanfaatkan untuk kebaikan. Ini jauh lebih mulia ketimbang kita mengeluh dan menyesali serta membanding bandingkan potensi diri kita dengan orang lain.


Tidak perlu menjadi orang lain karena diri kita sendiri memiliki potensi yang dapat melebihi orang lain. Karena setiap orang punya pribadi yang unik dan tidak akan sama Walau kembar sekalipun.


__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__


•×××××××××××⊶•❉্᭄͜͡💓❉্᭄͜͡•⊶×××××××××ו


"Hmm.. kalau begitu saya juga ingin belajar beladiri, Aunty. Maukah Aunty mengajarkan saya?" punya Rindhima, seraya ia mengatupkan kedua tangannya, dan dengan tatapan mata penuh pengharapan.


Fatimah yang melihat itu, jadi tak enak hati untuk menolaknya. Namun tatkala ia teringat pada Ayah si gadis kecil itu, yang menurutnya begitu sombong. Membuat ia jadi merasa enggan untuk menerima permintaannya Rindhima. Akan tetapi melihat wajahnya begitu imut saat menatap dirinya, membuat Fatimah menjadi delema.


"Humm .. gimana ya? Hmm...begini saja deh! Kamu ikut kelas pelatihan taekwondo Aunty yang akan dilaksanakan di sekalah ini, sebentar lagi, apakah kamu mau cantik?" balas Fatimah, seraya ia menggenggam tangan Rindhima yang sedang terkatup di dadanya.


"Mau sih Aunty! Tapi kalau seperti itu, Daddy pasti tidak mengizinkan Aunty. Gimana kalau Aunty saja yang kerumah saya. Pasti Daddy akan mengizinkannya. Aunty mau ya melatih saya dirumah, Please!" pinta Rindhima lagi.


"Maaf Sayang, Aunty tidak bisa. Karena Aunty juga harus mengajar ngaji untuk anak-anak yang kurang mampu. Jadi Aunty nggak ada waktu lagi, untuk mengajarkan kamu ilmu bela diri Sayang," balas Fatimah, sambil memasang mata berat hati. Mendengar perkataan Fatimah, Rindhima langsung menunduk wajahnya. Ia terlihat begitu sedih.


Melihat hal itu, Fatimah pun merasa iba melihatnya. Namun mau gimana lagi, selain ia harus mengajarkan anak-anak daerah kumuh. Ia juga tak suka pada kelakuan Ayahnya Rindhima. Makanya ia memang terpaksa harus menolaknya.


"Maaf ya sayang, Aunty benar-benar tidak bisa, jadi lain kali saja ya cantik?" kata Fatimah lagi. Sambil menaikkan dagunya Rindhima. Dan betapa terkejutnya ia, karena ternyata mata si gadis kecil itu sudah berkaca-kaca, seperti sudah ingin tumpah.


"Astaghfirullah.. kenapa kamu mau menangis bergini cantik?" tanya Fatimah, seraya ia menekukan kedua lututnya agar bisa sejajar dengan Rindhima. Setelah itu ia pun langsung memeluknya, "Jangan menangis Sayang, nanti cantiknya hilang loh. Maafin Aunty ya Sayang?" lanjutnya didalam pelukannya.


"Sroks.. baiklah Aunty.. Saya tidak akan nangis lagi, kok," balas Rindhima seraya ia menghapus air matanya, "Hm.. saya juga tidak akan memaksa Aunty lagi. Tapi sebagai gantinya, boleh sepuluh menit saja saya memeluk Aunty?" pintanya dan kembali ia menyatukan kedua tangannya didepan dadanya.

__ADS_1


"Tentu boleh dong Cantik. Ya sudah sini Aunty peluk kamunya," balas Fatimah Seraya ia merentangkan kedua tangannya, agar Rindhima masuk kedalam pelukannya. Dan benar saja, begitu Fatimah memberikan isyarat itu, Rindhima pun langsung memeluk tubuhnya Fatimah, dan tentu saja Fatimah menyambutnya dengan senang hati.


"Terima kasih Aunty, karena sudah mengizinkan ini untuk memeluk Aunty. Dan pelukannya Aunty, sangat mirip dengan pelukannya Mommynya Indhi, hiks.. hiks.." kata Rindhima, masih di dalam pelukannya Fatimah.


Mendengar perkataannya Rindhima, tiba-tiba bulu kuduk Fatimah merinding. Ditambah lagi, saat ia mendengar suara Isakannya Rindhima. Sehingga membuat ia menjadi penasaran padanya.


"Mirip? Umm.. emangnya Momy kamu kemana Sayang?" tanya Fatimah, sangat berhati-hati sekali.


"Hiks..hiks.. Mommy Indhi.. hiks.. hiks.. Mommy Indhi sekarang ada di surga Aunty..hiks..hiks... Indhi kangen banget..hiks.. sama Mommy..hiks.." jelas Rindhima, sambil terisak, dan kemudian ia tenggelamkan wajahnya di dadanya Fatimah. Sedangkan Fatimah langsung tersentak tatkala mendengar perkataan si kecil itu.


"Innalilahi wa innailaihi Raji'un, Maafin Aunty ya Sayang. Karena telah mengingatkan kamu, pada Almarhum Momy kamu, maaf Sayang," ucap Fatimah, sambil mengusap-usap punggung Rindhima. Membuat Rindhima semakin mempererat pelukannya ke Fatimah.


Untuk sesaat Fatimah, membiarkan gadis kecil itu menangis di pelukannya. Namun karena tangisannya tak kunjung berhenti, Fatimah pun mengusap kepalanya Rindhima, seraya berkata.


"Rindhi, bolehkah Aunty bertanya?" Rindhima pun langsung mengangguk sambil, namun masih posisi diperlukannya Fatimah, "Rindhi Sayang banget ya sama Mommynya Rindhi?" tanya Fatimah lagi, dan kembali Rindhima membalasnya dengan anggukan kepalanya saja.


Mendengar perkataan Fatimah, dengan spontan wajah Rindhima yang tadinya ia sembunyikan di dadanya Fatimah, langsung diangkatnya, dan ia pun langsung menatap wajah Fatimah, dengan wajah yang masih dilinangi Air matanya.


"Hiks.. tapikan Indhi lagi kangen banget sama Mommy Aunty..hiks..! Terus kalau Indhi kangen gimana kalau nggak boleh nangis Aunty? Hiks.. hiks.." tanya Rindhima masih terisak. Dan dengan wajah terlihat polosnya.


Fatimah menyipitkan matanya, pertanda ia sedang tersenyum pada Rindhima, "Cantik, kalau sedang merasa kangen, maka hadiahkanlah, Mommynya dengan Alfatihah. Pasti Momy Indhi akan senang, apalagi kalau putri cantiknya ini selalu memberikannya Doa.. humm.. Mommy kamu akan selalu bahagia disana, karena mendapatkan doa dari kamu Sayang," jelas Fatimah, seraya ia menghapus air matanya Rindhima. Setelah itu ia juga menoel pucuk hidungnya saat mengatakan ia 'putri cantiknya ini.


mendengar penjelasan dari Fatimah, Rindhima tampak bingung. Karena sepertinya ia tak memahami perkataannya Fatimah.


"Alfatihah, itu apa Aunty?"


Fatimah langsung tersentak mendengar pertanyaannya, "Astaghfirullah.. kamu tidak tahu, Sayang?" tanya Fatimah balik. Dan langsung dibalas Rindhima dengan gelengan kepalanya saja.

__ADS_1


"Ya Allah.. kamu benaran nggak tahu?" tanya Fatimah, seperti Ingin memastikannya lagi. Dan lagi-lagi Rindhima menggelengkan kepalanya lagi


"Alfatihah itu sebuah surat dari Al-Qur'an, kamu dengar yaa?" jelas Fatimah lagi. Lalu ia pun langsung melantunkan surat al-fatihah dari ayat satu sampai ayat ketujuh, dengan suara yang mendayu-dayu terdengar begitu indah.


"Shadaqallahul adzim" ucapnya saat ia telah menyelesaikan ayat yang terakhir, "Nah itulah surat Al-fatihah Sayang, kamu bisakan?" tanyanya lagi, dengan tatapan penasaran.


"Maaf Aunty, apakah itu yang disebut orang mengaji?" tanya Rindhima terlihat wajahnya begitu polos sekali.


DEGH! Jantung Fatimah langsung berdetak kencang saat mendengar pertanyaannya, "Yaa Allah..apa ini? Apakah ini suatu ujian yang Engkau titipkan pada hamba?" batin Fatimah merasa risau.


"Maaf Nak, apakah kamu seorang muslim?" tanya Fatimah, terlihat begitu penasaran.


"Muslim..?" Rindhima terlihat bingung.


"Maksudnya Aunty, apa agamanya orang tua kamu Rindhi?" tanya Fatimah lagi, semakin penasaran.


"Kata, Uncle Leo Islam Aunty," balas Rindhima apa adanya.


"Astaghfirullah.. kasian banget kamu Nak, pasti orang tua kamu tidak..." Fatimah langsung menghentikan perkatanya, "Astaghfirullah.. aku tidak boleh menjelekkan orang tuanya di depannya" batinnya Fatimah, seraya menatap sedih pada Rindhima.


"Aunty? Maukah Aunty mengajarkan Indhi mengaji?"


Mendengar permintaan Rindhima, Fatimah pun tampak bingung, "Ya Allah apa yang harus Aku perbuat? Ana tahu, setiap kejadian adalah bagian dari rencana-Mu. Dan kalau memang ini sudah menjadi takdir-Mu, maka akan ana terima dengan ikhlas, untuk itu berikan ana kesabaran dalam menghadapi orang tuanya," batin Fatimah.


...⊷⊶⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💓❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶⊷...


Dukung Ramanda terus ya? Dan jangan pelit, ya Guys! untuk memberikan VOTE nnya. Kan biar Ramanda semangat loh Update, oke guys.

__ADS_1


__ADS_2